Surat Rindu dari Ibu


Cerpen: A Nurul Musthafa

Pak Suto, lelaki tua itu, kembali melangkahkan kakinya yang sudah keriput tak bertenaga. Dia mencari barang bekas yang akan dijual lagi ke tukang loak. Dia harus lakukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga istrinya yang sudah lama terbaring kaku di ranjang tua itu.

Anaknya sudah lama pergi ke ibu kota untuk menempuh kuliah. Sudah tiga tahun lamanya anak itu tak kunjung pulang kampung, bahkan tak pernah memberi kabar. Apakah dia baik-baik saja atau sebaliknya, Pak Suto dan istrinya pun tak tahu.

Setelah mendapatkan uang, Pak Suto membeli 2 potong roti. Kemudian memberikannya kepada Rahmi, istri Pak Suto.

“Bu. Bangun dulu, Bu. Ayo makan dulu, biar ibu tidak gemetaran karena

lapar,” ucap Pak Suto sambil menuangkan air ke dalam gelas di samping ranjang di kamar sempit itu.

“Iya, Pak.”

Bu Rahmi meraih roti yang diberikan Pak Suto kepadanya dan segera memakannya.

“Pak, bagaimana ya Pak kabar anak kita di Jakarta? Apakah dia sangat sibuk dengan kuliahnya di sana hingga tak sempat memberi kita kabar,” tanya Bu Rahmi kepada Pak Suto dengan nada keluh khawatir terhadap anaknya.

Pak suto menghela napas panjang. “Mungkin dia sedang sibuk dengan tugas tugasnya di kampus, Bu. Nanti kalau dia ada waktu bakalan ngabarin kita juga kok, Bu,” jawab Pak Suto menenangkan hati Bu Rahmi.

“Andaikan anak kita ada di sini, pasti dia akan mengganti pekerjaan Bapak di sini. Karena Ibu tahu dia anak yang    berbakti    kepada    orang    tua, bukannya    betul    begitu,    Pak?” Ucap Bu Rahmi kepada Pak Suto dengan memandang wajah Pak Suto dan memperlihatkan wajah cemasnya kepada suamianya.

Pak Suto terus menjawab pertanyaan yang diberikan Bu Rahmi kepada Pak Suto. Dia suami yang cukup lihai menenangkan hati Bu Rahmi dengan jawaban-jawabannya. Semenjak Bu Rahmi sakit-sakitan, dia kerap menanyakan kabar Rahmat anak semata wayangnya itu. Pertanya yang diajukan istrinya pun kerap didengar setiap hari oleh Pak Suto.

Satu bulan kemudian, di kamar mereka Pak Suto sedang menyuapkan bubur kepada istrinya. Dia sudah membuat bubur itu sejak subuh tadi. Karena, Pak Suto harus pergi memulung. Jadi, dia melayani dan mempersiapkan dulu segala keperluan istrinya sebelum berangkat memulung. Dia memang selalu berangkat lebih awal karena kalau telat akan didahului oleh pemulung-pemulung lain.

“Bu, lusa anak Pak Iskandar akan berangkat ke Jakarta. Ingin mengikuti Tes penerimaan mahasiswa baru di kampus Rahmat. Ibu ada yang ingin disampaikan pada Rahmat? Nanti Bapak tuliskan surat agar disampaikan oleh anak Pak Iskandar pada rahmat,” ujar Pak Suto sambil mengaduk teh manis yang dibuatnya untuk Bu Rahmi.

“Iya, Pak. Ibu minta tolong tuliskan surat untuk Rahmat. Sampaikan kalau ibu rindu padanya. Bapak jangan lupa, bilang juga kalau bapak sudah enggak kuat kerja lagi. Bukannya bapak sering pusing dan pegel linu saat pulang kerja,” kata dengan muka kusut dan nada keluh seakan akan tiada obat rindu yang bisa menyembuhkan kerinduannya pada anaknya. Pak Suto hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa menjawab perkataan Bu Rahmi.

Usai menyuapi Bu Rahmi, Pak Suto mengambil karung dan segera bergegas meninggalkan rumah untuk bekerja. Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali Pak Suto beranjak meninggalkan rumahnya menuju rumah Pak Iskandar.

“Nak, kalau kamu nanti di Jakarta bertemu dengan Rahmat, tolong sampaikan surat dan uang ini. Mungkin dia tidak pulang karena tidak ada ongkos,” ucap Pak Suto kepada Zen, anak Pak Iskandar, sembari memberikan kresek kecil yang berisi surat dan uang.

