Tetesan Tinta Sang Pengejar Mimpi



Cerpen Siti Azhara
 
Aisyah, gadis yang kini hidup mapan di daerah Sumatra Selatan Palembang itu, berasal dari sebuah desa kecil di kabupaten Lahat Provinsi Sumatra Selatan. Beberapa tahun yang lalu, ia merantau ke pulau Madura, berjuang keras mengejar mimpinya. Pahit gentirnya perjuangan dan perantauannya di kota orang tak membuatnya putus asa dan mudah menyerah. Ketika saat-saat lemah dan nyaris putus asa karena sulit dan kerasnya hidup di sebuah pondok pesantren, maka Aisyah selalu memotivasi diri dengan sikap tegar dan keras yang telah ditunjukkan oleh ibu dan bapak dalam membesarkan dirinya beserta saudara-saudaranya yang lain. Karena di matanya, orangtua adalah sosok yang inspiratif.

Aisyah gadis cantik dan cerdas, ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Di sekolah Aisyah terkenal siswa yang sangat cepat tanggap dalam proses belajar, selain itu dia dikenal sebagai siswa yang ramah terhadap semuanya. Aisyah anak pertama dari empat bersaudara, ia hanya tinggal bersama ibu, bapak dan adik-adiknya. Di mata Aisyah, bapak dan ibunya adalah sosok yang sangat membanggakan dan selalu menjadi penggugah semangat hidupnya. Aisyah adalah anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya dan menyayangi saudaranya.

Aisyah selalu merasa bangga dan bergetar hatinya setiap kali membayangkan semua perjuangan dan kerja keras ibu dan bapaknya dalam membesarkan anak-anaknya dengan kehidupan yang pas-pasan. Ayah dan ibu saling merangkul menjadi tulang punggung keluarga. Setiap fajar menyingsing, ayahnya pergi kepasar untuk membeli sembako yang akan diolah bahan pangan yang dijual disekolah dan ibunya menjual sayur-sayuran guna mencukupi kebutuhan hidup. Seolah tak kenal lelah, pagi sore bapak dan ibu banting tulang peras keringat dan tak pernah berkeluh kesah dengan segala rutinitas itu. Mereka menjalani semuanya dengan penuh keihklasan dan kesabaran demi membesarkan dan membiayai anak-anaknya.

Ada satu hal yang membuat Aisyah begitu kagum kepada ayahnya, yaitu prinsip hidup dan tekad kuat ayahnya yang ingin menyekolahkan ank-anaknya di pondok pesantren. “Ayah ingin anak-anak ayah pandai dalam hal agama dan suatu saat nanti bermanfaat untuk orang lain. Cukuplah ayah saja yang tidak sempat mengenyam pendidikan di pesantren, tapi anak-anak ayah jangan sampai mengalami nasib seperti ayah. Ayah ingin mewariskan ilmu kepada anak-anak ayah, bukan harta ataupun tahta yang ayah pun tidak memilikinya.”

Itulah penegasan sang ayah yang terus terngiang di telinga Aisyah, saat ia bertanya kepadanya mengapa ia seolah tak pernah lelah bekerja. Aisyah sangat terenyuh mendengar tekad dan prinsip hidup ayahnya. Namun, ia sama sekali tak menyangka bahwa ibunya, perempuan yang sangat Ia sayangi, ternyata tak memihaknya. Mimpinya dikecewakan oleh ibunya. Hancurlah sudah harapan-harapan mimpi masa depannya. Ia sadar ibunya tidak bermaksud begitu, ibu ingin ia membantu keluarga dalam meringankan biaya kehidupan dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Maklum, Aisyah adalah anak perempuan yang paling besar dalam keluarganya. Namun, ia juga tidak merelakan untuk mengikhlaskan masa depannya.

“Sebaiknya kamu jangan terlalu tinggi bermimpi, nak!” kata ibu Aisyah pada suatu hari ketika ia mengadu perihal keinginannya untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren.

Aku tersenyum dan  menghapus air mataku. Dengan perlahan aku berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu sendirian di ruang tamu. Begitu berat rasanya perjuangan hidupku untuk melangkah besar melanjutkan pendidikan. Aku berjalan ke kursi lalu mencoba melihat keluar lewat kaca jendela. Waktu itu hari sudah malam dan hujan deras. Sepertinya hujan paham akan perasaanku malam itu. Air terus berjatuhan dari langit ke bumi mewakili kesedihanku.

Ketika tak ada satupun orang yang memberimu luang, yakinlah bahwa Allah SWT adalah segalanya, dengan segenap kepercayaan, aku satukan niat dan bulatkan tekad serta kuatkan doa. Aku harus kuliah sambil mondok disebuah pondok pesantren. Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa kemiskinan bukanlah penghalang kesuksesan. Maka malam itu aku susun strategi tempur. Ini perjuangan penting dalam hidupku demi masa depan. Namun, merupakan tantangan yang berat buatku. Hidup itu tak pernah datar, tak monoton dan jalan di tempat. Ada banyak perubahan, tantangan dan rintangan disana.

Karena tekadnya sudah bulat maka Aisyah memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Ia tak malu kerja serabutan di pasar walau banyak temannya yang mencibir. Masa dimana anak seumurannya membuang waktu untuk nongkrong dan bersenang-senang bersama teman-temannya, namun tidak baginya. Hasil kerja kerasnya di tabung untuk masuk pondok pesantren.

   

Tibalah hari yang paling kebenci akhirnya datang juga. Percayalah, aku menyukai segala hal, kecuali perpisahan. Ya, dan sekarang aku berada di posisi itu. Ketika Bapak akan mengantarkanku ke Pondok Pesantren di Madura dan Ibu akan mengantarkan adikku ke Pondok Pesantren di Palembang. Namun, aku sadar akan satu hal akan ada masanya datang akan pergi dan tak selamanya semua bersama. Mungkin, ini sudah di atur Allah.

Sore itu, Aisyah berpamitan kepada ibu dan sudara-saudaranya untuk berangkat ke Madura. Aisyah ingin melanjutkan pendidikannya ke salah satu Institut Swasta Islam di Madura sekaligus mondok disana. Tangis haru serta doa restu dari ibu dan sudara-saudaranya mengiringi kepergian Aisyah sore itu. Dengan langkah mantap, Aisyah pun ikhlas meninggalkan kampung halamannya yang terletak di kabupaten Lahat itu.

Di dalam bus sudah tidak banyak lagi para penumpang. Mereka sudah turun satu-satu disepanjang perjalanan. Mereka meninggalkan bus tidak ubahnya seperi seseorang telah sampai pada waktunya untuk meninggalkan kehidupan. Orang telah sampai pada akhir kehidupannya, sedangkan kehidupan itu sendiri berjalan terus. Aku dan Bapak masih didalamnya terguncang-guncang dan terkantuk-kantuk untuk menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam. Sementara itu kehidupan baru muncul, bus akan dihentikan orang. Kehidupan baru terlibat kedalam kehidupan yang terus berjalan membawa dan melepas kehidupan itu. Ada penumpang yang turun dan ada penumpang yang naik. Bus berjalan terus, seperti mana kehidupan berjalan terus. Bus berjalan terus disepangjang jalan yang lurus. Waktu itu hari sudah malam. Kegelapan diluar tidak bisa dibedakan dengan selembar tirai yang hitam.

   

Kini, Aisyah telah memulai perjuangan hidupnya di pondok pesantren. Ia merasakan betapa beratnya tinggal di pesantren dengan segala peraturan yang membuat pusing tujuh keliling. Namun, Aisyah lebih banyak menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan untuk membaca buku dan memfoto copy materi-materi tertentu dari buku yang dibacanya, karena dia memang tak mampu untuk membeli buku wajib perkuliahan. Semua kegiatan ia jalani dengan sabar dan berbesar hati. Ia yakin, semua itu adalah cobaan dari Allah SWT yang harus dilalui untuk dapat meraih cita-citanya. Ia senang melakukan itu semua, karena ia memang bertekad untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.

Jarum jam menunjukan pukul 03.00 pagi Aisyah bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajud, diakhir sholat tidak lupa ia berdoa meminta keinginan yang sangat ingin dicapainya. Selesai berdoa ia mengambil buku pelajaran untuk dibacanya sambil menunggu sholat subuh. Kegiatan ini dilakukan setiap hari selama di pondok pesantren, begitupun juga dengan santriwati lainnya. Udara pagi begitu sejuk dan mentari dipagi hari selalu mendukung aktivitasnya. Setelah semua kegiatan telah terselesaikan ia berangkat ke kampus dengan berjalan kaki yang jarak dari asrama ke kampus sekitar 10 m. Sampai di kampus ia masuk dan mengikuti pelajaran yang akan segera dimulai bersama teman sekelasnya.

   
                                             
Roda waktu terus berputar, detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun. Tak terasa empat tahun sudah ia habiskan waktunya menuntut ilmu di pondok pesantren dan tibalah waktunya ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan prestasi yang membanggakan yaitu menjadi lulusan terbaik dengan IPK tertinggi. Aisyah Humairoh mahasiswi Fakultas Dakwah Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam dan April 2022, Aisyah pun di wisuda.

“Jangan balas ilmu yang kamu dapatkan dengan suatu sikap yang dapat merendahkan ilmu itu dan dirimu. Ilmu kalian harus ada manfaatnya untuk diri kalian dan untuk orang lain. Lakukan semuanya ikhlas dengan niat semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Sampaikan kabar gembira tentang islam. Khairunnas si anfauhum linnas” begitulah kiranya pesan pak kyai kepada semua wisudawan dan wisudawati.

 Kebahagiaan pun menyelimuti hati seluruh keluarga. Saat ayah, ibu dan saudaranya menghadiri acara wisudanya. Ayah dan ibunya sangat bangga memiliki seorang putri yang selalu berjuang untuk meraih mimpi. Kini Aisyah berhasil meraih cita-citanya yang selama ini ia impikan.

    “Jadikan impianmu sebagai mimpi yang kenyataan, jangan hanya sekedar mimpi tapi tidak kau perjuangkan. Sekurang apapun diri kita jika kita memiliki semangat dan kemauan pasti akan terwujud segala mimpimu, berdoa, tirakat dan berusaha adalah salah satu kunci menuju sukses. cinta memang penting tapi ketahuilah bahwa cinta akan datang dengan sendirinya setelah kamu berhasil meraih cita-citamu.”

Setelah merasakan pahit dan manisnya hidup maka Aisyah menjadi seorang yang tidak takut dengan yang telah terjadi dan tidak takut dengan apa yang akan datang. Karena ia percaya bahwa semuanya sudah di atur oleh Allah SWT. Dan ia percaya bahwa apapun yang membawanya mendekat kepada Allah adalah kehendak Allah SWT.

Lihatlah sekeliling dimana pandangan tentang manusia itu unik sekali. Saat semua orang berkeyakinan bahwa orang dengan Intelegencies Quoties tinggilah yang bakalan hidup sukses. Maka dalam diriku yang paling dalam tak percaya akan hal tersebut


Tulisan Terkait

Cerpen 2074644726157828998

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Rumah Literasi Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

Berlangganan: cantumkan alamat email Anda:

item