Arachnophobia

 


Cerpen: Kinanti Yuarsyanda KH

Tom dan Ken melemparkan jumping spider ke wajah Asheleen hingga terhuyung dan hampir menghantam tanah kalau saja tidak cepat-cepat menahan tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Melihat kelakuan Tom dan Ten terhadap Asheleen aku dan teman-temanku berteriak histeris, bersimpati dan mengutuk kedua pembully sialan itu.   

Aku yang diikuti oleh teman-temanku membawah Asheleen ke ruang UKS. Kubaringkan tubuhnya yang masih lemas. Kukompres dahinya dan kemudian kubiarkan kain kompres di dahi Asheleen. Sambil menunggu petugas UKS, diam-diam kukutuk Tom dan Ken. Teman-teman yang tadi menyertaiku membawa Asheleen kuminta masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran.

“Kudengar Ashleen pingsan. Bagaimana keadaannya sekarang?” Mrs. Anne, peugas UKS, yang tiba-tiba muncul sempat mengagetkanku.  

“Anak-anak sialan itu berulah lagi.” rutukku.

“Mereka memang sudah kelewatan. Apa mereka sudah dilaporkan?”

“Teman-teman sudah melaporkannya,” jawabku lirih. Mrs. Anne meletakkan telapak tangannya di atas dahi Asheleen, kemudian menoleh ke arahku sambil mengulum senyum manis.

Mrs. Anne adalah orang yang sangat baik. Beliau juga yang sering menangani Ashleen jika phobianya kumat. Tidak hanya kepada Asheleen, tapi beliau juga sering membantuku. Aku menyukainya. “Sebaiknya kau kembali ke kelas. Tenang saja, aku akan menjaga Ashleen.” ujarnya.

Sejenak aku ragu-ragu untuk meninggalkan ruang UKS. Kuyakinkan diri bahwa Ashleen akan baik-baik saja. Kutinggalkan ruangan UKS dengan perasaan tak menentu, antara berpikir membalas kelakuan kedua pembully, Tom dan Ken, dan memikirkan kesehatan sahabatku, Asheleen.

Setibanya di ruangan kelas, Tom dan Ken mendekatiku, dengan wajah menyebalkan dan ucapan mengejek ia meminta maaf. “Ya. Hihihi. Kami menyesal. Hihihi...” timpal Ken sambil menahan tawa.

Aku menatap tajam kepada Tom dan Ken. Aku muak dan ingin muntah ketika melihat keduanya.

“Bagaimana kondisi Ashleen?” Jessie dengan wajah lebih khawatir dari biasanya menghampiriku.

Kuceritakan kepada Jesse bahwa kondisi Asheleen saat ini dalam keadaan baik-baik saja dan sedang ditemani Mrs. Anne. Mendengar jawabanku wajah Jesse tidak lagi menampil raut kekhawatiran.  

***

Hari ini Asheleen tidak masuk sekolah karena demam. Ulah Tom dan Ken sudah membuat Asheleen sakit, ini sangat menyebalkan, harus dibalas. Aku yang sejak kemarin memikirkan cara membalas dendam sudah mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah, black widow spider kubawa serta untuk memberi pelajaran kepada dua orang menyebalkan yang sudah menyebabkan temankusakit. Pelan-pelan kukuluarkan black widow spider dan kemudian kulempar ke arah Tom dan Ken.

Oh, laba-laba kecilku, bekerjalah, lakukan tugasmu dengan baik. Beri Tom dan Ken pelajaran. Senandungku dalam hati.  Selanjutnya, aku hanya perlu menunggu sampai waktu pulang tiba. Karena saat itulah black widow spider waktunya beraksi.

Kringg...

Kringg...

Kringg...

Gotcha!

Aku tidak sabar menunggu ekspresi kesakitan Tom dan Ken, yang sudah menyakiti temanku, Asheleen. Aku menunggu kedua pembully itu beranjak dari bangku kelas. Aku akan sangat senang saat melihat ekspressi mereka yang kesakitan karena laba-laba kecilku.

Oh, betapa senangnya hatiku saat melihat mereka mulai gelisah. Kena kalian!, senandungku.

“Ada apa dengan kalian?” tanyaku dengan wajah berpura-pura prihatin.

“Entahlah, kami merasa pusing...”

“Benarkah? Ayo kuantar ke ruang UKS.”

Aku berharap, Tom dan Kin tak keberatan kuajak ke UKS. Tom dan Kin tidak akan tahu niat sesungguhnya kenapa aku menolong keduanya dan membawanya ke ruang UKS. Ketika bel pulang sekolah berdering, kuajak keduanya yang dalam keadaan pusing dan tidak berdaya. Setibanya di ruang UKS,  kurantai pergelangan Tom dan Ken. Tom kurantai ke tembok sedangkan Ken kurantai di kursi. Untuk mempermudah rencnaku kulepas alas kaki keduanya. Setelah keduanya tidak bisa berbuat apa-apa kuberi mereka vaksin agar sejenak tertidur sebelum menyaksikan pembalasan dendam yang sudah kurencanakan dan kupersiapkan dari kemarin. Aku tidak ingin mereka mati karena racun kedua laba-labaku, Juliet dan Jamie.

Selagi menunggu Tom dan Ken terbangun, kupersiapkan perlengkapan-perlengkapan: berbagai perkakas, batangan logam karat, dan jenis peralatan lainnya. Aku juga sudah memindahkan sebagian koleksiku untuk ikut ambil bagian. Ada Juliet dan Jamie, Wally, Tyler, Hopper dan lain-lain. Aku mengelus mereka satu persatu dengan sayang sembari menunggu kedua pembullyu terbangun.

Setengah jam berlalu, dari balik jendela ruangan UKS kulihat matahari mulai condong ke barat dan tenggelam. Kupastikan di halaman sekolah takada seoang pun berkeliaran. Sambil menyunggingkan senyum kuperhatikan Tom dan Ken yang mulai menggeliat. Ah. Menunggu keduanya bangun dari tidur karena pengaruh vaksin terkadang menyebabkan kesabaranku semakin menipis. Itu tidak boleh, kataku. Maka, pelan-pelan kuletakkan kaki Tom ke dalam akuarium kecil tampat Sammy. Sementara kaki Ken kuletakkan ke dalam stoples Buds. Disaat-saat itulah ketegangan dan sekaligus keriangan dalam hatiku sulit kukendalikan. Harus kuakui bahwa aku mulai tak sabar menyaksikan kedua pembully itu menjerit kesakitan. Benar saja, ketika Ken terbangun ia terperanjat kaget sambil menjerit kesakitan. Ia terkejut sekali melihat dirinya masih di ruangan UKS dalam keadaan kaki terikat rantai. Ken hampir memekik ketika melihat kaki temannya, Tom, ditempeli Kissing Bug milikku.

Aaaaaaaa....” jerit Ken. Perut Milly sudah menggembung oleh darah Tom. Sementara Buds sudah bereaksi di kaki Ken. “Aaaaaaa....” jerit Ken lagi ketika menyadariku sedang duduk sambil mengelus Creep. Mika dan kawanannya juga terbang mendengung di sekitarku. Stoples Wally, Tyler, Hopper, Jamie dan Juliet berserakan di sekitarku.

Aku membiarkan Creep merayap ke bahuku selagi aku mendekati Ken yang meronta. Untung saja kaki Ken dalam keadaan terikat rantai. “Ssst.... jangan berisik!” bisikku tepat di telinga Ken. Creep merayap pelan mengitari dahinya sebelum kembali ke bahuku. Ken semakin liar meronta. Aku khawatir Buds akan terganggu. Tapi sepertinya ia sudah selesai melaksanakan tugasnya, menggeryangi kaki Tom.

“Apa yang kau lakukan pada kami?” jerit Ken gemetar.

Aku tak segera menjawab, sebaliknya aku tersenyum dengan penuh kemenangan padanya sambil menancapkan ujung pisau ke bahunya yang, kemudian dari bahunya meleleh darah kehitam-hitaman. Buds bergerak-gerak di bahuku dan Sammy kini berada di sisi lain bahuku melakukan hal yang sama. Aku mengerti keinginan mereka, jadi aku mendekatkan tanganku pada bahu Ken yang sudah kutusuk.

