Puisi-Puisi Mahasiswi IDIA Prenduan.


Sketsa Hidayat Raharja



Menitik Jejak Disecuil Kertas
Puisi: Bunaya


Lantunan adzan mulai terdengar dengan rintih
Membangunkan diri dalam kesunyian
Hati bergetar dengan panggilan Illahi
Bergetar sejajar bagaikan lenteran api yang menyala

Detik- detik penghadapan mulai merangkul lembut
Seolah- olah membakar jiwa yang lama mati
Menghanyutkan harapan yang semakin mendalam
Yang Menjelaskan lamunku dalam kegelapan

Bercucur mimpi kuluapkan dalam diam
Mengharap yang buram akan segera nyata
Memohon kepada yang berHak atas segala panjatku
Dengan dintaian lantunan yang tulus

 Menunggu dan terus menunggu
Meyakinkanku dengan mengurai sedikit keluh
Kuuntaikan dalam sehelai kertas
Yang ku bungkus rapi dengan segala pinta….

*****

Cukup Ikhlas
Puisi: Zian Salsabila

Cukup ikhlas…..
Saat melihat si Dia bersama orang lain
Cukup ikhlas….
Saat kau tahu usaha yang kaulakukan
tidak pernah dihargai
Cukup ikhlas…..
Saat Dia hanya datang menjadikanmu persinggahan dan
kemudian pergi lagi tanpa sekalipun
ingin berlabuh dan menetap

Kau tahu ?
Ikhlas itu pada nyatanya memang sulit
Bahkan sangat sulit
Namun perlu kau ketahui juga
Bahwasannya dengan ikhlas
akan kau dapatkan banyak hal di dalamnya
salah satunya SABAR
Yaah benar,,,
dengan ikhlas kau tahu arti sebuah

kesabaran …………




*****

Sketsa Hidayat Rajarja











 

























Rintihan Hati Seorang Wanita
Puisi: Nurul Hidayah

Rasaku telah terhenti
Pada sosok yang bahkan dulu sangat ku benci
Dia hadir bagai darah hangat yang mengalir di setiap vena
Menjelma bagai ksatria gagah berkuda putih
Tiap pasang mata bahkan enggan berpaling darinya
Bidadari-bidadaripun bertengkar memperebutkannya
Detak jantungku bagai bom waktu yang segera meledak
Saat sabda cinta keluar dari  mulutnya untukku
Lidahku kelu, tubuhku kaku
Air mata mengalir deras, nafas penuh didada
Aku menolaknya
Bukan karna tak cinta, tapi diri ini merasa tak pantas
Hatiku menjerit menginginkannya
Namun ku sadar siapa diri ini
Hanya seorang wanita rapuh yang berusaha memperbaiki diri

*****

                       
Hujan dan Kebersamaan
Puisi: Dianawati Bt Mat Romli


Hujan ini mengingatkanku pada angan
Pada kebersamaan pernah kita jalankan
Setiap orang menarikan imajinasi yang disampaikan
Melalui kertas putih tak diharapkan

Langit terasa gelap mencekam
Air berjatuhan tanpa memberi kesempatan
Hawa dingin menusuk pori-pori badan
Semangat tetap tak terbantahkan

Ada yang tidur dengan kesakitan
Ada yang merenung dengan kesendirian
Ada yang ragu dalam penyampaian
Ada pula cinta dalam kebersamaan

 Kasih ku tatap mata tajam
Ada kerinduan terlalu dalam
Seperti tanah gersang merindukan hujan
Kasih bila hujan telah tiada
Adakah kebersamaan kita tetap terjaga?
Setiap peristiwa melahirkan suka dan duka
Dan menjadi penyebab guncangan jiwa

*****


Cahaya Sang Rembulan
Puisi: Faizatun-Nu

Ketika hidup terasa tak terang
Tangis di setiap perjalanan
Hati mulai tak percaya tujuan

Engkau merangkul ku
Untuk terus berjuang
Berjalan menuju sang cahaya
Hantam semua tusukan
Abaikan sank duri-duri rintangan
Rasakanlah ringan di setiap
Langkah-langkah ini

Bak daun di tiup angin
Tergulai menuruni sang kayu Menuju tanah milik sank bumi
Engkau ada di antara hati dan perasaan
Engkau yang menjadi penunjuk
Sank lilka liku kehidupan
Selalu ada ketika diri tak lagi bersimpuh
Selalu ada ketika diri tak lagi merasakan
Manisnya kehidupan

Engkau yang selalu menggenggam sank tangan kehidupan
Engkau yang selalu menghapus sank Air
Yang jalan tanpa tujuan kehidupan
Engkaulah sank cahaya yang menyinari
Diri ini dari gelapnya kehidupan

*****

Berguru Pada Semut
Puisi: Fitria Ningsih

Hitam, merah berjalan merayap
Menyelinap mencari celah
Mencari makan
Hitam dan merah tak pernah gerah
Menjunjung makanan bersama-sama
Membawa mansuk ke istana raja
Berpesta dalam semangat
Yang tetap mempesona
Yang tetap berjalan walau begitu banyak rintangan
Yang harus di lewati

