Pelabuhan Terakhir


Cerpen:  Diana Ummijatie

Surti adalah anak tunggal pasangan Harjito dan Sariyanti. Harjito seorang kepala desa yang sangat disegani oleh warga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Sedangkan Sariyanti hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa namun memiliki keahlian memasak serta menjahit. Meski anak tunggal, kedua orang tuanya tidak pernah memanjakannya.

Surti dididik agar menjadi anak yang mandiri dan sederhana. Sedari kecil ia sudah menjadi anak penurut dan patuh. Tutur katanya lemah lembut, tak pernah sekalipun dia membantah perkataan orang tuanya. Jika berbicara dihadapan mereka, Surti selalu menunduk. Tidak pernah menatap wajah mereka.

Kini Surti tumbuh menjadi gadis cantik dan anggun. Banyak lelaki desa mengagumi kecantikannya. Ingin mendekat namun mereka takut, karena Surti dilarang keluar rumah. Surti boleh keluar rumah hanya jika ke sekolah dan itu pun harus ada yang mengawasi. Harjito tidak ingin Surti terjerumus dalam pergaulan yanag tak jelas. Bagi Harjito, seorang wanita yang sudah berumah tangga, tugasnya hanya mengurus suami, anak dan memasak.

Satu keinginan Surti adalah dia ingin melanjutkan sekolah di Jogja. Ingin sekolah sampai keinginannya sebagai guru tercapai.

Di saat kedua orang tuanya senggang, Surti mendekati dan duduk disamping romonya. Ia tampak menunduk sembari menekan genggam tangannya. Dia masih terdiam, belum ada keberanian untuk menyampaikan keinginannya.

“Ada apa, Surti,” tanya romo memecah suasana.

Surti menoleh kearah romo

“Romo, bila diijinkan Surti ingin melanjutkan sekolah di Jogja,” jawab Surti masih menunduk.

“Sekolah opo to, nduk? Sudahlah, ndak usah sekolah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya nanti kamu kerjanya hanya di dapur, mengurus suami dan anak,” kata Harjito sambil memperhatikan Surti yang masih tertunduk.

“Kamu harus menjaga nama baik keluarga, Surti. Tugasmu membantu ibu memasak,” lanjutnya.
“Turuti apa kata romomu, Surti. Jangan membantah, Nduk,” sahut Sariyanti ikut menimpali.

Perempuan yang tidak pernah sekolah itu juga tidak mengerti mengapa perempuan harus sekolah. Setelah menikah, punya anak, mengurus suami dan rumah saja sudah repot. Apalagi kalau setiap tahun hamil. Lalu untuk apa ijazahnya?

“Surti ingin menjadi guru, Romo,” kata Surti memberanikan diri.

“Tujuanmu apa to, Nduk? Kok kamu ingin jadi guru? Di desa ini kan sudah ada guru meskipun mereka berasal dari luar desa,” tegas romo.

“Di desa kita ini belum ada perempuan yang bekerja, romo. Kebanyakan mereka hanya sebagai ibu rumah tangga saja. Surti ingin menunjukkan bahwa perempuan desa ini ada yang mampu menjadi guru. Bukankah suatu kebanggaan bagi romo selaku Kepala Desa jika ada warganya yang menjadi guru, apalagi itu anak romo sendiri,” jelas Surti lebih berani.

“Di desa ini juga banyak sekali remaja yang putus sekolah dan menganggur, romo. Pergaulannya juga tidak jelas. Banyak pemuda yang minum minuman keras. Setelah lulus sekolah nanti, Surti ingin mengabdi di desa ini, Romo. Surti ingin membuktikan bahwa Surti mampu membangun desa kita menjadi desa yang maju dan sukses. Desa yang bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain,” imbuhnya.

Harjito terdiam. Tak menyangka jika Surti mempunyai pikiran semacam itu. Ia tidak menduga bila akhirnya anak semata wayangnya berkeingin lebih dari apa yang ia rasakan selama ini. Selaku Kepala Desa, mengapa tidak terpikir olehnya untuk mengatasi remaja-remaja pengangguran di desanya.

Sebenarnya dalam hati, Sariyanti membenarkan apa yang dikatakan Surti, namun akan menjadi tabu bila ia mendukung dan mendorong anaknya untuk melakukan lebih dari takaran yang telah diatur oleh suaminya.

Di desa ini banyak orang yang masih gagap. Banyak remaja desa putus sekolah dan menjadi pengangguran. Mereka belum banyak mengambil peran dalam pembangunan desanya yang dapat mereka rancang. Sudah saatnya ada perubahan nyata di desa ini. Remaja-remaja desa baik laki-laki maupun perempuan harus sekolah setinggi-tingginya agar kelak setelah mereka lulus bisa membangun desanya.

