Rela Hati untuk Perubahan

Yulianti (kanan) bersama Kadis, Sekdis, Kabid Pendidikan Sumenep dan Taufik Rahman (Rulis)

Yulianti

Banyak guru yang membicarakan tentang guru penggerak, tidak ketinggalan pengawas sekolah kami. Saat kunjungan monev ia menyarankan kepada kami untuk mengikuti seleksi calon guru penggerak. Kebetulan bapak pengawas sudah menjadi fasilitator CGP angkatan sebelumnya. Ia banyak bercerita tentang alasan kenapa harus ikut seleksi. Saya semakin penasaran saja, saya langsung membuka SIM PKB karena pendaftarannya melaluui SIM PKB.

Ternyata, pendaftaran masih belum dimulai, masih tertutup. Penasaran saya masih saja bergelayut, saya pun mencari tahu melaui youtube dan yang lainnya. Mata saya sontak terbelalak melihat lamanya masa pendidikan, gak tanggung-tanggung pendidikannya selama 9 bulan. Sempat rasa ingin maju menjadi ragu karena panjangnya waktu pendidikan. Namun semangat kembali menggelora ketika saya menyimak beberapa kesaksian peserta yang telah lulus di video youtube. Jika kebanyakan teman CGP dipaksa ikut oleh kepala sekolah, berbeda dengan saya. Saya dengan rela hati mendaftar, karena penasaran, tertantang dan ingin belajar sesuatu yang baru.

Tahapan seleksi tidak semudah yang saya bayangkan, bukan hanya mengumpulkan berkas atau sekadar menjawab ya dan tidak. Tiga tahapan yang harus kami lalui mulai dari administrasi dan essai, simulasi mengajar, dan wawancara.  Essai yang harus diisi gak main-main, karakter mulai dari 500 hingga 1500 karakter. Alhamduliah setelah melewati perjuangan yang tidak mudah dan dengan dukungan banyak pihak, semua bisa saya lewati. Saat pengumuman ada nama saya diantara ratusan CGP. Senang dan bahagia luar biasa. “Keren” pikir saya “se indonesia lo ini.”

Perjalanan CGP dimulai dengan lokakarya 0. Perkenalan dan pembagian kelompok dimulai saat itu. Mata saya mengakrapi satu-satu yang hadir sebagai CGP. Ada beberapa teman yang saya kenal. Tak banyak yang saya lakukan saat itu selain megakrapi dan beradaptasi dengan kelompok baru. Kami pun di dampingi oleh Pengajar Praktik (PP). Perjalanan awal terasa biasa saja tak ada yang menantang, kami dihadapkan pada LMS semua modul pembelajaran ada di LMS.

Sejak pertama membaca modul sebuah energi baru lahir dalam diri saya sekaligus menyadarkan saya, sepertinya saya sudah lama tertidur pulas dalam sebuah zona nyaman. Betapa rasa bersalah luar biasa tentang masa lalu saya pada siswa. Hingga hal ini mendorong saya untuk belajar dengan serius dalam PGP. “Tidak semua orang bisa lulus, dan kesempatan kedua belum tentu ada” begitu motivasi dalam diri saya.

Tentu semua tak berjalan mulus begitu saja, ada beberapa kendala yang saya alami saat kegiatan CGP berlangsung terutama pada manajemen waktu. Kebetulan saya memiliki kegiatan yang padat. Selain mengajar dengan jam yang full, saya aktif di kegiatan MGMP, dan beberapa komunitas di luar sekolah. Hal ini menjadi kendala utama terutama saat pengumpulan tugas. Sering sekali saya mengumpulkan di deadline terakhir. Tugas yang ada di LMS sangat padat. Beruntung rekan-rekan yang ada di kelompok kami sangat mesupport dan saling menguatkan saat langkah dan semangat kami mulai kendor.

Saat perjalanan kami sampai di modul 1.2 ada hal yang membuat kami shock, PP kami meninggal, Bapak Mastiyono. sehingga saya dan teman kelompok harus pindah kelas dan fasil. Padahal kami sudah merasa nyaman di kelas sebelumnya. Hal yang membuat kami mulai lelah juga semua tugas kembali 0 LMS kami akan diriset. Kami harus kembali mengunggah tugas. Bagimana pun kami harus melakukannya meski dengan terpaksa dan lelah. Saya pun berpindah kelas, tak butuh waktu lama beradaptasi dengan kelas baru, apalagi ada satu CGP yang sudah saya kenal sebelumnya, Mariyatul Qiptiya.

Alhamdulilah saya bisa diterima dengan tangan terbuka dan hangat, kelompok baru saya lebih kocak dan semangat. Setiap Loka kami selalu mengenakan seragam yang sama, sampai-sampai kelompok lain mengatakan kelompok 129 B itu kayak inspektorat dan boros. Padahal baju yang kami pakai tidak semuanya kami beli, tapi ada beberapa yang minjam (saya hanya cerita di sini, keep silent ya, he..he).

LMS menyediakan tiga modul, yaitu modul 1 dengan sub modul sebanyak 4. Modul 2 sebanyak 3 sub modul, dan modul 3 sebanyak 3 sub modul. Jadi total ada 10 sub modul. Dari sekian banyak modul yang paling berkesan bagi saya adalah modul 1, terutama tentang filosofi Ki Hajar Dewantara. Modul tersebut menyadarkan dan sekaligus memberikan motivasi saya dalam mengubah mindset saya.

Sebelumnya saya menganggap siswa adalah kertas putih dan guru memiliki hak untuk menulis, mencoret, dan memberikan warna apa saja pada mereka. Ternyata saya salah. Kita, guru hanya bertugas menebalkan dan menyambung garis-garis samar dan putus-putus yang mereka miliki sebelumnya.

Perubahan mindset tersebut membuat perubahan yang luar biasa dalam diri saya, terutama perlakuan saya terhadap siswa. Saya lebih menyayangi mereka, dekat dengan mereka. Menciptakan pembelajaran yang berpihak pada siswa, dengan memberikan kemerdekaan pada siswa dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan juga Pendidikan Sosial Emosional (PSE). Dengan perubahan tersebut akhirnya menggiring saya pada perubahan besar dalam diri saya selaku Abdi Negra, saya ingin menjadi lebih baik. Saya ingin menjadi guru yang selalu dirindukan kehadirannya oleh siswa.

Saya selalu memotivasi rekan sejawat di sekolah maupun di komunitas untuk mengikuti PGP “PGP luar biasa bagus, keren, dan rugi jika tidak ikut” begitu motivasi saya untuk membakar semangat agar mereka mau mengikuti seleksi CGP berikutnya.

Harapan saya ke depan adalah PGP tetap dilaksanakan agar pola pikir para guru berkembang hingga melahirkan guru-guru yang akan menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan. Hanya saja, untuk waktu pelaksanaannya mungkin bisa dipertimbangkan, lama waktu pendidikan dan juga dealine tugas yang terlalu mepet dan padat. Pihak terkait bisa mengomunikasikan lebih intens lagi dengan dinas pendidikan setempat agar kegiatan ini mendapatkan dukungan yang optimal.

Banyak hal yang sudah saya dapatkan, bukan hanya ilmu dari banyak modul tapi dari rekan-rekan CGP hebat baik dari Sumenep maupun CGP di luar Sumenep. Harapan saya setelah lulus dari CGP saya mampu menjadi guru yang lebih memanusiakan siswa, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, membuat media pembelajaran yang lebih kreatif lagi. Saya ingin menebarkan semangat dan berbagi kepada rekan sejawat sehingga bisa bergerak bersama-sama mewujudkan pendidkan yang berkualitas.

*****

Yulianti adalah guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Dasuk. Wanita kelahiran 1982 ini memiliki hobi membaca dan menulis. Beberapa buku telah dilahirkannya baik buku tunggal maupun buku bersama, diantaranya Garuda Terbang Membelah Angkasa (2016), Layar Berselimut Maut (2016), Kumpulan cerita fantasi (2019), Karya bersama:

beberapa karya pentigraf, Catatan Jessica, Telisik Kearifan Lokal Sumenep (2020), beberapa buku karya bersama Leguty Media, Omera pustaka. Ia juga kerap menulis opini dan meresensi buku di surat kabar Radar Madura. Selain menjadi guru ia juga aktif di beberapa kegiatan diantaranya komunitas Rumah Literasi Sumenep (RULIS), MGMP Bahasa Indonesia, Kwarran, Guru Penulis Sumenep (Gupens), dan kegiatan sosial di masyarakat.  Wanita penyuka warna orange ini memiliki keinginan untuk terus belajar dan belajar, meski jauh dari terbaik ia ingin terus berbuat baik dan menjadi baik. Bagi yang ingin menyapanya di medsos silakan hubungi: FB: Yulianti Couleq, IG: yulianticouleq, Youtube: yuli yulianti,  surel : dasukyulianti@gmail.com

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5488101934243276850

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item