Kisah Hidup Penulis Berakhir Tragis.

Oleh: Taufiku    

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 



Hampir semua penulis dan pegiat literasi mengenal penggalan kalimat bijak tersebut. Kalimat yang disampaikan oleh Sang Maestro Penulis Pramoedya Ananta Toer. Pram telah membuktikan kata-katanya. Jasadnya telah tiada, namun namanya abadi dalam kalimat dan karyanya yang terus dibaca sejarah.

Pram tidak saja meninggalkan karya. Ia meninggalkan adik lelakinya yang hingga pertengahan 2018 ini masih fasih berkisah tentang kehidupan dirinya dan kakaknya. Dialah Soesilo Toer.

Soes, panggilan akrabnya, hijrah ke Jakarta setelah bapaknya meninggal dunia. Ia dibawa kakaknya Pramoedya Ananta Toer. Di jakarta ia melanjutkan sekolah SMA lalu melanjutkan ke UI. Soes diterima di fakultas ekonomi UI tanpa melalui tes. Nilai pelajarannya di atas rata-rata, bahkan pelajaran ekonomi mendapat nilai 10.

Soes mendapat beasiswa dari pemerintah Rusia untuk belajar di sana. Dari 9.000 pendaftar, ia termasuk 30 orang yang diterima.

Di Rusia ia melanjutkan ke pascasarjana hingga meraih gelar doktor. Gelar PhD ia tempuh dalam waktu 1,5 tahun, setengah tahun lebih cepat dari waktu biasanya. Selain kuliah, ia bekerja apa saja termasuk menulis. Di Rusia, Soes bisa hidup mewah. Setiap bulan ia bisa mengumpulkan uang 400 rubel padahal biaya hidup sehari 1 rubel. Kerena mudahnya mengumpulkan uang, ia kerap mengadakan pesta dan mentraktir teman-temannya.

Jalan hidup penyandang gelar doktor politik dan ekonomi ini berubah ketika kembali ke Indonesia. Soes ditangkap aparat di bandara saat pertama menginjakkan kaki di tanah air setelah sebelas tahun tinggal di Rusia. Tanpa melalui pengadilan, Soes dijebloskan ke penjara karena dituduh aktivis PKI. Selama enam tahun, ia menghuni pengapnya ruang tahanan.
Selepas dari penjara, pria yang menguasai bahasa Jerman, Belanda, Rusia, dan Inggris ini hidup tanpa penghasilan tetap. Posisinya sebagai eks tahanan politik dengan tuduhan PKI membuat ia kesulitan mendapat pekerjaan. Ia juga kerap menjadi bulan-bulanan warga karena dikira PKI.

Kini, penulis 20 buku ini telah berusia 81 tahun. Ia tinggal bersama istrinya di tanah kelahirannya, Blora. Untuk menyambung hidup, peraih doktor di Rusia ini memunguti sampah-sampah untuk ditukar dengan rupiah.

Setelah magrib dengan motornya yang berkeranjang ia menyusuri jalanan kota untuk mengais rejeki dari sampah plastik atau makanan sisa. Gelar akademiknya yang tinggi berbanding terbalik dengan pekerjaannya sebagai pemulung.

Kisah hidup Soes ini memberi pelajaran bagi kita untuk hidup dengan rendah hati ketika berada di puncak kesuksesan karena kita tak pernah tahu nasib esok hari seperti apa. Bila Soes yang ketika muda sukses dengan prestasi gemilang dan syarat kemewahan bisa terjungkal seperti itu pada masa tuanya, apalagi kita yang tidak mencapai apa-apa. Nasib kita di hari esok adalah misteri.

“ … Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…” (QS. Lukman:34)

Di sepertiga terakhir Ramadan ini, selayaknya bila kita mengadahkan tangan seraya berdo’a kepada pemilik alam untuk mengaruniai kita dan keluarga akhir hidup yang baik (khusnul khotimah). Baik derajat sosial ekonomi juga baik kualitas keimanan kita.

Semoga kita kembali kepada Allah dengan keadaan mulia. Mulia dalam pandangan manusia dan mulia disis Allah SWT, amiiin.

Tulisan Terkait

Gupen 4868715048317514029

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item