Surat Terbuka untuk Bapak Ibu Wali Murid di Rumah.


Akh. Mardani Abdullah

Selamat pagi Bapak, Ibu, apa kabar? Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.

Perkenalkan, saya adalah seorang pendidik di salah satu SMA di Sumenep, sekaligus juga seorang ayah dari anak yang baru berusia tiga tahun. Sangat menyenangkan rasanya punya murid seperti anak-anak bapak dan ibu, mereka adalah siswa siswi yang luar biasa.

Sebelumnya mohon maaf atas kelancangan saya menuliskan surat ini, ini semata-mata saya lakukan sebagai bentuk kecintaan saya pada anak-anak bapak dan ibu yang kini telah menjadi bagian dari keluarga saya. Sungguh sebuah kehormatan dengan memiliki keluarga baru yang begitu menyenangkan. Sekali lagi mohon maaf, izinkan saya berbagi cerita dan keluh kesah tentang betapa repotnya, betapa beratnya beban dan tanggung jawab menjadi orang tua.. Hal ini semata-mata saya lakukan karena bentuk kecintaan saya pada anak-anak yang akan mulai beranjak dewasa. Sekali lagi, bukan bermaksud menasehati dan menggurui bapak ibu. Jadi begini;

Banyak orang yang bilang bahwa prioritas utama dalam hidupnya adalah anak, tetapi pada kenyataannya--sehari-hari anak kita seringkali hanya mendapatkan waktu, energi, dan prioritas sisa. Kita sebagai orang tua terlalu sibuk berjuang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan anak-anak kita. Seringkali kita lalai dan abai untuk juga memberikan kasih sayang, perhatian, perlindungan, dan rasa nyaman.

Seringkali kita sebagai orang tua lupa bahwa anak tidak hanya membutuhkan makan dan biaya pendidikan saja, tetapi juga membutuhkan perhatian dan kepedulian orang tuanya. Kita terlalu fokus dan sibuk mengurus kebutuhan fisik, menomorduakan kebutuhan psikis dan mental anak-anak kita.

Lalai dan abainya orang tua memperhatikan kebutuhan psikis dan mental anak ini bisa berakibat fatal. Salah satu contohnya munculnya perasaan anak bahwa orang seolah-olah tidak peduli dengan anaknya. Orang tuanya hanya sibuk bekerja dan mengurus kepentingan pribadinya. Tidak jarang kan kasus-kasus seperti ini terjadi di lingkungan kita. Apa akibatnya di msa yang akan datang? Rasa sayang dan peduli anak pada orang tua juga tak begitu dalam. Banyak  anak yang menganggap hanya dengan memberi uang kepada orang tuanya yang sudah renta cukup mewakili rasa sayangnya.

Coba kita fikirkan, berapa dari kita yang hanya bisa memberikan uang bukan kasih sayang, bukan didikan. Terutama bagi mereka yang bekerja di luar, yang terpisah jarak dan waktu dengan anak-anaknya. Seringkali kita menganggap hanya dengan memberi uang, maka segala persoalan selesai. Yang tak disadari justru sebaliknya, anak yang hanya mendapatkan uang bukan didikan, ia bisa melakukan apa saja, dengan modal uang lebih yang diberikan orang tuanya.

Dilema memang, tak semua orang tua  beruntung bisa hidup terus berdampingan dengan anak-anaknya. Ada hal-hal yang seringkali harus dikompromikan, demi terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga. Tetapi ini tak bisa dijadikan alasan untuk tak saling peduli, untuk saling abai, untuk hanya bisa memberikan uang bukan didikan.

Pantaulah anak-anak kita dari jauh, perhatikan bagaimana anak-anak kita menjalani hidupnya, pada siapa mereka bergaul, pada siapa mereka menumpahkan segala sedu sedannya. Jangan sungkan untuk bertanya, berbagi cerita pada anak-anak kita. Penting juga untuk melibatkan anak-anak kita dalam pengambilan keputusan dalam urusan keluarga. Kepercayaan penuh pada anak-anak kita juga penting diberikan, tetapi bukan dengan menutup mata pada segala ancaman mara bahaya yang bisa datang kapan saja. Bukalah jalur komunikasi dengan teman-temannya, dengan keluarga yang dititipi di rumah.

Menjadi orang tua memang tak pernah mudah, maka belajarlah, maka berusahalah, maka berdoalah. Tugas menjadi orang tua tak hanya memberi makan, tetapi juga memastikan anak-anak kita telah mendapatkan apa-apa yang bisa menjadikan mereka manusia seutuhnya, manusia sebaik-baiknya.

Untuk orang-orang tua terhebat di seluruh dunia, anak adalah hasil cinta, yang hidupnya penuh dengan pengharapan kita. Maka, jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa. Tak akan ada nikmat paling indah selain hidup di masa tua tanpa rupa-rupa penyesalan.

Salam.

Akh. Mardani Abdullah,  alumni Magister Sosiologi Universitas Airlangga, Pengajar Sosiologi dan Antropologi di SMA Negeri 2 Sumenep

POSTING PILIHAN

Related

Utama 9046562410990255261

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item