Guru Millenial di Era Millenial

 
Pembelajaran melalui metode bigbook
Oleh: Shofa Thoyyib
Memasuki abad ke-21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasaan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.

Salah satunya adalah memasuki abad ke-21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.

Bob Gordon dari Universitas Northwestern, seperti dikutip Paul Krugman (2013), mencatat, telah terjadi tiga revolusi industri. Pertama, ditemukannya mesin uap dan kereta api (1750-1830). Kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia, dan minyak (1870-1900). Ketiga, penemuan komputer, internet, dan telepon genggam (1960-sampai sekarang). Versi lain menyatakan, revolusi ketiga dimulai pada 1969 melalui kemunculan teknologi informasi dan komunikasi, serta mesin otomasi (dikutip dari A. Tony Prasentiantono, Kompas 10 April 2018, hal. 1). Setelah tiga revolusi industri itu, muncul revolusi industri 4.0 atau disebut sebagai revolusi digital.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011 yang ditandai revolusi digital. Revolusi industri gelombang keempat adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligent), perdagangan elektronik, data raksasa, teknologi finansial, ekonomi berbagi, hingga penggunaan robot. Era macam inilah yang sedang kita hadapi dan diperbincangkan.

Pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini diharapkan  dapat memberikan pelayanan pendidikan bagi mereka yang masih tertinggal. Materi konten pembelajaran secara digital sangat banyak namun masih banyak yang belum membiasakan itu, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu, rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

Kiprah Guru di Era Millenial

Seperti dikutip dari artikel Tirto, Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923. Dalam esai berjudul The Problem of Generation, sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi. Berdasarkan teori itu, para sosiolog yang bias Amerika Serikat membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z.

Alasan terpenting kemerosotan dan kemajuan kualitas pendidikan terletak pada seberapa peran pendidik maupun guru dalam dunia pendidikan. Maka dari sinilah revolusi guru sangat dibutuhkan dalam menyesuaikan permasalahan yang ditemukan seiring dengan perkembangan zaman. Dalam menghadapi maupun menyikapi perubahan tersebut, Guru di era millennial harus memiliki kompetensi dan memilih strategi yang tepat agar mampu diterima oleh generasi ini, beberapa diantaranya adalah pertama kenali anak lebih dalam dan ajak anak mengenali dirinya. Mengajar generasi millennial tidak bisa diartikan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, Karena mereka sudah dapat mendapat informasi dan berbagai pengetahuan dari ponsel pintar mereka, lebih dari itu, mengajar harus mampu memberikan Sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan. Yaitu menemukan potensi mereka serta mengarahkannya agar mampu eksis di masa yang akan datang. Disinilah peran guru sangat dibutuhkan. 

Melek Teknologi

Perkembangan zaman yang tidak dapat dicegah ini menuntut para guru untuk dapat lebih kreatif terutama dalam menggunakan berbagai teknologi yang tersedia, terdapat banyak teknologi yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran. beberapa metode pembelajaran berbaris IT juga sudah dapat diterapkan dengan mudah, guru hanya perlu terus belajar dan membuka diri terhadap canggihnya teknologi informasi saat ini. Dengan mengenal teknologi, anak-anak tidak akan menyepelekan gurunya dengan menganggap gurunya gaptek.

Ekosistem yang menyenangkan dapat dibangun dengan cara memasuki dunia mereka, karenanya guru harus selalu update informasi dan menghindari gaya otoriter, karena guru otoriter hanya akan dijauhi murid, sebaliknya menyentuh anak dengan kasih sayang, dan mengajak anak mengobrol, biarkan mereka menceritakan hobi mereka, jadilah pendengar yang baik untuk mereka, dan berilah arahan saat mereka melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Sampaikan kebaikan kepada mereka lewat pendekatan kasih sayang, dengan begitu anak akan merasa bahwa gurunya benar-benar peduli terhadap mereka. 

*) Shofa Thoyyib, Lahir pada tanggal 08 Juni 1999 di kota Jeddah, Mahasiswi Semester IV, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Jurusan PBA, sekaligus guru pengabdian di TMI Al-Amien Prenduan, asal Banyuates Sampang

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1272310872547377926

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA