Tiga Golongan Pertama Kali Masuk Neraka


Halimi Zuhdy


Sedih sekali ketika mengaca di cermin, untuk apa sebenarnya sosok di hadapan cermin ini?. Melihat wajah untuk dibanggakan, ternyata paras wajah biasa-biasa saja, tidak bisa dijual. Melihat rambut juga sama, tidak pantas dijadikan iklan sampu atau minyak rambut. Demikian juga dengan anggota lainnya, tidak layak untuk dijual. Kalau dijual memang laku berapa? Tidak ada harganya, siapa pula yang mau membeli, kalau toh dijual mungkin lebih murah dari daging sapi di pasar.

Bagaimana dengan gelar, pangkat, kehormatan, dan sebutan-sebutan lainnya yang dibanggakan?, mungkin bisa dibeli atau dicari, tetapi berhentinya hanya di dunia. Setelah ia meninggal, urusannya sudah berbeda. mungkin anak cucunya menikmatinya, tetapi bagaimana dengan sosok yang telah meninggal? Apakah akan dapat menghalanginya dari siksa kubur ketika namanya disebut dengan gelarnya secara lengkap?.

Malaikat tidak butuh gelar, pangkat, kehormatan untuk dilampirkan dalam pemeriksaan, para Malaikat hanya menanyakan siapakah Tuhanmu, Nabimu, dan beberapa pertanyaan lainnya, dan tentunya adalah amal salehnya di dunia. Bukan putranya siapa?, Bukan berapa gelar di depan dan di belakang namanya? Bukan pula sederet piala dan kejuaraan yang telah diraih? Juga bukan kedudukannya di masyarakat?, Dan juga bukan seberapa banyak yang telah menjadi pengikutnya, baik di dunia nyata dan di dunia maya?. Atau seberapa banyak kekayaan di dunia?.

Si penulis ini juga sama, belum bisa menata hati, masih selalu bertanya pada dirinya, wa ma ba’da al-maut, dan apa persiapan setelah meninggal nantinya?. Tulisan ini berangkat dari hadis Rasulullah Shallahu alaihi wasallam, yang menurut kaca mata sederhana, orang-orang ini layak masuk surga, bukan wajib lo ya, “layak”, “pantas”, atau kalau mereka masuk neraka, mereka berada di deretan paling “belakang”. Tetapi, pada hadis berikut, tidak demikian. Mereka pertama kali masuk ke dalam neraka. Habib Jufri dalam ceramahnya menambahkan “Mereka lebih awal masuk neraka dari pada Fir’un, iblis dan Haman”. Sungguh mengerikan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ  رواه مسلم (1905).

Tiga golongan yang masuk pertama kali ke neraka pada hari kiamat adalah mujahid (orang yang berjihad), qari’ (alim), dan dermawan. Tentunya, bukan sembarang mujahid, qari’ atau dermawan lo.

Allah bertanya kepadanya (mujahid, syahid): 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).

Berikutnya, orang yang mengaku Alim, Qari’ (pembaca Al-Qur’an) yang kemudian dimasukkan ke neraka, “Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).'

Berikutnya mereka yang bersedekah agar disebut orang dermawan, “Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'’.

 Ketiga golongan yang dimasukkan ke neraka pertama kali bukan hanya karena mereka alim (qari’), mujahid, dan dermawan. Tetapi mereka melakukan itu semua, karena hanya ingin mendapatkan sebutan dengan si Alim, Si Mujahid, dan si dermawan.

 Riya’, mungkin kata yang lebih tepat. Kerena riya’ (pamer) itulah yang mengantarkan mereka menuju tempat yang tidak diharapkan oleh semua orang, neraka. Riya’ sangat sulit dilihat, diterka, apalagi dipastikan. Karena urusan riya’ adalah urusan hati dari masing-masing manusia. Maka, walau pun si Mujahid mengatakan “Aku semata-mata berperang karena Engkau” tetapi kemudian dibantah oleh Allah, “Engkau dusta, Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani”.

Demikian juga dengan pencari ilmu, agar dikatakan nantinya sebagai orang alim, atau dikatakan ahli qur’an, atau dikatakan qari’ atau sebutan lainnya, 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata: 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari'. Demikian juga dengan orang yang berderma, agar mendapatkan gelar dermawan, atau mereka menyanjungnya menjadi orang yang suka memberi.

Ya Allah, selamatkan kami dari sifat-sifat yang tidak baik, yang dapat mengantarkan kami ke nerakamu.

Tulisan ini bersumber dari akun FB Halimy Zuhdy (https://www.facebook.com/halimi.zuhdy)

POSTING PILIHAN

Related

Utama 9048896443502755505

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item