Liburan Ke Bali


Cerita: Angger Danan Dipoyono

Ketika liburan tengah semester tiba, aku bersama bapakku mendapat ajakan dari ibuku untuk ikut berlibur ke Bali. Kebetulan sekolah dimana ibuku bekerja sedang mengadakan kegiatan study tour ke Bali. Ya.., ibuku adalah salah satu pengajar di sekolah tersebut. Nama sekolahnya adalah SMA Negeri Gapura. Kata ibuku, ada kebijakan dari panitia sekolah tersebut bahwa para guru diperbolehkan mengajak keluarganya, oleh karena itu ibuku mengajak aku dan bapakku.

Di hari yang sudah ditentukan, berangkatlah kami bertiga dari rumah dengan perasaan senang. Kami menuju tempat berkumpul di Taman Tajamara pada jam satu siang. Taman Tajamara terletak di arah selatan kota Sumenep, yang dulunya merupakan terminal lama. Disanalah diharapkan rombongan dari kota berkumpul. Informasi dari ibuku bahwa nantinya kami akan berangkat bersama-sama secara rombongan menaiki bus.

Menurut penjelasan ibuku pula, selain ada 2 bus yang disiapkan oleh panitia, ada 2 tempat penjemputan bagi peserta yang mengikuti study tour. Yang pertama; di sekolah, bus menjemput siswa dan sebagian orang yang berkumpul di sekolah. Tempat yang lumayan jauh dari wilayah kota, sekitar 10 km ke arah timur kota Sumenep. Yang kedua adalah di Taman Tajamara. Hal itu dikarenakan banyak guru beserta anggota keluarganya yang menjadi rombongan kegiatan bertempat tinggal di kota. Dan ternyata ketika kami sampai di Taman Tajamara, sudah banyak orang berkumpul di sana. Dengan ceria, kami semua menunggu datangnya bus yang akan membawa kami menuju ke Bali.

Akhirnya bus yang kami tunggu datang juga. Terlihat dari arah utara bus berjalan hati-hati menuju selatan atau menuju arah keluar kota Sumenep. Bus mulai menepi dan berhenti tepat dihadapan kami berkumpul. Ada dua bus dan semuanya tertulis bus rombongan SMA Gapura, bedanya ada ketambahan angka 1 dan 2 di bagian depan bus. Bus 1 diperuntukkan bagi rombongan murid laki-laki dan bus 2 untuk murid perempuan. Aku bersama keluargaku diarahkan menaiki bus 2 oleh panitia. ‘Biar seimbang’, begitu yang saya dengar perkataan dari salah satu panitianya ketika aku mulai masuk ke dalam bus.

Aku, bapak dan ibuku duduk di deretan bangku urutan no 2. Aku memilih duduk di dekat jendela supaya bisa melihat keadaan luar ketika bus berjalan. Fasilitas dalam bus ini termasuk komplit. Selain ada AC, ada juga toilet di bagian belakang, ada televisi yang terpasang di depan atas beserta salon pengeras suaranya, dan juga ada alat yang bisa untuk berkaraoke di dalam bus, tersedia dua mic.

Kami merasa nyaman berada dalam bus yang mulai berangkat menuju Bali. Udara yang dingin dan iringan musik menjadikan kami senang dan menikmati perjalanan ini. Bersama penumpang yang kebanyakan murid perempuan, aku sempat bernyanyi bersama ketika sopir menghidupkan musik yang kami hapal lirik lagunya.

 Tak terasa hari sudah beranjak malam. Kami diajak berhenti di suatu tempat makan yang besar. Aku tak tahu tempatnya atau letaknya, juga tak tahu nama tempat makan ini apa. Demikian juga dengan kakak-kakak perempuan penumpang rombongan bus 2 yang sudah mulai akrab dengan aku walaupun banyak yang belum tahu namanya. Semuanya tidak tahu ini daerah mana. Yang penting ini di rumah makan dan waktunya makan malam. Itu yang aku dan kakak-kakak perempuan rombongan bus 2 pikirkan.

