Merah Putihku Diantara Bendera Asia


Widayanti Rose

Mendapatkan bendera merah putih di negeri orang bukan sesuatu yang mudah. Bahkan untuk bendera kecil yang dipajang di kantor robotika China saja kami sampai puyeng mencarinya.Di halaman kantor ada beberapa bendera berkibar di tiang. Kami perhatikan satu-persatu, berharap ada merah putih di antaranya. Namun hasilnya nihil.

Pandangan kami sempat terarah pada bendera nomor dua dari kanan. Apakah itu bendera kami yang terbalik?

"Kami menemukan bendera merah putih di luar ruangan. Apakah itu bendera negara kami?" Tanya seorang teman pada pembicara di ruang robotik.

"Maafkan kami, itu bendera Polandia."

Terjawablah sudah. Itu bukan terbalik, tapi memang milik negara lain. Kembali kami mencari di ruangan besar yang di atapnya dipenuhi bendera kecil.

"Ini bendera PBB?" Tanyaku saat mulai berkeliling.

Dia mengangguk.

Ada harapan menemukan merah putih di antara tirai bendera kecil yang dipasang di atap ruangan. Satu-persatu kuteliti. Kali ini pembahasan narasumber aku pasrahkan pada ponsel perekamku. Mataku fokus mencari.

Nihil.

Tak kutemukan kibaran merah putih di antara ratusan bendera. Ya Tuhan! Begitu kecilkah negeriku di mata dunia? Hingga untuk menemukan benderanya saja tak ada?

Aku tidak menyerah.

Rombongan guru dibawa menyusuri ruangan yang mereka gunakan sebagai tempat pertemuan beberapa negara yang bekerja sama dalam industri robot. Banyak gambar yang dipajang di sana.

Kami periksa wajah-wajah mereka. Berharap ada wajah Indonesia yang kami kenal dari foto mereka. Entah presiden terdahulu apalagi terkini. Entah siapa pun, yang penting itu dari Indonesia.

Nihil lagi.

Tak ada siapa pun dan apa pun yang berbau Indonesia. Rupanya kami orang Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di ruangan ini. (Semoga ini tidak benar).

Perjalanan dilanjutkan di lorong sepanjang ruang kerja mereka. Disana kami menemukan beberapa tiang bendera. Bendera Asia.

Ya Tuhan! Merah putih berkibar di antaranya.

Seperti menemukan mata air di padang gersang. Dadaku bergemuruh. Rasa haru mengalirkan air mata yang tak dapat kutahan.

Merah Putihku.

Merah putih kita semua.

Dengan bangga kukibarkan bendera kebangsaan kami. Sejenak kami berhenti untuk bergiliran berfoto dengan memegang bendera. Memang hanya selembar kain berwarna, tapi adanya begitu berharga.

Kehadiran merah putih sedikit mengurangi rasa rindu akan tanah air tercinta. Nasionalisme masyarakat China membuat kami iri. Mereka begitu cinta pada negaranya.

Bendera merah dengan beberapa bintang dengan mudah kami temukan di berbagai tempat. Di setiap toko kecil, kendaraan umum dan pribad
i, gedung sekolah dan kantor umum semuanya banyak kutemukan bendera negara mereka.
“Apa saat ini hari bersejarah untuk China, kenapa kami banyak temukan bendera?” tanyaku suatu ketika pada Laoshe.

“Bukan, itu bentuk kecintaan mereka pada negara.”

Ya Tuhan, begitu cintanya mereka pada negara yang kita sebut negara komunis ini. Nasionalisme yang tinggi tanpa paksaan.

Aku lalu teringat negeriku. Tumpah darahku yang kucintai. Bendera ramai kulihat saat bulan Agustus saja, setelah itu hanya di tempat-tempat tertentu. Yah, tapi mungkin bentuk cinta negara kita memang berbeda.

Di sini, kami tim 12 bertekad akan mengibarkan merah putih apa pun caranya.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami menemukannya. Kami buat bendera dari plastik merah dan putih yang kami gunting dan tempel menggunakan selotip. Kami tak sehebat Fatmawati, dengan menjahitkan bendera pusaka saat proklamasi. Tapi kami juga cinta negeri ini.

Berkibarlah benderaku.

Widayanti Rose, sekarang sekarang sedang tugas belajar di China



Tulisan Terkait

Utama 2424105081808775402

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item