Proses Kreatif Butuh Niat, Keberanian dan Keyakinan

M. Fauzi

M. Fauzi
Kita memiliki daya Imajinasi, yakni sebuah ruang kontemplasi—hayal manusia di dalam menangkap, menerjemahkan segala tangkapan-tangkapan realitas, yang eksistensial maupun yang substansial. Imajinasi adalah ruang hampa, sebuah lorong-lorong sunyi bagi yang hendak menepi, meski hanya sekedar untuk melepas lelah. Imajinasi akan melakukan perjalanan yang sangat panjang yang melibatkan kesadaran, sehingga membutuhkan sango yang cukup untuk menyeberangi lautan luas dengan gelombangnya, menaiki gunung dengan laharnya, terabas hutan dengan cakar hewan dan jurang, menaiki langit dengan pelanginya, menenun cuaca dengan kilapnya dan sebagainya. Sangonya, tidak lain adalah membaca, sehingga akan melahirkan sesuatu hal baru ketika bangun dari kesadarannya.

Kita memiliki daya Bahasa, yakni setiap orang memiliki daya pengucapan sendiri. Jadi setiap orang memiliki bahasanya sendiri, sehingga antara satu orang dengan satu orang lainnya memiliki keberbedaan di dalam menyuguhkan sebuah karya sastra, lantaran setiap orang memiliki daya pikir sendiri, daya cipta sendiri, daya nalar sendiri dan daya imajinasi sendiri. Daya Bahasa merupakan ledakan kreatif dalam tubuh, yang secara organistik dapat diperoleh oleh siapapun, termasuk makhluk Tuhan yang ada di dunia. Apalagi kita sebagai manusia yang memiliki kekuatan di dalam mengolah bahasa dalam struktur kata, termasuk Puisi.

Dalam proses kreatif daya Bahasa memiliki keterkaitan—sublimatis dengan yang namanya Metafora. Metafora merupakan alat imajinasi—puitik sekaligus retoris di dalam menyuguhkan fenomena kreatifitas yang berkembang di dalam masyarakat. Tiba-tiba Bahasa dan Metafora menjadi sesuatu yang sangat seksi di dalam proses interaksi sosial, interrelasi komunal yang dibangun di dalam masyarakat, termasuk interaksi—simbolik.

Bagaimana pun, arsitektur kata dalam estetika tubuh adalah riwayat dan biografi—kreatifitas yang harus dilakukan oleh seorang pengarang. Arsitektur kata dalam estetika tubuh memiliki sejarahnya sendiri dalam dialektika kebudayaan yang berkembang di dalam masyarakat. Tubuh merupakan kata yang memiliki arsitektur dan dapat dibaca secara simbolik. Kata bermula dari tubuh, dan tubuh adalah kata yang membangun interaksi—semiotik antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya.

Selanjutnya adalah daya Bahasa sebagai tubuh penyampai. Ia melebihi fungsi dan tujuannya, sehingga bahasa hadir sebagai arsitektur dunia yang mampu menyapa pembaca.


Menulis dalam proses kreatif membutuhkan niat yang kuat, keberanian yang kuat, keyakinan yang kuat, referensi yang kuat, suasana yang representatif dan jaringan yang kuat pula.

Tulisan bersambung:
  1. Arsitektur Kata Dalam Estetika Tubuh 
  2. Menulislah! Menulislah! Menulislah!
  3. Proses Kreatif Butuh Niat, Keberanian dan Keyakinan

Tulisan Terkait

Esai 1436061087015792704

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item