Anggota rombongan bus 2 makan dengan lahap, akupun demikian. Mungkin karena kami kecapekan bernyanyi atau berkaraoke yang menyebabkan kami sangat lapar. Selesai makan kami kembali ke bus dan siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan. Baru kami sadari bahwa rombongan bus 1 belum tiba di rumah makan sehingga kami harus menunggu datangnya rombongan sekaligus selesainya makan malam mereka.

Kugunakan waktu ini untuk membasuh mukaku dan berbincang dengan ibuku sambil tidur-tiduran dipangkuannya. Setelah semua rombongan peserta study tour dari SMA Negeri Gapura selesai makan malam, kamipun melanjutkan perjalanan.

Kurasakan mulai ada hal yang membuatku kurang nyaman dalam lanjutan perjalanan naik bus setelah makan malam. Aku mencium bau tidak enak. Bau amis dan semacamnya. Akupun bertanya ke ibuku perihal yang kurasakan pada penciumanku ini.

“Buk,inikoKadabauamisya?”tanyakudenganmenggoyangkan badan ibuku.

“Sudahlah, Nak. Tidur saja, ini sudah malam.” jawab ibuku sambil membetulkan bantal lehernya. Akupun berusaha tidur dengan memakai penutup hidung agar tidak tercium bau yang menurutku amis tadi.

Entah berapa jam kami lewati, tiba-tiba aku sudah dibangunkan ibuku untuk turun dari bus dan naik ke lantai dua kapal penyeberangan di selat Bali.

“Kita sudah sampai di penyeberangan, Nak.” begitu ibuku membangunkanku. Kuperhatikan sekitarku, ternyata sudah pukul 1 dini hari. Dan aku sudah di atas kapal penyeberangan dengan nama kapal Indah Sari. Menurutku ini adalah sejenis kapal Ferri. Kapal yang bisa mengangkut berbagai kendaraan besar seperti bus dan truk selain orang sebagai penumpangnya.

Semua jenis kendaraan berada di lantai bawah dan penumpangnya wajib turun untuk kemudian naik serta harus berada di lantai 2 selama penyeberangan.

Sampailah kami di pelabuhan pulau Bali. Setelah kapal bersandar kamidiharuskanturundarikapaldanberjalanketempat tunggu bus untuk menaikkan penumpang. Bus kami masih antri untuk keluar dari kapal. Di tempat yang sudah ditentukan itulah kami kembali menaiki bus dan mulai melanjutkan perjalanan.

Untuk kedua kalinya aku dibangunkan ibuku untuk turun dari bis.

“Hayo bangun, Ngger!” kata beliau sambil menepuk pundakku.

“Kita kan istirahat yang lebih nyaman.” begitu terusnya. Setelah ku perjelas pandanganku, ternyata bus sudah parkir di halaman hotel. Dan aku dengan rasa kantuk yang amat sangat turun dari bus dan berjalan menuju kamar hotel mengikuti bapakku yang sudah mendahuluiku turun dan menerima bagian kamar untuk istirahat kami bertiga.

Kuperhatikan bapakku membuka kamar tidak memakai kunci pintu, melainkan memakai kartu.

“Wah, hotel ini unik.” gitu batinku sambil merebahkan badan ke kasur untuk istirahat dan kemudian tertidur.

Pagipun tiba, dengan sangat semangat aku bangun dan mandi serta bersiap untuk sarapan. Dari jendela kamar kulihat murid laki-laki bermain di kolam renang dengan ramainya. Mungkin mereka sekalian mandi di kolam tersebut, akupun hanya tersenyum melihatnya. Sarapan pagi aku lalui dengan cepatnya. Secepat keinginanku untuk segera merasakan tempat wisata di pulau Bali ini.

Ibuku bilang kalo rombongan akan diajak ke galeri kesenian khas Bali, dilanjut ke tempat wisata Tanah Lot dan bersambung ke pantai Pandawa serta diakhiri di suatu tempat atau pasar untuk pembelian oleh-oleh.

Kami kembali naik Bus sesuai rombongan. Semuanya nampak senang dan ceria dengan dandanan yang beraneka ragam. Aku sendiri sangat antusias. Akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di Bali dan akan mengunjungi beberapa tempat wisatanya. Kan ku abadikan momen ini semua sebagai kenangan yang tak akan terlupa.

Sesampai di gallery kesenian Bali aku terkesan dengan pakaian khas adat Bali, juga sangat terkesan dengan penampilan singo barong beserta leaknya. Dan ketika dilanjut ke wisata Tanah Lot daku terkesima dengan tempat ibadah yang berada di pulau kecil dekat dengan pantai. ‘Bangunan Pura’ kata ibuku menjelaskan.

Di Tanah Lot juga dapat dirasakan pemandangan ombak yang besar dengan tebing sebagai pertemuan antara laut dan daratan. Bukan pasir seperti di pantai Lombang atau di pantai Pasongsongan.

Di Tanah Lot aku juga melihat serta menyentuh hewan melata ular yang besar sekali. Lebih besar dari kakiku dan juga panjang. Aku disuruh memegangnya. Awalnya aku takut juga ragu, tetapi setelah ku coba mendekati dan memegangnya ternyata aku bisa.


Ketika kami berada di pantai Pandawa, bus kesulitan Mencari tempat parkir. Kelihatannya pengunjungnya banyak. Tempat wisata ini adalah pantai yang berpasir dan ada semacam danau di tepi pantainya, sehingga banyak pengunjung yang berenang dan bermain di danau itu karena ombaknya yang tidak terlalu besar.

Banyak wisatawan asing dengan pakaian mini berada sekitar pantai Pandawa ini, hal yang tidak ku temui di pantai Lombang atau Pasongsongan. Aku ingin memotretnya dan menunjukkan ke temanku sepulangnya nanti.

Di Pantai Pandawa aku juga melihat banyak orang yang terbang dengan parasut disertai mesin kipas dibelakangnya. Aku sangat ingin seperti itu, naik mesin yang bisa terbang dengan parasutnya. Tapi harganya sangat mahal, sampai sejuta rupiah kalau tidak salah aku mendengar. Akupun cukup melihat dan sedikit menghayal, seandainya aku yang terbang.

Bagaimanapun ini adalah suasana yang berbeda dan menyenangkan. Ingin aku berlama-lama di Bali dan menikmati semua tempat wisatanya. Sayangnya kegiatan study tour ini terbatas tempat yang dikunjungi dan terbatas pula akan waktu.

Kami harus pulang kembali ke Sumenep. Kembali kami naik bus rombongan sesuai dengan catatan absen penggilan dari panitia ketika bus rombongan akan bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Kembali kucium aroma amis bercampur yang lain ketika perjalanan pulang di dalam bus. Setelah ku cermati lebih lanjut bau itu, ternyata bau dari murid ibuku yang sedang mabuk dalam bus.

Ah kasihan, semoga dia kuat sampai di rumah nanti. Syukur alhamdulillah aku tidak mabuk dalam perjalanan ini. Kurasakan, aku sangat senang diajak ibuku liburan ke Bali.

Terimakasih ibu, terimakasih ya Tuhan.

*****
Angger Danan Dipoyono, lahir tanggal 4 bulan 4 tahun 2009. Sekarang ia duduk di kelas 5 SD di SDN Pandian 1 Sumenep. Tempat tinggal di Jalan Jati Emas no 27 Pangarangan Sumenep. “Sebenarnya penulis bukanlah cita-citaku,” demikian pengakuan Angger. Tetapi karena ia memiliki hobi ingin mencoba sesuatu yang baru maka ai pun mencoba menjadi penulis. Akhirnya ia suka menulis apapun yang ingin ia tulis tentang hidup, alam, sejarah, pengalaman, dan segalanya. Semoga menginspirasi, ia ingin terkenal seperti William Shakespeare.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7789636122353997678

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA