Telanjang

 Cerpen: Rusdi El Umar

Tiba-tiba saja aku ingin telanjang. Ya, semacam keinginan yang begitu kuat. Ada sesuatu merasuk jiwaku untuk telanjang. Hanya telanjang saja. Tidak lebih. Di depan banyak orang. Agar mereka dapat melihat, luar dalamnya tubuhku. Aku ingin jujur. Jujur untuk segalanya. Termasuk tubuhku. Tak ingin ada yang aku tutup-tutupi.
Aku ingin telanjang. Dan itu sebuah kesadaran. Tanpa paksaan. Tanpa ancaman.

"Mau telanjang?"

"Ya, aku mau telanjang. Di depan orang-orang baik yang aku kenal atau tidak."
"Sudah kamu pikirkan konsekuensinya?"
"Konsekuensi apa? Apa yang salah dengan aku telanjang?"

Telanjang adalah ungkapan kejujuran. Itu dalam penilaianku saat ini. Tidak ada yang aku rugikan. Aku juga tidak menyakiti orang lain. Benar-benar sebuah lelaku personal. Tanpa melibatkan orang lain. Aku ingin perlihatkan luar dalamnya aku. Agar semuanya terjabarkan. Tidak ada yang aku tutup-tutupi. Benar-benar apa adanya.

Aku masih terus berpikir. Seperti apa yang akan aku lakukan. Ya, sehubungan dengan keinginanku untuk bertelanjang. Benar-benar bulat. Tanpa sehelai benang pun yang menutupi. Tanpa apa pun juga. Itu adalah hasratku, keinginanku, dan kemauanku sendiri.

Aku berpikir, jika berjalan telanjang ke pasar. Sambil berbelanja, tanpa rasa risih. Karena inilah hasratku. Inginku, dan harapanku. Atau ke mall, dimana banyak sekali orang. Pasti akan seru, saat mereka menatapku dalam keadaan telanjang. Ya, telanjang bulat. Entah seperti apa suasana mall saat itu.

Kadang aku juga punya cara lain, semisal membuat panggung besar. Yang diberitahukan atau diumumkan, kalau akan ada aksi spektakuler, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aku ingin the naked show, telanjang bulat yang disaksikan oleh ribuan penonton. Tentu ada sensasi luar biasa yang akan membuat hatiku bangga, berbunga-bunga. Ya, inilah aku yang sesungguhnya.

Sebelum aksi telanjang kujalani, seringkali aku melihat tubuhku melalaui sebuah cermin besar. Aku bisa melihat tubuhku yang seutuhnya. Tanpa sehelai kain pun. Benar-benar telanjang. Ungkapan body language yang begitu jujur. Tulus, apa adanya. Aku pun tersenyum sendiri. Tertawa dan terbahak melihat tubuh bugilku.

Ya, leherku yang jenjang, putih berkilau. Payudaraku yang masih tegak, kenyal. Maklum aku masih perawan. Umurku masih 19 tahun. Seorang gadis yang masih belia. Ranum, belum terjamah. Perawan yang masih 'ting-ting.' Puting susuku yang nampak agak kemerahan, terasa begitu mempesona. Tegak menunjuk apa saja yang ada di hadapanku.

Terus, juga kuperhatikan perutku yang langsing. Masih rata, dengan kulit putih langsat. Aku memutar-mutar tubuhku. Bokongku padat terisi. Ada kepuasan tersendiri melihat kesempurnaan tubuhku. Pantas saja kiranya aku berbangga dengan keadaan tubuhku yang begitu banyak lelaki ingin memiliki. Ya, mereka lewat saja dulu. Aku masih ingin melampiaskan hasratku. Telanjang bulat di depan umum.

Dan tentu saja, di balik selangkangan, ada bibir vaginaku yg masih ori. Belum tersentuh oleh apa pun dan siapa pun. Ada bulu-bulu halus yang menghiasi kemaluanku. Masih tipis, meski sudah nampak menghitam. Aku ingin, siapa pun bisa melihatnya. Ya, hanya melihat, tidak lebih. Tentu, telanjang adalah bagian dari misiku.

"Kapan misi telanjangmu akan kau laksanakan?"
"Secepatnya!"
"Di mana?"
"Di mana saja. Pastinya semua orang bisa melihat aksiku!"
"Sudah yakin."
"Tentu!"

Terkadang aku menghayal sebagai obyek lukisan hidup. Jadi, para seniman, pelukis dapat melihatku yang lagi telanjang sepuasnya. Menggoreskan kuas di kanfas tentang lekuk telanjang tubuhku. Tentu akan menjadi 'sesuatu' yang indah dalam kehidupanku. Entah, cara terbaik seperti apa yang akan kulakukan untuk aksi telanjangku.

Akhirnya waktunya tiba. Aku akan melakukan aksi telanjang di sebuah hotel mewah. Di sebuah ruangan yang sudah didesain khusus untuk unjuk kemolekan tubuhku. Mereka yang datang adalah para wartawan, fotografer, seniman, pejabat pemerintahan, dan masyarakat umum tanpa kecuali. Tidak ketinggalan, dari MURI juga bersedia datang, sekaligus memberikan piagam sebagai rekor tak terbantahkan di negeri ini. Semuanya sudah dipersiapkan secara matang oleh panitia. Berbagai sponsor turut mensukseskan acara ini.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku mempersiapkan fisik dan mental. Acara ini harus sukses. Sebuah mobil mewah Ferari memasuki rumah kontrakanku. Aku pun sudah siap. Dengan pakaian seadanya, begitu transparan, aku masuk ke dalam mobil. Rencanaku, di dalam mobil aku sudah akan telanjang bulat. Jadi sesampainya di tempat acara, semua orang sudah bersorak menyambut aksi bugilku.

Di dalam mobil, setelah tempat yang   aku tuju sudah dekat, aku mulai aksiku. Mulai dari baju atasan, bra, celana, dan terakhir celana dalamku. Aku benar-benar bulat, telanjang. Aku tersenyum girang menyambut sorak sorai orang-orang yang menantikan aksiku. Di pintu gerbang terpampang "selamat datang di rumah sakit jiwa."

"RSJ? Aku tidak gilaaa......"

Sumenep, 23072015


Rusdi El Umar lahir dan tinggal di Sumenep Madura. Suka membaca dan menulis. Tulisannya pernah dimuat di Majalah MPA, Jawa Pos, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Jurnal Edukasi, dan telah menerbitkan solo maupun antologi. Sering memenangkan event di media sosial Facebook. Bisa disapa lewat FB: Rusdi El Umar, Twitter: @rusdi_elumar, dan Email: rusdiumar@gmail.com. Alamat rumah: Jl. Tronojoy Gg. X Rt. 03 Rw. II Nomor 12E Kolor Timur Sumenep 69417. HP. 081234775969


Tulisan Terkait

Cerpen 9008005571108664951

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item