Ruang Kelas Yang Luas Dan Terbuka

Salah satu sudut gedung SMA Negeri 4 Sampang

Oleh: Hidayat Raharja

Setiap berada di ruang kelas, kita sering merasa dalam sebuah ruang yang dibatasi tembok dan beberapa jendela untuk sirkulasi udara. Deretan bangku dan kursi yang kaku semua siswa menghadap ke satu arah (papan tulis). Di sudut depan ada meja dan kursi guru dengan ukuran yang cukup tinggi. Ketika saya duduk di salah satu bangku siswa di ruang kelas, saya seperti seorang pesakitan yang tengah belajar dan diawasi seorang sipir yang akan memantau setiap gerak-gerik siswa yang ada di hadapannya. Sepanjang pelajaran berlangsung, saya hanya gelisah dan berharap pembelajaran segera berakhir menunggu dentang bel pergantian jam mengajar. Ruang kelas seperti penjara dan guru laksana sipir yang mengawasi seluruh siswa dalam kelas. Suasana kelas sebagaimana digambarkan Paolo Freire. Kelas yang menakutkan dan semua hanya menunggu bunyi berdentang berganti mata pelajaran atau saat pulang.

Mengelola kelas bagai mempersiapkan sebuah konser musik semua elemen dalam kelas harus berfungsi penguatan pemahaman konsep yang tengah dipelajari. Ini yang dikemukakan oleh Bobbi de Porter (2000) mengenai Quantum Teaching dengan asas “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.” Belajar dengan memanfaatkan pengalaman peserta didik sebagai pintu masuk pada materi pembelajaran, sehingga apa yang dipelajari terkait dengan pengalamannya sehingga secara konstruktif bisa merangkai pengalamannya dengan pengetahuan baru yang dipelajarinya.

Semua berbicara, elemen yang mengisi ruang kelas bisa jadi komponen yang akan saling mendukung dan menguatkan pembelajaran. Semua menjadi berarti bagi pengalaman belajar siswa. Poster, pamflet yang tertempel di dinding kelas bisa menjadi penguat konsep yang tengah dipelajari. Setiap siswa adalah musisi yang turut serta memainkan peran yang telah ditentukan sang guru dirigen yang mengarahkan pertunjukan, sehingga konser menjadi harmoni dan enak dinikmati.

Setiap siswa dengan latar belakang dan keunikannya harus berkembang secara optimal, di sini pembelajaran bukan hanya mentransfer pengetahuan dari guru ke murid, dari subjek ke objek tetapi semua saling memberi, semua saling menerima. Lalu lintas informasi datang dari berbagai arah. Betapa besar peran guru sebagai dirigen yang mengatur irama pembelajaran sehingga semua bersuara, semua bisa saling mengisi sehingga tercipta pembelajaran yang kondusif. Suatu ketika seorang guru mengeluh karena siswanya tidak menerima materi pembelajaran yang diberikan. Materi yang paling dasar diberikan kepada siswa SMA. Mereka tidak bisa memahami materi yang telah disampaikan.

Di waktu yang lain seorang guru menuturkan bahwa, sebenarnya siswa-siswinya tidak ada yang tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kompetensi dasar yang dia berikan, tetapi dia menuntaskannya dengan memberi tugas terhadap kompetensi yang belum dikuasainya. Kenapa siswa selalu tidak benar? Barangkali ini sebuah realitas bahwa ada guru yang melihat seorang dari hasil penilaian kognitif yang dilakukan, apa yang telah diberikannya. Tetapi guru tidak pernah menanyakan apa yang dibutuhkan murid.

.Siswa datang dengan berbagai kemampuan dan latar belakang yang heterogen. Kondisi siswa yang kurang dalam satu hal, pasti memiliki kelebihan di hal yang lain. Maka pengenalan guru terhadap kondisi setiap siswa amat penting sehingga bisa menempatkan peran dalam pembelajaran. Mampukah guru untuk melayani semua kebutuhan siswa yang berbeda? Tentu tidak akan mampu melayani kebutuhan siswa di dalam kelas, karenanya guru perlu memberikan motivasi yang mendorong siswa untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Guru mendampinginya belajar, sehingga dicapai hasil belajar yang optimal.

Suatu ketika puluhan Siswa SMAN 1 Sumenep menghadiri dan mengikuti sidang paripurna di Gedung DPRD Sumenep sebagai bagian dari belajar berdemokrasi melalui mata pelajaran PPKn dengan didampingi beberapa guru. Mereka tengah belajar dan memahami realitas persidangan di gedung dewan sebuah pengalaman berharga dalam hidup mereka. Mereka bukan hanya menghafal teori tetapi belajar ke objeknya secara langsung.

Pengalaman mengajar berada di antara siswa yang kurang beruntung secara ekonomi dengan fasilitas belajar yang sangat terbatas, bukan hal mudah untuk mengajak siswa belajar. Tetapi perlu bersiasat dan mengelola kelas secara luas dan terbuka. Kelas secara luas, adalah ruang belajar yang tidak dibatasi tembok ruangan, tetapi melihat ruang yang lebih luas sebagai ruang belajar. Belajar dengan memanfaatkan luar ruangan sebagai ruang dan atau sumber belajar. Pembelajaran yang lebih longgar dan leluasa untuk melihat sesuatu di sekitar sebagai objek yang dijadikan sebagai materi atau analog terhadap pengetahuan baru yang tengah dipelajari.

Mengajar di sekolah marjinal SMAN 4 Sampang dengan segala keterbatasan fasilitas membutuhkan semangat dan persiapan yang matang. Butuh kesabaran tak berbatas untuk membimbing siswa yang unik dan beragam. Bukan hal mudah membimbing anak-anak yang telah kehilangan motivasi untuk kembali bangkit dan bergairah, membangun masa depan. Ini sangat menarik melihat usaha dan perjuangan para guru berdamai dan bersiasat dengan keterbatasan.

Apa yang dilakukan kawan guru sangat menakjubkan, baik secara persuasif mau pun secara aplikatif. Bagaimana mereka merawat hubungan peserta didik yang jurang semangat belajar datang ke sekolah. Mereka dengan berbagai latar belakang persoalan keluarga yang rumit. Ada guru yang selalu gelisah ketika siswanya tidak hadir di sekolah. Setiap pagi di group kelas yang dibinanya si guru mengumumkan lewat pesan whatsapp, dan tak jarang menyusul siswanya ke rumah. Si guru memainkan peran dan tanggung jawabnya sebagai pengganti orang tua di sekolah.

HP android bagi siswa di sini masih jadi barang mahal. Jika mereka memiliki biasanya digunakan bersama anggota keluarga yang lain. Sehingga pembelajaran daring lebih sering dilakukan dengan memberi tugas lewat Whatsapp dan kemudian dikirimkan kembali, bahkan ada yang kemudian tugas diantar ke rumah guru, karena tidak memiliki paket data untuk mengirim lewat internet.

Di tengah kendornya semangat belajar Bu Pur, guru fisika memberikan tugas resume yang dibuat siswa terhadap suatu konsep atau kompetensi dasar fisika disampaikan melalui aplikasi tiktok. Mereka senang mengerjakannya dan menyampaikan konsep sambil membaca dan menggerakkan tubuhnya. Jalan alternatif untuk menumbuhkan semangat belajar dengan cara yang menyenangkan.

Lain pula guru biologi, dalam suatu tatap muka terbatas di ruang kelas, Bu Yuni membawa beberapa tanaman Ptetidophyta (Paku-pakuan) ke dalam kelas. Struktur tubuh yang lengkap (akar, batang, daun dan sporanya) untuk mempelajari struktur, fungsi dan peranan tumbuhan Pteridohyta. Upaya untuk menjadikan kelas hidup dan belajar jadi interaktif. Jalan lain belajar mengatasi fasilitas belajar di sekolah yang sangat terbatas.

Pada saat pelajaran Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) mengenai pengolahan pasca panen, bu Ifa mengajak siswanya ke kebun mini sekolah untuk menanam benih, menumbuhkan, dan merawatnya hingga tanaman berbuah dan sayur siap dipanen. Mereka bukan hanya belajar menanam, tetapi juga belajar merawat dan memahami makna hidup yang tumbuh. Sebuah proses yang diawali dari biji, berkecambah dan terbentuknya organ akar, batang dan daun serta berinteraksi dengan lingkungannya. Hidup yang berbeda bagi setiap individu. Perbedaan-perbedaan pasti ada, tumbuh bersama, bukan saling meniadakan tetapi saling memberi sehingga hidup jadi berseri. Untuk sampai tanaman berbuah, butuh waktu dan perawatan yang sungguh.

Ada pula yang mengajak murid ke luar dari kelas untuk belajar di situs sejarah lokal sebagai sumber pengetahuan. Mereka sadar ruang kelas begitu luas tidak dibatasi tembok yang kaku. Kelas yang meluas ke tengah kampung dan aktivitas masyarakat. Kelas yang memanfaatkan sesuatu di sekitar sebagai sumber atau media belajar. Pembelajaran luar kelas dengan metode discovery learning mengajak siswa menelusuri hubungan antara Rato Ebhu dengan perkembangan agama Islam di Madura. Sebuah kesadaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan memberikan pembelajaran secara kontekstual.

Kelas luas dan terbuka. Luas karena tanpa dibatasi tembok ruangan sehingga leluasa memilih dan menentukan cara belajar. Memanfaatkan lingkungan di sekitar sekolah untuk bahan atau sumber belajar, sehingga ruangan kelas jadi ruang belajar yang kondusif. Siswa merasa senang dan antusias untuk belajar. Menghubungkan hal yang dipelajari dengan konteks kenyataan di masyarakat menjadikan pembelajaran kontekstual dan bermakna bagi siswa. Penggunaan teknologi dan beberapa aplikasi merupakan adaptasi terhadap perubahan dan mendekatkan diri dengan murid.

Ketika murid yang menemukan konsep dan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapkan merupakan kebahagiaan tersendiri dan akan menjadi pengalaman belajar yang akan selalu diingat karena terekam dalam memori otak dengan baik. Tidak ada murid yang bodoh, hanya mereka membutuhkan waktu yang lebih lama. Kelas bagi mereka adalah ruang untuk menimba pengetahuan dengan rasa senang hati, bukan tempat yang menakutkan dan penuh intimidasi.

Betapa luas ruang kelas kita, materi pelajaran dalam kehidupan yang bisa kita ambil bukan sekadar kurikulum dalam buku.

*Hidayat Raharja, Guru yang diberi tugas mengelola SMA Negeri 4 Sampang.

Catatan: Tulisan ini terbit di Jawa Pos Radar  Madura, Sabtu  14 Agustus 2021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1737956650796843754

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item