*****


Gelapku Dalam Cahayanya
Puisi: Ika Mutmainnah

Suaranya menusuk dalam raga
Cahayanya menerangi khayalan mata
Hembusan nafasnya mengalir dalam jiwa
Ketenangan hadir tanpa makna

Bagai lonceng yang merusak gendang telinga
Memantul dalam sudut rungan hampa
Tak pernah musnah didalamnya
Selalu terkenang seumur usia

Gejolak api di kobarkan dengan panasnya
Tanpa berfikir apa penyebabnya
Masuk dalam lembutnya suasana
Meracuni lembah suci dalam hakikatnya

lambatku dalam melangkah
Semuanya telah terlanjur tumpah
Andai detak jam berputar sebaliknya
Ingin ku berkata...
Maafkan aku..
Bunda....

*****

Putri Purnama
Puisi: Khadijah Puisi

Taukah kamu lamanya kumenunggu
Suburnya mimpi ditanah haru
Dengan terang cinta dipadang savana
Cahaya temaram darimu putri purnama

Adakah rasa jemu ku menanti
Dari luar biasanya saling menyayangi
Putri purnama telah sudi
Menari bersamaku malam ini

*****

Aku
Puisi: lia_Shofia

Aku adalah lumpur hitam yang mendebu
menempel di sandal dan sepatu
hinggap di atas aspal
terguyur hujan
terpelanting
masuk comberan
siapa sudi memandang....
atau mengulurkan tangan
tanpa uluran tangan tuhan
aku adalah....
lumpur hitam yang malang

*****

Ini Sudah Pagi!
Puisi: Muwirotus Sholeha

Bangunlah
Kalian tak menghargai matahari
Ini sudah pagi....
Aku sudah bosan menatap jam
Dan kalian yang masih bergelimangan
Seperti mayat
Yang mendengkur
Yang terlentang
Yang miring
Yang berkepongpong sarung
Palestina bahkan tak ada malam
Mata-mata rohingnya tak sempat terpejam
Kalian mencuri waktu tidur mereka.....!!!

*****

 Cuap-Cuap Yang Memotivasi
Puisi: Dian Ratri Arcylla

Mentari…..
Aku sedang bahagia saat ini
Dia datang untuk menyambangku
Memupuk kembali semangatku
Melukis kembali senyumku
Dan menumbuhkan jati diriku

Ibu…..
Satu kata motivasinya
Mampu kobarkan ambisiku
Mampu lahirkan anganku
Mampu ciptakan imajinasiku

Hingga manusia bodoh ini
Menjadi makhluk yang sempurna
Menjadi makhluk yang lebih mulia dari malaikat
Dan akan menjadi penghuni Jannah-Nya

*****

Sepucuk Surat untuk Bidadariku
Puisi: Siti Nurfaizah

Lambaian Rumput yang Menari diwaktu Senja
Sepoin Angin yang Menata Jiwa
Lantunan Qur’an Menundukkan Mata
Meratapi Jejak yang Telah Hilang,
Dan Kini Kutelah Sadar
Jauh dari Kekasih
Seakan Kertas yang Tak Tertintah
Tanpamu Aku Hanyut dalam Kesedihan
Mengharap Kerinduanku Terobati
Denganmu Aku Hidup, Tampamu Aku Hilang Arah
*****

Rindu
Puisi : Nuris Watun Hasanah

Terjebak reperangkap dalam jaring yang kumuh
Terpendam tak bisa lagi terbuka
Aku adalah sekumpulan jiwa
Aku adalah sekumpulan kepingan kata-kata yang menunggu asa
Dan aku adalah secangkair kopi yang pahit
Yang menunggu akan manismu datang
Memang terlalu jahat
 terlalu kejam seperti kerang yang tajam kata “rindu”
setiap hari dihadiri tanpa di undang
lalu kembali lagi datang berkali-kali
bagaimana rasa ini ?
mau mengadu kesiapa tentang ini?
Dan kamu yang membuatku hancur akan kata rindu
Terimah kasih telah membuatku menggila merindukanmu
Bila kutemukan dirimu akan ku sambut senja yang telah berlalu
Lalu akan kukatakan pada senja bahwa langit masih membutuhkan genggaman
Yang tidak akan pernah hilang

*****

Indahnya Pergantian Tahun
Puisi: Uswatun Hasanah

Di penghujung tahun
langit sangatlah ramai
melebihi tak seperti biasanya
yang hanya bintang dan bulan

tapi kini bertambah hiasan langit
gemerlap warna-warni
yang bertebaran di langit
menghiasi langit dengan pesona elok warnanya

berhamburan deras petasan
menari-nari di langit
menemani sang bulan dan bintang
untuk menyambut tahun baru









MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 5215813269072212054

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA