Peran Guru Sebagai Sahabat Terhadap Kenakalan Remaja di Era Globalisasi

Lewat gerakan literasi diharap membantu remaja menjadi manusia literat

Oleh: Ussy Jannah

Seiring bertambahnya waktu, tumbuh kembangnya remaja pada zaman sekarang sudah tidak dapat dibanggakan lagi. Mengapa demikian? Karena, kebanyakan remaja pada zaman sekarang ini tidak mementingkan kualitas diri sendiri, melainkan melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma-norma agama maupun sekolah.

Baru-baru ini sering kali kita dengar berita ditelevisi ataupun di radio yang dikarenakan oleh kenakalan remaja. Beberapa kenakalan remaja tersebut diantaranya seperti: tawuran , pemerkosaan yang dilakukan oleh pelajar, pemakain narkoba dan hal luar biasa lainnya.
Kehidupan para remaja masa kini sudah mulai memprihatinkan. Seperti yang kita harapkan, seharusnya para remaja menjadi kader-kader penerus bangsa, namun kini tidak dapat lagi menjadi jaminan untuk kemajuan Bangsa dan Negara. Bahkan, berbagai perilaku mereka cenderung merosot atau terjun bebas.

Perselisihan antar anggota keluarga, perceraian, dan tidak adanya komunikasi yang baik antar anggota  keluarga maka akan memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Pada kenyataaannya, alokasi waktu pendidikan agama di lingkungan pendidikan negara kita relatif sedikit. Meskipun standar nilai untuk pelajaran agama dan PPKN tinggi, tetapi nilai nilai tinggi berhamburan, sengaja didongkrak agar para murid tidak dicap tidak agamis dan tidak bermoral. Hal ini menyebabkan kasus – kasus kenakalan remaja sangat rentan terjadi pada siswa. Semua itu karena benteng iman, ketakwaan, dan akhlak para siswa sangat rapuh karena pendidikan religi yang tidak memadai.

Teknologi di era globalisasi menunjukkan pengaruh dahsyatnya sebagai faktor penyebab kenakalan remaja. Teknologi ibarat pisau yang bemata dua yang bisa melukai pemakainya sendiri, teknologi sebenarnya merupakan media untuk mempermudah hidup manusia, tetapi teknologi juga mempunyai potensi merusak apabila tidak dipergunakan secara bijaksana. Apabila kita kaitkan dengan kenakalan – kenakalan remaja akhir akhir ini, sifat dari kenakalan tesebut sudah berubah dari zaman kenakalan berbasis tradisional seperti tawuran dan bolos sekolah sekarang sudah berevolusi menjadi kenakalan remaja berbasis teknologi seperti video porno di handphone para siswa sampai situs – situs porno yang berserakan di dunia maya.

Namun kita tidak dapat mempersalahkan kemajuan teknologi, karena teknologi diciptakan untuk mempermudah kegiatan manusia, tergantung bagaimana manusia tersebut mempergunakannya, apakah memanfaatkannya dengan baik, atau malah menyalahgunakannya.
Di era globalisasi dan teknologi, profesionlisme seorang guru sekarang ini semakin penuh tantangan sesuai dengan tuntutan zaman now. Secara normatif peran guru antara lain sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan ke peserta didik. Sedangkan sebagai pendidik, guru mau dan mampu membimbing siswanya untuk mengenalkan dan mengembangkan karakter-karakter yang baik untuk membangun perkembangan mental yang baik, untuk tumbuh kembang jiwanya.

Kalau kita cermati, di zaman sekarang ini, semua kegiatan dalam kehidupan ini menjadi serba mudah. Ini karena teknologi yang berkembang mampu memanjakan manusia di dunia ini menjadi serba mudah dan instan. Anak menjadi akrab dengan teknologi sejak usia dini. Orang tua menjadi bangga bila anaknya berprestasi. Semua prestasi itu diraih dengan penghantaran teknologi, tanpa disadari telah melupakan faktor sosial dan karakter kepribadian.

Nah, di sinilah peranan guru dapat kita coba untuk menjadi pendidik, yaitu dengan menjadi sahabat siswa yang bermasalah. Dengan berperan sebagai sahabat diharapkan siswa menjadi nyaman dan terlindungi dengan guru, sehingga siswa mau jujur mengungkapkan permasalahan dirinya.

Guru zaman now memang berbeda dengan guru zaman dahulu. Sekarang guru harus dapat menjadi teman dengan siswanya, dalam batasan dan norma yang berlaku. Kita tidak perlu heran jika ada seorang guru yang begitu akrab bercanda dengan siswa-siswanya, seperti dengan teman sebayanya. Kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh para siswa zaman now, karena siswa menjadi lebih akrab dengan gurunya dan bisa bebas menyampaikan sesuatu. (tentunya dalam batasan dan norma-norma yang berlaku).

Menjadi sahabat siswa tentu tidak hanya dengan selalu mendengar keluh kesah mereka, akan tetapi juga mendorong pribadi mereka agar menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi setiap masalah yang mereka hadapi. Sebagai seorang yang berperan sebagai pengajar sekaligus sahabat untuk siswanya, guru menjadi suatu sosok yang paling dinantikan siswa karena kebijaksanaannya dalam menghadapi setiap masalah yang dihadapi siswa. Menjadi sahabat siswa adalah upaya guru dalam membangun kepercayaan siswa terhadapnya.

Kepercayaan itulah yang membuat siswa selalu merasa nyaman dengan gurunya, sehingga siswa tidak malu-malu lagi dalam menceritakan masalah yang merka hadapi dalam proses pembelajaran di sekolah maupun masalah pribadi mereka. Menjadi sahabat siswa juga merupakan langkah guru untuk memhami setiap karakter siswa agar lebih mudah memahami setiap kekurangan dan kelebihan siswa.

Dengan memposisikan diri sebagai sahabat siswa, bukan tidak mungkin akan menciptakan proses belajar mengajar yang efektif, sehingga materi yang di sampaikan guru dapat di pahami siswa dengan baik tanpa adanya tekanan dari guru. Sebagai guru seharusnya kita dapat menyanyangi siswa dan memahami bahwa mereka mempunyai kelemahan dan kelebihan.

Sebagai guru kita juga harus bisa menempatkan diri kapan bisa menjadi sahabat untuk siswanya dan kapan menjadi guru yang harus dihormati dan didengar penjelasannya. Disaat kita memposisikan diri sebagai pengajar kita harus bertindak sebagaimana pengajar tanpa harus memberikan tekanan untuk siswa, buat suasana belajar yang menyenangkan agar siswa tidak merasa bosan. Sedangkan ketika kita memposisikan diri kita sebagai sahabat mereka, kita harus ikhlas mendengar setiap keluh kesah mereka dan memberikan mereka dorongan serta motivasi dalam menghadapi setiap masalah yang mereka hadapi.

Hanya sebatas menjadi pengajar saja tidak cukup bagi seorang guru, tapi menjadi sahabat siswa akan sangat berarti dan dihormati oleh siswa. Oleh karena itu, peran guru tidak hanya sebagai teladan dari siswa akan tetapi juga harus mampu menjadi seorang sahabat bagi siswanya. Sahabat yang selalu ada ketika siswanya membutuhkan.

Ada beberapa pendapat lain yang menjelaskan beberapa peranan guru, seperti :
  1. Prey Katz, menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat-nasehat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan.
  2. Havighurst, menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan (subordinate) terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejawat, mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua.
  3. James W. Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
  4. Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia, mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah, tidak hanya sebagai transmiter dari ide tetapi juga berperan sebagai transformer dan katalisator dari nilai dan sikap.

Dari berbagai macam peran guru seperti yang telah dijelaskan diatas, seorang guru harus mampu memahami karakteristik siswanya yang tergolong  remaja usia sekolah di mana dibutuhkan pemahaman yang cukup mendalam sehingga seorang guru benar-benar dapat mengerti dan memahami maksud, tujuan, kebutuhan remaja dengan rentang usia seperti itu.

Tidak jarang pula seorang guru mengalami kesulitan dan cukup kewalahan dalam pelaksanaan pembelajaran maupun pengatur sikap dan tingkahlaku siswanya dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai karakteristik siswanya sehingga berakibat terganggunya proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Seorang guru sebagai teladan dari siswanya adalah hal utama yang biasa diterapkan dan dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah, di mana siswa akan mencontoh sikap dan tingkahlaku guru sebagai panutan mereka serta akan mengikuti petunjuk maupun himbauan dari guru menyangkut bagaimana mereka harus bersikap dan mengambil tindakan dalam kehidupan mereka terutama menyangkut segi pendidikan. Jadi, seorang guru harus selalu menjadi contoh yang baik bagi siswanya sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan lain.

Disamping itu, untuk menjadi seseorang yang diteladani atau dalam artian panutan tidaklah mudah, sehingga seorang guru terlebih dahulu harus memahami dan melakukan pendekatan terhadap siswanya dengan tujuan menciptakan hubungan yang lebih erat sehingga akan tercipta pengertian dan pemahaman antar kedua belah pihak secara alamiah. Maksudnya, seorang guru harus berupaya menjadi seorang sahabat bagi siswanya terutama siswanya tang tergolong remaja usia sekolah menengah yang masih tergolong labil dan dalam proses penyesuaian diri atau pencaharian jati diri, dengan peran guru sebagai sahabat maka intensitas serta kualitas hubungan diantara keduanya akan lebih erat terjalin. Biasanya remaja akan menceritakan permasalahannya guna mencari solusinya kepada sahabatnya sehingga dalam hal ini yaitu guru memposisikan diri sebagai sahabat siswanya maka tidak jarang pula siswa tersebut akan lebih terbuka mengenai permasalahan yang dialaminya kepada guru mereka.

Keterbukaan dan keeratan hubungan antara guru dengan siswa maka akan memudahkan guru untuk mendidik dan mengarahkan siswa kepada hal-hal positif dan bermanfaat dalam kehidupannya baik di masa sekarang maupun masa depan kelak terutama dalam kaitannya dengan keberhasilan proses pembelajaran, peran guru sebagai sahabat akan sangat penting di mana guru akan dapat memotivasi belajar siswa dan memahami karakteristik atau metode belajar yang sesuai atau cocok terhadap siswa sehingga proses pembelajaran akan berlangsung lancar, efektif, komunikatif dan menyenangkan.

Dengan motivasi, diharapkan setiap pekerjaan yang dilakukan secara efektif dan efesien, sebab motivasi akan menciptakan kemauan untuk belajar secara teratur, oleh karena itu siswa harus dapat memanfaatkan setuasi dengan sebaik-baiknya. Banyak siswa yang belajar tetapi hasilnya kurang sesuai dengan yang diharapkan, sebab itu diperlukan jiwa motivasi, dengan motivasi seorang siswa akan mempunyai cara belajar dengan baik. Dengan demikian betapa besarnya peranan motivasi dalam menunjang keberhasilan belajar.

Sosok guru sebagai sahabat tidak dengan mudah memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang dilakukan siswa namun bukan juga berarti tidak akan memberi hukuman terhadap suatu pelanggaran. Tetapi lebih cenderung mengajak bicara dan menanyakan alasan mengapa melakukan pelanggaran tersebut secara empat mata guna menghindari timbulnya masalah lain misalnya adanya perasaan dipermalukan dihadapan orang lain. Selain itu pula, ternyata mengajak bicara secara empat mata dengan anak didik yang melakukan penggaran, mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam mengubah perilaku negatif anak didik.

Dengan mengajaknya bicara secara empat mata akan membuat anak didik diperlakukan sebagai sahabat yang dilindungi kehormatannya di hadapan teman-temannya dan di saat yang sama pula memperbaiki hal tidak baik yang dilakukannya adalah bentuk persahabatan yang luar biasa. Bukan malah mempermalukan teman di hadapan orang lain atau membiarkan begitu saja seorang teman yang melakukan kesalahan. Bentuk persahabatan yang semacam ini juga perlu diterapkan seorang guru terhadap anak didiknya.

Dengan demikian, guru yang menjadikan anak didiknya sebagai sahabatnya maka akan memposisikan diri setara dengan anak didiknya. Guru seperti inilah yang akan mampu menciptakan atmosfer belajar yang hangat, menyenangkan, membangkitkan semangat, dan membangun kepercayaan diri yang besar dalam diri anak didik. Jika sudah demikian, maka guru yang bisa menjadi sahabat bagi anak didiknya akan dicintai oleh mereka, sehingga hal ini akan berbanding lurus dengan keberhasilan dalam mewujudkan tercapainya tujuan belajar mengajar.

Penulis adalah Mahasiswi IDIA Al-Amien Prenduan, Sumenep

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3131631488446908728

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA