Merenda Kenangan

Cerpen: Indah Khalid

Sumber Anyar masih menyimpan setumpuk kenangan, meski waktu hampir melampaui batas usia. Masih terasa di benak, antara lembaran Fathul Qorib dan Bulughul Marom yang sampulnya sudah memudar. Catatan kecil berbahasa Madura dengan tulisan Arab penuh sesak pada tiap helai kitab, namun maknanya masih bisa terbaca dengan jelas.

Bayangan masa itu, masa kehidupan di pesantren masih saja berduyun-duyun memenuhi ruang pikirku. Pikiran ini terasa mengembalikan ingatan saat-saat para santri berbondong-bondong ingin mewujudkan mimpinya untuk meraih keberkahan ilmu agama dari kiai dan ustadz yang dengan ikhlas selalu menyodorkan harapan itu.

Dhālem utama, yakni rumah kediaman kiai pondok pesantren itu, dengan teras sangat luas. Diantara ruang terdapat deret bale-bale bambu memanjang untuk para tamu maupun wali santri yang sedang nyabis (berkunjung).

Di dekat pintu yang menghubungkan dapur dhālem dengan ruang keluarga, terdapat dua kursi rotan hampir lapuk yang biasa digunakan  bu nyai atau ning untuk menerima tetamu, juga untuk nyemak santri selepas sholat Dhuha. Di halaman yang juga luas tumbuh pohon belimbing dan pohon sawo, bagian sisi luarnya dikelilingi tembok tinggi yang terhubung dengan pintu utama sebelah timur.

Aku mondok ke pesantren ini saat lulus sekolah dasar, atas kemauan sendiri dan melalui drama penolakan orang tua. Bukan karena mereka tidak ingin aku belajar di pesantren, dalam keluarga besar kami mondok itu seperti warisan tradisi. Baik dari keluarga bapak maupun ibu semuanya pernah menikmati hidup di pesantren, hanya saja mereka heran saat aku memilih pesantren sendiri. Sedang bapak ingin aku mondok di pesantren  yang ia pernah nyantri dahulu, tetapi pada akhirnya pilihanku tidak bisa ditawar.

Sebagai anak perempuan tunggal, aku paham mereka tak ingin terlalu berjauhan denganku. Mereka pun paham bahwa aku punya kemauan keras.

“Ya, sudah. Asalkan kamu benar-benar bertanggung jawab atas pilihan mu sendiri,” ujar bapak menyerahkan keputusannya padaku.

Hanya itu saja yang bapak ucapkan saat hendak melepasku ke pondok pesantren.

Selama menjalani hari-hari sebagai santri baru, tidak ada kendala bagiku untuk surut atau gelisan di tempat yang baru ini. Sungguh tak pernah sekali pun aku merasa tidak betah, ingin pulang, bosan dan perasaan lain yang biasa mendera santri baru.

Aku pernah menyaksikan seorang santriwati baru, yang menempati kamar sebelah tampak ia menangis sejadi-jadinya. Tampaknya ia belum siap menghadapi hidup tanpa didampingin orang tua atau keluarganya. Atau mungkin ia berangkat ke pendok ini lantaran dipaksa atau terpaksa karena keluarga. Entah.

Meski demikian, pengasuh mencoba meredakan suasa itu, yang biasa dan diyakini sebagai penawar dan meredakan ketika diberi minum yang diambil langsung dari kamar mandi bu nyai

Di kamar yang tanpa alas apa pun, aku tidur dengan sembilan santriwati lain dari berbagai daerah. Kamar tengah di bagian barat yang lokasinya berdekatan dengan dapur. Lemari pakaian kami berderet rapi, di atas lemari ada sebuah keranjang kecil tempat menyusun kitab masing-masing kami.

Aku beradaptasi dengan baik menurut ku, tidak butuh waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di pesantren.

Secara akademik aku tidak menguasai salah satu bidang ilmu tertentu, baik di sekolah ataupun di pesantren.

Bangun jam tiga sebelum subuh untuk tahajjud, lalu tadarusan sembari menunggu subuh. Selepas subuh berjamaah mengaji sampai waktu duha, selesai duha masak ala kadarnya lalu bersiap untuk ngaos ke Bu nyai sebelum pergi sekolah. Aku bahkan tak pernah membayangkan bisa sebegitu mandiri tapi itulah yang ku lakukan di pondok. Bangun tidur sampai tidur lagi, belajar, mengaji dan mengurus diri sendiri.

Di kelas satu madrasah Tsanawiyah, aku berteman dekat dengan putri Bu nyai. Namanya Ning Hisbah. Dia pintar tidak hanya di bidang ilmu keagamaan saja, dia pintar ilmu eksak juga budaya. Tidak seperti kebanyakan Ning yang ku kenal, dia begitu open mind, tidak eksklusif. Ku pikir Ning itu hanya mau belajar ilmu agama saja, tapi dia mematahkan pemikiran ku.

“Ini gimana, sih, kok aku ga ngerti yang Continuous Tenses ini”.

Ning Hisbah bertanya padaku saat aku tengah mengulang hafalan nadhom Alfiyah di kamar.

 “Present Continuous ini menjelaskan tentang kejadian yang sedang berlangsung. Pake rumus subjek + to be (am, is, are) + kata kerja + ing. Gampangnya, sih, tinggal nambahin ‘ing’ aja setelah kata kerja”, jelasku.

Begitulah kami belajar bersama tanpa rasa canggung sama sekali.

Tahun kedua di pesantren, artinya aku telah berada di kelas dua Madrasah Tsanawiyah. Di kelas yang seluruhnya perempuan dan sebagian adalah Ning, mereka semua pintar dan rajin, belajar dengan sungguh-sungguh. Jarang bolos dan selalu serius menyimak penjelasan guru.

Aku masih datar saja. Tidak ada semangat bersaing tapi aku mulai menyukai sesuatu, sastra. Pelajaran bahasa dan sastra jadi penyemangat ku. Tak dinyana ternyata aku unggul dalam pelajaran bahasa Inggris.

Aku mulai terkenal di sekolah sebagai si jago bahasa Inggris. Di internal yayasan aku beberapa kali menjuarai lomba bahasa Inggris. Mulai dari pidato dan puisi. Barangkali itu jadi pertimbangan pihak yayasan selalu memilih ku mewakili sekolah pada event – event di luar lingkungan pesantren.

Seiring waktu kecintaan terhadap sastra menumbuh suburkan minat baca ku. Aku jadi rajin beli majalah dan tabloid secara diam-diam.

Di pondok tidak ada yang boleh membaca novel meskipun islami, pengetahuan tentang literasi ku jauh di bawah minim. Bacaan kami sehari – hari kitab gundul. Bahkan perpustakaan sekolah isinya hanya buku pelajaran saja. Sesekali aku mencuri waktu baca majalah atau tabloid di kelas. Beruntungnya Ning Hisbah juga ternyata menyukai sastra. Setidaknya dia tidak akan melapor saat melihat ku membaca majalah.

Kami punya 1 buku yang diisi karya bersama, dia menulis puisi pada lembaran sebelumnya dan aku pun menulis di lembaran selanjutnya. Kami sungguh dekat, padahal aku adalah santrinya. Saat jam belajar malam sering kali dia menghampiri kamarku tanpa rasa gengsi.

 Aku sekelas dengan nya dari kelas satu, di Tsanawiyah dan Diniyah. Sehingga pagi sore sampai malam waktu mengaji kitab pun kami selalu bersama.

“Hayooo, lagi nulis surat buat siapa?”, tanya Ning Hisbah tiba – tiba mengagetkanku yang sedang asyik nulis.

“Buat bhindere, Ning”, jawabku asal.

“Hah??? Serius??? Awas ketahuan pengurus, loh”, ucapnya dengan ekspresi kaget.

Padahal aku hanya iseng menulis lirik lagu.

Di kelas dua saat prestasi ku mulai diperhitungkan, aku jadi lalai.

Uang yang biasanya cukup selalu terasa kurang karena aku rajin beli tabloid mingguan, aku masih harus menyisihkan sedikit untuk membeli majalah bulanan. Bapak pernah menasehati ku saat tahu kebiasaan ‘jajanku’. Aku sedikit pias, takut karena telah mengecewakan Bapak dengan banyak melanggar aturan pesantren, tapi Bapak malah menutupinya dengan senyum lembut.

“Ngajinya yang bener, ya. Bapak tidak melarang mu menyukai apapun yang jadi minatmu. Tapi di sini kamu bukan anak Bapak, kamu santri dan kewajiban mu ngaji sungguh-sungguh agar mendapatkan barokah atas baktimu pada pesantren”.

Nasehat Bapak benar – benar membuatku tak berkutik. Semua perkataan nya adalah benar dan aku sadar betul dengan kesalahan ku.

Aku mulai amburadul. Rasa ingin tahu tentang banyak hal di luar sana seolah meracuniku untuk pulang ke rumah, sekolah di rumah.

“Aku ikut kelas menari dan di sekolah aku aktif di ekskul kesenian, gt”. Cerita Fara. Tetangga sekaligus teman masa kecilku.

Aku ingat betul bagaimana dia dengan fasihnya menirukan gerakan Anjeli kecil di film Kuch Kuch Hota Hai.

“Hebat kamu, Far”.

Hanya itu kata yang ku ucapkan pada Fara, sungguh ceritanya semakin membius pertahanan ku.

Tak terhitung sudah berapa kali aku lari dari kelas. Kadang ijin pura – pura sakit perut, kadang nyelonong diam – diam saat jam istirahat langsung pulang ke pondok, kadang hanya sembunyi di belakang kelas karena takut ketahuan keamanan kalau pulang ke pondok saat jam sekolah.

Semalas dan sebosan apa pun di pondok, aku tidak berani bolos ngaji kitab. Bagaimanapun kuatnya kantuk menarik – narik kelopak mata selepas jamaah Isya’ tetap harus ngaji sampai jam sembilan malam dan setelah itu masih ngaji lagi ke kiyai. Kami para santri ngaji di aula yang lokasinya di antara pondok putra dan pondok putri, persis di hadapan teras ndalem depan, tempat kiyai menjamu tamu laki – laki.

Di tengah aula itu ada tabir penyekat santri putra dan santri putri sehingga tidak saling berhadapan.

Tempat duduk faforit ku ketika ngaji pasti selalu yang strategis versi pemalas. Paling ujung, paling belakang, dekat tembok dan tidak mudah kelihatan.

Kadang kala aku hanya membawa sampul kitab saja, di dalamnya buku tulis dan jadilah aku menulis apa saja yang sedang ingin dituangkan.

“Mbak Inayah faham dengan penjelasan saya?”.

Suara yang tidak asing di ujung pintu aula mengagetkanku. Suara yang rendah terdengar tegas dengan aksen Madura halus khas pesantren. Kiyai Abdul Bari, menantu pertama Almarhum kiyai Muzammil.

Aku merasa sial dengan pertanyaan seperti itu karena sudah bisa dipastikan pertanyaan lainnya akan menyusul.

Beruntungnya aku masih menyimak penjelasan beliau, walau di balik sampul kitab Fathul Bari yang ku pegang sebenarnya adalah buku tulis biasa.

“Bak Inayah tolong bantu jelaskan supaya santri putra yang ngantuk ini bisa mudah memahami”, dawuhnya melanjutkan.

Aku menunduk sedikit menurunkan kitab yang sebenarnya adalah buku.

“Menurut penjelasan di dalam kitab bahwa disunnahkan berwudhu sebelum tidur, orang yang sedang junub apabila belum mampu mandi sebelum tidur dianjurkan juga untuk berwudhu tetapi tidak atas orang yang sedang haid karena tidak menghilangkan hadast, sementara atas orang junub itu adalah takhfif atau dianjurkan”.

Aku berusaha menirukan penjelasan yang disampaikan Kiyai sebelumnya.

Entah kenapa bindhere yang menurut kiyai ngantuk itu serasa jadi penolongku, aku hanya diminta menjelaskan bukan membaca kitab. Aku pasti mati kutu sebab yang ku pegang hanya sampulnya saja.

Kata orang memang pada saat tahun kedua di pondok rasa bosan dan malas mulai menyerang, ia bisa menjelma apa saja. Bisa berupa tidak kerasan dan selalu ingin pulang, atau rasa penasaran dengan dunia luar karena kehidupan pesantren yang sudah mulai terasa monoton.

Penasaran bagaimana rasanya berangkat sekolah sarapan sudah tersedia di meja makan. Pulang sekolah makan siang pun sudah siap santap. Nonton tayangan TV faforit sesukanya, jalan – jalan ke mana saja hati berkehendak.

Belajar kelompok sambil ngemil tanpa risau setoran nadhom. Ah, betapa naif diri ini.

Di pondok rutinitas itu – itu saja tanpa penghiburan belum lagi masih harus menimbun rindu pada orang tua.

Oh, iya. Orang tua. Bapak dan Ibu di rumah. Senyum mereka ketika menyambangi ku tiap dua minggu sekali perlahan melalap habis rasa bosan yg baru saja hinggap, bukan, yang baru saja ku sadari.

Meskipun diri jenuh tapi di dalam pikiran ada benteng pertahanan yang susah dihancurkan, orang tua. Apa yang akan ku sampaikan pada mereka nantinya? Apakah aku akan merengek minta dipamitkan boyongan? Mereka mungkin tidak akan menolak. Tetapi, apa aku selemah itu untuk tidak bertanggungjawab pada pilihan sendiri? Tidak. Aku harus bisa melawan ego dalam diri.

Setelah satu per satu lembaran kitab ku buka, menyelam pada seluruh waktu empat belas tahun yang silam.

Dan mata ku tertuju pada sebuah buku tanpa sampul, sudah lusuh berubah warna kecoklatan penuh debu. Ku baca tiap tulisan berbeda dari tangan ku juga tangan nya, tulisan tangan sahabat sekaligus guru, Ning Hisbah.

Kenangan yang pernah ku lalui tentang bagaimana karakter ditempa dengan sangat baik di pondok, juga tentang rasa bosan dan jenuh di pondok lalu sangat ingin mencicipi kehidupan masa puber di luar pesantren. Sungguh semua itu kini jadi hal paling manis yang rasanya ingin diulang sebelum sesal.

Kurapikan kembali kitab ke tempat semula.

Sementara buku lusuh yang berisi catatan antara aku dan Ning Hisbah terus ku baca sampai lembar terakhir.

“Assalamualaikum, masih menjadi awal dari tiap tawa yang menangis dan dari tiap airmata yang lepas berderai.
Kamu di mana? Aku sudah benar-benar tak punya bahasa yang mampu mencurahkan rindu menumpuk ini.
Aku bahkan tak mengerti selain bahasa tentang kerinduan ku padamu. Di mana pun, kamu pasti juga rindu. Entah pada bawel ku, pada bintang – bintang kita. Aku bahkan rindu saat mengulang – ulang hafalan sambil menikmati kerupuk petis Nyi Biya dan rujak blungkak Nyi Jamilah.
Sungguh kini ceritaku bukan lagi tentang Pak Roni, guru bahasa Inggris kita. Bukan tentang Nahwu yang ingin ku tanyakan, juga bukan tentang bhindere dan lora yang diidolakan banyak bhinderi. Bukan semua itu. Aku hanya ingin berbicara tentang rindu. Rindu kebersamaan kita, rindu semua hal di pondok. Itu saja.
Kita harus secepatnya bertemu membereskan rindu yang berantakan ini”

Sahabat mu,

***

Indach Khalid, Ibu dua anak yang pada Desember nanti berusia 32 tahun, memiliki hobi Suka menulis sejak di bangku MTs. Hampir tidak punya kesibukan selain mengasuh dua Puteri dan mengolah rasa, baik lewat masakan juga oretan. Selain menulis setahun terakhir mulai jatuh cinta pada fotografi. Mari berteman @indaach_.


 



POSTING PILIHAN

Related

Utama 6031521972022041549

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item