Konsepsi Literasi Digital


Djoko Saryono

Sekarang sedang moncer istilah dan konsepsi literasi digital -- kalangan masyarakat berusaha cekatan-cepat mempelajari dan memahaminya selain pemerintah berusaha menggenjot cepat dan menggebu sosialisasi literasi digital. Bisa jadi faktor pemicunya pandemi COVID-19. Yang jelas, sekarang literasi digital makin naik pohon eh naik daun di jagat literasi masa pandemi.

Sejatinya literasi digital sudah disuarakan oleh Nicholas Negroponte dalam Being Digital pada kisaran 30 tahun lalu. Malahan 40-an tahun lalu Walter J Ong sudah mengultinya dengan nama kelisanan sekunder. Memang, bagi Ong, literasi digital itu (setali tiga uang dengan) kelisanan sekunder! Walhasil banyak kalangan terutama kalangan pendidikan bilang literasi digital itu adalah pasca-literasi (post-literacy). Makna pasca-literasi di situ bukan tanpa literasi, tapi mempersyaratkan literasi. Maksudnya, literasi harus khatam, harus mantap, agar kalangan masyarakat mampu berada pada era literasi digital/pasca-literasi atau kelisanan sekunder.

Hal tersebut bahwa literasi baca-tulis menjadi conditio sine qua non bagi literasi digital. Mutu membaca dan menulis menjadi tiang penting literasi digital. Tanpa literasi baca-tulis niscaya literasi digital senantiasa rentan, malah rapuh. Bisa-bisa kalangan masyarakat hanya terpapar dan mengalami adiksi digital internet tanpa memiliki kecukupan pemahaman. Temuan kajian Nicholas Carr (dalam The Sallow) telah menunjukkan bahwa keterpaparan internet atau digital berlebihan dapat menimbulkan kedangkalan pemahaman bila tak disertasi oleh literasi baca-tulis yang baik. Di situ terkandung siratan pesan bahwasanya bacaan atau pustaka sangat mendasar bagi kuatnya literasi digital. Untuk itu, sekalipun gerakan literasi digital disorakkan sedemikian gempita, tak boleh dilupakan dan ditinggalkan penggeloraan bacaan atau pustaka di bumi Indonesia.

Literasi baca-tulis sekaligus ketersediaan dan keterjangkauan bacaan atau pustaka bermutu dan merata di bumi Indonesia bahkan dapat dikatakan sebagai insfrastruktur digital. Bagi saya penguatan literasi digital mensyaratkan penguatan insfrastruktur digital baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Yang kita sebut internet, jaringan, dan alat-alat lain adalah perangkat keras. Bacaan/pustaka dengan literasi baca-tulis merupakan salah satu perangkat lunak yang mendasar bagi literasi digital.

Untuk itu, berbagai usaha menyediakan dan memeratakan insfrastruktur literasi digital harus mencakup perangkat keras sekaligus perangkat lunak secara serentak. Di situlah letak pentingnya penyediaan dan pemerataan bacaan/pustaka seiring dengan penggeloraan literasi digital. Kalau penguatan insfrastruktur digital (perangkat keras) dikebut pemerintah, sudah selayaknya penguatan insfrastruktur lunak berupa bacaan/pustaka juga dikebut oleh pemerintah. 

Di sinilah pemerintah bisa, bahkan wajib menyediakan dan memeratakan bacaan atau pustaka bermutu dan bergizi ke seluruh Indonesia. Kebijakan kargo literasi gratis atau populer dengan nama FCL merupakan salah satu ujung tombak penguatan insfrastruktur lunak literasi digital. Itu sebabnya, pemerintah perlu menjalankan FCL sebagai bagian penting dan mendasar bagi penguatan literasi digital. Inisiasi dan pembiayaan FCL oleh pemerintah akan mendukung keberhasilan program dan kegiatan literasi digital yang diidolakan kini.

Hop! Stop! Hadeehhh mau ngomong apa sih aku? Kesana kemari tak jelas. Padahal cuma mau ngomong: FCL alias kargo literasi gratis itu urgen dan penting bagi kokohnya literasi di Indonesia, lebih-lebih literasi digital. Tak rugi pemerintah membiayai.

Sumber: akun FB Djoko Saryono



POSTING PILIHAN

Related

Utama 2124806860049627820

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item