Garis Antara Kembali dan Pulang


Cerpen: Sri Wahyuni

2022, aku tersenyum mengingat tahun ini telah tiba. Tahun yang menyimpan banyak harapan, tahun yang akan menjadi akhir dari segala penantian dan kerinduan. Andai bukan hanya tulisan yang bisa dipersingkat maka hal pertama yang akan aku singkat saat ini adalah hari. Mungkin satu minggu cukup lima hari atau jika boleh cukup satu hari saja, oh tidak jika hanya satu hari, maka apa bedanya satu minggu dengan satu hari? Ya sudah tambah saja menjadi dua hari.

Jadi, karena dalam satu bulan terdiri dari empat minggu, maka ketika di kalkulasikan dengan hari satu bulan berarti hanya delapan hari. Konyol! aku tahu, tapi penantian yang tak berkesudahan ini, membuat kerja otakku meracau kesegala arah. Kata orang, dunia itu sempit dan itu berlaku bagi mereka yang selalu bertemu, tapi bagi mereka yang tak jua bersua semua hanyalah omong kosong belaka.

Empat tahun lalu dengan berat hati, aku harus meninggalkan bapak dan mamak. Masuk dalam dunia perantauan, demi mencari setitik harapan untuk mengubah masa depan. Kugenggam surat dari mamak. Surat yang selalu datang disetiap awal bulan bersama sejumput uang yang harus aku cukup-cukupkan hingga bulan depan. Surat yang selama ini aku nanti dan kini menjadi misteri, karena setiap datangnya bagai fotokopian dari surat-surat sebelumnya, dengan kalimat yang selalu terangkai rapi, dan isi yang bahkan sebagian tak ku pahami.

Kau tahu, bapak dan mamak ku hanyalah seorang pemulung. Masih jelas ku ingat saat kelulusan SD dulu, aku memohon pada bapak agar aku tak perlu lagi melanjutkan sekolah karena aku ingin membantu bapak. Bapak memang tak marah, tapi bapak membuatku terpaku dengan kata-katanya. Bapak menatapku dan kemudian berkata

“Nak, ingat selama ini kita selalu dikucilkan. Ingin rasanya bapak mengubah keadaan ini, tapi nyatanya bapak tak bisa berbuat apa-apa, bapak hanya bisa memulung dengan hasil yang kadang bahkan tak cukup untuk makan kita bertiga. Kamu tahu kenapa?..”

Aku terdiam, aku semakin tertunduk dan aku tak tahu harus berkata apa.

“Semua itu tak lain karena bapak tak berpendidikan. Kalau kamu mengikuti jejak bapak, sekarang kamu mungkin bisa membantu, tapi seterusnya kehidupan kita tak kan pernah berubah. Kamu harapan bapak dan mamak satu-satunya, belajar yang rajin dan jadilah orang yang sukses, dengan begitu kehidupan kita akan berubah dan martabat keluarga kita akan berubah nak.”

Begitu juga saat kelulusan SMP dan SMA dulu, lagi- lagi aku memohon pada bapak agar aku tak perlu lagi melanjutkan sekolah. Dan untuk yang kesekin kalinya pula jawaban bapak tetap sama. Dan yang membuat ku terpaku adalah ketika bapak meminta ku untuk kuliah. Ah kuliah aku sangat ingin, tapi bayangan tentang biaya dan beban yang bapak tanggung membuat keinginan itu harus aku kubur dalam-dalam. Tapi lagi-lagi bapak membuatku tertegun.

“Berangkatlah ke kota nak, dan jangan pulang sebelum kau benar-benar sukses! Tak usah kau pikirkan biayanya, bapak sudah menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari.”

Mataku memanas, aku tak tahu harus berkata apa. Kupeluk tubuh bapak yang tak lagi kekar. Dialah bapak ku. Dia memang tak memiliki harta seperti bapak-bapak yang lain, tapi dia tetaplah yang terhebat. Aku berjanji pak, aku akan kuliah dan aku tak kan pulang sebelum aku benar-benar berhasil.

***

Awal masa kuliah ku berjalan dengan lancar, hingga pada suatu hari saat surat ke-13 yang biasa bapak kirim datang semua benar-benar terasa menyakitkan dan sulit untuk aku terima. Awalnya aku bingun dan bertanya-tanya, tulisan dalam surat itu bukanlah tulisan bapak tapi tulisan mamak, mungkin. Dan pada saat aku baca barisan kata itu, aku jatuh, hati ku sakit dan duniaku tarasa hancur. Kembali ku baca, berharap apa yang aku baca sebelumnya adalah salah, namun nyatanya tak ada yang salah dan kalimat itu benar-benar nyata. Bapak meninggal. Ingin rasanya aku pulang, tapi aku teringat akan janji ku pada bapak. Aku tak kan pernah pulang sebelum aku benar-benar berhasil.

Lamunan ku terhenti ketika kapal mulai merapat ke dermaga. Aku memeriksa barang-barang ku, sungguh aku tak sabar untuk bertemu mamak. Aku berjalan menjauh dari dermaga, meninggalkan tumpukan manusia yang sedang melepas rindu bersama orang-orang yang dicintainya. Ah rindu, karenanya seseorang merasa pilu, tapi tanpanya apalah arti rasa yang menggebu, yang ada hanyalah semu. Aku tersenyum, seperti apa mamak sekarang dan bagaimana reaksinya ketika melihat ku datang.

Langkah ku terhenti tepat didepan gubuk yang sangat aku kenal, semua tetap sama. Bangku-bangku masih tertata ditempatnya yang dulu. Ku ketuk pintu dan ku ucapkan salam beberapa kali. Tapi sunyi, tak ada jawaban.

“Mila!”

Aku berbalik badan, mencari sumber suara yang memanggilku. Seorang wanita yang amat ku kenal berdiri tersenyum kearah ku. Ku hampiri ia dan kucium tangannya.

“Kamu sudah pulang nak?”

“ia bik.”

Dia adalah tetangga ku yang selama ini selalu membantu mamak untuk mengirim surat-surat padaku.

“Mamak mana bik?”

“Ayo duduk disini dulu nak”

Aku bingung tapi aku tetap ikut duduk di salah satu bangku di depan gubuk ku.

“kau pulang mendadak sekali, kau ingat jam segini biasanya mamak mu masih memulung bukan?”

Ah benar, bukankah mamak tidak tahu jikalau aku akan pulang hari ini, dan jam segini sudah pasti mamak masih memulung.

“nak menurutmu apa arti kata pulang?”

“bagi ku pulang adalah kembali pada kampung halaman dan semua orang yang dirindukan.”

“begitu ya, jadi kau belum paham dengan arti surat dari mamak mu.”

Aku bingung dengan pertanyaan bibik, apa pentingnya menanyakan arti kata pulang, bukankah yang lebih penting adalah aku sudah disini dan menunaikan kata pulang itu. Aku semakin tak tahan berlama-lama disini, aku sudah kepalang rindu pada mamak.

“bik, bisakah kita menyusul mamak saja? Aku sudah tak sabar tuk bertemu dengannya.”

Bibik tersenyum, tapi entahlah apa arti dari senyuman itu.

“mari kita temui mamak mu…”

Sunyi, tak ada sepatah katapun yang bibik lontarkan saat ini pada ku. Tunggu, sejak kapan mamak memulung didaerah mengerikan ini.

“bibik yakin mamak memulung disini?”

Bibik tak menjawab, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Aku memicingkan mata memperjelas penglihatan ku. Ada seorang wanita tua yang sedang memulung didepan sana.

“mamak!” pikik ku girang.

Ku hampiri, wanita tua itu, namun belum sempat aku menjangkaunya ia sudah berbalik arah dan meninggalkan tempat semula. Bukan, dia bukan mamak. Aku tak bisa mengartikan tatapan bibik yang kemudian mengajakku berjongkok.

“lihatlah batu nisan didepan mu!”

Aku melihat nisan yang bibik tunjuk, aku berbalik menatap bibik meminta penjelasan dari nya. Lagi-lagi aku menatap nisan itu. Tidak, tidak mungkin.

“apa maksud semua ini bik? Itu, itu bukan nama mamak bukan?”

Bibik diam. Rasa sesak kembali menyeruak dalam dadaku, sebagaimana rasa sesak yang kurasa saat aku tahu bahwa bapak telah tiada. Tidak, bahkan ini terlalu sesak untuk aku terima. Benarkah ini? Mimpikah aku? Oh tuhan, aku tahu aku hanya bermimpi aku mohon bangunkanlah aku.

“nak inilah maksud pertanyaan bibik tadi. Bibik tahu ini tidak masuk akal. Tapi kamu harus tahu bahwa mamak mu sebenarnya sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu. Dan semua surat yang kau dapat selama ini adalah dari bibik sesuai dengan permintaan mamak mu”

Lagi-lagi aku tertegun, ini tidak mungkin. Tidak, aku tidak percaya.

“Bibik tahu nak kamu tak kan percaya, tapi inilah kenyataannya. Satu tahun yang lalu, mamak mu sakit keras dan kemudian berpesan pada bibik untuk tidak memberi tahu mu tentang apapun yang terjadi padanya. Kemudian mamak mu menitipkan 12 surat yang bibik tahu semua isi surat itu sama.”

Pertahanan ku runtuh, bibik memeluk ku dan ku biarkan tubuh ku bergetar dalam pelukannya. Ingin rasanya aku berlari, berteriak memanggil tuhan. Tak adakah kesempatan untuk ku merasakan pelukan mamak yang selama ini aku rindukan?. Tak bolehkah aku melihat senyum mamak dengan apa yang aku capai? Bagai godam yang menghantam ingatan ku. Aku ingat, aku ingat isi surat yang selama ini mamak kirim pada ku.

Untuk anak mamak yang sholehah……

Nak, mamak disini sehat, mamak disini bahagia…

Jangan pikirkan mamak disini. Ingat belajar yang rajin nak, jadi orang yang sukses karena kamu harapan bapak dan mamak satu-satunya.

Setiap yang pergi pasti akan kembali dan yang datang pasti akan pulang.           

Mamak

Oh tuhan inikah hal yang selama ini tak aku pahami? Setiap yang pergi pasti akan kembali dan yang datang pasti akan pulang. Hari ini aku bukan pulang tapi kembali dari tanah perantauan, sedangkan mamak sudah pulang lebih dahulu. Pulang untuk menemui yang lebih dirindu dan juga bapak yang telah menunggu.

***

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7880506419320972849

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item