Sajak-sajak Baiq Wahyu Diniyati Hidayatillah

Baiq Wahyu Diniyati Hidayatillah selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan artikel. Aktif sebagai mahasiswi Fakultas Tarbiyah/PBA IDIA Al-Amien Prenduan. Selain itu saat ini merupakan staf pengajar di TMI Putri Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Dimosisili: Komplek Pondok TMI Putri Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Kode Pos: 69564

*****

Pesona Malam 

Kau berjalan kepadaku. Tidakkah aku sepadan dengan hatimu
Dengan hati membeku,
Dengan sama merindu,
Sedikit saja kita sama tak mengetahui

“Maaf, sejuta luka itu sempat kau rasa,
Tapi jutaan luka itu masih tetap meresah di dalam jiwaku
Ketika sandaranmu tak kau beri untukku” katamu

Aku tak berucap, ketika jarimu menempel di bibirku
Bukankah kita ada di bawah langit yang sama? Lihatlah aku
Sunyi memperhatikanmu di setiap malam sepi
Kemana saja aku memandang, bayanganmu ilusi mataku.
Aku beralih membela diri
Kau memelukku dalam mimpi tak nyata


Daun Cinta

Dua kali aku duduk di sini,
Menunggu kehadiran di bawah sinar bulan
Bertanyalah?
Aku menantimu

Daun kering berjatuhan di saat angin menerbangkannya
Menyampaikan, bahwa sinar bulan yang temaram-sementara kurasa-
Rumah rahasia yang dulu kau bangun
Menginginkan kita kembali kesana
Malam membikin suasana di jendela jadi syahdu,
Aku ke beranda dan termenung lama,
Kapan kau datang?


Luka, yang Belum Terobati

Waktu aku bersamamu, adalah awal dari mas lalu
Ombak yang awalnya tenang, lautpun memberontak
Entah badai darai mana yang datang,
Perahu-perahu layar, Membawamu pergi

Ketika senyap jadi dingin, engkau ucapkan perpisahan
demi perpisahan yang membuat hati jadi beku

Benarkah itu takdir, Engkau kembali pergi
Di saat sejuta sakit belum tuntas terobati

Sia-siakah cintaku?
Udara kian sepi, sementara angin tersepuh rindu, dan
hatiku jadi tak tentu

Jelaskan sedikit siapa aku untukmu

Sekali saja, kau mengintaiku untuk tak pernah pergi
Engkau juga meletakkan hatimu di sana, di dalam waktu yang sudah berlalu
Sekali lagi, luka itu belum tuntas terobati


Rahasia Langit

Kita di tempat berbeda,
Dengan sebuah rahasia rindu,

Sajak kebersamaan kita bertanya,
Untuk sekedar masa lau yang di tenggelamkan senja

Engkau merajut keping hati yang sempat rapuh
Membawanya kepadaku
Memejamkan mata tanpa berkedip
serah pada Takdir-Nya

Entah, kapan rahasia langit akan samapai
Pada bumi hati kita


Bila Hujan Turun kembali


Awan di atas sana, masih saj gelap
Tak sedikit cahaya matahari yang mampu menembusnya
Aku ingin sekali bertemu denganmu,
Menikmati gerimis, di pelataran lapngan berumput hijau
Sekedar bercerita tentang kebisuan lama antara aku
denganmu

Namun tetesan ini tak mampu ku tahan, demi hujan membasahi matamu
Keheningan tetap bersamamu,

Tak mapu berkata, Apakah kamu mencintaiku? Tentu saja,
tapi sekarang
nikmatilah perjamuan tetesan hujan ini.

Katamu,
Jangan dulu bertanya hujan masih lama akan reda,
Sama seperti kesedihan yang meleleh, tapi jangan engkau menangis
Aku tetap bertahan, dengan kesabaran menantimu

Jangan dulu pergi, waktuku tidak lama
Jika engkau bertanya lagi.

Aku mencintaimu? tentu engkau yang paling tahu jawabannya.

Mengarak Rindu yang Tersapu Angin

Aku masih perindu menunggu dengan kata pilu berbungkus bisu
Sama dengan kisah kisah mematikan yang kini berdebu
Foto-foto usang masih tergantung di dinding penuh kenangan
Menyisakan riak-riak pilu setiap kedipan masa lalu

    Jauh sebelum aku mencuri paksa hatimu, Aku merangkai huruf kebahagian
    Dalam buku yang bertahun mulai lusuh
    Kita memulai bicara di beranda hati yang kau persilahkan
    Namun tak lama, kita tak saling bicara kembali

Aku masih bertahan dengan mozaik harapan
Hanya mampu membungkam rasa yang perlahan terbawa angin
Bagiku, kamu adalah halaman yang mulai hilang
Datang lalu pergi dengan menyisakan sobekan keras
Kisah kita mulai menjadi sekawanan awan,
Melayang tertata dramatis pada pandangan
Mengarak rindu yang mulai tersapu angin
Padahal akan hilang tanpa menjumpai tepian.


Percaya Jika itu adalah Cinta

Kenapa masih bertanya?
Sungguh keliru, jika perihal kepercayaan masih saja menjadi keraguan
Setiap harapan tersimpan keinginan tak terhingga untukmu, tapi masih ku sembunyikan di antara pelepah-pelapah waktu yang tersisa.
Menjaga adalah cara terbaik menciptakan kerinduan yang tak mampu kupadamkan sejak dulu,
Kuingin kau tetap membiarkan ruang-ruang kosong tetap berdo’a dengan aku yang membisu untukmu yang menanggung kekalahan karena rindu
Telah hadir kelemahan hati, ketika kau leluasa menikmati aroma mawar
Lalu bersenandung cinta itu adalah kebahagiaan
Satu cara untuk itu, Aku ingin menjauh darimu, karena api kerinduanku bisa saja membakarmu.
Ku ingin kau tetap hangat, dekat perapian menanti janji kebahagiaan.
Jika kau percaya itu cinta.


Sisa Cinta

Lahirmu memang tidak  kuminta, Kau tiba tanpa aba-aba
Aku melihat hadirmu tidak lagi seperti senja yang memberikan keindahan
Kedatanganmu cukup lama tertunda, Keindahan kini kau berikan dengan rengkuhan luka
Kau sajikan dalam linimasa hatiku

    Aku mengikuti jejak-jejak yang masih tertinggal
    Apatah aku seperti gumpalan awan tak bertuan
    Yang sebentar lagi kau singkir dengan angin yang kau tiup perlahan
    Entah pertanyaan itu tersembunyi

Hadirmu sangat kunanti, tapi kau sembunyi dan berlalu pergi
Memang benar cintaku masih tersisa sedikit, tapi cukup untuk seumur hidup
Lalu apa rencana Tuhan?
Hujan akan menghapus sisa-sisa yang tertinggal

08/01/2020 10:17 p.m







MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3958377892005133300

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA