Olah Tubuh atau Latihan Tubuh untuk Baca Puisi

Penyair Fendi Kaconk saat membacakan puisi
Olah tubuh atau latihan tubuh menurut Endrasawara (2011: 65) adalah latihan ekspresi secara fisik. Kita berusaha agar fisik kita dapat bergerak secara fleksibel, disiplin, dan ekspresif. Artinya gerak-gerik kita dapat luwes, tetapi berdisiplin terhadap peran kita, dan ekspresif sesuai dengan watak dan perasaan aktor yang di bawakan.

Santoso, (2008: 151) menyebutkan bahwa pemeran atau aktor adalah salah satu elemen pokok dalampertunjukan teater. Sebelum memainkan karakter, pemeran harus menguasai tubuhya. Oleh karena itu, seorang pemeran harus ikhlas belajar demi pencapaian kualitas tubuh agar enak ditonton. Proses belajar penguasaan tubuh memerlukan waktu yang panjang dan secara kontinu serta tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Pemeran harus bersabar dan tidak boleh ada rasa jenuh dalam melaksanakannya. Penampilan fisik pemeran dalam pentas erhubungan denganpenampilan watak, sikap, gesture, dan umur peran yang digambarkan.

Hal ini juga sangat berhubungan dengan penampilan laku fisik yang digariskan pengarang, sutradara, dan tuntutan peran. Tampilan fisik seorang pemeran adalah tanggung jawab pribadi pemeran. Seorang pemeran adalah seorang seniman yang memainkanperan yang digariskan oleh penulis naskah dan sutradara. Untukmewujudkan laku peran di atas pentas, pemeran harus mengetahui, memahami, dan memfungsikan dengan baik alat dan sarana yang akan dipergunakan. Alat dan sarana tersebut adalah tubuh dan jiwanya sendiri. Tidak ubahnya seorang pelukis yang memahami fungsi dan manfaat dari kuas, palet, pensil, cat, kanvas, dan figura. Begitu juga dengan seorang pemeran, dia harus tahu betul cara berjalan yang gagah, jalannya orang yang sudah sangat tua, cara membungkuk, cara menengok, cara melambai, bagaimana posisi punggungnya, dan lain-lain. Oleh karena itu, tubuh pemeran sangat dominan di atas pentas, maka penguasaan tubuh menjadi kewajiban.

Tubuh yang lentur dengan stamina yang tinggi akan membuat seseorang pendekar silat mampu berkelit dan sekaligus menyerang pada kondisi yang sulitsekalipun. Itu semua berkat keterlatihan seluruh organ tubuh yang ia dapatkan dengan susah payah dalam latihan jurus-jurus sekian lamanya. Demikian juga seorang pemeran akan membawakan laku peranannya dengan baik seolah tidak ada beban teknis sebab ia dengan kesadaran yang penuh telah melatih seluruh peralatan pemeranannya (Wibisono, 1999: 5).

Olah tubuh atau latihan tubuh menurut Waluyo (2002: 117) adalah latihan ekspresi secara fisik. Berusaha agar fisik dapat bergerak secara fleksibel, disiplin, dan ekspresif. Artinya gerak-gerik dapat luwes tetapi disiplin terhadap peran, dan ekspresif sesuai watak dan perasaan aktor yang dibawakan. Beberapa grup teater, sering diberikan latihan dasar akting, berupa menari, balet, senam, bahkan ada yang merasa latihan silat itu dapat juga melatih kelenturan, kedisiplinan, dan daya ekspresi jasmaniah.

Santoso (2008, 153) menyatakan bahwat latihan olah tubuh berarti melatih kesadaran tubuh dan caramendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap, yaitulatihan pemanasan, latihan inti, dan latihan pendinginan. Latihanpemanasan (warm-up), yaitu serial latihan gerakan tubuh untukmeningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap.Latihan inti, yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan.Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down), yaitu serial pendekgerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalanilatihan inti.

Di dalam ilmu kesehatan (kesegaran jasmani) Uram (1996: 2-3) mengungkapkan tiga daerah yang berbeda bagi pengembangan dan pemeliharaan, meliputi: (a) fisik, berkenaan dengan tulang, otot dan bagian lemak, (b) peranan organ berkenaan dengan efisiensi sistem jantung, pembuluh darah dan pernapasan; demikian juga peranan dari organ besartubuh lainnya seperti ginjal, (c) respon otot merupakan daerah ketiga dari kesegaran jasmani umum dan berhubungan dengan kegiatan dari otot rangka dan otot polos, respon otot tersebut mempunyai empat komponen, yaitu:

  • kelenturan, adalah kelemah-lembutan atau kekenyalan dari otot dan kemampuannya untuk meregang cukup jauh agar memungkinkan persendian dapat bereaksi dengan lengkap dalam jarak normal dan dari gerakan tersebut tidak menyebabkan cedera,
  • kekuatan adalah kapasitas kontraksi dari otot, merupakan gerakan otot-otot dari gerakan pertamanya sampai jarak gerakan dan mengulangi kemampuan tersebut,
  • kecepatan adalah keterampilan menggunakan kontraksi suatu otot sampai seluruh jarak geraknya atau bagian tertentu,
  • ketahanan adalah toleransi suatu otot terhadap stress dimana dapat mempertahankan penampilannya pada beban tertentu.
Kelenturan, kekuatan, kecepatan dan ketahanan seluruhnya akan dapat digunakan bagi pola gerakan keterampilan tertentu. Pengembangan yang tepat dari respon otot akan menghasilkan manfaat tambahan melebihi efisiensi gerakan alami. Suatu otot akan memperlihatkan sifat yang mengikat, efisiensi dalam kontraksi dan relaksasi, peningkatan aliran darah pada jaringan kapiler, daya tahan lebih besar terhadap kelelahan, lebih efektif pembuangan bahan sisa dan toleransi lebih besar terhadap bermacam stres yang tadinya menyebabkan cedera. Di samping itu,suatu program latihan dengan disiplin yang baik akan mempertinggi konsentrasi dan pada gilirannya dapat mempermudah pengetahuan motoris (Uram, 1996: 4).

Empat komponen respon otot yang di utarakan Uram diatas, adalah merupakan pendekatan yang digunakan dalam latihan oleh tubuh teater. Empat pendekatan tersebut berfungsi untuk melatih organ dan memori tubuh sehingga menghasilkan gerakan yang luwes dan lentur. Seorang aktor dalam pertunjukkan teater harus mampu menggunakan organ tubuh dan menghasilkan gerakan yang baik dalam memvisualkan setiap ide cerita dalam naskah. 


 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Menurut Bolesavsky R. dalam Harymawan (1998: 30-31), olah tubuh atau latihan tubuh baik dilakukan sau setengah jam sehari. Subjek-subjeknya meliputi: (1) senam irama, (2) tari klasik dan pengutaran, (3) main anggar, (4) berbagai jenis latihan berapas, (5) latihan menempatkan suara, diksi, bernyanyi, (6) pantomim, (7) tata rias.

Impuls, perasaan, atau reaksi yang kita miliki menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam: kata-kata, bunyi, gerak, postur, dan infleksi (perubahan nada suara). Umumnya, setiap tanda eksternal dari perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. Demikian Sitorus (2002: 78) menyebut gestur sebagai hasil dari bentuk olah tubuh atau latihan tubuh.
Sitorus (2002: 81-82) juga membagi gestur menjadi 4 kategoei Pertama, yaitu
sebagai berikut.

  • Ilustratif atau imitatif, adalah gestur yang disebut “pantomimik” ketika mencoba mengomunikasikan informasi spesifik.
  • Gestur indikatif, dipakai untuk menunjuk (“di sebelah sana”).
  • Gestur empatik, memberikan informasi yang subyektif daripada objektif, berhubungan bagaimana orang merasakan sesuatu.
  • Gestur autistik, (arti harfiahnya “kepada diri”) tidak dimaksudkan untuk komunikasi sosial tetapi lebih di utamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri.

Olah Rasa atau Olah Sukma
Santoso, (2008: 220) pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Dalam menghayati karakter peran, semua emosi tokoh yang diperankan harus mampu diwujudkan. Oleh karena itu, latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang diperankan saja, tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain.

Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yangdiperankan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Padahalakting adalah kerja aksi dan reaksi. Seorang pemeran yang hanyamelakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Tugasyang lain adalah memberikan reaksi (Mary Mc Tigue, 1992) dalam Santoso (2008: 220). Dengandemikian, latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk meningkatkankepekaan rasa dalam diri sendiri, tetapi juga perasaan terhadap karakterlawan main. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi, mempelajarigesture, dan imajinasi.

