Perasaan yang Tak Menentu



Cerpen: Tahta Liwai,

Entah apa yang terjadi pada diriku, namun perasaan itu telah lama ku kubur sedalam-dalamnya sehingga harapan sedikitpun untuk memilikinya tak  ada. Sekian tahun lamanya aku menahan sakit yang tercekik seakan-akan membunuh bathinku yang sebenarnya. Bagaimana tidak, cinta yang ku perjuangkan berakhir dengan landas karna restu orang tua yang tak memadai.

Siapa yang salah?, siapa yang mau disalahkan aditya orang aku perjuangkan untuk bisa menjalani kehidupan bersama, bersi keras ingin datang langsung yakni mengkhitbah ku, sedangkan keadaan masalah dirumahku satu-persatu belum juga tertuntaskan, sehingga apa yang terjadi, ayahku berkata secara halus keutusan yang di bawa aditya “maaf, bukan ingin menolak, namun anak saya sudah saya jodohkan dengan sepupunya”. Aku yang tak tau apa-apa, di pondok menjadi incaran orang rumah untuk marah, sebelum datang nya utusan aditya, ayahku tau hubungan ku dengannya dari tetangga sebelah, sehingga berita tersebut sampai ke ayah.

Ketika aku menelpon dari pondok kerumah, tiba-tiba ayah berkata “nak, dengar dengar kamu ada hubungan sama anaknya Matbari. Jangan di teruskan ya nak jika masih ingin mendengarkan ayahmu sebagai orang tuamu”. Deg, hatiku deg-degan seakan akan ada orang yang menginjak jantung ku. “ya ayah, aku tak akan teruskan hubungan ini”. aku jawab, karna aku bukan termasuk orang yang sedikitpun ingin menyakiti hatinya orang yang telah berjasa dalam hidupku, bahkan kita, aku dan kakak ku kak hasan punya prinsip

Sami’na wa atho’na ke dua orang tua selagi perkataan mereka tidak menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah. Rasa benci ke ayah pasti ada, bahkan ketika ku cerita ke kak hasan, bahwa aku tidak mau di sambang sama ayah, karna ujung-ujungnya pasti akan bahas masalah hubungan ku sama aditya.

“kak, pokoknya aku gak mau disambang sama ayah”. Ketika berkomunikasi lewat nomernya kak hasan. “Ya, gimana lagi Nawa, orang ayah sendiri yang minta untuk menyambangimu”. Sahut kak hasan kakakku dengan pasrah. “pokonya aku gak mau, dan aku gak bakalan temui ayah, karna apa? Aku takut ayah marah, aku takut nyakiti hati ayah”.

Setelah hari telah tiba untuk menyambang, perkataan ku tak sesuai dengan apa yang aku ucapkan. Ketika ayah dan ibu sampai dipondok aku biasa mencium tangan ibu, dan beralih ke ayah untuk mencium kedua pipi dan juga tangannnya. Ingin aku menangis, mataku berkaca kaca, entah apa yang aku harapkan dari ayah restukah? Belas kasihkah? Keridhoannya kah? Semuanya bercampur aduk dalam fikiranku. Disatu sisi, aku malah bersyukur ke Allah pelantara restu ayah untuk membiayakan aku mondok juga bisa duduk di bangku kuliah.

Telah mencapai keinginan yang aku impi impikan yang sekian lama terpendam karna aku merasa impian itu mustahil dan tak mungkin terjadi, namun Allah berkehendak lain. Disisi lain aku juga butuh untuk mendapatkan restu ayah, sedikit saja ayah memberikan peluang untuk aditya masuk kebagiannya, karna bagaimanapun ikatan ku dan ikatannya aditya sudah menjadi ikatan bathin, kita berjuang ketika aku kelas 2 SMP sedangkan aditya kelas 1 SMA di sekolah yang sama, kita sudah menjalani 7 tahun ikatan cinta, cinta yang suci dalam naungan ilmu karna waktu itu aditya anak santri yang mondok di dekat sekolah.

Ternyata benar dugaan ku, ayah ikut nyambang ke pondok untuk membicarakan apa yang sudah ayah katakan pada waktu nelpon. “nak, kamu tau sendirikan dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku tau sendiri nak bibit bobot dan bebetnya aditya dengan orang tuanya yang pekerjaan orang tua sering adu domba ayam, dan juga airnya jelek, masak kamu mau minum air yang jelek, sedangkan kita tak kan terlepas sama air, kita juga butuh akan air itu”.

Majas serta kata yang diucapkan ayah sangat halus, halus sehalus tepung yang sangat licin. Itu kata yang aku suka dari ayah, tidak langsung ngejad aku jelek bahkan menasehati dengan kasar, karna ayah sudah tau watak ku yang sebenarnya, aku orangnya lembut dan harus dilembuti seperti cara ayah. “ya ayah”. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan berkata “ya ayah, ya ayah akan aku putuskan aditya”.

Keesokan harinya aku langsung menghubungi aditya lewat teman kuliahku. “kak, maafkan aku, aku tak bisa untuk melangkah lebih jauh lagi, cukup sampai disini”. Aditya semakin bingung dengan ucapanku yang semakin ngelantur. “dek, apa maksudnya? Aku gak ngerti tiba-tiba kamu ngomong seperti itu”. “ayahku tahu hubungan kita kak, dan ayahku nyuruh aku untuk tidak melanjutkan hubungan ini”. aditya hanya terdiam dan bahkan dia tak percaya, dia ingin segera masuk kerumah untuk memastikan kebenarannya.

Beberapa bulan kemudian aku sama sekali tidak ada kabar dan sengaja untuk menghilangkan jejak, ternyata aditya menganggapnya aku sibuk dengan aktivitasku. Akupun lalai dengan janjiku sama ayah untuk menjauhkan aditya dalam kehidupanku. Aku masih ngeladani aditya, hingga akhirnya ketahuan juga sama ayah. Hp ku ada orang yang nelpon ketika waktu liburan, dan itupun ayah tau kalau yang nelpon aku adalah aditya. “nak, sudah aku bilang jangan ladanin orang itu, terserah kamu nak tapi aku harap jika kamu masih menganggapku sebagai orang tuamu”.

Ayah kecewa, namun ibu disampingnya menenangkan ayah untuk tidak melanjutkan perkataannya. Hati ini deg degan seakan akan wajah ini tertimpa sesuatau yang menjijikkan. Malu pasti ada, sudah mengatakan ya ingin dijauhi dan gak kan diladanin lagi. Setelah kejadian itu aku masih tetap saja meskipun secara sembunyi sembunyi. Hati ini berontak “kenapa harus terjadi seperti ini, kenapa harus aku dan keyakinanku dulu memang benar benar menjadi kenyataan.

Kejadian yang tidak ku inginkan datang dengan sendirinya. Utusan aditya datang kerumah, seandainya aditya mengikuti alur ceritaku, “jangan sampai masuk dulu tunggu aba-aba yang tepat dari aku”. Tetap saja memberanikan diri, hingga akhirnya 3 hari setelah kejadian, aditya mau ditunangkan dengan orang lain, orang yang masih punya hubungan family dengannya. Di pondok aku gak terlalu tenang, gelisah, ketakutan . tiba-tiba ada chat WA ke hp temanku chat status pribadinya tentang pertunangan, gambar cincinlah, cewek cantiklah

Aditya akhirnya memberanikan untuk menelpon duluan lewat teman kuliah.
“halo Assalamualaikum dek”
“waalaikumussalam kak”
“gimana kabarnya dek?”. Aditya basa-basi sebelum to the poin.
“Alhamdulillah baik-baik aja kak, kakak sendiri gimana?”.
‘alhamdulillah baik juga. Dek aku mau ngomong sesuatu”.
Aku semakin tak bisa mendengar suara aditya, karna dalam kelas anak-anak ramai.
“apa kak, suara kakak gak jelas”
“dek aku udah tunangan”. Mendengar perkataan seperti itu, aku tertegun sejenak, ngelamun, “ini aku bukan mimpikan?”.
“dek, masih dengar aku kan?”. Suaranya aditya yang  semakin aku hiraukan.
“halo, dek”, “ya kak”. Aku jawab gak ada semangat.

Percaya gak percaya, aditya pembicaraannya serius. Namun aku masih belum percaya.
“ya dek terserah, percaya atau tidak nanti aku akan ngirim foto tunangan ku”. Air mata ini bercucuran tanpa disengaja, entah apa yang harus aku lakukan.

“ya, gimana lagi dek, aku udah berkorban dan bahkan berjuang, aku udah kerumah adek, tapi apa?, ayahnya adek malah menolahku begitu saja”. Tertegun semakin ku tak bisa menahan air mata. “maafkan aku ya dek, aku seperti ini buka atas izinmu , namun aku lakukan ini semua aku mau membuktikan kepada orang terutama ayahmu dek bahwa aku mencintaimu apa adanya bukan malah karna harta maupun jabatan”. Suara aditya semakin remang, gak jelas, namun di balik semua itu dia juga menangis, jelas cucuran air matanya bertumpahan ke hpnya. Aku yang tak kuat mendengar penjelasannnya, satu sisi aku kasian atas ditolaknya, namun satu sisi lain aku benci atas ketidak terimanya dia terhadap ayahku.   

Aku pun menutup telpon itu tanpa pamit juga salam. Aku berjalan dengan pandangan kosong, terasa fikiran ini hilang sejenak, raga ku entah kemana, mencari temanku untuk mengembalikan hpnya. Jasad ini seperti tak berfungsi, entah kemana serasa dunia ini tertutup begitu saja.

Terpuruk jiwa ini, setiap selesai sholat hanya bisa menangis mengadukan semuanya kepada Allah. Mengadukan yang telah terjadi. Hanya bisa bercerita sambil menangis keteman curhat, karna fikiran ku harus tetap bisa berjalan dan memikirkan kalau aku mendam sendiri kejiwaan ku kan terganggu dan semua planning baik ku untuk mencari dan menegakkan ilmu Allah akan terhempas begitu saja.

Memotivasi diri sendiri untuk tetap bisa berdiri tegak, kuat dan kokoh walau gumpalan angin menyerbu. Hanya butuh waktu untuk menjalani ini semua. Dengan berbagai kesibukan dan aktivitas yang ku jalani sedikit demi sedikit pula ku bisa berdiri tegak tanpa harus mengingatnya kenangan yang begitu indah.


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 248362388272729599

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA