Berbagi Hati Dengan Rulis

Oleh: Yulianti

Media sosial mengenalkan saya dengan Rumah Literasi Sumenep (Rulis). Melalui unggahan di medsos facebook saya mengetahui keberadaan dan sepak terjangnya. Dari facebook pula saya mengetahui hari jadi komunitas ini tanggal 11 November 2017. Usia yang masih muda tentunya, tetapi kegiatan dan beberapa buku telah berhasil dilahirkannya, diantaranya: kumpulan puisi Perempuan Laut, Kumpulan cerita rakyat Sumenep Mutiara yang Terserak, dan Kumpulan cerita anaka Siti dan Peri Gigi.  

Yulianti
 Banyak sekali kegiatan-kegiatan yang membuat saya ngiler ingin bergabung saat itu. Salah satunya adalah saat mengundang cerpenis kawakan, Shoim Anwar dalam acara workshop pelatihan menulis bagi guru SD.  Ingin bergabung dan menjadi bagian dari Rulis adalah keinginan saya. Karena keinginan itulah saya sering mengintip dan mengikuti perjalanan Rulis melalui facebook.

Lambat laun saya mengenal Syaf Anton, melalui acara bedah buku. Kemudian akhirnya saya menjalin kerjasama dengannya dalam acara memeringati Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2017. Sejak saat itu saya tahu bahwa ia adalah Pembina di Rulis Sumenep.

Entah siapa yang membawa nama saya sampai di Rulis. Tetapi saya sangat senang dan tentu bersyukur sekali diberikan kesempatan bergabung dalam sebuah komunitas yang para anggotanya adalah orang-orang hebat. Hebat bukan hanya karena anggota Rulis memiliki karya atau buku, melainkan hebat karena semangatnya yang sangat tinggi untuk saling berbagi dan menularkan semangat literasi kepada siapa saja.

Sekretariat Rulis bertempat di rumah sang ketua, Ibu Lilik (Lilik Rosida Irmawati). Jarak yang tidak dekat dengan rumah saya, kurang lebih dua puluh kilo meter. Anggota Rulis adalah para tenaga pengajar: Guru SD, SMP, Dosen, dan kepala sekolah. Saya adalah satu-satunya guru SMP. Jadwal yang tidak sama terkadang membuat saya kesulitan saat rapat koordinasi. Belum lagi masalah anak-anak dan suami di rumah. Meskipun suami dan anak-anak selalu mendukung kegiatan saya, tetapi terkadang hati kecil saya pun merasa tidak enak jika baru tiba di rumah kemudian keluar lagi untuk rapat koordinasi. Hampir tiap sore, saya keluar rumah karena di sekolah menjadi pembina beberapa ekstrakurikuler. Beruntung saya memiliki keluarga yang selalu mensupport kegiatan saya.

Rulis memberikan cukup ruang untuk saya agar selalu bersemangat untuk menulis. Kami selalu mendapatkan semangat itu melalui pembina dan ketua di group whatsapp yang kami buat. Anggota rulis tidak ada yang merasa lebih unggul meski sudah melahirkan beberapa buku. Sama-sama memberikan semangat.  Selain itu, kami pun diberi tanggung jawab untuk menulis dan menyelesaikan pembuatan buku biografi tokoh Sumenep. Kebetulan saya mendapat tugas untuk mencari informasi tentang tokoh pejuang yang jarang di publish, yaitu K.H Ali wafa.

Tidak hanya menulis saja, kami pun harus bisa menularkan semangat kami pada orang lain, baik kepada siswa atau pun guru bahkan kepala sekolah melalui kegiatan roadshow ke sekolah-sekolah di Kabupaten Sumenep. Baru-baru ini tepatnya pada tanggal 28 April 2018 kami melakukan kegiatan workshop literasi bagi siswa, guru, dan kepala sekolah di pulau Gili Genting Sumenep. Ini adalah kali pertama saya menjadi pemateri bagi anak SMA.

Ternyata rasanya jauh berbeda ketika menjadi pemateri dan mengajar di depan kelas. Ini pun membuat saya untuk belajar kembali dan mencari referensi bagaimana caranya menjadi pemateri yang tidak membosankan, menarik, dan tentu meghasilkan. Menghasilkan, bukan dari segi materi. Karena kami adalah aktivis Rulis yang bersifat relawan tidak membayar dan dibayar. Maksud dari menghasilkan adalah siswa yang kami bimbing termotivasi untuk menulis dan mengahsilkan karya.

Kegiatan roadshow yang kami lakukan biasanya hari Sabtu. Hari efektif sekolah, sebuah kendala bagi saya. Karena tugas utama adalah mengajar di sekolah. Selain mengajar saya juga sebagai asisten kesiswaan di sekolah. Jika ada kegiatan atau lomba siswa, saya lumayan disibukkan di sekolah.  Jika hanya sesekali meminta izin kepada kepala sekolah tidak masalah. Tetapi jika terlalu sering saya juga merasa tidak enak alias sungkan meskipun kepala sekolah tidak pernah keberatan, dengan catatan anak-anak diberi tugas.

Tidak ingin mengorbankan anak didik membuat saya mencari jalan tengah, agar semuanya bisa sama-sama jalan. Akhirnya saya pun meminta kepada Wakasek Kurikulum untuk semester selanjutnya tidak memberikan jadwal mengajar pada hari Sabtu, kalaupun harus mengajar dua jam tatap muka saja. Jadwal bisa di fullkan dihari lain.

Ada banyak perubahan yang saya dapatkan antara sebelum dan sesudah bergabung dalam rulis. Terutama dalam mindset tentang menulis. Tidak mengkambing hitamkan kesibukan dalam menulis. Anggota rulis adalah orang-orang yang memiliki kesibukan luar biasa, tetapi mereka bisa tetap menulis bahkan menularkan semangat menulis bagi orang lain. Sama sepeti motto komunitas ini mulia karena karya.

Dalam hati kecil saya berbisik ‘saya tidak ingin mengecewakan orang yang sudah membawa nama saya pada rulis’ artinya saya harus bisa bermanfaat dan memanfaatkan komunitas ini untuk berkarya, berkarya, dan berkarya. Apalagi ibarat buah, saya sudah kebagian manisnya saja. Dari Beberapa cerita teman, saya tahu bahwa tidak gampang untuk mendirikan rulis. Mulai dari merangkak, berjalan, berlari, dan kini sudah bisa terbang. Memerlukan perjuangan yang luar biasa. Di luar sana pasti banyak yang memiliki keinginan untuk bergabung bersama rulis, karena eksistensi rulis sumenep sudah mulai banyak yang melirik.

*) Yulianti adalah guru SMP Negeri Dasuk, Sumenep juga aktivis RULIS
Dasuk, 5 Mei 2018



Tulisan Terkait

Gupen 6839992569663216630

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item