Menulislah! Menulislah! Menulislah!

M. Fauzi
Oleh: M. Fauzi

Arsitektur Kata Dalam Estetika Tubuh

Proses kreatif adalah daya cipta, daya nalar, daya imajinasi yang ada pada setiap manusia, termasuk diri kita. Setidaknya hal ini yang harus membuat diri kita untuk mampu menerjemahkan hal-ihwal yang bakal, akan, dan sesuatu yang melampau untuk terjadi.

Jawabannya hanya ada pada satu kata, yakni Menulis! Menulis! Menulis!

Menulis bukan kata sifat dari suatu benda, bukan barang yang dapat dibeli, bukan kata perintah, bukan benda yang harus dimitoskan, bukan sesuatu yang perlu disakralkan, tapi Menulis merupakan kata kerja, maknanya sudah melekat pada tubuh kata tersebut, yang secara universal mengikat bagi yang memiliki keinginan keras dan kuat. Kata Menulis memiliki interrelasi—semiotik dengan berbagai stuktur kata, ruang, keadaan, suasana, tata kosmos, benda-benda dan manusia. Sistem pola kerjanya bisa simetris, asimetris, bisa lurus, meliuk, bisa konstruktif, dekonstruktif, bahkan bisa melompat dari satu wacana ke wacana lain. Walhasil, menulis adalah bagaimana kita menyajikan sebuah menu terhadap pembaca.

Menu apa saja dapat kita sajikan kepada pembaca, bisa pizza, bisa pisang goreng, bisa bebek pedas, bisa tahu isi, bisa lalu lintas mobil, bisa kopi hitam, bisa teh, bisa ice juice, bisa buggul, bisa nasi jagung, bisa hamburger, bisa genting bocor, bisa langit, bisa bumi, bisa aspal, bisa adzan, bisa puasa, bisa tanah, bisa bebatuan, bisa kerikil, bisa westafel, bisa ac, bisa kipas angin, bisa tembok, bisa kursi, bisa kethepong pisang, bisa kayu bakar, bisa kandang ayam, bisa telur asin, bisa garam, bisa laut, bisa gelombang, bisa cadas, bisa masjid, bisa mushalla, bisa anak-anak, bisa dewasa, bisa remaja, bisa rumput, bisa bus kota, bisa presiden, bisa bendera, bisa hewan, bisa ilham, bisa malam, bisa siang, bisa sunyi, bisa sepi, bisa pasar, dan bisa bisa. 

Tergantung bagaimana kita mengolahnya!

Tangan-tangan kreatif akan menyuguhkan menu sajian yang menarik, dan mampu diterima oleh semua kalangan dengan segmentasi pasar yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Maka diperlukan sebuah penyedap rasa, yakni rasa dari bahasa yang memiliki daerah pengucapan. Bahasa yang tidak kehilangan kemerdekaannya, bahasa tidak memiliki beban cukup berat untuk memikul segala persoalan yang dimiliki penulisnya.

Acapkali Penulis memberi beban yang cukup berat bagi kata yang ingin digunakannya, sehingga kata tidak dapat bergerak dengan leluasa untuk menentukan nasibnya sendiri. Kata dipagari dan diberi tembok yang cukup tebal, tinggi dan besar, sehingga kata tidak dapat melompat untuk dapat menemui saudaranya, sanak familinya, menemui kekasihnya, menemui orang-orang yang dicintainya, menemui alam semesta, menemui aneka ragam peristiwa yang ada di sekitarnya.

Kata dalam bahasa seringkali berat membawa tubuhnya, lantaran terlalu banyak membawa lemak, katanya, supaya syarat makna, padahal tak ada orang yang mampu memahaminya. Padahal kata dalam bahasa tidak dapat berdiri sendiri, tapi memiliki senyawa dengan sesuatu yang ada di luar bahasa itu sendiri. Sehingga ketika kata dalam bahasa tidak menemukan pembacanya, maka kata akan disakralkan dan diberhalakan, disembah lalu dibuang di pinggir jalan, dibadbad angin, masuk tong sampah, lalu kita pun ramai-ramai menginjaknya, ramai-ramai menelantarkannya. Maka, kembalilah kata pada ke negeri muasalnya.

Kata dalam bahasa diletakkan dalam garis demarkasi struktur—liturgis, sehingga melahirkan monster-monster gelap yang tak dapat ditafsir keberadaannya, ia berada dalam pecahan simulakrum benda-benda, padahal kata dalam bahasa dapat berjuang menentukan nasib dan takdirnya. Dan kata dalam bahasa tidak membawa sengketa dengan diri kita.

Kooptasi Penulis pada sebuah karya atau kreatifitas pada awalnya begitu sangat kuat, sehingga karya-karya yang hadir terkesan menggurui, tidak dapat ditafsir, tidak dapat dipahami, tapi harus ditaati apa yang tersimpan di baliknya.

Maka, arsitektur kata dalam tubuh bahasa harus mencipta estetika, yakni arsitektur kata yang mampu menggerakkan realitas menjadi cerminan dari dirinya dan diri yang lain di luar dirinya.  
Menulis adalah kata kerja personal yang dapat dilakukan oleh siapapun, tidak memandang pangkat dan jabatanmu, apakah kau tukang becak atau professor, apakah kau tukang sayur atau penganggur, apakah kau petani atau penganut mazhab sepi, apakah kau menteri atau hanya hidup bergantung pada sesuap nasi, apakah kau orang sehat atau tidak waras, apakah kau anak sekolah atau orang salah kaprah, apakah kau polisi atau abri, apakah kau! Yang terpenting adalah kau memiliki daya Pikir, adalah kau memiliki daya Cipta, adalah kau memiliki daya Nalar, adalah kau memiliki daya Imajinasi, dan adalah kau memiliki Bahasa.

Kita memiliki daya Pikir, dengan dianugerahi otak kanan, otak kiri dan otak tengah oleh Tuhan, yang harus kita gunakan, supaya otak kita tidak mengalami gangguan alias konslet. Dalam kepala ada gedung sekolah, ada tetumbuhan, ada sinyal, ada terumbu karang, ada ilmu pengetahuan, ada agama, ada tikus, ada jendela, ada meja, ada jarum, ada paku, ada toko, ada mall, ada plaza, ada minuman, ada pesawat, ada hp, ada laptop, ada computer, ada mobil, ada penggaris, ada jalan raya, ada pilar, ada sepatu, ada bolpoin, ada doa, ada mantra, ada jangkrik, ada katak, ada gerobak, ada lampu, ada berjuta-juta ion partikel nama-nama yang belum kita tumpahkan.

Kita memiliki daya Cipta yang berbanding lurus dengan kemampuan, kemauan dan keberanian untuk ditumpahkan, sehingga kreatifitas yang lahir mampu diterjemahkan dan membawa manfaat bagi orang lain. Kemampuan, kemauan dan keberanian lahir niat yang kuat, sehingga mampu mengalahkan dan menghilangkan rasa takut yang berkecamuk. Kita takut untuk bersaing dengan orang lain, sehingga lebih memilih diam dan menyerah terhadap keadaan. Kita tidak merasa tersinggung dan iri ketika melihat orang lain mampu menghasilkan sebuah berkarya. Padahal daya Cipta sudah ada di dalam diri kita. Kapan kita akan mempergunakannya!

Kita memiliki daya Nalar yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan diskursus atau wacana di dalam kreatifitas yang akan kita suguhkan. Daya Nalar merupakan kemampuan seseorang di dalam mencerna segala macam wacana yang berkembang di dalam ilmu-ilmu fisika maupun metafisika, yang kemudian melahirkan sesuatu yang baru atau inovasi-inovasi. Nalar memiliki keterikatan secara penuh dengan  ‘Membaca’, Yakni membaca apa saja, bisa dari buku, bisa dari gejala alam semesta, bisa dari yang tersurat, tersirat, tersarat, terseret maupun tersurut.

Tulisan bersambung:
  1. Arsitektur Kata Dalam Estetika Tubuh 
  2. Menulislah! Menulislah! Menulislah!
  3. Proses Kreatif Butuh Niat, Keberanian dan Keyakinan


Tulisan Terkait

Esai 3259371403038695621

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item