Mimpi Anak Pesisir

 


Cerpen
: Nur Fadhilah Syam*

Nga…pote wak lajerre e tangale… reng majang tantona lah padhe mole...

Puluhan perahu tertambat di Pantai Pesisir. Berjajar dari ujung Timur ke ujung Barat. Ombaknya yang lasak membuat perahu-perahu itu kian berayun-ayun. Terkadang diikuti angin yang mendesau pelan ke arah laut. Menebarkan anyir ikan kering, asin garam yang bercampur bau berak-berak kering di sepanjang tepi pantai, dan tumpukan sampah yang mulai tenggelam di permukaan pasir. Aroma khas ghirsereng.

Sebuah lesehan bersekat tabing, beratap anyaman janur, beralas pasir putih, dan menghadap laut, menjadi tempat para nelayan bersiap-siap pergi atau istirahat sehabis pulang melaut. Lesehan itu juga menjadi tempat istri-istri para nelayan menunggu suaminya datang majang. Tak terlewatkan pula, masyarakat-masyarakat sekitar yang menjual cendol maupun gorengan akan merebahkan tubuhnya di tempat itu untuk melepas penat setelah berkeliling dan menawarkan jualannya kepada orang-orang yang nangkring di sepanjang lesehan.

Pasir-pasir berhamburan mengenai wajah tepatnya. Mengundang gerutu perempuan-perempuan pesisir yang sedang lesehan duduk bersimpuh, rebahan dengan posisi tubuh miring dan tangan menyanggah kepala. Sementara penjual cendol dan gorengan sibuk menutup jajanannya dengan daun pisang seadanya sambil berceloteh tak kunjung usai. Ditambah mereka yang hilir mudik dan menimbulkan serpihan pasir saat telapak kakinya menapaki pasir dan tumit terangkat akan melangkah. Beberapa lelaki paruh baya bersedekap dengan sarung membalut tubuh, berjalan ke arah laut mengamati debur ombak dan perahu-perahu yang sebentar lagi tiba dari onjem. Sementara perahu yang mengibar bendera kuning dari tengah laut mengabarkan berita duka, menandakan salah satu panumpang sampan meninggal saat melaut.

Di antara hilir mudik pedagang ikan yang berebutan pelanggan dan para nelayan yang pulang majang, seorang anak laki-laki terlihat berjongkok sedang membenarkan jaring-jaring yang baru diturunkan dari perahu. Sesekali memindahkan ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan dari jaring ke rinjing-rinjing kulih untuk dibawa ke tempat-tempat pemindangan. Iyan. Anak Pesisir yang Eppaknya juga sebagai juru mudi sampan, menjadikannya kerap akrab dengan debur ombak. Tak heran memang, jika suatu saat Iyan lebih suka berada di pantai bercengkerama dengan teman-teman pesisirnya. Sejak kecil, ia selalu bermain di ghirsereng saat Eppaknya sedang berkumpul dengan juru mudi lainnya maupun para nelayan untuk membicarakan dan merembukkan pagelaran rokat tase’. Saat Eppaknya sibuk berembuk, Iyan akan berlari menuju ghirsereng lalu menceburkan tubuhnya ke laut bersama teman-teman sebayanya. Saat ombak membuncah, Iyan dan teman-temannya sesekali melompat menandingi ombak yang berdebur dari hulu. Selain itu, mereka juga gemar sekali mencari tiram-tiram untuk di makan selepas pulang nanti.

***

Berbeda dengan masyarakat lain, orang-orang kampung nelayan hanya tergantung pada laut. Kalau cuaca mendukung, ikan banyak, mereka akan pergi  melaut. Tetapi jika cuaca tidak bersahabat, ikanpun juga surut, mereka tidak pergi melaut. Begitulah masyarakat pesisir. Sedangkan bagi mereka yang pernah merantau, mereka akan lebih memilih pergi ke tempat rantauannya daripada berdiam diri menunggu cuaca yang tidak menentu.

Pada halaman yang panjang beralas pasir, saat sore tiba, Emmak Iyan dan sanak kerabat yang rumahnya bersatu dalam satu taneyan akan berkumpul tor-catoran dan sesekali berjajar ke belakang menelisik rambut, mencari kutu. Lalu menjelang maghrib, Iyan akan datang dari pantai membawa bola dengan tubuh basah habis berendam bersama teman-temannya.

“Yan, cepat mandi! Tak mau pergi ke langgar?” suruh Emmaknya.

“Iya Mak, masih mau keringkan badan.” Jawabnya sambil terlentang di halaman dan sesekali mengguling-gulingkan tubuhnya di atas pasir.

Sehabis Isya’ di sebuah Taneyan Lanjhang, sanak kerabat kerab berkumpul di depan salah satu rumah yang memiliki televisi. Dengan televisi menghadap ke luar, mereka akan menonton bersama-sama sembari menghampar sarung sebagai alas tidur. Dengan dibubuhi celoteh ringan beserta pendapat-pendapat tentang film yang ditontonnya, tak ayal, sumpah serapah terkadang juga keluar begitu alur cerita tidak sesuai dengan harapan.

***

Tidak ada tempat seperti rumah, kecuali pantai. Begitu kata orang-orang kampung nelayan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di sana walaupun hanya berbincang tentang cuaca dan arus. Terlepas dari semuanya, ternyata juga ada anak pesisir yang memilik keinginan melanjutkan pendidikannya di luar kota seperti Ahmed, Kakak Iyan. Berbeda dengan saudaranya si Ahmed, Iyan lebih suka berada di rumah dengan menghabiskan waktunya di pantai selepas sekolah walaupun Ahmed selalu mengajak agar Iyan juga belajar di luar kota sepertinya.

