Menenangkan Jiwa dengan Pasrah Kepada Allah

 M.Rizal

Dalam menjalani kehidupan ini, manusia sering kali memiliki rencana yang ingin diwujudkan. Namun hidup ini tak selamanya harus sesuai dengan yang kita inginkan. Rencana yang kita rencanakan dengan matang terkadang berakhir dengan hampa bahkan berujung pada kegagalan. Begitulah, manusia hanya berkemampuan menyusun rencana sebanyak mungkin, apabila Allah menghendaki lain maka pupuslah rencana tersebut. Meski demikian, bukan berarti kita tidak melakukan sesuatu atau tidak berikhtiar sama sekali untuk sesuatu yang akan kita jalani. Karena pada hakikatnya kita hanya diperintahkan untuk berusaha (berikhtiar). Selebihnya kita pasrahkan kepada Allah dan hanya Dia-lah yang menentukan hasilnya.

Sering kali dalam pikiran kita muncul kegelisahan tentang masa depan, seperti memikirkan akan menjadi apa suatu saat nanti, siapa jodoh kita, dan yang lainnya. Hal-hal itu sudah diatur oleh Allah. Kita tidak usah ikut campur dan mengatur apa yang sudah diatur oleh Allah. Karena itu menghilangkan sifat tawakal dan yakin akan ketetapan Allah. Hal ini sesuai dengan kalam hikmah sufi agung yakni Ibnu Atha’illah as-Sakandari yang mengatakan “Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi dunia. Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk ikut campur.”

Bacaan yang tepat agar kita tidak selalu mengatur urusan duniawi adalah At-Tanwir Fi Isqath at-Tadbir yang sudah diterjemahkan oleh Turos Pustaka dengan judul “Istirahatkan Dirimu dari Kesibukan Duniawi: Apa yang Telah Diatur Allah, Tak Perlu Kau Sibuk Ikut Campur.” Ibnu Atha’illah mendorong kita untuk memasrahkan urusan duniawi yang sudah Allah atur, dan hendaknya kita tidak perlu ikut sibuk mengurusinya. Menurut beliau, sikap ikut mengatur itu bertentangan dengan maqam-maqam yang ada dalam ajaran tasawwuf, yaitu tobat, zuhud, sabar, syukur, takut (khauf), berharap (raja’), tawakkal, cinta (mahabbah), dan ridha. Intinya, setiap maqam tidak absah kecuali dengan menjauhi sikap ikut campur terhadap urusan dan pilihan-Nya. (hlm.39)

Dalam buku ini Imam Ibnu Atha’illah secara garis besar membahas komposisi antara ikhtiar dan tawakkal. Dan juga at-Tanwir ini diuraikan dengan narasi yang jernih, berbeda jauh dengan kitab al-Hikamnya yang berisi aforisme atau kalam-kalam hikmah pendek saja. Menjelaskan cara menggapai dan menjalani kehidupan yang tenang. Kehidupan yang berjalan tanpa rasa cemas dan kekecewaan. Penjelasan beliau dipaparkan dengan ringan dan mudah dipahami.

Uraian dalam kitab ini diperkuat dengan mencantumkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi. Kadang kala ada bait syair gubahannya dan kalam-kalam ulama yang menggugah jiwa. Di tangan Ibnu Atha’illah pula, tasawwuf yang terkesan sulit dipahami oleh orang awam seperti kita, menjadi sangat mudah dipahami, aplikatif, dapat menjadi solusi masalah sehari-hari, dan relevan di berbagai problematika kehidupan yang modern seperti saat ini. Terutama menjawab berbagai problem kecemasan, kekhawatiran yang semakin menghantui jiwa-jiwa yang kering dari limpahan kasih-Nya.

Menurut Ibnu Bajjah kata tadbir ini digunakan dengan makna yang berbeda-beda. Namun umumnya dimaknai sebagai, “Mengatur tindakan untuk sebuah tujuan yang direncanakan.” Tadbir digunakan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan. Karena Allah swt. Adalah mudabbir, Yang Maha Mengatur. Tadbir yang paling hakiki adalah tadbir Allah. Sedangkan penggunaan istilah ini bagi manusia hanya sebagai analogi saja. Rahasia di balik adanya pengaturan Allah dan pilihan bagi manusia adalah karena Allah ingin menampakkan sifat al-Qahhar (Yang Maha Memaksa) atas makhluk-Nya. Dengan begitu, Allah ingin mengenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dengan sifat al-Qahhar ini.

Jadi, semuanya sudah diatur oleh Allah baik berupa urusan duniawi ataupun ukhrawi. Allah telah mengatur segala urusan hamba-Nya sebelum mereka menentukan aturannya sendiri. Kita tidak usah ikut campur mengatur kehidupan ini. Karena sikap ikut mengatur keputusan Allah swt, untuk dirimu sendiri merupakan bentuk kebodohanmu terhadap kekuasaan Allah swt. Orang beriman hanya yakin terhadap perencanaan yang baik dari Allah swt. Jika kita berencana dan takdir berjalan tidak sesuai dengan yang kita rencanakan, apa gunanya kamu ikut mengatur dan merencanakan, sedangkan takdir sendiri tidak menolongmu?. Aturan dan rencana itu dalam pengendalian takdir Allah swt. Manusia hanya berencana, Allah lah yang menentukan segalanya.

Dapat disimpulkan bahwa sejatinya manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur rencana takdir-Nya. Cakupan manusia hanya terbatas pada ikhtiar dan tawakkal. Selebihnya, setelah berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga dalam menggapai berbagai urusan dunia, tugas manusia tinggal memasrahkan segalanya kepada Allah swt. Sang Pengatur Alam Semesta. Kita tidak perlu sibuk ikut andil dalam mengatur hasil akhirnya. Hal itu sudah menjadi hak prioritas Allah semata. Dengan begitu, hidup kita akan menjadi lebih tenang dan bahagia. (*)

*M.Rizal, mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah semester IV

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6444286271729395821

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item