Perampok Primer


NK Gapura

Setiap kali duduk bersama beberapa kawan, terutama yang mengaku dekat dengan lingkaran kekuasaan, saya selalu tertarik. Dari mereka, saya sering menerima cerita dan istilah baru. Meski loglinenya sama akan tetapi intriknya kadang kala berbeda.

Dari seorang kawan, saya tahu istilah baru: Perampok primer. Perampok ini, jelas kawan saya, nyaris sama seperti king maker. Dia yang mengatur dari hulu ke hilir harta yang akan dirampok.

Misalnya anggaran, perampok primer inilah yang membuat nomenklatur. Anggaran yang diusulkan berapa, yang akan dirampok berapa, teknis merampoknya bagaimana, pola menghapus jejaknya bagaimana, si perampok primer ini yang mendesain semuanya.

Kata kawan saya, perampok ini biasanya berkelompok, sistemis, dari berbagai pihak, dan (mengaku) punya pengaruh. Sekali mereka berkehendak, biasanya sering berhasil. Bagaimanapun caranya. Karena, kata kawan saya, mereka kadang disokong oleh kekuatan bernama kekuasaan. Kadang juga mengaku punya kekuatan.

Kawan saya menduga, di pemerintahan saat ini, sudah banyak anggaran yang masuk target komplotan ini . Baik ploting anggaran di Legislatif maupun eksekutif. Baik yang besar atau yang remeh seperti Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Soal DBHCHT, kawan saya curiga bahwa anggaran ini telah di desain sedemikian rupa oleh mereka. Kemana pun anggaran mengalir, tumpahnya juga tetap kepada mereka.

Dalihnya beragam. Namun yang pasti, satu diantara dalih yang paling kuat adalah mengaku dekat dengan kekuasaan. Bersamaan dengan pengakuan itu, hasrat merampok sudah dimulai, kata kawan saya.

"Kamu, misalnya, di media, pasti dapat lah jatah itu (DBHCHT). Tapi kecil, ngak seberapa kan?" Setelah panjang lebar kawan saya menjelaskan, dia melibatkan saya dalam pembicaraannya.

Mendengar itu, saya terkejut. Berkali-kali liputan petani tembakau, saya merasa tidak pernah tahu DBHCHT itu. Saya berupaya membela diri, sebisanya. Namun kawan saya hanya terkekeh dan ucapannya setengah merendahkan.

"Mungkin karena kamu bukan perampoknya, atau ngak mau ngaku sebagai perampok," sergah kawan saya sambil menerima mie rebus dari Mbak.

Agar netral, saya kembali berupaya membela diri. Mungkin saja, kalau pun ada, kerjasamanya langsung dengan redaksi. Saya tidak tahu menahu. Akan tapi kawan saya ngotot.

"Ah, kau ngak update,"

Saya memilih diam. Sesekali senyum hambar.

Singkat cerita, pertemuan kami berakhir. Kawan saya membayar lunas teh jahe dan kripik singkong yang saya pesan. Totalnya Rp 3.500,-. Saya berterima kasih ala kadarnya.

Diperjalanan, saya iseng-iseng membuat hipotesa sederhana. Istilah perampok primer dan segala cerita yang diutarakan kawan saya, memberi tiga kemungkinan.

Pertama, mungkin cerita itu adalah pengalaman pribadinya. Kedua, mungkin saja disebabkan sakit hati (karena politik misalnya) yang membuat kawan saya menjadi penghayal yang baik. Terakhir, mungkin dia sedang menyinggung perampok lain yang telah mengalahkan intrik merampoknya. Ah, semua serba mungkin.

Sesampainya di tempat biasa, saya bertemu seoramg kawan yang kadang liputan bersama. Sebelum melepas helm dan masker, di teras depan, saya dikagetkan ucapannya.

"Yok, hajar DBHCHT!" Saya hanya diam.

Sumenep,
27 Oktober 2021

Penulis adalah jurnalis
Sumber akun FB NK Gapura


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2413731532201762187

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item