Akhir dari Kesombongan Siti

Cerita: Yasmin Nadila Fachrunnisa,

Pada suatu hari, saat Ardi pulang dari sekolah Ardi melihat seorang kaket buyut yang sudah tua renta. Dia hendak menyeberang jalan. Kakek itu tidak bisa melihat. Dia hanya memakai tongkat ketika berjalan. Melihat itu, Ardi mendekati sang kakek
    “Mau kemana kek?” tanya Ardi
   “Mau ke toko yang di seberang jalan, Nak” jawab sang kakek
    “Ayo kek, saya bantu. Pegang tangan saya.” kata Ardi lalu memegang tangan si kakek. Ardi membantu kakek menyeberang dan mengantarkan kakek sampai di toko yang ada di seberang jalan.
    “Terimakasih ya, Nak” kata kakek setelah sampai di ujung jalan.
    “Sama-sama kek. Hati-hati nanti  pulangnya ya”
    “Ya, Nak. Oh ya namamu siapa, Nak?” tanya kakek.
    “Namaku Ardi, Kek.”
“Semoga Allah selalu menjagamu. Nak Ardi” kata kakek setelah Ardi pergi.
    Ardi lalu melanjutkan perjalan pulang ke rumah, dia bertemu dengan seorang pengemis yang bajunya sangat kotor dan berlubang-lubang, kepadanya dia memberikan sisa uang sakunya yang hanya tinggal limaratus rupiah.
    “Terimakasih ya nak, semoga kamu jadi anak yang sukses saat besar” kata pengemis
    “Sama-sama nek”
    Ardipun berjalan menuju rumahnya, sesampainya di rumah Ardi bercerita kepada ibunya. Ibunya sangat bangga kepada Ardi,dia semakin sayang pada putranya itu.
    Saat keluar rumah dia melihat seorang anak perempun bersama Siti. Siti adalah anak yang kaya, dia adalah temannya Ardi di sekolah. Tapi walaupun teman satu sekolah, Siti tidak menyukai Ardi karena Ardi anak orang miskin.
    “Lepaskan aku, toloong ...” teriak Siti saat dua anak SMP menarik tasnya. Sepertinya dua anak nakal ini bermaksud mengambil sesuatu dari dalam tas Siti.
    “Ayo serahkan uangmu. Atau aku akan memukulmu.” Kata anak yang lebih tinggi.
    “Gak mau, aku gak mau memberikannya padamu. Ini uangku.” Kata Siti dengan berontak.
    “Kamu gak takut?”
    “Gak takut, nanti aku laporkan kamu pada ayahku. Dia bisa memukulmu juga. Ayahku orang kaya.” Kata Siti dengan sombongnya.
    “Mana ayahmu sekarang, tidak ada kan? Tidak ada yang melihat kita berdua. Ya kan?”
    “Tolong...” teriak Siti lagi.
Ardi masih bersembunyi di balik pohon besar. Dia masih ragu bagaiamana menolong Siti. Dua anak nakal itu memang terkenal suka memukul. Apalagi selama ini Siti selalu bersikap sombong dan angkuh padanya.
“Tolong ...” Siti berteriak lagi.
Akhirnya Ardi merasa kasihan pada Siti. Dalam hatinya dia berfikir bagaimana menyelamatkan Siti. Tapi dia kan seorang diri. Dia tidak berani menghadapi mereka berdua.
Idepun muncul, Ardi dengan cepat berlari ke arah selatan. Dia menuju rumah Siti yang tidak jauh dari tempat Siti dicegah dua anak nakal itu.
Sampai di depan rumah Siti, pintu pagarnya masih dikunci. Ardi memanggil orang yang ada di dalam.
“Assalamualaikum... tolong segera keluar.” Teriak Ardi.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berpakaian satpam keluar.
“Ada apa kok berisik?’ kata satpam kasar. Keluarga Siti memang terkenal kaya raya di desa ini. selain kaya, mereka juga sombong sama seperti Siti.
“Siti diganggu anak-anak SMP di depan sana.ada dua anak yang memaksa Siti memberikan uangnya.” Jawab Ardi dari luar pagar.
Pak Satpam keluar pagar dan mengikuti Ardi berlari.
“Itu Pak disana.” Ardi menunjuk ke arah Siti yang masih saling menarik tasnya.
“Hei, mau apa kalian?.” Teriak pak Satpam.
Mereka kaget melihat Ardi bersama satpam. Tanpa menunggu lama, dua anak nakal itu lari terbirit-birit meninggalkan Siti yang sudah menangis.
“Kamu tidak apa-apa, Non?” tanya satpam.
“Untungnya bapak segera datang. Hu hu .” jawab Siti dengan terisak.
“Ada yang luka?”
“Tidak ada, Pak. Mereka hampir saja mengambil uang dan barang-barangku. Kok Pak Mul tau kalau aku sedang diganggu Robet dan Febri?”
“Anak ini yang memberi tau bapak kalau nona sedang diganggu anak-anak.” Kata Satpam menunjuk ke arah Ardi.
Ardi menunduk, dia masih ingat saat Siti mencela sepatunya yang lubang waktu itu.
“Ardi, terima kasih ya. Kamu sudah membantuku. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tau lagi bagaimana nasibku.” Kata Siti pada Ardi.
“Ya sama-sama, saya hanya memberi tau pak satpam saja kok.”
“Ya tapi kalau tidak ada kamu, satpamku tidak akan tau kalau aku diganggu. Terima kasih ya. Maafkan aku karena selama ini aku bersikap kasar padamu.” Kata Siti mengulurkan tangan.
“Maukah kau berteman denganku?” kata Siti lagi.
Ardi masih ragu
“Kamu tidak mau ya?” tanya Siti lagi.
“Aku mau jadi temanmu, tapi aku kan tidak kaya sepertimu.”jawab Ardi jujur.
“Maafkan aku Ardi, selama ini aku salah selalu membedakan teman-temen. Aku janji mulai saat ini aku akan berteman dengan siapapun.” Kata Siti dengan memberikan jari kelingkingnya.
Ardi menerima uluran jari Siti.
“Jadi mulai sekarang kita berteman baik ya.” Siti menjabat tangan Ardi.
“Ya. Kita berteman.” jawab Ardi.

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke sekolah bersama-sama. Sejak saat itu Siti dan Ardi berteman dengan baik, kadang Siti mengajak Ardi naik sepeda bersama menuju sekolah. Karena jarak rumah mereka dekat.
Semakin hari sikap Siti semakin baik. Siti tidak lagi sika mecaci anak-anak yang berpakaian kotor dan bersepatu lubang. Di kelasnya, Siti sudah semakin rukun dengan teman sekelasnya.
***

Namaku Yasmin Nadila Fachrunnisa, lebih sering dipanggil Yasmin. Aku lahir pada tanggal 20 Februari 2009, saat ini aku sedang di bangku kelas 3B SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Aku adalah pertama dari dua bersaudara dari pasangan Ach. Subari dan Ibu Sri Hartatik. Aku mempunyai beberapa hobi di antaranya membaca, menulis, bermain dan belajar. aku mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter.

Tulisan Terkait

Kolom Aja 5826875204982362930

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item