Mulia Bersama Rulis

Oleh Taufiku 

Saya mengenal Rumah Literasi Sumenep (Rulis) ketika menjadi peserta Pelatihan Menulis pada awal 2017. Ketika itu Rulis mengadakan pelatihan untuk guru SD dan TK di Sumenep. 

Taufiku

Saya ingin sekali belajar menulis, namun jarang ada pelatihan menulis untuk guru di Sumenep. Kalaupun ada, berupa pelatihan menulis Karya Tulis Ilmiah yang hanya diikuti oleh guru tertentu saja dengan jumlah terbatas. Saya tidak pernah memiliki kesempatan itu, maka ketika Rulis mengadakan pelatihan, saya segera mendaftar.
Hari itu, di hari pertama pelatihan, saya datang terlambat. Saya tidak bisa datang lebih awal karena saya harus mengajar dulu di sekolah. Setelah siswa pulang, barulah saya berangkat ke pelatihan.

Saya datang ke pelatihan dengan harapan memiliki semangat untuk menulis. Selama ini saya senang menulis, namun dalam beberapa bulan ini saya sama sekali berhenti menulis. Gairah menulis lenyap hingga tidak mampu menulis satu paragraf atau bahkan satu kalimatpun. Much. Khoiri, narasumber yang seharian membagi pengalaman menulisnya di hadapan peserta menjawab harapan saya. Khoiri berhasil membakar motivasi yang padam kembali berkobar. Saya kembali bangkit setelah lama terpuruh, mulai menggerakkan jari merajut kata menjadi kalimat lalu merangkainya menjadi paragraf hingga berbentuk tulisan.

Pada malam hari, lelah tubuh setelah seharian mengikuti pelatihan tidak membuat saya segera memajam mata. Saya menikmati gejolak ide yang meronta, meminta ditumpahkan ke dalam tulisan. Saya menulis hingga larut malam. Begitu pula pada malam hari kedua, saya menulis cerita anak dan puisi karena pada siang harinya saya belajar menulis cerita dan menyusun puisi. Pengalaman menulis dua karya sastra yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.

Suatu waktu, Lilik Rosida, ketua Rulis menghubungi saya melalui whatsap. Ia meminta saya bergabung dengan Rulis. Saya yang duduk di kursi di dalam kelas ragu menyanggupinya. Bukan karena sok mahal atau menjaga gengsi melainkan karena saya merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa saya berikan kepada Rulis. Rulis menurut saya organisasi tingkat kabupaten yang memiliki misi mulia dan diisi orang-orang hebat, sedangkan saya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Penulis buku Gai' Bintang ini berusaha meyakinkan saya hingga saya mengiyakan permintaannya.

Saya resmi tergabung dalam pengurus Rulis. Saya berusaha selalu hadir dalam setiap rapat atau pertemuan pengurus. Walaupun saya baru bergabung, namun saya merasa memiliki organisasi ini. Sebagai organisasi, solidaritas dan loyalitas anggota merupakan kunci keberhasilan misi organisasi. Maka saya selalu datang setiap kali ketua atau sekretaris mengundang.

Ketua Rulis memberikan kepercayaan kepada saya untuk mendampingi Tika Suhartatik membina Forum Guru Penulis. Forum ini merupakan anak organisasi Rulis yang tugas kerjanya mengembangkan keterampilan menulis guru. Di forum ini kemampuan menulis guru diasah. Selain diskusi dalam dunia maya, kajian tatap muka dilakukan untuk mengapresiasi karya mereka. Kami mengundang nara sumber atau kami sendiri yang menjadi penyaji.

Hampir semua anggota Forum Guru Penulis kaum hawa. Hanya saya dan pembina lelaki yang ada di sana. Maka kerap kali saya memiliki peran ganda seperti ketika mengadakan kajian literasi di kampus STKIP. Dalam kajian itu saya dipercaya menjadi penyaji. Sebelum peserta datang, saya terlebih dahulu datang ke ruang acara untuk menata kursi, memasang dekor, dan menyiapkan LCD. Ketika peserta datang, badan calon penyaji bersimbah peluh. Beberapa saat sebelum acara dimulai saya kembali turun dari lantai dua. Dengan memakai sepeda motor saya ke luar kampus membeli air minum untuk disuguhkan kepada peserta.

Setelah acara usai, salah seorang teman saya yang menjadi peserta dengan nada bercanda ia mengeluh karena hanya disuguhi segelas air putih. Ia bilang literasi itu program pemerintah dananya pasti besar. Kalau mengambil untung dari suatu program itu wajar saja tapi, jangan sampai terlalu dengan hanya menyuguhi segelas air kepada peserta.

Dengan bercanda pula saya sampaikan, berbagai kegiatan Rulis berjalan dengan dana sumbangan dari anggota bukan bantuan pemerintah. Ingin saya mengatakan, segelas air yang diminumnya itu dibeli dari isi dompet saya sendiri yang diberikan istri tadi pagi. Namun saya menahannya, hanya membalasnya dengan tertawa.

Safari literasi Rulis ke kecamatan telah dilaksanakan beberapa kali. Jarak kecamatan yang dituju puluhan kilometer dari kota. Bila mendapat bagian menjadi penyaji, saya harus berangkat pagi, jauh lebih pagi dari waktu berangkat mengajar ke sekolah. Pulangnya pun sore hari ketika matahari hampir terbenam.

Istri saya melihat gelagat kesibukan saya sejak menjadi anggota Rulis. Saya sering pamit rapat bahkan pernah keluar setelah isya karena mempersiapan kegiatan yang diadakan Rulis. Kegiatan terakhir yang membawaku hampir seharian di luar rumah ketika Rulis mengadakan safari literasi ke kecamatan Giligenting. Kecamatan ini ditempuh melalui perjalanan laut hingga membutuhkan waktu tempuh yang agak lama.

Setelah mandi tubuh lebih segar. Saya menghampiri istri di teras dengan membawa sebungkus plastik kue yang diberikan panitia sebelum pulang. Sambil menikmati kue berwarna coklat itu, kami berbincang santai. Diantara perbincangan itu terselip pertanyaan dia untuk saya. Ia menanyakan saya dapat apa lagi dari Giligenting. Saya menjawabnya tidak mendapat apa-apa lagi. Kembali, ia bertanya, bahkan sekedar uang bensin pun. Saya menjawab tidak apapun. Dia tertawa di tengah semburat merah sang surya, saya pun tertawa dengan sepotong kue yang tersisa.

Selama ini saya tidak bercerita kepadanya tentang Rulis seperti apa, sebagaimana ia tidak pernah bertanya Rulis itu apa dan bagaimana? Setiap hendak ke markas Rulis, saya hanya bilang ada rapat di Rulis. Ia menjawab dengan anggukan kepala. Ia tidak keberatan bila saya aktif dalam suatu kegiatan, hanya saja saya tidak yakin apakah ia masih bersikap sama bila saya ceritakan bahwa saya juga menyumbang dana. Hi..hi… biarlah itu menjadi rahasia saya saja.

Saya masuk ke Rulis bukan karena saya hebat, tapi bersama Rulis saya berproses menjadi pribadi hebat. Di Rulis saya ditempa berbagai keterampilan tidak hanya dalam bahasa tulisan melaikan juga komunikasi lisan. Di Rulis saya tidak saja dipacu untuk bergerak tetapi juga diarahkan agar mampu membuat orang lain bergerak. Rulis tidak ingin hanya anggotanya yang mulia, melainkan anggotanya membuat orang lain mulia. Mulia dengan karya.

Taufiku adalah guru SDN Kapedi II Kecamatan Bluto dan aktivis RULIS

Tulisan Terkait

Gupen 4576323467217183724

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item