Misteri Mimpi


Cerpen : Qonitah Hafidzah

Aku masih ingat betul kejadian malam itu. Suasana mencekam. Semua orang dalam ruangan itu diam. Sunyi, senyap. Hanya satu suara yang terdengar. Ya, suara si ketua kelas. Ia sedang  menceritakan mimpi aneh yang ia alami. mimpi yang kemudian menjadi nyata. 

Aku heran, entah bagaimana itu bisa terjadi. Sampai sekarang akupun masih belum menemukan jawaban dari pertanyaanku itu. Aku hanya menerka-nerka penyebabnya. Bisa jadi ia terlalu memikirkan suatu masalah, sampai kemudian terbawa mimpi. Atau bahkan ia hanya membual. Tapi mana mungkin si ketua kelas yang jujur itu membual. Entahlah.
***

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh”  ucapnya membuka perkumpulan kami. Perkumpulan yang telah kesekian kalinya. Seperti biasa ia membahas seputar persoalan-persoalan kelas dengan panjang lebar. Membuat mataku berat oleh rasa kantuk,  waktu pun telah semakin larut. Posisi dudukku kala itu sangat menunjangku untuk terlelap. Pojok belakang sebelah kanan.

Hanik teman sebangkuku dengan sengaja mencolek-colek lengan tanganku yang kujadikan sandaran. Ia katakana bahwa aku harus bangun, ada mimpi yang ingin ketua kelas ceritakan. Dengan malas kupaksa kepalaku untuk bangun. Kuedarkan pandanganku kesekeliling. Aku malu, ternyata hanya aku yang tertidur. Semua orang antusias ingin mendengar ceritanya.

“Entah mengapa apa yang aku impikan menjadi nyata.” Ucapnya mengawali cerita. Mata sipitnya menyapu seisi kelas. Memandangi wajah kami satu-persatu.
“Aku pernah bermimpi, kakak kelas tiga SMA membobol satu keramik kamar zainab.” Ia terdiam. “Mereka sembunyikan alat-alat elektroniknya disana.” Nadanya meninggi. Tangannya menunjuk gedung putih didepan kelas. Orang-orang melihat kearah yang dituju, tapi tidak dengan ku. Karena aku tahu itu adalah Gedung kamar zainab.
“Dan itu telah terjadi sekarang.” Suaranya parau, Mata coklatnya bekaca-kaca.  sebab tangis yang ia tahan. Memang benar, aku yang kala itu bertempat tinggal disana menjadi saksi atas kejadian tersebut.

***

Tepatnya hari selasa jam 12.30 WIB. Seluruh siswi kelas tiga SMA membuat gaduh asrama kami.  Merke gelagapan kesana-kemari. Membuat kamu adik kelas yang baru dua tahun menginjakkan kaki di asrama ini, bingung dengan keadan yang tak biasa ini. Terutama aku yang tak banyak bergaul dengan mereka. Tak ada satu informasipun yang aku ketahui.
Kala itu kami hanya diam. Menyuarakan semua pertanyaan kami di dalam hati. Kami tau diri, jika saat itu satu pertanyaan dilontarkan,  hanya akan menyulut kemarahan mereka, tak lebih.
Aku mengamati mereka dari kejauhan. Menangkap sinyal-sinyal kegelisahan yang tampak dari raut wajah mereka.  Sayup-sayup aku mendengar seseorang diantara mereka berkata dengan sedikit keras,

“Gimana ini, katanya besok ada penggeledahan masal, kalok begini caranya semuanya akan terbongkar.”
“kalau begitu, kita cari tempat persembunyian yang aman” jawab seseorang menimpali. Sambil mengganti posisi duduknya. Ia memijat keningnya yang tampak mengerut.
“Aku puny ide” ucap seseorang sambil mengangkat jari telunjuknya sebatas kepala. Kemudian ia member isyarat pada teman yang lain untuk lebih merapat, mempersempit jarak diantara mereka.  Aku tak dapat mendengar apa yang ia katakana. Ia berbicara dengan sangat pelan. Namun taklama kemudian mereka menganggukkan kepala tanda setuju.
***

Setelah sholat maqhrib. Kulangkahkan kakiku menuju kamar. Rasanya aku ingin segera merebahkan badanku, barang sebentar. Aku terlalu lelah. Akibat dari kegaduhan yang membuatku takbisa tidur siang itu.

Baru saja kuinjakkan kakiku di pintu kamar, aku dibuat heran oleh kelaukan tiga orang siswi dipojok kamar. Yang kutahu mereka adalah kakak kelas tiga. Palu, paku besar, serta satu keramik yang terbongkar berada disampingnya. Membuatku bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan?.

“Cepat masukkan barangnya” titah si baju merah kepada temannya. “Pelan-pelan kawan, biar tak rusak” sambungnya dengan suara pelan. Dengan pelan si baju cokelat memasukkan keresek berisi barang-barang penting mereka, kedalam lantai yang telah dibobol, dengan kain selebar keramik sebagai alasnya.
“Berikan keramiknya padaku, kita tutup kembli lantai ini”. Ucap si baju biru dengan pelan.
“Ayo kita letakkan almari itu diatas keramik ini”. Ucap si baju merah. Kusebut mereka dengan warna bajunya, karena kutak tau persis namanya. Merekapun bersama-sama mendorong almari beroda milik temanku sampai menutupi keramik. Kuterdiam diatas kasur menyaksikan prilaku yang ganjil ini. Membuatku tersenyum geli. Pintar juga kaka-kakak ini pikirku.
***

“Aku takut, apa yang aku impikan kemaren juga akan menjadi kenyataan,” Nadanya meninggi, menekan kata kenyataan. Wajahnya berkaca-kaca. Ia mencoba mengatur deruan nafas. Semburat ketakutan tampak dari wajahnya. Ia mengusap tangannya yang mulai berkeringat.
“Kemarin aku sakit selama tiga hari.” Mengambil jeda “Selama itu aku selalu memimpikan hal yang sama. Hal yang membuatku takut. Itu selalu terbayang-bayang dalam benakku. Aku takut hal itu akan terjadi” Wajahnya menunduk. Ia menitikkan air mata
“Mimpi apa yang kau hawatirkan itu?” Tanya teman didepanku.
Ia menghapus air matanya. Berusaha tetap tegar. Dengan tetap menunduk ia berkata “Aku bermimpi, si Alif mau membunuhku” katanya dengan lirih. Perkataannya membuat seisi kelas menyorot wajah Alif dengan tajam. Alif yang sedang disorot malah  berlagak santai. Tak peduli dengan apa yang sedang terjadi.
“Ia berusaha membunuhku dengan pisau kecil yang ia selipkan dibalik bajunya”. Untuk kedua kalinya mereka meyorot wajah Alif dengan penuh tanda Tanya, akankah Alif akan melakukan itu?. Sedang si ketua kelas masih menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap wajah Alif.

Suasan menjadi hening. Semua orang menyimpan pertanyaan pada benaknya masing-masing. Hawa-hawa mistispun telah tercium, harum bunga mawar. Entah dari mana berasal. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kelas dengan lirih. Kami yang hanyut dengan pikiran masing-masing, tak menyadari hal itu. Rahmi si wakil berjalan mendekati pintu, ia mengintip sebentar kemudian membukanya sedikit.


“Alif, dipanggil kak Rani, piket kamar katanya.” Ucap Rahmi lirih. Alif yang disebut namanya, bangun dari tempat duduknya. Dengan santai ia langkahkan kakinya maju mendekati  si ketua kelas yang masih menundukkan kepala. Ia tampak kaget ketika dengan sengaja Alif menepuk bahunya dari belakang. Sontak ia menjerit dengan keras, seraya berlari tunggang langgang meninggalkan kelas karena takut.

“Ahh” membuat semua orangpun ketakutan dan sontak ikut  berlari, berusaha meninggalkan kelas dengan segera. Mereka bahkan berteriak lebih keras dari pada teriakan si ketu kelas. Menabrak semua yang menjadi penghalang. Membiarkan meja, kursi jatuh berserakan. Mereka berdesak-desakan menuju pintu kelas yang hanya berukuran 1x2 meter itu, tak sebanding dengan jumlah kami yang kala itu sekitar 64 orang.

Nabila jatuh terinjak-injak karena tak kuat menahan desakan dari semua orang. Tubuhnya yang kecil membuat ia tak terlihat, dan mudah roboh. Bukan hanya itu. Kerudungnya terlepas, penitinya pun hilang entah kemana. Bahkan aku melihat orang-orang yang berada persis dibelakangnya, tak menghiraukan keadaannya. Ia diselamatkan oleh beberapa orang yang tertinggal.Aku juga termasuk dari salah satu orang yang tertinggal.

Sebulum benar-benar keluar dari kelas, sempat-ku edarkan pandanganku kedalam kelas. Aku mengangkap dua orang temanku yang tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka asik memperhatikan kami dengan senyuman geli.

Ternyata tak seperti yang ku bayangkan. Ku kira kami akan langsung tenang begitu berada diluar kelas, namun sayangnya hal itu tak terjadi. Kami malah dihujami banyak pertanyaan oleh orang-orang korban penasaran yang menanti kami didepan kamar. Untungnya, hal ini tak berlangsung lama karena mereka segera melanjutkan tidurnya, dan kamipun bisa segera beristirahat.

Baru saja kuingin merebahkan badanku. Tiba-tiba ku mendengar teriakan histeris seseorang dikamar sebelah. Orang itu aku kenal suaranya. Sontak aku terbangun dan bergegas menghampiri suara tersebut. Hanik menghadangku yang berusaha menerobos masuk kedalam kamar tersebut. Kamar yang telah dikerumunani banyak orang.

“Jangan masuk, lebih baik kau disini membacakan do’a untuknya bersamaku.”
“Apa maksudmu? Aku tak mengerti?”
“Si ketua kelas ketakutan. Orang-orang didalam berusaha menenangkannya. Kedatanganmu kesana hanya akan membuat keadaan tambah sesak. Percuma.” Berusaha memahamkanku.
“Ayo, tunggu apa lagi. Ayok bergabung dengan anak-anak yang ada disana” ia menunjuk gerombolan orang di serambi kiri mushollah, persisi didepan kamar ini.

Ku langkahkan kakiku menghampiri mereka. Mereka beristighfar, sambil mendo’akan si ketua kelas. Aku terenyuh melihatnya. Kekompakan ini yang telah lama ku rindukan. Alif juga ada disini. Kawan-kawan menasihatinya agar ia menjaga jarak dengan si ketua kelas sampai keadaan membaik. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala. Kasihan sekali ia menjadi korban ketidak tahuan.

Setelah kejadian itu, Si ketua kelas sering melamun. Aku jarang sekali melihatnya tersenyum seperti dulu. Wajah cerianya tak tampak lagi. Kabut  kesedihan menyelimjuti wajahnya. Ia juga menjadi rapuh, tak sekuat dulu. Tubuhnya semakin kurus. Matanya berkantung. Hitam menyelimuti sekitar matanya. Ia sakit-sakitan. Karena tak tahan dengan keadaannya, ia putuskan untuk pindah sekolah. Melupakan masa lalu, melukis masa depan kembali.

Sampai sekarang aku tak tahu keadaanya. Ini sudah menginjak tahun ke-enam kita berpisah, begitu juga dengan kawan-kawanku yang lainnya. Semua orang  membuang masa lalu itu. Memulai untuk melukiskan masa depan yang terang. Kita lose kontak. Hanya sahabatku Hanik yang masih sering kirim kabar.

Terakhir kali aku melihat Alif_ ia tersenyum kepadaku. Tak tampak masa lalu itu dari wajahnya. Ia berpesan padaku jangan membuang-buang waktu hanya untuk meratapi masa lalu. Yang lalu biarlah berlau. Rupanya ia lebih pintar melupakan masa lalu itu dari pada Si ketua kelas. Walau ia adalah sang korban.

Kemarin aku bermimpi si ketua kelas menghampiriku. Ia menyenggol lenganku, seraya berkata “Aku sudah berhasil membebaskan diri dari mimpi itu. Jangan kau ingat-ingaat kembali mimpi itu.” Aku mengangangguk dan tersenyum

Qonitah Hafidzah mahasiswi Mahasiswi IDIA_Prodi IQT Semester IV




MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3926371876473091760

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA