Sebuah Kutukan


Cerpen:  Efa Yuliana

“Suatu saat kau akan merindukan seorang pecundang yang tak berani jujur.”

Masa bodoh. Kuanggap semua hanya candaan. Tak ada dalam realita, meski sering kali kudengar sindiran dan kritikan dari sekian banyak temanku. Aku tak peduli. Yang terpenting aku bisa membalas rasa sakitku.

Dua bulan ini aku merasa sangat puas bisa membalas dendam yang menggebu-gebu walau bukan pada tempatnya. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya diperjuangkan dan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Sekarang aku adalah pembuat rasa yang kulampiaskan pada orang yang tepat, dia begitu mencintaiku.

Dia adik kelasku. Sekarang dia duduk di kelas X MIPA I. Dia pintar, tetapi penakut, lemah, miskin, bahkan yang kudengar bapaknya adalah seorang pemulung dan ibunya seorang penjual ghettas. Dia bernama Adifah Malania.

“Milenea saja sekalian, hahaha.” Aku tertawa saat tahu nama panjangnya. Tanpa pikir panjang, saat itu aku langsung mencoba menelepon nomor yang sudah dikirim oleh Arif. Telepon menyambung dan kudengar suara cewek di seberang sana. Tanpa basa-basi aku langsung menyambarnya.

“Halo, ini Difah ya? Kalau benar, ini aku Arial Agatha. Aku ingin berkata sesuatu padamu, aku cinta kamu.” Sepi sejenak. Dia tidak langsung menjawab.

“Em. Apakah ini mimpi. Seorang yang dari dulu aku harapkan ternyata memiliki rasa sama denganku. Aku mau jadi pacar kamu,” katanya. Aku merasa sedikit mual mendengarnya, tapi aku harus memaksa diriku untuk membalasnya.

“Kamu sudah berikrar bahwa kamu mau jadi pacarku, berarti kamu juga harus mau jadi budakku,” kataku mencoba mengendalikan tawaku.

“Aku siap melakukan apa saja asal aku bisa memilikimu,” katanya.

“Oke, fine. Kamu sendiri yang mengucapkan kalimat, itu nanti akan menyiksamu. Sekarang kamu telah bersumpah, banyak yang menjadi saksi atas ikrarmu,” jawabku.

“Aku tidak paham bahasamu, namun aku mengerti maksudmu. Baiklah, aku berjanji.”

Aku matikan telepon saat itu juga. Aku sudah tak tahan lagi dengan kalimat alay-nya.

***

Aku  pernah  membuatnya  malu  di hadapan teman-temanku. Aku memanggilnya saat tak sengaja lewat.

“Milinea, sini!” panggilku. Lalu dia datang dan duduk di sampingku.

“Ada apa sayang? Rindu, ya? Hayooo ngaku.” Saat mendengar itu, aku ingin sekali memuntahkan semua isi perutku.

“Ehmm, bukan itu. Aku hanya ingin memperkenalkan pacar dunia akhiratku pada temanku. Teman-temanku! Kenalkan, ini pacarku. Namanya Adifah Malania dengan panggilan sayang Milinea, siswi dari kelas X MIPA I di kelas sebelah. Dia anak Pak Somad, tukang pemulung dengan kumis panjang dan anak Bu Layla, penjual ghettas terkenal di desanya,” kataku sambil tertawa terbahak-bahak diikuti teman-temanku.

Anehnya Milinea tidak marah, malah tertawa dan berkata.

“Hahaha, lucu, kan? Keren, kan? Anak dari seorang yang ada di tingkat terendah bisa jadi pacar dari seorang “Arial Agatha” yang sudah terkenal di sekolah ini, anak terkece, terganteng, terkeren, termanja, dan apalagi seorang pecundang yang handal. Yang lain no iri, oke!” katanya dengan sangat tegas. Aku melihat teman-temanku terheran-heran.

“Hahaha, intinya kita beda,” balasku dengan datar dan segera mengakhiri karena bel sudah berbunyi.

***

Aku juga pernah menyiksa Milinea, bukan hanya raganya, tetapi juga jiwanya. Saat itu malam Minggu, aku sengaja meneleponnya menanyakan kesiapan buat traktir makan di sebuah kafe.

“Halo, kamu sudah siap, sudah terkumpul uangnya?”

“Iya, udah cukup kok. Malah lebih dari target, sekarang kita berangkat. Kau mau jemput aku?”

“Wehh, enggak loh. Jalan kaki saja atau naik angkot gitu, pokoknya jangan sampai telat,” kataku.

“Masak gitu? Enggak ada romantis-romantisnya,” katanya dan seketika telepon kumatikan.

Sejam kemudian aku sudah sampai di tempat tujuan. Aku melihat Milinea sudah ada di meja pesanan. Aku mulai melangkah dengan Citra, teman karibku. Aku memang sengaja mengajak dia. Dia tampak terkejut saat aku tiba. Aku pun terkejut dan pangling melihat dia yang teryata sangat cantik dengan dandanan yang tidak terlalu over.

Saat itu dia diam sampai acara itu berakhir. Mungkin dia cemburu. Dia wanita yang kuat dan tabah. Aku mengakui hal itu. Yang kudengar seharian full dia bekerja keras mencari barang-barang bekas, bahkan meski cuaca hujan deras saat itu.

***

23 Juli 2018. Hari itu aku tak sengaja melihat Milinea dan Stevhy, teman karibnya sedang mengobrol. Sebenarnya aku tidak terlalu kepo atau aku tak peduli. Niatku mengabaikannya, tetapi langkahku terhenti saat aku tak sengaja mendengar onbrolan mereka tentang diriku. Maka, aku wajib tahu. Aku mengintip mereka dari balik dinding.

“Fah, kenapa kamu masih bertahan dengan semua ini? Kau tahu, saat ini bukan keadaan yang memaksa, tetapi hatimu yang memaksa keadaan menjadi rumit dan itu sudah jelas akan menyiksamu, Fah. Aku tahu cintamu terlalu kuat dan tulus pada Ial, tapi itu tidak menjamin kebahagiaan, Fah. Malah itu hanya sakit yang kau dapatkan karena cinta satu belah pihak itu bukan cinta sejati, Fah,” kata Stevhy panjang lebar menasihati Milinea. Suasana memnjadi sunyi dan sepi. Ada getaran hati yang tak kutahu apa sebabnya.

“Aku mengerti, Vhy. Mencintai satu belah pihak itu tidak enak, bahkan menyesakkan. Tetapi aku punya tujuan mencintai yang berbeda, jika mungkin banyak orang yang berpikir bahwa tujuan cinta adalah sebuah kebahagiaan, itu salah. Aku punya tujuan yang mana harus kuselesaikan.”

“Apa itu, Fah. Tujuan yang bagaimana?” tanya Stevhy penasaran.

Aku semakin mendekatkan telingaku pada dinding. Aku harus tahu karena menurutku itu penting.

“Membuat seorang Arial Agatha menjadi dewasa,” katanya dan aku sungguh terkejut mendengarnya, bahkan Stevhy pun menjadi kaku.

***

Kata-kata itu membuat aku berpikir berat. Kuanggap itu adalah beban yang harus kulampiaskan karena aku memang tidak suka dianggap seperti anak kecil. Aku sudah emosi saat itu, tapi Arif datang menahanku. Malam harinya aku berhasil melacak keberadaannya.

Saat itu Milinea sedang mengaji di masjid di dekat rumahnya. Aku menunggunya pulang di tempat yang gelap. Itu bisa kusebut rumah tak berpenghuni. Aku melihatnya berjalan bersama temannya. Dari belakang aku langsung mendekapnya dan membawanya ke tempat itu. Teman-temannya kaget, tapi mereka lari karena ketakutan. Saat aku membuka dekapanku dari mulutnya dan membuka penutup wajahku, dia tampak ketakutan dan terkejut melihat wajah asliku meski tidak terlalu tampak karena keadaan gelap gulita.

Niatku hanya untuk menyiksa dengan kata-kataku yang mungkin akan membuatnya sadar, tetapi aku tak tahu saat itu nafsu menguasaiku. Aku sudah tak bisa berpikir jernih karena dari tadi meski sudah kurendahkan martabatnya, dia tetap melawan dan tak mau kalah. Aku sudah terlalu emosi. Tanpa sadar aku melakukan hal-hal di luar dugaanku.

***

Siang itu aku bangun dan aku merasa aneh karena ini bukan kamarku, tetapi ini rumah sakit. Aku melihat ayah dan ibu ada di sampingku. Rasanya saat itu adalah waktu yang tepat untuk kuungkap semuanya. Aku mencoba membuka perbincangan dengan perlahan karena aku tidak mau orang tuaku menjadi sakit jantung. Tampak ayah dan ibu terkejut mendengarnya. Kulihat ayah sangat emosi saat itu.

“Apa yang sudah kau lakukan, Nak? Itu sudah membuat hati keluargamu sakit. Kau sudah menyakiti gadis yang tak berdosa tanpa kau pertanggungjawabkan.

Sakarang ayah mau kau nikahi dia saat ini juga.”

Aku sudah tidak bisa membantah lagi. Akhirnya, ayah mengurus semuanya. Malam harinya Adifah datang bersama keluarga dan Pak Penghulu ke rumah sakit. Kulihat matanya sembab dan wajahnya kusut karena kudengar kabar dari Arif bahwa Milinea juga tidak masuk sekolah setelah kejadian itu. Akhirnya, akad sudah selesai. Sejak saat itu Milinea sah menjadi istriku.

***

Milinea menutup buku diary-ku. Kulihat dia sangat sedih. Air matanya mengalir tak mau berhenti. Aku mengusapnya dan memandangnya

“Aku gagal membuatnya dewasa, maafkan aku!”

“Tidak, aku yang harusnya meminta maaf atas semua yang kulakukan terhadapmu.”

“Tidak usah, karena aku sudah berikrar untuk melakukan apa saja demi kamu.”

Aku mencubit pipinya dan tersenyum

“Masih inget saja kau ini?”

“Kita lupakan masa lalu dan berencana untuk masa depan. Oke, oke! Mungkin semua yang kau katakan padaku adalah sebuah kutukan, hahahaha.”

Malam itu kami bersenang-senang. Setelah acara selamatan 9 bulan atau kehamilan istriku. Aku merasa hidupku lebih tenang ketika kejujuran menjadi simbol utama. Aku bahagia dengan hidupku yang sejahtera. Aku sudah tak sabar menunggu anakku lahir.

Sekolah kami terputus. Meski para guru menyuruh kami untuk tidak putus sekolah, kami memilih untuk menikmati hidup berdua di rumah. Kami menikmati hidup yang sederhana, bekerja keras untuk bisa bertahan hidup. Aku pun harus bekerja maksimal untuk menafkahi keluarga kecilku, meski terkadang ayah mengirimkan uang untuk kami.

Akhirnya, rindu Adifah Malania pada sesorang pecundang terbalaskan.

Kamarku, 28 Februari 2020

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 42214264422352761

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA