Jadi Bijak Karena Orang Gila


M. Rizal
*

Di antara kisah cinta yang terkenal di telinga kita adalah kisah Laila Majnun. Secara harfiah Laila Majnun berarti Laila yang gila. Tapi dalam kisah tersebut bukan Laila yang gila tapi Qais, sang kekasih Laila. Qais menjadi gila dikarenakan kecintaannya kepada Laila yang bertepuk sebelah tangan, sehingga membuat akalnya hanya berisi kecintaan kepada Laila. Akalnya sudah tidak berfungsi dengan normal, sampai-sampai Qais tidak tau siapa dirinya dan berperilaku dengan kelakuan yang tidak dilakukan manusia normal pada umumnya. Setiap harinya, kelakuannya hanya menandungkan syair dan pujian yang mengungkapkan rasa cintanya kepada Laila. Dan orang-orang yang melihat Qais menganggapnya sudah gila.

Secara kebahasaan gila (junun) berarti istitar (tertutup). Kata gila memiliki kata sinonim yaitu dungu atau bodoh. Mengenai orang gila sudah ada sejak masa khalifah yang empat bahkan Nabi sendiri dianggap sudah gila. Hingga masa pemerintahan setelahnya yaitu pada masa dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah masih ditemukan orang-orang yang dianggap gila. Masyarakat di sekitarnya menganggap gila tapi sebenarnya cerdas luar biasa baik secara intelektual maupun spiritual. Secara umum, mereka pandai bersyair, sekaligus bisa mengajukan pertanyaan dan jawaban yang tidak dipikirkan oleh orang waras tercerdas sekalipun. Oleh karena itu, mereka layak disebut orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi, meski dianggap gila.

Rata-rata dari mereka sebenarnya adalah seorang sufi: orang-orang yang zuhud, mencintai Tuhan, lebih memikirkan akhirat dan sangat tekun beribadah, bahkan melebihi orang-orang yang memiliki akal sehat. Maka tak heran jika mereka disebut orang-orang yang cerdas secara spiritual, walaupun dianggap sebagai orang yang kurang akalnya.

Dari orang gila pun kita bisa belajar bijak. Karena dari mulit mereka sering terucap kata-kata mutiara dan perilaku mereka terkadang menunjukkan akhlak yang mulia meskipun banyak yang nyeleneh menurut pandangan kita. Maka tak salah ada pribahasa yang mengatakan begini “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.” Atas dasar itu, tak ada salahnya kita belajar dari orang-orang gila tapi pintar. Sebutan gila pada seseorang tidak pasti menunjukkan bahwa yang ditunjuk adalah orang gila sungguhan. Kadang yang disebut gila justru orang yang benar dan baik, sedangkan yang menyebut gila malah orang yang salah dan buruk. Fenomena ini sering terjadi di berbagai bidang seperti filsafat, agama dan sains.

Mengenai orang-orang gila kita bisa membaca karya Abu al-Qasim yang berjudul “Uqala’ al-Majanin” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Zainul Ma’arif Lc. M. Hum dan sudah diterbitkan oleh penerbit Turos Pustaka dengan judul buku “Kebijaksanaan Orang-Orang Gila.” Karya Abu al-Qasim ini di satu sisi membela orang-orang yang dianggap gila dengan menunjukkan ketidakgilaan mereka. Di sisi yang lain, buku ini juga memberikan kritik tajam untuk kegilaan dan kedunguan, dengan cara memberi tips-tips menghadapi orang-orang yang sungguh-sungguh mengalami penyakit tersebut. Buku ini memiliki perbedaan dengan yang lain. Di antaranya adalah khabar (riwayat dari Nabi atau para sahabat) dan atsar (informasi dari para tabi’in) yang ada dalam buku ini diriwayatkan oleh penulis dengan sanadnya sendiri. Di buku ini juga terdapat syair-syair indah yang dirilis dengan selera seni sang penulis.

Di awal-awal buku, penulis menjelaskan pengertian junun (gila) dan batasan-batasannya, menjelaskan nilai waras dan akal sehat, dan bagaiman para nabi terdahulu termasuk Nabi Muhammad dianggap gila oleh kaumnya. Lalu, Abu al-Qasim melanjutkan pembahasannya tentang asal mula kata gila secara kebahasaan yang memiliki banyak makna. Beliau juga menyebutkan sinonim kata gila (al-majnun) dalam bahasa Arab, misalnya al-ma’tuh, al-maiq, dan al-muwaswas. Secara terperinci Abu al-Qasim menjelaskan jenis-jenis orang gila, tingkat kegilaan mereka, berbagai penyebabnya dan faktor-faktor yang mendorong sebagian dari mereka yang berpura-pura gila untuk tujuan tertentu.

Pada isi buku, penulis mengisahkan orang-orang berakal tapi dianggap gila serta sifat-sifat mereka, negara asal mereka, sebab mereka gila dan syair-syair mereka. Orang gila yang dikisahkan pun ada yang dari Arab maupun selain Arab dan ada kisah wanita yang dianggap gila. Terakhir, penulis menyebutkan orang-orang “gila ” yang tidak diketahui namanya, tetapi kisahnya, syair dan perkataannya terkenal.

Maka buku yang bisa dibilang tebal ini sangat cocok untuk dibaca oleh setiap kalangan, agar kita tidak hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Tapi menilai dengan subjektif lahir batin. Dan supaya kita bersikap hati-hati untuk mengklaim perbuatan seseorang itu salah karena tidak sesuai dengan perbuatan orang pada umumnya. Sekaligus mengambil pelajaran berharga dari siapa saja sekalipun dari orang gila.

Buku ini setidaknya memiliki beberapa keunggulan yang ingin disuguhkan kepada para pembaca seperti terjemahan yang enak dibaca karena sudah diterjemahkan oleh penerjemah profesional, diterjemahkan untuk pertama kali dari bahasa Arab ke bahasa Indobesia agar para pembaca yang tidak bisa memahami kitab kuning (kitab yang berbahasa Arab) juga bisa menikmati dengan membaca buku terjemahan ini. Selain itu buku ini juga ditulis dengan persyaratan yang ketat. Dan juga buku ini merupakan buku pertama yang pernah ditulis tentang kisah orang-orang yang dianggap gila dalam sejarah Islam. Yang terakhir dari keunggulan buku ini adalah kisah-kisah yang diceritakan merupakan kisah nyata yang diperoleh dari orang-orang yang penulis pernah jumpai.

*M. Rizal, Santri Annuqayah Lubangsa Selatan Blok E/04

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1015663229337221838

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item