Lelaki Pemabuk

Cerpen Suhairi Rachmad*

(sumber gambar: dreamscopeapp.com)

Barja terus menyeret langkah kakinya. Kadang-kadang jempol kakinya membentur gundukan tanah dan membuatnya terjatuh. Ia hampir tak mampu membawa beban tubuhnya sampai di rumahnya. Tubuhnya terasa sangat lemas. Tenaga yang ia miliki hampir habis setelah mengadakan pesta miras dengan teman-temannya di sebuah café.

Barja terus menyeret langkah kakinya. Angin malam yang menerpa tubuhnya tak dihiraukannya. Padahal, suasana malam itu sangat dingin. Mungkin pengaruh alkohol yang bersarang dalam tubuhnya membuat Barja tak kedinginan. Hanya rambutnya yang ikal dan gondrong seakan terusik terpaan udara malam yang santer.

Tiba-tiba Barja merasakan sebuah pentungan mendarat pada bagian punggungnya. Barja tersungkur di tanah. Ia berusaha membalikkan tubuhnya sambil mengeram kesakitan. Ia melihat dua orang berdiri tegar dan gagah sambil memegang sebuah pentungan berukuran sekitar satu meter. Tapi Barja tak bisa mengenali kedua orang tersebut. Wajah mereka tertutup kain ala ninja. Penampilan mereka membuat Barja dicekam rasa takut. Jangan-jangan kedua orang tersebut memiliki sifat kejam seperti yang dimiliki seorang ninja. Jangan-jangan mereka adalah utusan Malaikat Jibril yang akan menjemput nyawa Barja. Ah!

Piyar! Piyar! Piyar! Piyar!

Barda tak sempat berpikir lebih panjang lagi. Kedua orang itu mendaratkan pentungannya di tubuh Barja secara bertubi-tubi. Lalu suasana menjadi lebih gelap. Lebih gelap dari suasana malam yang menyaksikan sebuah adegan tersebut.

Malam semakin mencekam. Kedua orang tak dikenal itu telah pergi. Hanya tubuh Barja yang masih terbujur dalam keadaan tak sadarkan diri. Lolongan srigala melengkapi suasana mencekam malam itu.

Barja baru sadar setelah istrinya menyediakan makan untuknya. Kedua mata Barja seakan liar. Ia melihat ke sana-kemari. Menatap istrinya dengan nada ketakutan. Ia seakan mau lari ketika istrinya hendak menyuapinya dengan sesendok air putih. Barja hanya mampu menggerak-gerakkan kedua bola matanya. Rasa sakit menguasai seluruh tubuhnya. Apalagi di bagian punggung, tempat kedua orang tak dikenal itu mendaratkan pukulannya.

“Tenang, Mas, aku Maslikah, istrimu.”

Barja terlihat lebih tenang. Tatapan matanya tak lagi liar. Ia baru menyadari bahwa perempuan cantik yang ada di depannya adalah Maslikah, istrinya. Ia juga baru menyadari bahwa ia berbaring di rumahnya sendiri, di ranjangnya sendiri, ditemani istrinya sendiri.

Tubuh Barja memang terasa sakit. Tapi dinding-dinding hatinya menangkap seribu bahagia yang tak ditemukannya di café-café ketika berpesta minuman keras. Dalam keadaan seperti itu, Barja selalu merasakan nikmatnya kasih sayang yang diberikan Maslikah. Maslikah menyuapinya dengan segala cinta yang terpatri dalam jiwanya. Bahkan, sorot mata Maslikah mampu memancarkan ketulusannya ketika melayani seorang suami tercinta.

“Kau tak salah memilih aku sebagai seorang suami, hah!” tanya Barja pada suatu hari.
“Aku berjanji takkan menjilat ludah yang telah kutelan, Mas.”
“Maksudmu?”
“Dulu aku bernah berjanji bahwa aku akan setia kepada Mas sehidup-semati.”
“Dulu kau tak tahu bahwa aku seorang pemabuk.”
“Mas bisa mengubah kebiasaan buruk itu. Mas bisa mengubah status pemabuk menjadi bukan pemabuk. Mas bisa mengubah pemalas menjadi bukan pemalas. Mas bisa mengubah kepribadian Mas yang buruk menjadi baik. Hal tersebut tergantung kesungguhan Mas mengubahnya.”
“Seandainya aku tidak mau mengubahnya?”
“Itu adalah pilihan, Mas. Dan Mas sendiri yang berhak.”
“Apakah kau masih akan jadi istri setia?”
“Bagiku, hal tersebut merupakan sebuah tantangan agar aku bisa mengubah kepribadian seorang suami. Jika tidak, berarti aku gagal memperbaiki pribadi Mas.”
“Berarti kau takkan lagi jadi istri setia?”
“Aku hanya mempunyai cinta sejati, Mas, tentunya dengan segala ketulusan yang kumiliki. Jika Mas tidak mau mengubah kepribadian Mas yang suka mabuk dan malas-malasan, aku tetap takkan mengubah  kualitas cinta terhadap Mas. Aku hanya mempunyai cinta sejati walaupun aku sendiri tak pernah memperoleh cinta sejati dari Mas.”

Pagi menyembulkan matahari di ufuk timur. Barja terbangun dari tidurnya sejak adzan subuh berkumandang dari musholla kiai Sholeh. Suluruh tubuhnya masih terasa sakit. Maslikah hanya mengobati tubuh Barja dengan daun-daun yang diambil dari pekarangan rumahnya yang diracik secara tradisional. Maslikah sudah tidak mampu lagi membawa Barja ke rumah sakit. Selama beberapa bulan terakhir, Barja tak pernah memberi Maslikah sepeser uang untuk belanja atau ditabung. Ia menanggung sendiri beban hidupnya berkat sebuah toko kecil warisan orang tuanya. Bahkan, kebutuhan Barja juga sering diambilkan dari hasil jualan itu.

Bagi Maslikah, mengubah kepribadian suaminya menjadi orang baik-baik merupakan dambaan yang harus dicapainya. Barbagai rayuan dan bujukan Maslikah lakukan untuk meluluhkan hati suaminya. Barbagai cara yang ditawarkannya agar Barja tidak lagi demen bermabuk-mabukan. Pernah Maslikah menyuruh Barja menikah lagi dengan Martini asalkan Barja menghentikan kebiasaan buruknya itu. Semula, Barja setuju dan Maslikah terlihat sangat gembira. Beberapa saat kemudian, Barja menarik pernyataannya. Barja tidak yakin bisa berhenti mabuk. Mengapa bisa tidak yakin?

Sudah beberapa kali Barja berjanji berhenti mabuk. Seperti halnya pada awal-awal bergabung dengan teman-temannya yang suka mabuk, Barja merasa kapok ketika beberapa temannya kena razia. Waktu itu, Barja masih beruntung bisa menyelamatkan diri dari kepungan polisi. Barja berjanji akan bertobat atas kekhilafan yang telah ia perbuat.

Rupanya Barja melanggar kejernihan suara nuraninya sendiri setelah beberapa kali seorang temannya membujuk agar Barja mau ikut pesta miras di sebuah café. Ia tak lagi mengingat tobat. Ia tak lagi mengingat Tuhan dan kematian. Ia berpesta miras dengan beberapa temannya sampai pagi. Sedangkan istrinya masih setia menunggu sambil membentangkan doanya di atas sajadah. Air mata Maslikah menetes dan terlihat sangat jernih, sejernih ketulusannya mendoakan sang suami.

Sudah beberapa kali Barja berjanji akan berhenti mabuk dan minum-minuman keras. Tapi sebanyak itu pula janji itu dilanggarnya. Hal itulah yang membuat Barja tak bersedia menikah dengan Martini. Barja tak yakin bisa memenuhi permintaan istrinya.

“Aduh, tubuhku terasa sangat sakiitt…!” Barja ingin mengangkat bagian kepalanya. Tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya tak mampu memenuhi keinginan hatinya.

“Jangan banyak bergerak dulu, Mas!” Maslikah memohon sambil memegang bagian kepala dan tangan Barja. Setelah itu, Maslikah menyiapkan bubur untuk suaminya itu.

Dalam keadaan sakit, diam-diam Barja masih mengagumi sosok seorang istri yang mampu menciptakan keindahan dan keharmonisan di rumah. Barja menyadari bahwa ketenangan batin tidak hanya didapat dari pesta minuman keras. Tapi di sisi lain, Barja meyakini bahwa dirinya tidak mungkin bisa berhenti dengan kebiasaan buruknya itu.
Beberapa hari berikutnya, keberadaan Barja semakin parah. Maslikah sangat panik. Ia harus mencari pinjaman uang untuk membawa suaminya ke rumah sakit. Tapi siapa yang akan memberikan pinjaman uang sepagi ini. Subuh masih belum menjemput orang-orang dari balik selimut tidurnya. Tapi apa boleh buat, demi kesetiaanya pada seorang suami, Maslikah melangkah pergi menembus dinginnya pagi. Hingga ia sampai di sebuah rumah janda kaya. Namanya Mbok Inah.

Sedangkan Barja masih terbaring di atas ranjangnya. Suhu badannya semakin panas. Tatapan matanya semakin liar. Seakan ia melihat alam lain yang selama ini tak dikenalnya. Mulutnya ngomong ngalor-ngidul. Barja terlihat sangat ketakutan dan seakan mau berlari dan pergi dari tempat itu. Kedua bola matanya memelototi dua orang tak dikenal sambil memegang pentungan masing-masing. Barja masih sempat mengingat bahwa kedua lelaki itu adalah orang yang memukul Barja beberapa hari yang lalu, ketika Barja baru pulang dari sebuah café, tempat ia berpesta minuman keras.

Barja semakin tak mampu mengerakkan tubunya. Kemudian ia berusaha berteriak sekuat-kuatnya. Tapi salah seorang di antara mereka buru-buru memenuhi mulut Barja dengan benda cair berbahu alkohol. Hingga akhirnya ia tak mampu bernapas dengan mata melotot.

Maslikah baru datang ketika suaminya sudah kaku menjadi mayat dengan posisi tubuh yang mengerikan. Air mata Maslikah berderai. Ia merasa bersalah. Ia merasa terlambat membawa suminya ke rumah sakit. Ia merasa terlambat mengubah suaminya menjadi orang yang baik. “Tuhan, maafkan dia!” serunya. 

**
Suhairi Rachmad lahir di Sumenep, Madura. Alumnus Fak. Sastra Universitas Jember dan mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jember. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media lokal dan nasional. Beberapa buku bersamanya yang terbit; “Puisi Rakyat Merdeka” (Puisi, Grasindo:2003), "142 Penyair Menuju Bulan" (Puisi, Kalalatu Press:2006), ”Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan" (Puisi, DKM Mojokerto:2010), "Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan" (Cerpen, DKM Mojokerto: 2010), "Bismillah, Aku Tidak Takut Gagal" (Motivasi, Qultum Media:2011).



Tulisan Terkait

Cerpen 6684412401163521652

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item