“Jangan terlalu banyak.”, pesanku pada Sammy dan Buds selagi mereka merayap.


            “Apa yang kau lakukan gila?” Ken meronta.  Aku tahu itu percuma karena pisau itu kutancapkan hingga menembus daging dan tulangnya. Kuabaikan teriakan dan jeritannya ketika Sammy menghisapnya dan Buds memenuhinya.

Pandanganku beralih pada Tom yang kini terlihat pucat. Matanya bergerak-gerak pelan sebelum akhirnya menyadari bahwa kakinya kini sangat pucat dan nyeri. Tom memberikan reaksi yang sama seperti Ken terhadapku. Teriakan yang memekakkan telinga. Menjijikkan. Jujur aku merasa sangat terganggu dengan kebisingan yang mereka perbuat. Tapi aku juga merasa terhibur. Aku berbalik sebentar, melambaikan tangan pada Mika dan kawanannya. Mereka semua mendekat dan mengerubungi Tom dan Ken. Teriakan mereka berubah manjadi jeritan ketika Giant Japanesse Hornet menyengati mereka. Karena tak ingin kesenangan ini berakhir terlalu cepat, mau tak mau aku harus menyuntikkan vaksin penawar ciptaanku sendiri.

“Aaaaaaaaaarrrghhh!!!”

Aku kembali ke kursi kayu tua. Sejenak kutelepon Ashelin, kuberita ia agar tenang, kepada sahabatku yang kemarin disakiti oleh kedua pembully ini kukatakan bahwa saat ini aku sedang menyaksikan Tom dan Kin dalam keadaan tersiksa. “Oh, dengarlah,” kataku, “jeritan dan teriakan mereka menggema di ruangan UKS. Untung saja besok adalah akhir pekan, jadi aku bisa puas malam ini.

Tubuh Tom dan Ken sudah nyaris tak berbentuk karena sengatan dua laba-labaku. Belum lagi ulah Sammy dan Buds. Aku bersiul pelan memanggil Mika dan kawanannya. Sudah cukup mereka bersenang-senang. Yang lain juga harus kebagian. Harus adil, gumamku sambil melirik pada Tom dan Ken yang tersengal-sengal menahan perih. Sengatan Giant Japanesse Hornet tidak bisa diremehkan. Satu saja menyakitkan, apalagi jika sekawanan. Buds dan Sammy juga kembali padaku, tapi mereka masuk ke stoples masing-masing.

Aku kembali mendekat pada Tom dan Ken. Aku ingin tahu kondisi mereka lebih dekat. Kaki yang hampir tak berbentuk, kulit pucat, darah memenuhi lantai, luka-luka menganga, bengkak di mana-mana, dan apa itu? Kemana mata kanan Tom? Aku menoleh ke arah kumpulan serangga di belakangku. Menatap mereka satu-persatu. Salah satu kawanan Mika mundur gelisah. Aku tersenyum, menunjukkan kalau itu bukan masalah.

“Kau gila!” jerit Ton. Kudekati Tom yang berusaha mencipratkan air ludah ke arahku.

“Apa kau baik hah?” tanyaku sambil menyunggingkan senyum. Tom tak menjawab, sebaliknya ia meludahi wajahku. Aku marah. Aku berbalik. Berjalan ke arah stoples-stoples kaca, kukeluarkan Wally lalu kurobek kaus Tom dengan gunting rumput tua, lalu kutaburi tubuh Tom dengan remah-remah makanan yang kini tercampur darahnya.

“Apa yang kau lakukan?” jerit Tom.

“Keluarlah Wally, dia milik kalian.” Wally dan kawanannya adalah Bullet Ant. Gigitan mereka akan terasa seperti tembakan peluru. Belum lagi rasa sakitnya agak awet. Mereka merayap ke perut dan tubuh Tom secara acak. Jeritan Tom membahana ketika Wally dan kawanannya menggigit tubuhnya. Lalu aku beralih pada Ken.