“Baik, Pak. Pasti saya sampaikan,” jawab Zen sembari nencium tangan Pak Suto. Sekalian dia pamitan karena harus berangkat ke Jakarta. Pak Suto terus memerhatikan mobil yang dikendarai oleh Zen hingga menghilang dari pandangannya. Kemudian Pak Suto bergegas berangkat bekerja.

Dua hari setelah anak Pak Iskandar sampai di Jakarta, dia menyepatkan waktunya bertemu Rahmat di kampus.

“Kak, ini ada titipan dari Bapak Kak Rahmat di kampung,” ujar Zen sembari menyodorkan kresek kecil pada Rahmat.

“Ini apa, Dik,” tanya Rahmat pada Zen sambil mengambil kresek kecil yang diberikannya.

“Surat dari Pak Suto di kampung.” Mengetahui isi dalam kresek itu surat, Rahmat hanya menyimpannya dalam tas tanpa membuka kresek itu.

“O, surat dari Bapak, terima kasih ya,” ujar Rahmat pada Zen.

“Ya, Kak. Sama-sama,” jawab Zen pada Rahmat. Kemudian Zen bergegas pergi meninggalkan Rahmat karena harus melanjutkan tes kuliahnya.

Selama 2 bulan lamanya surat dari Pak Suto tak dibacanya sama sekali karena terlalu sibuk dengan urusan kuliah. Bahkan, dia lupa dengan surat yang diterimanya.

Tiba-tiba saat Rahmat duduk di teras kosannya, teringat dengan surat yang dikirim bapaknya. Dia segera beranjak mengambil surat yang masih ada di dalam tasnya, kemudian membacanya.


Assalamu’alaikum.

Nak, ini bapak terpaksa kirimkan surat karena ibu memaksa bapak. Ibu rindu. Kalau kamu enggak terlalu sibuk, kamu minta cuti dalam waktu seminggu saja karena ibu ingin melihatmu.

Bukannya bapak mau membebani pikiranmu. Tapi ibu sakit-sakitan di kampung. Soal ongkos pulang, bapak cuma ada segitu, Nak. Kalau tidak cukup, kamu bisa tambahin. Hanya itu yang ingin bapak sampaikan. Maaf kalau bapak mengganggumu.

Assalamu’alaikum.

04 Oktober 2004



Setelah membaca surat dari orang tuanya, Rahmat meneteskan air mata dan bergegas mengemas bajunya karena besok pagi dia berencana pulang ke kampung halamanya. Setelah selesai berkemas, Rahmat menelepon dosennya. Dia meminta cuti untuk pulang kampung.

Keosokan harinya, pagi-pagi buta dia sudah berada di terminal karena takut ketinggalan bus. Di sepanjang jalan di dalam bus, Rahmat menangis menyesal karena membiarkan surat dari orang tuanya tidak dibacanya sama sekali.

Sampailah Rahmat di kampung. Di halaman rumahnya tampak seorang kakek tua sedang menyapu halaman. Dia bapak Rahmat.

“Assalamu’alaikum.” Rahmat mengucapkan salam terhadap bapaknya.

"Wa’alaikum-salam,” jawab Pak Suto dengan suara berat. Dia menangis melihat anak semata wayangnya telah pulang.

“Ibu mana, Pak? tanya Rahmat kepada Pak Suto.

“Ayo masuk dulu, Nak. Kita ngobrolnya lebih enak di dalam saja,” kata Pak Suto.

Mereka pun masuk ke dalam rumah, namun Rahmat menemukan kejanggalan karena tidak melihat ibunya. smpai ia masuk kerumah "

“Ibu mana, Pak.” Rahmat mengulang pertanyaannya, namun Pak Suto hanya menangis. Hal itu membuat Rahmat bingung.

“Ibumu sudah tiada dua minggu yang lalu, Nak,” jawab Pak Suto sesenggukan.

Bagai disambar petir di siang bolong. Rahmat diam terpaku. Air matanya jelas mengalir deras, tapi lidahnya kelu tak dapat berkata apa-apa. Dia hanya tidak pingsan, namun tubuhnya begitu berat hingga tak dapat bangkit dari kursi tempatnya duduk.

Teras Rumah, 27 Februari 2020

Tulisan Terkait

Utama 1346070061564134715

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Rumah Literasi Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

Berlangganan: cantumkan alamat email Anda:

item