Tangisan Minoritas


Cerpen: Sugiati

Kemerdekaan sejati tidak hanya lahir dari para Pahlawan yang bertumpah darah dahulu kala. Namun, kemerdekaan sejati lahir dari dalam diri masing-masing kita. Misalnya, merdeka untuk menentukan keputusan, merdeka untuk mengemukakan pendapat, bahkan merdeka untuk menentukan makanan atau minuman kesukaan, itu juga kemerdekaan yang lahir dari dalam diri seseorang.

Lena, perempuan yang bernama lengkap Lenavo Barantah merupakan kelahiran Papua, Ibunya juga. Namun, Ayahnya orang Jawa. Ayahnya sebagai seorang Guru yang dipindah tugas disebuah Desa di Jawa. Mau tidak mau Lena dan Ibunya harus mengikuti sang Ayah. Mereka tinggal disebuah Desa terpencil.

Gemerlap lampu jalan menyinari pekatnya malam kala itu. Lena duduk di teras rumah. Rumah yang ukurannya tak terlalu besar itu mampu memberikan kenyaman untuk satu keluarga yang terdiri dari tiga anggota tersebut. Tiba-tiba Ibu datang menghampirinya.

“Nak, kamu enggak lihat pra tujuh belas agustusan di Balai Desa? rame loh”

“Lena enggak berani sendirian Bu, Lena juga belum kenal orang-orang sini”

“Nanti sama Ibu ya. Ibu mau membereskan baju-baju di lemari dulu” janji Ibu kepada putri semata wayangnya itu

Sembari menunggu sang Ibu, Lena sibuk berselancar dengan media sosial yang ada di handphone dan digenggamnya, erat. Tak berselang lama Ibu Ayunina atau Bu Ayun, sapaan akrabnya, datang keluar dari dalam kamar tidur mengenakan baju sederhana, namun tetap terlihat cantik saat dikenakannya. Tak lupa Bu Ayun membawa Dompet kecil, tentu berisi uang-uang yang ia siapkan.

“Ayo Len, sudah siap?”

“Sudah Bu”

Ibu dan Lena meninggalkan ruang tamu, beranjak keluar menuju Balai Desa tempat perhelatan pra tujuh belas agustus itu dilaksanakan. Sepanjang perjalanan, orang-orang tersenyum kecil, menyapa Lena dan Bu Ayun. Mereka baru pertama kali melihat Lena dan Ibunya, karena baru pindah ke Desa tersebut.

Tak berselang lama Bu Ayun dan Lena sampai di Balai Desa. Kibaran bendera merah putih, lalu lalang warga Desa menghiasi suasana  malam itu. Ibu dan Lena segera mencari tempat yang mereka anggap nyaman untuk duduk, bergabung dengan beberapa warga desa tersebut.

“Ibu baru pindah ya?” tanya seorang warga perempuan, berperawakan tinggi

“Iya Bu, saya baru pindah ikut suami ditugaskan disini” jawab Bu Ayun

“Owalah, selamat datang di Desa kecil kami Bu” timpalnya

“Terimakasih Bu”

“Bu, Ini anaknya ya?” tanya seorang lelaki paruhbaya yang berdiri dibelakang Bu Ayun, sambil menepuk pundaknya. Laki-laki itu menanyakan.

“Iya Pak” jawabnya

“Anaknya bisa loh diikut sertakan pada gerak jalan kategori remaja, bareng sama anak Desa sini. Tuh, mereka semua lagi berkumpul” sambil menunjuk kearah ujung, dekat pagar Balai Desa yang terbuat dari beton-beton gagah.

“Hehe iya pak, tergantung anaknya, mau atau tidak”

“Kamu mau kan?” tanya lelaki paruhbaya itu

Lena hanya terdiam, ia sebenarnya ingin mengikutinya dan menerima tawaran Pak Subhan, sapaan akrabnya. Namun, ia takut karena belum kenal anak-anak yang ditunjuk pak Subhan tadi.

“Kalau mau saya anter ke sana” ajak Pak Subhan, sambil menatap Lena

Bu Ayun mengangguk, memeberi isyarat Lena, terima saja. Akhirnya Lena mengikuti kemana arah Pak Subhan pergi.

“Anak-anak, ini Lena warga baru, pindahan dari Papua. Dia bapak ajak untuk bergabung jadi tim gerak jalan kalian. Kalian kekurangan personil, kan?”

“Iya Pak” jawab salah satu anak berperawakan tinggi semampai

“Yasudah, Bapak tinggal dulu ya”

Pak Subhan meninggalkan mereka, anak-anak itu saling berbincang, namun tak dengan Lena. Sedangkan Lena tetap dengan gayanya sedari tadi. Berdiri, disamping tembok, mendekap tubuhnya sendiri.

Mereka terdengar kusak kusuk, menoleh ke arah Lena dengan tatapan sinis. Lena semakin yakin untuk tidak bergabung dengan mereka. Akhirnya ia kembali ke tempat dimana sang Ibu duduk. sambil menangis, sesekali menyeka air matanya sendiri.

“Loh kenapa?” tanya Ibu, khawatir

“Enggak apa-apa Bu, ayo pulang saja” tanpa banyak bicara, Lena meminta pulang kepada sang Ibu

Ibu yang saat itu khawatir dengan putri semata wayangnya itu segera menuruti keinginan Lena, bersiap untuk bangkit dari tempat duduknya, sembari tetap menggandeng tangan sang anak.

“Kamu kenapa?” pertanyaan itu terus berulang dari mulut Bu Ayun sepanjang jalan, sesekali Lena dibantu mengelap air matanya

Lena yang saat itu tidak bisa lagi membendung air matanya, tidak mampu menjawab pertanyaan sang Ibu yang ia lontarkan berkali-kali.

Sesampainya dirumah, Lena dan Bu Ayun masuk rumah. Bu Ayun menghampiri Pak Brantah, sedangkan Lena terlihat menyelonong begitu saja, menuju kamar.

“Kenapa Lena Bu?” tanya lelaki berkumis tebal itu

“Enggak tahu Pak, dari tadi Ibu tanya belum dijawab. Coba Bapak tanya ke dia langsung”

Tanpa menjawab sang Ibu, Pak Barantah menuju kamar Lena. Pak Barantah mulai membuka pintu perlahan, dilihatnya putri semata wayangnya itu tengkurap, seringkali menyeka air matanya.

“Kenapa kamu? cerita sama Ayah” tanya Pak Barantah

Belum menjawab, Lena lantas memeluk sang Ayah, sambil sesenggukan

“Yah, tadi Lena disuruh gabung gerak jalan sama anak-anak desa sini oleh bapak-bapak petinggi desa”

“Loh, ya bagus dong. Terus? kenapa nangis?”

“Bukan itu persoalannya Yah, Lena tadi seperti tidak diterima dengan baik, mereka terus berbisik, kenapa tidak bicara saja dengan normal jika ada Lena. Apa mereka membicarakan Lena? tadi Lena dengar kok”

“Salah apa Lena, Yah? apa karena Lena minoritas?”

“Nak, itu artinya mereka belum merdeka”

“Maksudnya? kan sekarang sudah agustus”

“Mereka tidak bisa menerima minoritas. Artinya mereka belum merdeka. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa menerima minoritas bukan mengucilkan minoritas, sebab kita sama. Indonesia”

“Oh gitu ya Yah?” sambil mendangakan kepalanya

“Iya, yasudah jangan menangis. Kalau kamu enggak ikut tidak masalah”

“Iya Yah”

Kemerdekaan bukan hanya kemenangan melawan penjajah, tapi keberanian memerdekakan diri sendiri. Kemerdekaan sejati juga lahir dari hilangnya diskriminasi kepada minoritas.

“Assalamualaikum” terdengar ketukan pintu dari luar

“Waalaikumsalam” Ibu membuka dan menjawabnya

“Bu, Lena ada?”

“Ada di Kamar, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk. Mau minum apa?”

“Terimakasih Bu, tidak perlu repot-repot”

Sementara itu, dibalik kamar tidu, Ibu menghampiri Lena dan meberitahu ada yang ingin bertemu dengannya.

“Nak, ada yang mau bertemu kamu”

“Siapa Bu?” jawab Lena, sembari menyeka air matanya

“Sudah jangan menangis lagi. Ayo keluar, temui tamu”

Lena berjalan ke arah ruang tamu. Ia mendapati mereka yang tadi membuat air matanya jatuh, tapi datang ke rumahnya. Untuk apa? tanyanya dalam hati.

“Hai Len” sambil berjabat tangan

“Hallo, ada apa kalian kesini?”

“Aku mau minta maaf karena tadi mengucilkan kamu, seharusnya tidak begitu. Meskipun kamu minoritas disini, tapi kita tetap satu; Indonesia. Seharusnya kami tidak begitu, seharusnya kami menghargai keberadaanmu”

Lena tersenyum simpul. Mereka sudah merdeka, dalam hatinya. Sebab kata Ayah, kemerdekaan sejati adalah hilangnya diskriminasi terhadap minoritas.

“Iya enggak apa-apa”

Akhirnya Lena menjadi satu tim gerak jalan bersama mereka. Mereka berteman akrab, menjadi karib. Meski berbeda.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1600187145360578461

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item