Perjuangan Pemuda Demi Pendidikan

 
Cerpen: Anisatul Badriyah

Keadaan yang masih sunyi matahari masih bersenbunyi dari tempatnya namun keadaan udara sudah mulai menampakkan kesejukannya. panggilan untuk menghadapkan diri pada sang kholik pun sudah berkumandang dari segala arah. Aku dan adikku memgerjakan sholat berjamaah di rumah.

Ali Raman namaku namun di desa biasa aku di panggil ali, aku tinggal bersama adikku satu-satunya. Ayah dan ibuku sudah meninggal, ayahku meninggal pada waktu kelas satu SMP dan pada waktu itu ibuku dalam keadaan mengandung ayahku meninggal karena kecelakaan dan ibu meninggal pada waktu aku kelas tiga SMP disebabkan kekurangan darah pada waktu melahirkan adikku itu kata dokter namun aku yaqin bahwa semua itu dari Allah. Namun setelah lulus dari SMP  aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan karena kekurangan ekonomi.

Pada waktu sore aku sedang duduk di ruang tamu menjaga adikku yang sedan  tidur dan sambil berfikir apa lebih baik merantau aja dari pada menganggur di sini,  Tapi  Aku terbangun dari lamunanku ketika mendengar suara ketokan pintu ternyata dia sahabat ayahku yaitu bapak ahmad bersama istrinya ibu sumi

“Assalamualaikum” kata mereka berdua
“Waalaikumusslam, silahkan duduk “ kataku dengan senang hati
“Kok kayaknya kamu sedang ngelamun li, ada apa emangnya? Apa adikmu sakit?” kata pak ahmad dengan keadaan kwatir. Keluarga pak ahman sudah menganggap aku dan adikku sebagai anaknya sejak kematian ayah dan ibu.
“Tidak apa-apa tapi ada sedikit yang ada di pikiran saya “ kata ali sambil menundukkan kepala
“Ceritalah kita kan keluarga” kata ibu sumi
“Saya berfikir untuk merantau untuk menghidupi kehidupan saya bersama adik saya nanti dan membiaya adik saya agar tidak seperti saya kayak sekarang, saya ingin adik saya bersekolah sampai dia menemukan masa depannya” kata ali
“Jangan khawatir kami yang akan menjaga adikmu, kamu tahu kan bahwa kami hanya mempunyai satu anak dan ketika kamu pulang nanti pulanglah kerumah kami untuk menggambil adik mu kembali” kata pak ahmad sambil melihat keistrinya untuk meminta persetujuan
“Ea li kamu kan dah tahu kita keluarga, apapun yang kamu impikan kami akan selalu mendukungmu, dan ingat walaupun kamu bekerja di sana jangan lupa untuk selalu belajar, kamu tahu kan di desa ini kekurangan sebuah pendidikan atau ilmu” kata ibu sumi

Di desaku rata-rata semua orang tidak mampu, semuanya berpatokan kepada ladangnya yang tidak menghiraukan pendidikan anaknya dan menjadikan anak-anaknya banyak menganggur namun ada sebagian anak yang sedang menjalani sebuah pendidikan.

“Terima kasih atas kebaikan kalian,saya akan bersungguh-sungguh melakukan ini semua dan saya akan langsung berangkat besok, ea saya akan sambil belajar di sana kalau ada uang lebih saya akan meneruskan pendidikan saya di sana ” kata ali dengan penuh semangat
“Baguslah kalau begitu, ketika kamu pulang nanti ajarilah anak-anak disini agar tidak seperti orang tuanya yang hanya berpatokan pada sebuah ladang”
“Insya Allah………saya titip adik saya, saya minta tolong jagalah dia seperti anak kalian sendiri, saya percaya pada kalian” kata ali sambil meneteskan air mata dan menyerahkan adiknya kepada ibu sumi
“Kami pamit dulu “ kata pak ali
“Saya langsung berangkat dari sini besok setelah ba’dah subuh” kata ali langsung berpamitan
“Ea tidak apa-apa, hati di jalan…assalamualikum” kata pak ahmad
“Ea insya Allah, waalaikumusslam” kata ali

Sepeninggalan pak ahmad dan ibu sumi aku menanggis karena harus meninggal adikku yang masih kecil yang menjadi tanggung jawabku tapi ini semua untuk kebaikannya.

Dan ba’dah isya’ aku mempersiapkan peralatan yang akan di bawak besok untuk berangkat , dari pakaian, alat perlengkapan kerjaku dan aku tidak pernah lupa dengan  sebuah buku, aku memasukkan buku-buku yang diperlukan bukan yang ditinggal tidak diperlukan hanya saja yang mau dibawa sudah keberatan.

Pagi yang cerah telah menyapa dunia aku bersiap-siap untuk berangkat ke kota dengan menelfon sebuah ojek online agar tidak terlambat. Diperjalanan aku melihat pemandangan dikampungku yang sangat indah yang sebantar lagi akan aku tinggalkan.

Sesampainya di kota aku sangat bahagia bisa melihat bangunan yang besar, macam-macam mobil dan banyak lagi pokoknya semuanya bermacam-macam. Aku bekerja disana dengan sungguh-sungguh tanpa ada lelah dan letih semuanya aku lewati dengan ikhlas agar penat itu hilang.

Setelah sebulan aku bekerja aku mendapakkan gaji yang sangat banyak bagiku seper empat aku pegang, seper empat aku simpan dan setengahnya aku kirim ke adikku. Itulah kebiasaanku setiap bulan

Setelah enam tahun di kota aku berniat untuk pulang untuk kembali pada niatku yang pertama menanamkam pendidikan di desaku dengan cara membangun sekolah yang kecil yang penting dapat belajar bermanfaat bagi masyarakat.

Sesampainya di desa aku langsung menjemput adikku yang tanpa aku sangka adikku sudah besar, pak ahmad langsung memberikan adikku ketanganku, aku langsung memeluk adik ku dengan sangat erat dan sesudah adikku berada di tanga an ku, aku langsung berkolsultasi dengan pak ahamd tentang niatanku dan Pak ahamd sangat mendukungnya. Dengan bantuan pak ahmad akhirnya bangunan itu dapat aku laksanakan.

 Setelah satu bulan dikerjakan akhirnya bagunan itu jadi juga selesai juga , semua biayanya Alhamdulillah dari tabungan yang telah aku simpan dari dulu. Pada waktu  aku membangun sekolah itu masyarat sekitar banyak yang membicaranku ada yang bilang aku dapat uang dari dukun, ada yang bilang dari tuyul dan sampai orang-orang yang tidak setuju dengan pembangunan sekolah ini membakar sebagian kayu yang akan digunakan, betapa kagetnya aku setelah mengetahui itu semua tapi aku tidak menyerah karena masih sebagian orang yang mendukung kegiatan ini. Orang saling bersumbangan semampunya untuk menggantikan kayu yang telah terbakar. Setelah sekolahan itu dipakai selama setengah bulan dengan 10 siswa termasuk adikku yang hanya diajari oleh aku seorang Alhamdulillah berjalan dengan lancar.

 Di hari libur aku bekerja pekerjaan yang kayak dulu yaitu memjual sayuran ke pasar, setibanya di pasar aku memdapatkan sebuah pengumuman bahwa ada perlombaan untuk siswa kelas 1 sampai kelas 3 aku berfikir untuk mengikutkan siswa-siswiku lomba dengan tujuan agar masyarakat yang masih enggan menyekolahkan anaknya bisa disekolahkan. Akhirnya ali mendaftarkan 10 siswanya dalam bidang yang berbeda-beda. Selain  belajar di kelas para siswa  belajar di kerumahku setiap ba’dah isya’ sampai jam 10 malam setelah itu aku mengantarkan anakk-anak tersebut kerumah masing-masing.

Perlombaan itu dilaksanakan di kota, setelah perlombaan tersebut selesai akhirnya yang menjuari juara pertama adalah siswa-siswaku yaitu faruq. Betapa terkejutnya aku dengan semua ini aku kira kami yang dari desa tidak bisa meraih itu semua ternyata siapapun bisa untuk meraih suatu prestasi,  di sisi lain aku bahagia sekali semuga dengan juara ini masyarat bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Setelah sampainya di kampung aku meneteskan air mata karena semua orang-orang kampung menyambut kedatangan kami dengan sangat meriah dari mulai yang mendukung kami sebelumnya sampai orang-orang yang tidak mendukung kami ada di situ juga. Ternyata pak ahmad telah memberitahukan kepada masyarakat tentang semuanya. “Pak ali saya mau menyekolahkan anak saya ke tempat pa kali” suara itu datang dari para orang tua yang pernah menolak pembangunan ini.

Betapa bahagianya aku dengan semuanya yang telah Allah berikan kepada ku sebuah keinginan yang ku impikan dari dulu bisa tercapai dengan baik dan lancar walaupun banyak rintangan yang menghadang, aku berharap semoga pendidikan ini bisa berjalan sampai ke akhir yang Allah tentukan.     

 Anisatul badriyah/ushuluddin/AFI/semester
    
 


      

Tulisan Terkait

Utama 3948177042725416085

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Rumah Literasi Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

Berlangganan: cantumkan alamat email Anda:

item