Ken sedang mengatur napasnya yang terengah-engah. Sambil menataonya dengan penuh kemenangan, aku mengambil Hopper dari stoplesnya. Belalang hijau satu ini salah satu kesayanganku. Kuletakkan ia dalam gelas yang kemudian kutangkupkan pada telinga Ken. Perlahan tapi pasti, Hopper masuk ke dalam rongga telinga Ken. Kemudian aku mendengar Ken menjerit. Itu tandanya Hopper mulai menggigit telinga bagian dalam Ken.

Aku menyeringai puas sambil mengelus Creep di bahuku. Untuk kali ini aku tak
keberatan dengan suara berisik. Setelah aku puas melihat tubuh Tom yang hampir hancur dan Ken yang hampir kehilangan kesadarannya kukeluarkan Tyler dan Creep. Keduanya merupakan favoritku. Eh, tunggu. Apa itu? Merilynn? Bagaimana bisa kalajengking kecilku bisa sampai sini? Pantas saja Tom tetap menjerit bahkan setelah Wally dan kawanannya kembali padaku.

Kubiarkan saja kalajengking Androctonus Australis kecilku bersenang senang.

Aku beralih dulu pada Ken. Jeritannya tetap keras meski aku tahu kesadarannya
dipertaruhkan. Darah segar mengalir melalui lubang telinganya. Rupanya Hopper sudah cukup dalam. Kubiarkan dia berkolaborasi dengan Tyler. Tarantula manisku tentu akan senang oleh aliran darah dari telinga Ken. Benar saja, dia langsung melompat dan memulai kegiatannya. Ken memang terlihat menggiurkan dengan darah-darah ditubuhnya itu.

Saat aku kembali pada Tom, Merilynn sudah mulai naik hingga betisnya. Menyengat mencapit sehingga kulit dan dagingnya sobek cukup besar. Darah dan daging itu terlihat menggiurkan bagi Creep. Ia mulai mengitari leherku dengan tak sabar. Ia seperti menanyakan bagiannya. Creep itu adalah kelabang raksasa. Ada juga yang menyebutnya lipan.

Melihat tingkahnya, aku mengangguk kecil. Dengan cepat dia merayap ke arah Ton. Mengelilingi tubuh hancur Ton dengan kaki-kaki lentiknya. Merayap pelan sambil sesekali menggigiti daging segar yang tersaji untuknya. Creep terus merayap hingga sampai di kepala Tom. Kemudian ia mempermainkan Tom dengan memasuki rongga mulutnya. Cairan bening mengalir dari sudut mata Tom saat Creep bergerak-gerak dalam mulutnya. Kaki-kaki lentik dan antenanya menyembul keluar dari mulut Tom. Darah segar keluar bersamaan denga batuk Tom. Sepertinya Creep menggigiti mulut bagian dalam. Sekarang Creep mengitari kepala Tom. Creep berhenti sebentar untuk memasuki rongga mata kanannya yang kosong. Sebagai penutup Creep memasuki lubang telinganya. Mungkin ia akan menggigiti dalam telinganya untuk mencapai otak. Ahai, benar saja, Tom menjerit kesakitan. Jeritannya lebih keras dari sebelumnya.

Aku kembali melihat Ken yang sudah amat sangat kacau. Hopper yang berlumuran
darah bertengger di bahunya. Sepertinya ia sedang mencari udara segar. Aku mencabut pisau yang menancap di bahunya. “Aaaarrgghhh!” jeritnya.

Ouch, itu pasti sakit. Aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di kaki dan bahu
Ken. Mataku berbinar. Waw... mereka akan menetas. Hei Buds, kau harus melihat ini,
teriakku sambil mengambil stoples Buds agar dia bisa melihatnya. Sesuatu yang bergerak-gerak itu akhirnya menampakkan wujudnya. Telur-telur Buds yang memenuhi kaki dan bahu Ken kini menetas. Larva-larva Buds menyobek daging agar dapat keluar. Menciptakan lubang-lubang pada daging Ken. Nanah dan darah bercampur menjadi satu. Dapat kulihat Ken menggeliat sangat liar. Wajahnya terlihat jijik dengan lubang-lubang itu.

Aku tersenyum dan membereskan stoples-stoples kesayanganku. Kutinggalkan ruangan UKS itu sambil bersenandung riang dengan stoples-stoples yang kubawa.

Mika dan kawanannya terbang pulang lebih dulu.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8191785060459786570

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item