“Surti benar, romo. Berilah kesempatan buat dia sekali ini saja. Tidak ada salahnya kan, jika Surti mengabdi di desa kita sebagai guru?,” usul istrinya itu.

“Kita harus yakin bahwa Surti mampu mewujudkan cita-citanya,” kata Sariyanti meyakinkan suaminya.

Harjito terdiam. Dia belum rela melepas anak satu-satunya hidup sendiri di kota. Apalagi tanpa ada pengawasan darinya. Namun melihat kegigihan Surti, hatinya pun luluh.

“Baiklah, Surti. Kali ini romo ijinkan kamu melanjutkan sekolah di Jogja. Tapi dengan catatan kamu harus tekun, karena menggapai cita-cita itu tidak mudah, harus sungguh-sungguh. Kamu harus mengenal apa yang kamu cita-citakan, supaya tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu juga harus menjaga kehormatan dan pergaulanmu.”

Ucapan Harjito membuat Surti lega dan bahagia karena sebentar lagi cita-citanya akan terwujud.

“Terima kasih, romo. Surti janji akan tekun dan selalu ingat nasehat romo,”

Surti beranjak meninggalkan romo dan ibunya. menuju kamar dan membuka buku diary-nya. Ia ungkapkan kegembiraannya di buku kecil berwarna merah jambu itu.

“Hari ini merupakan hari yang menyenangkan bagiku. Betapa tidak, romo telah mengijinkan aku untuk melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru di Jogja. Keinginan yang telah kupendam sejak setahun lalu. Ketika aku lulus sekolah, Romo tidak mengijinkan aku melanjutkan sekolah. Bagi Romo, wanita harus tinggal di rumah saja. Wanita harus membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, memasak dan belajar menjahit, sebagai bekal pengetahuan saat menjadi seorang isteri nantinya. Setiap hari aku harus membantu Ibu di dapur dan membersihkan rumah. Banyak sekali aturan dan batasan-batasan yang kuterima. Aku merasa terbelenggu oleh situasi seperti ini. Untuk belajar hal baru, aku harus berjuang. Mendobrak kebiasaan yang ada. Kini cita-citaku sebagai Guru sudah di depan mata. Aku harus berjuang sekuat tenaga untuk menggapainya. Semoga Allah memberi kemudahan.”
Sleman, April 1969


                    *****
“Bagaimana mas? Apa tidak sebaiknya kita persatukan saja mereka? Apalagi Surti sudah remaja,” kata Ismoyo kepada Harjito.

“Surti masih sekolah, dik. Tunggulah dua tahun lagi setelah ia lulus. Beri dia kesempatan menggapai cita-citanya. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Biarkan dia tenang dulu,” jawab Harjito.

“Tapi mas, apakah njenengan tidak khawatir Surti akan tertarik dengan laki-laki lain? Apalagi dia kos di Jogja, tanpa pengawasan dari Mas Jito,” ujarnya

 Harjito diam sejenak. Menimbang-nimbang perkataan Ismoyo.

“Benar juga apa kata Ismoyo,” batinnya. Tapi Harjito telanjur berjanji mengijinkan Surti sekolah di SPG sampai lulus.

“Saya juga khawatir pada Safri, mas. Di Malang banyak teman wanitanya,” timpal Ismoyo melanjutkan pembicaraan.

Setelah berpikir beberapa saat, dengan berat hati Harjito menyetujui rencana Ismoyo untuk mempersatukan Surti dan Safri dalam ikatan pernikahan.

“Baiklah, dik Is. Saya menyetujui dengan satu syarat setelah akad nikah Surti tetap kembali sekolah sampai dia lulus,” kata Harjito.

“Injih mas. Saya setuju. Terus kapan dilaksanakan akad nikahnya?,” tanya Ismoyo

“Satu minggu lagi. Saya akan suruh Lek Tarmin untuk menjemput Surti,” jawab Harjito

“Kalau begitu, minggu depan saya akan jemput Safri, mas,” jawab Ismoyo kemudian meninggalkan rumah Harjito dengan wajah berbinar.

Harjito dan Ismoyo adalah saudara sepupu. Orang tua mereka adalah saudara kandung. Rumah Ismoyo hanya berjarak dua ratus meter dari rumah Harjito. Mereka menjodohkan Surti dengan Safri ketika Surti masih berusia lima tahun. Sampai saat ini baik Surti maupun Safri tidak mengetahui tentang perjodohan itu. Mereka dijodohkan demi menjaga nama baik keluarga dan memperbaiki keturunan.

                *****

Lek Tarmin tiba di kosan Surti di daerah Cokrodiningratan saat Surti baru pulang sekolah. Dia terkejut melihat kedatangan Lek Tarmin.

“Ada apa Lek? Kok Lek Tarmin tiba-tiba kesini?” tanya Surti heran.

“Kamu harus segera pulang, Surti. Romo sakit keras.” Perkataan Lek Tarmin membuat tubuh Surti lunglai seketika.

“Romo sakit apa, Lek?” tanya Surti. Tangisnya tertahan.

“Sebaiknya kita bergegas pulang, Surti. Kasihan Romo,” Lek Tarmin tak kuasa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa bersalah.

Bergegas mereka menumpang bus menuju Sleman. Sepanjang perjalanan, Surti masih terisak. Dia membayangkan jika terjadi sesuatu pada romo, betapa sedihnya karena belum sempat menamatkan sekolah.  

Sampai di halaman rumah, Surti ingin segera bertemu romo, ingin melihat kondisinya. Setengah berlari dia memasuki rumah yang berbentuk joglo itu. Namun, sesampai di ruang tamu, seketika langkahnya terhenti. Surti berdiri mematung. Seisi ruangan memandang Surti dengan wajah sumringah. Surti menatap wajah mereka satu persatu, Lek Ismoyo, Safri, Pak RT, Pak Modin, Pak Penghulu, tatapannya terhenti ketika melihat wajah romonya.

“Romo, ada apa ini? Romo sakit apa?,” tanya Surti tercengang.

Harjito tak kuasa melihat wajah Surti. Didekatinya anak semata wayangnya itu, dirangkul dan diajaknya berbicara di ruang tengah. Sariyanti tak kuasa melihat kesedihan anaknya.

“Ibu, ada apa ini, bu?” Sariyanti membiarkan anaknya menangis di pelukannya. Di elus-elusnya punggung Surti.

“Ibu, bantu Surti menolak lamaran mereka, bu. Surti belum ingin menikah,” pintanya sambil terisak. Namun Sariyanti tak mampu berbuat apa-apa. Apalah dayanya, dia hanya seorang isteri yang harus menuruti apa kata suami.

“Surti, Romo tidak kuasa menolak lamaran mereka. Kalian kami jodohkan ketika kamu masih usia lima tahun, Nduk,” jelas Harjito. Harjito merasa bersalah. Dia telah mengingkari janjinya.

    “Surti belum ingin menikah, romo”. Surti memandang kecewa wajah Harjito. Tak sanggup menjelaskan seberapa hancur hatinya. Cita-citanya akan kandas.

“Kamu boleh kembali ke Jogja setelah menikah, nduk. Romo tidak akan melarangmu untuk melanjutkan sekolah,” kata Harjito meyakinkan Surti.

“Turutilah apa kata romo, nduk. Ibu yakin kamu akan bahagia bersama Safri. Dia lelaki yang baik,” kata Sariyanti menimpali.

Surti terbungkam. Pikirannya berkecamuk. Tak pernah menyangka akan menikah secepat ini. Usianya masih enam belas tahun. Dia akan menikah dengan saudara sepupunya sendiri tanpa ada sedikitpun perasaan cinta.

Di saat prosesi akad nikah akan berlangsung, diam-diam Surti keluar dari rumah melewati pintu belakang. Tak seorang pun melihatnya. Surti berlari sekencang-kencangnya, dengan membawa segumpal rasa kecewa. Hatinya tercabik-cabik. Tak ada cara yang dapat membuatnya tenang selain kabur dari rumah, untuk memuaskan rasa amarah dan kecewanya pada romo yang telah mengingkari janjinya. Surti terus melangkah tak tentu arah.

Sampai di depan sebuah Masjid, langkah Surti terhenti. Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, Surti memasuki Masjid itu. Duduk bersimpuh mengadu kepada Sang Pencipta.

Hingga menjelang senja, saat magrib tiba, Surti belum beranjak dari duduknya. Dia masih larut dengan kesedihan hatinya. Matanya sembab. Tubuhnya lemas. Surti berusaha untuk berdiri, namun kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Kepalanya pening. Dia belum kuat menghadapi cobaan hidupnya. Hampir saja Surti pingsan.

Beruntung ada seseorang yang memasuki Masjid dan membantunya. Lelaki setengah baya itu biasa dipanggil kiai oleh penduduk setempat.

“Surti, kok kamu disini? romo dan ibumu mencarimu, nduk,” katanya heran.

“Surti gak mau pulang, yai. Surti belum mau menikah. Surti masih ingin sekolah,” jawab Surti dengan isak tangis tertahan. Tubuhnya masih terguncang karena perjodohan tersebut.