Suatu ketika, Iyan yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama, kala itu ditanya oleh sepupunya.

“Mau sekolah dimana habis ini?”

“Enggak mau ke mana-mana, tetap saja di sini”

“Ke Jogja sajalah ikut Kakakmu, atau mondok!”

“Enggak. Mau lanjut ke tengah saja” candanya

“Haa…???” pertanyaan besar tiba-tiba bercokol di kepalanya. Tengah?

“Iya, tengah laut. Nerusin Eppak maksudku.” Jawabnya enteng sambil terbahak.

Iyan bukanlah anak dari keluarga tak punya. Eppak dan Emmaknya pun bukan tak mau membiayainya. Hanya saja, sebagaimana anak Pesisir seusianya, dunia mereka hanya terbabat dengan ghirsereng, sampan, ombak, dan uang. Kalau sudah begitu, apalagi kalau bukan menjadi nelayan.

***

Nga…pote wak lajerre e tangale… reng majang tantona lah padhe mole

Suara saronen sudah bertalu di sepanjang pantai pesisir. Mulai dari Pangkalan Timur, Pangkalan Tengah, dan Pangkalan Barat. Dan di tepi ghirsereng orang-orang berlalu lalang. Tua-muda, para sesepuh, juru mudi sampan, dan masyarakat sekitar. Bermacam-macam hidangan sudah siap. Sampan-sampan berjajar rapi, beraneka hiasannya seperti berlomba-lomba untuk mendapat gelar Rato Saghara.

Sementara di bawah rimbunnya cemara udang yang terkadang rantingnya patah karena hembusan angin dan mengenai orang-orang yang hendak menonton pagelaran rokat tase’, beberapa anak kecil berlarian saling menghamburkan pasir. Dan seorang lelaki paruh baya mengayuh sepeda tuanya sedang menjajakan es lilin.

Pagelaran rokat tase’ akan segera dimulai. Orang-orang kampung nelayan memang menggelarnya setiap tahun. Pagelaran rokat tase’  ini bertujuan agar masyarakat pesisir tetap diberkahi dan dilimpahi rezki yang banyak, serta diselamatkan dari marabahaya saat melaut. Begitu matahari tergelincir, sampan-sampan segera diberangkatkan. Suara saronen menggema di tengah laut. Orang-orang yang ikut perahu akan segera melepas dan menghanyutkan hidangan-hidangan tadi di tengah lasak-nya ombak. Begitulah pagelaran rokat tase’ dilaksanakan.

***

Begitu hari Minggu tiba, pagi-pagi sekali Iyan berangkat ke laut menunggu Eppaknya datang majang. Sebelum matahari muncul dari ufuk timur, ia sudah berada di hulu bersama teman-teman sepantarannya. Ketika matahari mulai meninggi, deru mesin sampan akan terdengar. Menandakan bahwa para pelaut sudah datang, tak terkecuali Eppak Iyan. Tangannya dilambai-lambaikan seakan memberitahu kepada Eppaknya bahwa ia sudah menunggu sejak tadi. Lalu dibalikkannya badannya dan dilambaikan lagi tangannya kepada Emmaknya yang sedang menunggu di lesehan, memberitahu bahwa Eppaknya sudah datang.

Sa kantong, du kantong, tello kantong…” begitu seterusnya, Iyan mulai menghitung.

Dipindahkannya kantong-kantong berisi ikan tersebut dari rinjing-rinjing kulih ke pasir. Menatanya rapi agar para pedagang ikan tidak kesulitan saat mengambil.

“Mak, aku minta 20 ekor. Mau dimakan bersama teman-teman.” Pintanya pada Emmaknya. Setelah selesai, Iyan melenggang pergi. Ia mulai mengumpulkan sabut kelapa dan menyiapkan alat pemanggang. Temannya yang lain sudah datang. Ada yang membawa ketupat, botol air berisi teh, dan ember kecil berisi air, dan ada juga yang hanya datang tidak membawa apa-apa. Anak-anak Pesisir, begitu bahagianya mereka saat momen seperti ini selalu dirayakan bersama-sama.

Bila ikan lagi musim, orang-orang kampung nelayan akan sibuk dengan berbagai pekerjaan. Yang laki-laki sibuk melaut dan membeli solar dengan semacamnya, sedangkan para istri mereka sibuk di tempat pemindangan maupun di ghirsereng, tempatnya bekerja sehari-hari.

Hamparan pasir berhamburan, terik matahari seperti memanggang para pekerja, aroma ghirsereng menyeruak. Alas tempat menjemur ikan dari anyaman janur berjajar rapi diatas bambu-bambu yang menjadi penyanggah, rinjing-rinjing ikan, dan jaring-jaring berserakan di atas pasir. Para kulih berlalu lalang membawa ikan dengan alat pikul di pundaknya, perempuan-perempuan pesisir ada yang menjemur ikan, memanggang, memindang, dan ada yang membawa bak besar, sedang menjajakan ikannya. Tawar-menawar, celoteh tentang arus dan ikan yang melimpah, keluhan-keluhan karena pendapatan tidak sesuai dengan pengeluaran, sudah terdengar akrab setiap hari, berhembus bersama desau angin ke arah laut.

Sementara dari arah barat, Iyan dan beberapa anak pesisir lainnya bertelanjang dada memperlihatkan kulit legamnya yang mengkilap karena basah habis berendam. Membawa rinjing kecil berisi lokan-lokan hasil cariannya di hulu tadi.

Kampung Nelayan, 2021

*) Nur Fadhilah Syam, lahir di Kampung Pasir, Sumenep. Mahasiswi Instika Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) sekaligus santri aktif PP. Annuqayah Lubangsa Putri.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 256134728743109267

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item