Konsentrasi
Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiranatau perhatian. Makin menarik pusat perhatian, makin tinggikesanggupan memusatkan perhatian. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa peran atau karakter yang akan dimainkan.Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran,cenderung dapat merusak proses pemeranan. Maka, konsentrasi menjadisesuatu hal yang penting untuk pemeran.

Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrolmental maupun fisik di atas panggung. Ada korelasi yang sangat dekatantara pikiran dan tubuh. Seorang pemeran harus dapat mengontroltubuhnya setiap saat. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalahmengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya denganefisien. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinyamenjadi orang lain, yaitu peran yang dimainkan.

Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Dunia tidaknyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerjateater. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olahnyata dan dapat dinikmati

serta menyakinkan penonton. Kekuatanpemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukandengan kekuatan daya konsentrasi. Misalnya seorang pemeran melihatsesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas)maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yangdilihat benar-benar menjijikkan. Kalau pemeran dengan tingkatkonsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan.

Gesture
Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yangmengandung makna. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajaridan melahirkan bahasa tubuh. Ada juga yang mengatakan bahwagesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan olehbagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal.Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dankeluar mendahului bahasa verbal. Bahasa ini mendukung danberpengaruh dalam proses komunikasi. Jika berlawanan dengan bahasaverbal akan mengurangi kekuatan komunikasi, sedangkan kalau selarasdengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Seorangpemeran harus memahami bahasa tubuh, baik bahasa tubuh budayasendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya.

Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkanvariasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaandan pemikiran. Akan tetapi, gesture tidak dapat menggantikan bahasaverbal sepenuhnya. Sedang beberapa orang menggunakan gesturesebagai tambahan dalam kata-kata ketika melakukan

proses komunikasi.Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apayang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Selainitu, dengan mempelajari bahasa tubuh, akan diketahui tanda kebohonganatau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedangberlangsung. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batinseseorang yang keluar tanpa disadari. Sebagai seorang pemeran,gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasidengan bahasa verbal.


 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Imajinasi
Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran barudalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialamisebelumnya. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” ataudalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Latihanimajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi peran yang akandimainkan. Selain itu, seorang pemeran juga harus berimajinasi tentangpengalaman hidup peran yang akan dimainkan.

Aktor tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai aktor jika ia tidak mempunyai sukma atau rasa yang telah masak begitu rupa hingga, atas setiap perintah kemauan, segera dapat melaksanakan setiap laku dan perubahan yang telah ditentukan. Dengan kata lain aktor harus mempunyai sukma atau rasa yang dapat hidup dalam setiap situasi. ( Bolesavsky R. dalam Harymawan 1998: 31). Subjek-subjek dari latihan sukma atau olah rasa adalah sebagai berikut. (a) penguasaan seluruhnya dari kelima pancaindra dalam segala situasi yang dapat dibayangkan, (b) penumbuhan ingatan perasaan, ingatan ilham atau penembusan, penumbuhan kepercayaan dan penghayalan itu sendiri, penumbuhan naivitas, penumbuhan daya untuk mengamati, penumbuhan kekuatan kemauan, penumbuhan untuk menambahkan keragaman pada pernyataan emosi, penumbuhan rasa pada humor dan tragedi, (c) ingatan visual (Bolesavsky R. dalam Harymawan 1998: 31-32).

Menurut Brocket dalam Waluyo (2002: 117) olah rasa atau olah sukma (konsentrasi dan relaksasi), diarahkan untuk melatih aktor dalam kemampuan membenamkan dirinya sendiri kedalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan, dan kedalam lakon itu. Motivasi memegang peranan penting dalam penjiwaan peran dan dalam gerak yakin. Jika pikirannya terganggu akan hal lain, dengan kekuatan konsentrasinya, aktor bisa memusatkan diri pada pentas. Konsentrasi atau olah rasa sudah harus dimulai sejak latihan pertama. Konsentrasi harus pula diekspresikan melalui ucapan, gestur, movement,dan intonasi ucapannya.(bersambung)

Tulisan Terkait

Gupen 3766734097595690347

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item