“Surti, pulanglah, nduk. Kasihan romo dan ibumu sejak tadi mencarimu. Mereka khawatir akan keselamatanmu. Lagi pula ndak baik anak gadis keluar rumah sendirian, Nduk,”

“Surti gak mau pulang, yai. Surti kecewa karena romo mengingkari janjinya. Biarkan Surti tidur disini, yai.” pinta Surti.

“Surti, dengarkan yai, ya nduk. Jalan hidup kita telah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan. Jodoh, rezeki dan kematian hanya Allah yang tahu. Kita tidak dapat menolak ketentuan Allah. Rida Allah tergantung pada rida orang tua, nduk. Mendatangkan keridhaan orang tua dengan cara menuruti keinginan mereka merupakan salah satu bentuk berbakti. Untuk itu berbaktilah pada romo dan ibumu dengan menerima perjodohan mereka. Jangan kecewakan orang tuamu, nduk,”  

Nasehat kiai membuat Surti terbungkam. Hatinya berkecamuk. Dia tidak ingin jadi anak durhaka. Namun dia juga tak ingin cita-citanya kandas.

“Pulanglah, Surti. Ayo, yai antar,” ajak Kiai.

Keduanya berjalan meninggalkan Masjid menuju rumah Surti. Setibanya di rumah, Sariyanti menyambut mereka dengan wajah berbinar.

Sariyanti memandangi wajah putri satunya-satunya itu dengan penuh iba. Matanya masih sembab.

“Surti, sudahlah, nduk. Mungkin ini sudah jalan hidupmu. Tunjukkan baktimu pada romo. Toh setelah menikah kamu masih bisa melanjutkan sekolahmu. Ibu yakin kamu akan bahagia jika menikah dengan Safri. Dia lelaki yang baik. Ibu mengenalnya sejak dia masih kanak-kanak,” urai ibunya.

Surti tidak menyahut. Ia cuma bisa mengangguk. Namun dalam posisinya ia harus menyerah pada kenyataan yang dihadapi.

Perlahan Surti memasuki kamar romonya yang masih tidur pulas. Penyakit diabet yang dideritanya kambuh lagi.

“Mungkin penyakitnya kambuh karena memikirkanku,” gumam Surti.

Harjito terbangun ketika merasa ada yang mengelus-elus tangannya. Dilihatnya Surti duduk di samping tubuhnya.

“Surti, kamu sudah pulang, nduk?” tanya Harjito.

“Iya, romo. Surti minta maaf. Sekarang Surti akan menuruti keinginan romo,” jawab Surti.

“Syukurlah nduk. Safri itu lelaki yang baik, Surti. Romo yakin dia lelaki yang bertanggung jawab,” jelasnya

Dengan berat hati Surti mengangguk. Desakan orang tua yang menginginkan kehidupannya jauh lebih baik, mau tidak mau membuatnya menuruti perjodohan ini.

Dalam jangka yang tidak terlalu lama setelah peristiwa itu, akhirnya Surti menjadi istri Safri. Pernikahan berlangsung sederhana. Tidak ada pesta besar-besaran seperti kebanyakan penduduk desa itu jika menikahkan anaknya. Satu hal yang tak pernah Surti sangka-sangka terjadi. Surti merasa belum siap sepenuhnya menjadi seorang isteri. Surti dituntut menjadi sosok wanita dewasa yang mengerti pekerjaan rumah tangga. Padahal usianya masih relatif muda. Namun semua dia lakukan demi bakti dan cintanya kepada kedua orang tua.

    Surti juga tak menyangka, Safri adalah pelabuhan terakhir hidupnya. Dia harus mengubur dalam-dalam cintanya pada Baskoro, teman sekelasnya.

Bondowoso, 15 Januari 2020

Dianna Ummijathie, S.Pd., lahir di Banyuwangi 20 April 1969. Saat ini mengajar di MI Nurul Hasan Kejawan Grujugan Bondowoso. Penulis tergabung dalam komunitas literasi Media Guru Indonesia tahun 2019. Sejak saat itulah dia memulai hobi barunya yaitu menulis. Tahun 2020, penulis bergabung di komunitas menulis Griya Literasi Bondowoso (GLB).
Buku tunggalnya berjudul Anakku Melatih Kesabaranku (2020), Spektrum Sunyi (2021). Dia juga menulis buku antologi: Guru Petualang (2020), Bangga Menjadi Guru (2020), Keajaiban Takdir (2020), Tasbih di Ujung Sajadah (2020), Samudera dan Laut Biru (2020), Mutiara Cinta Ibu (2020), Kisah Perjuangan Ibu (2020), Guruku Inspirasiku (2020), Secangkir Kopi Rindu (2020), Jejak Literasi 365 (2020).   
Penulis dapat dihubungi melalui email: diannaummijathie@gmail.com, WA: 081233829111




POSTING PILIHAN

Related

Utama 3397193598988479962

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item