Memahami Pekerjaan-Pekerjaan Hati


Peresensi: Ach. Muhtam

Allah menciptakan manusia tidak lain sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah tentunya manusia memiliki kelebihan dari pada makhluk yang lain. Kelebihan manusia terletak pada aspek lahir dan aspek batinnya. Dari aspek batinnya, kita tahu bahwasanya manusia memiliki hati yang dengannya dapat dibedakan mana yang baik dan tidak baik. Hati juga menjadi tolak ukur seseorang apakah ia termasuk orang yang baik atau sebaliknya. Hal ini sesuai dengan dabda Nabi, beliau bersabda:” Ingatlah, dalam tubuh itu ada mudhghah (segumpal daging). Jika daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun, jika daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Segumpal daging yang dimaksud adalah qalb (hati).”

Dalam buku A’malul Qulub karya Khalid Sabt dipaparkan beberapa definisi hati, salah satunya menurut beliau yang dimaksud dengan hati adalah anggota tubuh yang bertanggungjawab atas pengaruh, respons perasaan, dan menjadi tempat bagi aktifitas berpikir, menalar, mamahami, merenung, juga bertawakal, memercayai sesuatu dan masih banyak lagi aktifitas yang hanya kita temukan dalam hati (hlm.12). Namun secara medis, hati adalah segumpal daging yang berbentuk bundar memanjang, terletak ditepi kiri dada. Di dalamnya terdapat lubang-lubang yang berisi darah hitam. Hati berfungsi sebagai penyimpan energi, pembentukan protein asam empedu, pengatur metabolisme kolestrol, dan penetral racun dalam tubuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, hati sering disebut pemimpin atau pusat anggota tubuh. Dikarenakan hati sangatlah urgen dalam kehidupan manusia. Hati sangatlah istimewa karena bisa membedakan antara yang hak dan batil, yang halal dan yang haram, bahkan yang syubhat sekalipun. Hati yang bisa melakukan semua itu hanyalah hati yang dipenuhi keimanan kepada Allah SWT., dan sudah ditata dengan baik. Kendati demikian, hati manusia selalu berubah-ubah. Perubahan ini disebabkan kekhawatiran, bisikan, pikiran atau keyakinan. (hlm.13)
Kenapa hati harus ditata? Karena dari hatilah muncul perbuatan-perbuatan yang bersifat lahir seperti mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dan juga tatkala hati seorang hamba sudah kokoh maka kokoh pula anggota tubuh dan perbuatannya. Kenapa harus hati? Karena hatilah yang menentukan manusia itu baik atau tidak, sebagaimana hadis di atas. Ibnu Rajab r.a. mengomentari hadis tersebut bahwasanya terdapat indikasi bahwa perilaku baik anggota tubuh seorang hamba, tindakannya menjauhi hal-hal yang diharamkan, serta kehati-hatiannya terhadap sesuatu yang syubhat sangat ditentukan oleh perilaku hati yang baik. (hlm.24)

Tidak jauh beda dengan jasmani, hati juga memiliki amalan-amalan atau perbuatan yang harus diperhatikan oleh seorang hamba. Amalan hati dalam buku ini adalah perbuatan yang tempatnya dalam hati dan terkait dengan hati. Perbuatan hati juga berdampak pada pahala dan dosa. Bahkan perbuatan hati memiliki beberapa keunggulan di antaranya perbuatan hati yang rusak dapat merusak perbuatan anggota tubuh yang lain. Contohnya adalah ikhlas yang merupakan perbuatan hati, tatkala seseorang tidak ikhlas dalam beramal maka perbuatannya akan sia-sia bahkan bisa saja jatuh ke dalam kesyirikan. Maka sepantasnya bagi kita sebelum beramal untuk memperhatikan, menata, dan  memperbaiki hati. Karena memperbaiki hati sangatlah sulit.
Membenahi hati merupakan langkah awal agar perbuatan yang dilakukan anggota tubuh kita bisa bernilai di sisi Allah. Dalam hal ini Salman al-Farisi mengatakan, “Setiap oran pasti memiliki jawani (aspek lahir) dan barani (aspek batin). Siapa saja yang membenahi aspek batinnya maka Allah akn memperbaiki aspek lahirnya. Sebaliknya, orang yang merusak aspek batinnya maka Allah akan memperburuk aspek lahirnya.” (hlm.25)

Dalam memperhatikan amalan hati, manusia berbeda-beda dalam hal ini. Setidaknya ada tiga kelompok manusia menurut Ibnu al-Qayim. Pertama, orang yang hanya fokus memperhatikan perbuatan hati. Namun, di satu sisi ia mengabaikan perbuatan lahir. Kedua, mereka yang sibuk dengan amalan-amalan lahir, seperti puasa, shalat, dan sebagainya. Tapi pada saat yang sama ia tidak memperhatikan hatinya sehingga amalan lahirnya menjadi rusak akibat sifat-sifat tidak baik yang muncul dari hatinya seperti rasa bangga atas ibadah yang telah dilakukannya, dengki kepada orang lain, pamrih dan yang lainnya. Yang ketiga inilah kelompok seimbang, artinya memberikan hak amalan hati dan amalan lahir secara adil. Tidak condong ke amalan hati juga tidak condong ke amalan lahir sehingga amal perbuatannya baik lahir maupun batin bisa sempurna secara totalitas.

Amalan hati lebih besar pahalanya di sisi Allah dibandingkan dengan amalan tubuh yang lain. Tak heran jika banyak orang dulu lebih memperbanyak amalan hati dari pada amalan yang lain. Namun, bukan berarti mereka mengabaikan amalan anggota tubuh.

Dari hati inilah muncul keimanan, ketauhidan, dan kecintaan hati kepada Allah sehingga nantinya mampu menggerakkan anggota tubuh untuk menjalankan ibadah. Menurut Khalid Sabt, ibadah-ibadah hati adalah pokoknya, sedangkan amalan-amalan anggota tubuh yang lain adalah cabangnya. Hati harus menjalankan tugasnya berupa ikhlas, khusyuk, tawakkal, merendahkan hati di sisi Allah, dan seterusnya. Lisan juga harus menjalankan tugasnya berupa dzikir, membaca al-Quran, dan yang lainnya. Sedangkan anggota tubuh juga memiliki tugas berupa sujud, ruku’, dan amalan-amalan shaleh lainnya yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam buku ini penulis memaparkan secara panjang lebar maksud amalan atau perbuatan hati, urgensi dari perbuatan hati, dan keunggulannya dibandingkan dengan perbuatan anggota tubuh yang lain. Sebelum itu penulis juga menjelaskan hakikat hati yang meliputi definisi hati, kedudukan hati dan masih banyak pembahasn yang lain. Mengenai pembahasan tentang amalan hati penulis hanya membatasi pada tiga macam, yaitu ikhlas, yakin, dan khusyuk. Ikhlas diletakkan setelah pembahasan hakikat hati karena suatu amal bisa diterima, harus disertai ikhlas dan benar. Ikhlas artinya karena Allah. Sedangkan benar artinya adalah sesuai dengan tuntunan sunnah. (hlm.93)

Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh setiap muslim dari segala kalangan. Karena dengan membaca buku ini kita bisa mendapatkan pencerahan dan motivasi. inilah salah satu keunggulan buku yang ditulis oleh pakar dalam bidang tafsir. Isi buku ini terdiri dari kata-kata mutiara yang kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah para sahabat hingga para tabi’in yang semuanya mengandung ibrah (pelajaran) ataupun pendorong dalam beramal.

*Ach. Muhtam, salah satu siswa Mts 1 Annuqayah perwakilan dari kelas VIII C

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8507142336858356084

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item