Inilah Teknik Membaca Puisi


Tradisi membaca puisi sudah dikenal sejak anak usia dini sampai dewasa. Tampil membaca puisi tidaklah begitu ribet, dan semua usia bisa melakukan. Namun persoalannya,  banyak pihak mempertanyakan seperti apa sebenarnya membaca puisi yang baik dan benar, khususnya ketika tampail sebagai peserta lomba baca puisi. Lantaran penilaian dalam lomba baca puisi cenderung bersifat subyektif, kerap melahirkan pernyataan besar tingkat pemahaman penilaiannya. Bahkan tidak sedikit terjadi protes ketika ditentukan para juaranya. Hal ini tentu yang menjadi “korban” ada;ah dewan juri yang dinilai tidak sportif, tidak pahaman dan alasan-alasan lainnya. Berikut beberapa catatan yang banrangkali dapat menjadi acuan bagi pembaca puisi maupun para pembinanya:
Penyair Syaf Anton Wr, saat membacakan puisi
 Hakikat Membaca Puisi
Membaca puisi adalah perbuatan menyampaikan hasil-hasil sastra (puisi) dengan bahasa lisan (Aftarudin, 1984: 24). Membaca puisi sering diartikan sama dengan deklamasi. Membaca puisi dan deklamasi mengacu pada satu pengertian yang sama, yakni mengkomunikasikan puisi kepada para pendengarnya. Suharianto (dalam Mulyana, 1997:34) membatasi bahwa hakikat membaca puisi tidaklah berbeda dengan deklamasi, yaitu menyampaikan puisi kepada penikmatnya dengan setepat-tepatnya agar nilai-nilai puisi tersebut sesuai dengan maksud penyairnya.

Pengertian Kemampuan Membaca Puisi
Membaca merupakan salah satu dari empat komponen keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sebagai suatu keterampilan sebagaimana keterampilan lainnya, keterampilan membaca hanya akan dapat dicapai dengan baik jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh-sungguh.
Membaca juga dapat dikatakan sebagai proses melisankan lambang yang tertulis. Dari sudut linguistik membaca adalah proses penyandian dan pembacaan sandi. Pendapat lain membaca merupakan metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi atau mengkomunikasikan makna yang terkandung pada lambang-lambang (Tarigan, 2008: 7-8).

Membaca adalah suatu proses memahami menginterpretasikan isi bacaan (Gani, 2014: 38) membaca bertujuan untuk dapat memahami gagasan pokok dan gagasan penjelas. Pemahaman terhadap isi bacaan akan memudahkan seseorang menarik suatu simpulan. Pada akhirnya simpulan yang diperoleh tersebut akan memudahkan pembaca menginformasikan kembali materi bacaannya. Begitu juga dalam hal membaca dan membacakan puisi. Membaca atau membacakan puisi adalah suatu kegiatan menjiwai puisi untuk selanjutnya dibacakan dengan kriteria-kriteria tertentu.

Membaca puisi umumnya dilakukan dengan membaca nyaring atau dengan mendeklamasikannya. Deklamasi adalah pembacaan puisi yang disertai gerak dan mimik yang sesuai. Dalam berpuisi, berdeklamasi, pembaca tidak sekedar membunyikan kata-kata, lebih dari itu ia pun bertugas mengekspresikan perasaan dan pesan penyair dalam puisinya. Untuk itu pembaca hendaknya: (1) memaknai puisi secara utuh, (2) memerhatikan lafal, tekanan, dan intonasi dalam menyampaikannya, sesuai dengan struktur fisik dan struktur batin puisi itu. Deklamasi juga menekankan kepada ketepatan pemahaman, keindahan vokal dan ekspresi wajah. Akan tetapi, deklamasi acapkali disertai dengan gerak-gerik tubuh yang lebih bebas dan ekspresi wajah yang lebih kuat dibandingkan membaca indah (Kosasih, 2012: 119)

Manfaat dan Tujuan Membaca Puisi
Belajar membaca merupakan usaha yang terus menerus, dan anak-anak yang melihat tingginya nilai (value) membaca dalam kegiatan pribadinya akan lebih giat belajar dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menemukan keuntungan dari kegiatan membaca. Membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Di samping itu, kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari-hari (Rahim, 2005: 2)

Kegiatan membaca di kelas, guru seharusnya menyusun tujuan membaca dengan menyediakan tujuan yang sesuai atau dengan membantu mereka menyusun tujuan membaca itu sendiri. Blanton dkk (dalam Rahim, 2005) menyebutkan beberapa tujuan membaca, yaitu mencakup (1) kesenangan, (2) menyempurnakan membaca nyaring, (3) menggunakan strategi tertentu, (4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, (5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, (6) memperoleh informasi untuk laporan lisan maupun tertulis, (7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi, (8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari sesuatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, dan (9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.


 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi
Lebih lanjut Waples (dalam Laodoesyamri: 2010) menyatakan tujuan membaca, yaitu: (1) mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah, (2) mendapat hasil yang berupa prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya, (3) memperkuat nilai pribadi atau keyakinan, (4) mengganti pengalaman estetika yang sudah usang, dan (5) menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.Dengan demikian, tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan tujuan, intensif kita dalam membaca Tarigan (2008: 10).

Pembelajaran Membaca Puisi
Materi Pembelajaran membaca puisi diarahkan pada Standar Kompetensi memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan cerpen dengan Kompetensi Dasar membacakan puisi dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat. Dalam mengajarkan pembelajaran pembelajaran puisi di sekolah sering dijumpai dua hambatan yang cukup menganggu. Hambatan pertama adalah anggapan orang yang berpendapat bahwa secara praktis puisi sudah tidak ada gunanya lagi.Hambatan kedua berupa pandangan yang disertai prasangka bahwa mempelajari puisi sering tersandung

pada ‘pengalaman pahit’. Pandangan semacam ini mungkin sekali berasal dari para siswa yang berkemauan keras untuk melakukan yang terbaik dengan berusaha memahami dan menikmati sajak-sajak terkenal yang ditulis para penyair

terkenal yang sering menggunakan simbol, kiasan, dan ungkapan-ungkapan tertentu yang membingungkan (Rahmanto, 1988: 44). Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut hendaknya guru memilih bahan berdasarkan tingkat kemampuan siswa-siswanya, dan hendak sselalu ingat bahwa ada unsur-unsur magis yang melekat pada nama-nama penyair terkenal atau mempunyai reputasi yang mantap (Rahmanto, 1988: 47).

Pembelajaran membaca puisi merupakan tahap kegiatan ekspresi siswa dalam kelas. Dalam tahap ini akan tampak kecenderungan-kecenderungan siswa menghadapi puisi. Berdasarkan pertimbangan bahwa hubungan langsung siswa dengan puisi akan berakibat positif bagi siswa, kegiatan ekspresi ini dapat diarahkan berbagai cara, yaitu (1) kegiatan baca puisi dan deklamasi, (2) kegiatan dramatisasi puisi, (3) kegiatan refleksi. Membaca sajak di depan kelas atau berdeklamasi pada dasarnya adalah kegiatan ekspresi pada tahap awal. Membaca puisi dengan baik secara tepat memerlukan latihan. Ketepatan membaca puisi dan keterampilan deklamasi juga dapat menunjukkan tingkat pemahaman puisi dan lebih jauh lagi dapat menjadi pertanda tingkat apresiasi (Sumardi, 1997: 62-63).

Tulisan Terkait

Gupen 160911117832600392

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item