Jodoh


Pentigrafis: Yuyut Endrorini

Endar mengetuk pintu rumah Pak Be dengan gontai. Meski usia mereka terpaut jauh, bukankah persahabatan tidak berbatas. Setelah Pak Be membuka pintu, Endar segera membanting tubuhnya di sofa reot yang sudah tak sempurna bentuknya. Pasti ada masalah, pikir Pak Be. "Pak, izinkan aku menikah dengan salah satu anak perempuanmu." Pak Be hanya tersenyum lalu duduk di sudut sofa yang mulai jebol alasnya. Endar terus nyrocos dengan sekian kegagalannya mendekati perempuan. Di usianya yang hampir 35 tahun tampak putus asa. Aneh, lelaki ganteng yang matang secara finansial dan status sosial, mana mungkin sulit cari jodoh. Sebenarnya Pak Be bosan juga mendengar keluhan yang selalu sama. Jodoh.

Pak Be masuk ke kamarnya dan kembali membawa permen yang disodorkan pada Endar. Namun tamunya memandang sinis karena hanya permen yang disajikan. Itu pun hanya sebiji. Segera dia membuka dan hendak memakannya untuk sekadar mengharga tapi dicegah oleh pemberi. Setelah mendapatkan instruksi, dengan wajah sumringah Endar pamit dan meninggalkan gubug Pak Be. Ketika berbalik, Pak Be terkejut dengan kehadiran dua anak gadisnya yang tiba-tiba muncul dari ruangan itu dan bertanya, mengapa bapaknya tidak mengizinkan Endar menikahi salah salah dari mareka. "Kalian gila? Endar terlalu tua untuk kalian yang baru duduk di kelas 2 es em a. Meski kita miskin, Bapak tak akan mengorbankan kebahagiaan kalian." Pak Be berlalu meninggalkan dua gadis yang jatuh cinta pada orang yang
sama. Endar.

Seminggu. Dua minggu. Tak tampak batang hidung Endar yang biasa bertandang ke gubug itu. Sampai pada minggu ketiga ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah dengan membawa sekian bingkisan yang tak murah. Setelah Pak Be membuka pintu, wajah tamu dan tuan rumah begitu sumringah. Semacam kawan lama yang tak berjumpa puluhan tahun. Setelah sedikit basa basi, Endar mulai serius. "Terima kasih Pak. Apa yang sampeyan bilang itu benar. Aku mengikuti semua petunjukmu. Setelah pulang dari sini aku membuka permen itu ketika aku sangat menginginkanya. Pas permen habis di lidahku aku menoleh ke kanan dan benar yang sampeyan bilang, ternyata ada rumah yang di depannya ada klopo gading dan tebu ireng. Beberapa hari aku mengamati rumah itu. Pada saat yang pas, aku berkunjung untuk langsung melamar tanpa tahu siapa yang kutuju. Sampeyan benar lagi Pak. Aku diterima dan lihat! Besok aku akan menikah dengan perempuan yang sangat cantik. Sampeyan bener Pak, pokok e yang sampyn bilang semua bener. Ini semua untuk sampyean dan keluarga." Endar pamit setelah menyodorkan bingkisan, kartu undangan dan amplop berisi sejumlah uang. Pak Be menolak tapi Endar meninggalkannya begitu saja di meja. Melihat mobil itu pergi, Pak Be tersenyum. "Padahal aku ngawur, kok iso bener ya?"

Sumber: FB Kampung Pentigraf Indonesia

Tulisan Terkait

Utama 8974051245267743881

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item