Rencana Allah


Cerpen: Siti Ria Khoiriah

Hai, namaku Siti Rofiqoh, anak sulung dari empat bersaudara. Sebagai anak pertama aku harus selalu menjadi contoh yang baik bagi adik¬- adikku, sekarang aku duduk di kelas satu Aliyah di sebuah pondok  pesantren salaf yang berada di pedalaman Sumatra,

Sebenarnya, masuk pesantren salaf adalah keinginan orangtuaku yang menginginkan anaknya menjadi pribadi yang berakhlakul karimah dan mengetahui ilmu agama secara mendalam, aku tak dapat membantah perintah kedua orangtuaku karena salah satu prinsip hidupku adalah tidak akan  pernah menyakiti hati kedua orangtuaku, jujur saja sebenarnya aku sangat takut dibilang anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih kepada ibu dan bapak.

Hari ini  aku masuk sekolah  seperti hari-hari sebelumnya,  aku sedikit terburu-buru mengganti pakaian dengan seragam putih abu-abu, lalu melangkah kearah cermin yang tergantung di dinding tepat di seberang lemariku, kemudian kembali lagi kearah lemari untuk mengambil jarum pentul dan menyematkannya di bawah dagu.

‘‘Fiqoh, cepatan bel udah bunyi nih’’ teriak temanku tidak sabaran, terlihat jelas dari intonasi suaranya.
‘‘Iya bentar lagi beres kok’’ sahutku

Aku mengambil kitab Kawakib Ad-Duriyah, Fathul Qorib,dan Jawahirul Bukhori  dari rak atas lemariku karena jadwal pelajaran hari ini ialah nahwu, fiqhi, dan hadist aku berlari-lari kecil kearah cermin sekali lagi melihat penampilanku yang hanya berbedak baby lalu aku menghembuskan jilbabku dengan cara meniup jilbab bagian atas menggunakan mulutku, cara ini sangat efektif untuk mendapatkan hasil jilbab yang rapi, ini teori turun-temurun bagi santriwati dan teori ini terus dilestarikan hingga saat aku nyantri di zaman serba canggih dan serba teknologi ini.

‘‘Haroh mukanya jangan dilipat gitu dong, kita kan nggak terlambat masuk kelasnya’’
‘‘Iya nggak telat masuknya, tapi kalau tiap pagi aku harus nungguin kamu yang super santai ini bisa-bisa hidupku jamuran’’ serunya ketus
‘‘Iya-iya maaf, besok nggak lagi deh” sambil mengangkat dua jari pertanda damai.
“Udah dong Aroh ngambeknya, entar cantiknya hilang loh, Kalau Aroh terus ngambek, Fiqoh bakalan sedih nih, terus Fiqoh nggak mau makan, mau nangis terus kalau ditanya Ummi kenapa Fiqoh nangis, Fiqoh bilang Fiqoh nggak betah di pondok, karena Aroh marah terus sama Fiqoh” ucapku pura-pura ngambek sekaligus mengancam.
“Iya deh iya, tapi besok jangan diulangi lagi, mau jadi apa generasi bangsa Indonesia kalau para pemudinya  kayak kamu gini”
“mulai deh aku diceramahin tentang bangsa Indonesia bla bla bla” ucapku menggerutu di belakangnya.
“Apa katamu tadi? coba ulangi lagi aku nggak denger” sambil menoleh kebelakang.
“Eh, em enggak kog, nggak ada apa-apa, cuaca hari ini cerah banget” jawabku cepat
“Ohh betul itu langit bersih banget nggak ada awannya”
“Huft hampir saja” ucapku dalam hati sambil mengelus dada lega.

Muthoharoh adalah sahabat yang baik yang selalu mengingatkan jika aku berbuat  salah atau lupa, orangnya tinggi semampai dengan kulit kuning langsat jika berjalan sangat gemulai dan lemah lembut, sangat kontras dengan aku yang tidak rapi, sama sekali tidak memerhatikan cara berpakaian dan dalam segala hal terlalu santai contohnya saja sepagi ini aku sudah berhasil membuat Haroh kesal dan mengomel panjang lebar tentang  peranan pemuda Indonesia.

Walau perbedaan antara kami sangat kontras tapi kami selalu kompak. Dimana ada Haroh pasti ada Fiqoh begitupun sebaliknya, dulu sebelum ketemu Haroh kupikir kehidupan pondok itu tidak seru, apa lagi pondok salaf yang dalam ekspektasiku pondok salaf itu terkenal dengan santri yang memakai sarung dimanapun dan kapanpun. Aku selalu bertanya mengapa aku harus dimasukkan ke pondok salaf? Bukankah pondok waktu aku SMP itu sudah sangat bagus? Terkenal dengan santri yang mahir berbahasa asing? Dipenuhi dengan guru-guru yang professional dibidangnya masing-masing?

Kegalauanku ini terus berlanjut selama tiga bulan pertamaku di pondok ini, sebenarnya pondok ini tidak sejelek yang aku duga, disini santrinya sangat ramah dan suka menolong sesama, berbeda dengan pondokku dulu yang tidak peduli terhadap sesama dan cenderung sibuk dengan urusan masing-masing, kemudian Haroh datang mengubah hari-hariku yang membosankan, bersama Haroh hariku yang suram menjadi ceria dan penuh warna.

“Fiqoh,,,, kog ngelamun lagi sih, masih pagi juga,” Haroh membuyarkan lamunanku
“ehh Aroh makasih ya selama ini selalu menjadi temanku yang baik dan selalu sabar dengan aku yang urakan ini” ucapku sungguh-sungguh
“Uuhhh Fiqoh kog ngomongnya gitu sih, kita tuh udah kayak saudara, udah deh nggak usah ngomong yang aneh-aneh”
“Serius Aroh, aku bersyukur banget punya teman kayak kamu, udah sabar, pintar, rajin, nggak sombong lagi. Kehidupanku lebih berwarna sejak aku sadar mau dimanapun kita hidup itu tidak penting yang penting itu bagaimana kita bermu’amalah  terhadap sesama. Dan yang mengajarkanku tentang itu adalah pondok sederhana ini dan tentu saja kamu Muthoharoh”.
Mata Haroh berkaca-kaca, satu bulir air matanya lolos dari matanya yang bening, “Alhamdulillah sekarang kamu udah sadar Fiqoh, sebenarnya tujuan hidup ini sederhana sekali hanya beribadah kepada Allah dan mengharapkan ridho-Nya, kamu juga hebat loh, tetap mau belajar dan menerima walaupun aku tahu persis kalau kamu terpaksa di sinikan???”
“ahh nggak juga sih Roh, aku hanya tidak mau mengecewakan orangtua dan berusaha tidak menjadi anak yang durhaka na’udzubillah min dzalik”
“Jangan terlalu merendah, aku tahu kog kamu sangat berpotensi di bagian akademik”
“Akademik tidak dibutuhkan disini Roh” ucapku sambil menggelengkan kepala.
“Siapa bilang,? itu sudah menunjukkan kalau kamu mampu bersaing dengan santri disini, jika kamu bertahan disini hanya agar orangtuamu tidak kecewa, kenapa tidak kau bahagiain aja sekalian dengan prestasi yang membuat orangtuamu bangga dengan anak sulungnya ini?” ucap Aroh berapi-api.

Inilah yang aku suka dari Haroh selain berwawasan luas dia juga selalu sukses mendorongku untuk berbuat yang berarti untuk kedua orangtuaku, karena moto hidupnya yang selalu dijunjung tingi-tinggi olehnya adalah “hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti” perasaan optimisme yang tinggi inilah yang menular padaku hingga membuatku yang awalnya malas belajar, malas mengikuti kegiatan pondok sekarang berubah sedikit demi sedikit.

Minggu depan kami akan mengadakan ujian semester ganjil, aku belajar dengan tekun dan tentu saja belajar bersama Haroh, menghafal apa saja yang dibutuhkan ketika ujian nanti, tapi namanya hidup nggak selamanya mulus seperti jalan tol, ada saja yang tidak suka dengan usaha yang kita lakukan, padahal kita tidak sama sekali mengganggu hidup mereka, itulah yang aku rasakan ditengah kesibukanku belajar, seperti celotehan yang aku dengar sendiri “alah murid baru aja udah belagu gitu, paling juga dapat rengking terakhir, secara dia nggak akan mampu bersaing dengan kita yang udah 4 tahun dipondok ini, selama 4 tahun ini juga selalu aku dan Gus Ulin yang mendapatkan peringkat 1 dan 2” ucapnya sambil menatapku sinis ketika aku sedang berjalan didepan kamarnya. Aku tidak peduli karena tujuanku disini hanya untuk tidak mengecewakan ayah dan ibuku itu saja, sederhana bukan?.

“udah Fiqoh nggak usah sedih gini dong, lagian kalau dibilang gitu kalau aku sih makin semangat belajarnya, kata pepatah mengatakan pohon yang berbuah, seringkali dilempar semakin baik kita semakin banyak yang nggak suka dan memusuhi, anggap angin lalu saja oke”  nasihat Haroh saat aku cerita tentang kejadian yang tidak mengenakkan itu.
“InsyaAllah aku coba nanti, makasih ya Haroh”
“iya sama-sama, udah jangan sedih lagi” ucap Haroh sambil memegang tanganku.

Sejak kejadian itu aku semakin semangat belajar, mulai berani bertanya kepada guru dikelas, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah. Tak terasa waktu ujian semester ganjilpun telah tiba, para santri sibuk belajar, membuat halaqoh-halaqoh belajar, berdiskusi, tidak ada yang nampak bergurau semua sibuk belajar dan menghafal. Disetiap sudut-sudut kamar ataupun musholah dipenuhi santri yang saling menyimak hafalan dan lain sebagainya. Tak beda jauh dengan santri yang lainnya aku juga belajar, menghafal dan membuat catatan-catatan kecil agar mudah diingat, aku berusaha lebih keras dari biasanya, karena sekarang aku telah mengetahui untuk apa dan untuk siapa aku belajar, aku sudah menemukan motivatorku yang sesungguhnya yaitu kedua orangtuaku, dalam pikiranku inilah saat yang tepat untuk membuat kedua orangtuaku bangga dengan putri sulungnya, putri yang menjadi tauladan bagi adik-adiknya, putri yang diam-diam selalu diceritakan kepada keluarga dan tetangga. Walaupun aku tidak menjadi yang terbaik nantinya namun setidaknya aku sudah berusaha semampuku.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu itu dimulai juga, aku duduk disamping Haroh dengan gelisah, sambil sekali-kali melihat kearah wali santri, acara demi acara telah dibacakan. Sekarang seorang ustadz maju ke podium untuk membacakan nama-nama santri yang berprestasi di ujian tengah semester kali ini.

“Juara pertama kelas satu Aliyah jatuh pada saudari Muthoharoh, diharap menaiki panggung untuk menerima piagam” ucap ustadz dengan suara lantang.
“Juara kedua diraih oleh,,,, tak ada proses yang menghianati hasil itulah kata pepatah, dipersilahkan kepada saudari Siti Rofiqoh untuk maju kedepan” ruangan tempat acara berlangsung dipenuhi oleh suara tepuk tangan para santri, mendengar namaku disebut aku langsung sujud syukur dan berderailah air mataku karna haru dan tak percaya.

Tak ada sesuatu yang mustahil jika kita berusaha keras untuk meraihnya, seorang yang mau berubah menjadi lebih baik akan selalu menemukan jalan yang terbaik yang telah Allah siapkan untuk hamba-hambaNya, misalnya ditengah jalan hijrah kita, kita akan ditemukan


Siti Ria Khoiriyah,  Mahasiswi IDIA_Prodi PAI Semester VI


Menarik juga:

Tulisan Terkait

Utama 3550484324033254474

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA