Sajak-sajak Murni Tiyana, Mojokerto

 


Murni Tiyana, lahir di pojok desa Jiyu, Mojokerto. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang bekerja sebagai penjaga apotek. Kegemarannya menulis membawanya bergabung di beberapa komunitas literasi dan menghasilkan beberapa antologi cerpen dan puisi. Kelana Sunyi adalah buku solo perdananya. Penulis bisa disapa di facebook murni_tiyana dan di instagram @murnitiyana

 

Suatu Hari, Di Ruang Tamu Aku Disidang

"ojok mbideg ae,
topo bisu a koen,"
pongah ia berkata

tersirap darah
mendadak gagu
lidah kelu
bagai dipaku

aku memilih menutup telinga
dan sembunyikan prahara lara
dari amuk yang hilang logika

satu yang aku yakini
Tuhan tidak pernah membiarkan sesuatu pun terlewat dari kasih sayangNya
walau sehelai daun yang jatuh

_MT, kala itu 2016

 

Di Beranda

aku rindu kalian
di beranda, ditemani kerupuk upil dan air mineral
berbagi cerita derai tawa

aku rindu mie godok dengan irisan cabe
dimakan ramai-ramai
penghilang penat seharian

aku rindu kalian
saling menunggu
saling menyapa
berniat tidur lebih awal
tapi dongeng hari itu kudu tamat

apa kabar nyamuk-nyamuk
yang ikut begadang?

_MT, Mosar 290921

 

Sepanjang Jalan Kenangan

kendaraan merayap lambat
gelap pun mencoba mencuri celah
sekadar menata ulang kenangan
nyatanya kau kesulitan
hanya kehampaan rapuh
merebah pada sudut jalan
juga dadamu

harusnya jalan ini mengajarkanmu
arti kehilangan
kiranya kau masih menerka nerka
adakah seseorang yang menanti kepulanganmu?

MT, Mosar 160321

 

Di Balik Masker

meski tak bisa kupandang gincu di bibir tipismu
namun gerikmu terbaca
pun aku percaya
kita hanya bersandiwara
berperan sebagai dua orang yang sedang pikun
menyesakkan bukan?

usaikan saja
tak usah bersusah hati
sungguh, bukan inginku
selisih pandang diperpanjang
bahkan jadi tali pegangan
saling menyerang atau bertahan

sebab, akan datang masa itu
ketika kepikunan
benar-benar menyambangi
dan cacing tanah sudah menunggu
tidakkah napasmu tersengal?

_MT, Mosar 050921

 
Di Beranda

aku rindu kalian
di beranda, ditemani kerupuk upil dan air mineral
berbagi cerita derai tawa

aku rindu mie godok dengan irisan cabe
dimakan ramai-ramai
penghilang penat seharian

aku rindu kalian
saling menunggu
saling menyapa
berniat tidur lebih awal
tapi dongeng hari itu kudu tamat

apa kabar nyamuk-nyamuk
yang ikut begadang?

_MT, Mosar 290921

 

Ngalem Kepada Bapak

ibu
ibu
ibu
bapak

bukan yang pertama
namun kau tiada terganti

jika ibu adalah tempat paling aman tuk berbagi cerita
bahumu ternyaman buatku bersandar
jika ibu paling dirindui kala nelangsa
kau, tempat terhangat saat resah

pak, aku kangen

_MT, Mosar 041021

 
Percakapan Pendek Perihal Siang

Jangan tergesa mencari senja, sayang
matahari mengambang tenang di atas ubun-ubun
ia sedang mengajarkan cara menggenggam janji-janji

sekali lagi
usah berisik perihal senja
nikmati saja langkah kita mengeja hari

_MT, Mosar 300921

 
Rindu, Jangan Kesasar

di jalan ini ada kenang
perjumpaan yang memanjang
tersapu debu, melayang

namun, hatiku ricuh
menyebut namamu berulang
mengusik ingatan

harus kau tahu
mendung tak sudi menahan air mataku
mengawali gerimis di musim kemarau

maka biarkan saja
seakan aku sedang menanti
di suatu titik yang menjadi tujuan
agar tiada lagi rindu yang kesasar

_MT, Mosar 031021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8913202311243206660

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item