Memaknai Idul Fitri dalam Lingkungan Sosial

Idul berarti kembali dan fitri artinya suci. Jadi idul fitri bisa  dimaknai kembali suci, sebagaimana seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Yang bersih dari suci dari dosa-dosa.

Di hari raya idul fitri, orang yang telah beribadah (selama Ramadhan) dilebur semua dosa-dosanya. Sementara dosa-dosa antarsesama, jika mereka saling memaafkan, dilebur pula dosa-dosa yang berkaitan dengan habl min an-naas, sehingga orang tersebut kembali suci, tanpa setitik dosa pun.

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu kaum muslimin, setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu dengan puasa di bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya, terdapat keistimewaan- keistimewaan. Sepuluh hari pertama, Allah menurunkan rahmat-Nya. Sepuluh hari kedua, Allah memberikan maghfiroh, dan sepuluh hari terakhir, yaitu itkum min an naar.

Selain itu, terdapat hari yang sangat dinantikan oleh ummat muslim. Malam yang lebih agung dari malam seribu bulan, yang dikenal dengan Lailatul Qadar. 

Berbagai kelebihan dan keistimewaan yang terdapat pada bulan Ramadhan ini, sehingga ia dinyatakan sebagai bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Tak heran, jika pada saat ramadhan, ummat Islam saling berlomba memperbanyak amal ibadah, baik dengan memperbanyak shalat malam, shalat tahajjud, shalat tasbih, selain itu, tentu saja shalat tarawih dan shalat witir. 

Yang menjadi persoalan adalah, selama ini, puasa, di kalangan umum,  lebih banyak yang memaknai sebagai menahan lapar dan dahaga. Akhirnya esensi dari puasa, yakni menahan hawa nafsu, hilang.

Hawa nafsu di sini bukan sekadar nafsu makan dan minum saja, juga nafsu amarah, nafsu untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain dan juga menahan nafsu agar mau bersabar.  Inilah inti puasa. Yaitu berlatih untuk bersabar. Sabar dalam menghadapi segala hal.

Usai menjalankan puasa ramadhan, sebuah keceriaan karena dipandang sebagai hari kemenangan, datang: idul fitri.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, pada hari raya idul fitri biasanya diisi dengan saling berkunjung (silaturrahmi) kepada para kerabat, tetangga, teman dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk saling memberikan maaf satu sama lain jika terdapat kesalahan, baik yang disengaja atau tidak. Tradisi ini lazim disebut halal bi halal.

Namun yang harus diingat dalam halal bi halal, jika masih memungkinkan, ada orang-orang yang harus didahulukan dalam berhalal bi  halal itu. Yaitu orang tua. Orang tua lah yang telah melahirkan dan merawat kita sejak kecil.  Meski sedikit dan tidak disengaja, seorang anak bisa  saja menyakiti orang tua. Maka wajib bagi anak untuk meminta maaf dan halalnya atas dosa yang telah diperbuat.

Setelah orang tua, adalah guru. Guru lah yang telah memberikan ilmu, sehingga kita bisa  menjadi orang yang berilmu dan berguna bagi masyarakat. Ia laiknya sebuah lampu yang  menjadi penerang di saat gelap.

Baru setelah orang tua dan guru, bersilaturrahmi kepada kerabat dan tetangga dekat. Karena setiap hari, mau tidak mau kita lebih sering bersinggungan dengan tetangga. Tentu khilaf sering terjadi antara satu dengan yang lain.

Dengan bersilaturrahmi dan halal bi halal tersebut, semoga Allah melebur dosa-dosa kita. Sehingga pada idul fitri ini, kita benar-benar bisa  menjadi orang yang suci, fitri, tanpa noda dan dosa. Wallahu a’lam.  (Audy)


Tulisan Terkait

Esai 4231440967366877824

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item