Bidadari Tak Bersayapku


Cerita: Fatimah Asadel Ali

Mungkin kalian semua berfikir, bidadari adalah putri cantik memakai gaun, dan memiliki sayap, tapi menurutku bidadari adalah ibuku yang sangat menyayangi ku.

Ibuku sangat cantik terutama saat dia memakai mukenah dan mendo’akanku, ibuku sering memarahiku jika aku nakal, tetapi aku tau marahnya itu untuk membuatku menjadi anak yang lebih baik lagi dan tidak nakal lagi.

Ada cerita tentang ibuku yang aku akan mengingatnya sampai aku dewasa nanti yaitu : pada waktu itu ibuku rela kehujanan demi memberikan sarapan kesukaanku oleh karena itulah aku memanggil ibuku bidadari tak bersayap.

Dia rela tidak tidur saat aku sakit, untuk menjagaku dan merawatku. Aku pun bertanya kepadanya “Umik kenapa umik belum tidur”. Dengan tersenyum ibukku menjawab ”takut kamu butuh sesuatu atau batuk tengah malam”. Aku langsung memeluk ibuku dan aku berkata “Umik aku janji akan ngebahagiain umik kalau aku besar nanti”.

Aku biasa memanggil ibuku dengan panggilan umik. Ibuku juga orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, ibuku juga memberikan kado untukku agar aku bahagia. Jika aku bahagia maka ibuku juga akan bahagia, jika aku bersedih maka ibuku juga akan bersedih.

Ibuku tidak mengenal rasa lelah dia mencari nafkah untukku, ibuku tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya. Ibukku sangat sabar, pintar, dan sangat tangguh. Ibuku akan menjadi motivasi untukku jika aku besar aku akan mencontoh ibuku yang sabar, pintar dan tangguh.

Dia adalah orang yang sangat menyanyangiku yang pernah aku kenal, aku tidak bisa membalas jasanya yang ia berikan padaku dengan apapun.

Ibuku setiap hari membangunkan untuk berangkat sekolah dan menyiapkan sarapan atau bekalku. Aku sangat bangga memiliki ibu sepertinya. Dia membangunkanku dengan suara, nada dan kata-kata yang selalu sama setiap harinya yaitu :

“Asadel bangun nak. Ayo bangun. Jangan sampai kesiangan. Takut kamu telat.“ dan biasanya akupun langsung terbangun sambil berkata.

“Iya mik Asadel udah bangun.”

Aku selalu merasa ibuku bisa menjadi seorang ayah sekaligus seorang ibu, karena dia membesarkanku seorang diri. Kita kadang bermain bersama memasak bersama di hari libur.

Setiap malam ibuku selalu mencium mengelus kepalaku sambil berdoa agar aku selalu bahagia dan ibuku juga selalu memelukku, pelukannya hangat menenangkan hatiku. Tak lupa ibuku memakaikanku selimut agar aku tidak kedinginan.



Terkadang aku bersedih ibuku selalu memberiku nasehat, beliau berkata “Asadel kamu harus sabar karena orang yang sabar itu adalah pemenang kehidupan”.

Akupun kembali tersenyum, bersemangat dan tidak bersedih lagi.

Ada satu rahasia yang ibuku tidak pernah tahu yaitu, aku selalu berdoa untuk ibuku setiap aku selesai sholat. Begini cara aku berdoa pada Allah, “Ya Allah semoga umik panjang umur dan selalu sehat agar selalu bisa menjagaku, semoga umik banyak rezeki agar bisa menyekolahkanku sampai aku menjadi dokter. dan yang terakhir adalah, Ya Allah buatlah umikku selalu tersenyum agar bidadariku semakin cantik”.

Ibuku hanyalah wanita biasa. Dia bukanlah artis, youtuber, selebgram atau tokoh besar yang menjadi idola banyak orang, tapi untukku dia adalah sang idola yang mempunyai tempat istimewa di hatiku. Nasihat dan larangannya akan selalu aku patuhi.

Dia sumber ilmuku dan sumber semangat bagiku, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun aku akan selalu berusaha membuatnya bahagia dan bangga padaku.

Semua itu untuk membalas semua perjuangannya, pengor­ banannya dan kasih sayangnya, walaupun semua itu tak akan mampu terbalaskan.

Pengorbanan dan kasih sayang begitu tulus padaku, dia akan dengan senang hati mendahulukan, semua kebutuhanku, keinginanku, kenyamananku, dan kebahagianku. Setiap lebaran ibuku membelikan ku banyak baju baru, sepatu baru, mukenah baru, dan tak pernah kulihat ibuku membeli baju baru untuk dirinya saat lebaran, tetapi dia tetap tersenyum cantik saat hari lebaran meskipun tanpa memakai baju baru.

Setiap hari “Ibu“ aku selalu sibuk untuk menulis ucapan selamat hari Ibu, aku juga sibuk membersihkan dan merapikan kamar agar ibuku senang melihat kamarnya rapi dan bersih, aku

belum bisa memberikan kado–kado dan hadiah yang mahal untuk ibuku karna aku belum memiliki uang yang banyak. Tetapi ibuku selalu senang dan bahagia dengan semua yang aku berikan di hari ibu.

Bercerita tentang ibuku tak akan pernah selesai, dia bagitu sempurna bagiku, aku tak pernah ingin ada seorangpun atau apapun yang membuatnya sedih atau menangis. Aku akan selalu membuat ibuku tersenyum bagaimanapun caranya, aku akan menghiburnya, aku akan mengajaknya bercanda.

Dan untuk semua yang ibuku berikan padaku, aku hanya bisa ucapkan, “Terima Kasih Bidadari Tak Bersayapku. Terima Kasih Bidadari Tak Bersayapku. Terima Kasih Bidadari Tak Bersayapku.

“Aku sangat mencintaimu.” Pelukan hangat dari anakmu Fatima Asadel.


*****
Fatima Asadel Ali. Gadis cilik yang ingin menginspirasi semua anak untuk menulis isi hatinya, Lahir di kota Sumenep pada tanggal, 25 juli 2010. Saat ini Fatima bersekolah di SDN Kepanjin Sumenep, dan bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung. Fatima tinggal bersama orang tuanya di Jl.Dusun Laok Lorong Saronggi












MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6937229191624160246

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA