Yang Memengaruhi Apresiasi Sastra

Seusai peluncuran buku puisi "Perempaun Laut" Djoko Saryono   Sudah diungkapkan sebelumnya bahwa proses keberlangsungan apresiasi ...

Seusai peluncuran buku puisi "Perempaun Laut"

Djoko Saryono
 
Sudah diungkapkan sebelumnya bahwa proses keberlangsungan apresiasi sastra dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu karya sastra dan pengapresiasi sastra. Bagaimanapun dalam batas-batas tertentu karakteristik karya sastra memengaruhi proses berlangsungnya apresiasi sastra. Napas atau paham dalam karya sastra (misalnya, eksistensialisme, pantheisme, romantisme, ekspresionisme, psikologisme, dan pascamodernisme), penceritaan (misalnya, waktu cerita, teknik montase, kolase, dan asosiasi), struktur dan atau tekstur karya sastra (misalnya, cerita yang struktural dan cerita yang tekstural), sudut pandang dan fokus pengisahan (misalnya, sudut pandangan fisikal, mental, pribadi, dan sosial), penokohan dalam karya sastra (misalnya, akuan dan diaan), bentuk dan jenis karya sastra (misalnya, puisi, prosa, dan sastra-dramatik), lambang-lambang dalam karya sastra, ikonisitas dan rima dalam karya sastra, dan lain-lain merupakan unsur-unsur karya sastra yang ikut menentukan proses keberlangsungan apresiasi sastra. Dengan demikian, perbedaan karakteristik karya-karya seperti Pada Sebuah Kapal (N.H. Dini), Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer), Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), Stasiun (Putu Wijaya), Berhala (Danarto), Rafilus (Budi Darma), dan Grotta Azzura (St. Takdir Alisjahbana) menentukan perbedaan kecenderungan mekanisme beserta varian-variannya proses keberlangsungan apresiasi sastra.

Untuk memperjelas pernyataan tersebut di atas perhatikanlah contoh berikut ini. Laila Kinanti dan Nabila Kinasih hendak mengapresiasi dua macam karya sastra, yaitu Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Emha Ainun Najib) dan Berhala (Danarto). Katakanlah Seribu Masjid Satu Jumlahnya berbentuk puisi liris, bernapas sufistis, kuat ikonisitas dan rimanya, lambang-lambang yang dipakai sarat dengan idiom-idiom Islam dan islami, sedangkan Berhala berbentuk cerpen, bernapas sufistis-pantheistis, struktural, dan lambang-lambang yang terdapat di dalamnya khas pantheistis. Kedua karya tersebut memiliki matra sosial demikian kuat. Dalam mengapresiasi kedua karya sastra tersebut, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih pasti menjalani dan mengalami proses yang berbeda. Demikian juga mereka akan menjalani dan mengalami proses yang berbeda ketika mencoba mengapresiasi-banding Seribu Masjid Satu Jumlahnya dan Berhala, misalnya dibandingkan dengan O, Amuk, dan Kapak (Sutardji Calzoum Bachri) dan Sanu, Infinita Kembar (Motinggo Busye). Hal ini terjadi sebagiannya disebabkan oleh perbedaan-perbedaan yang inheren ada pada kedua karya sastra tersebut. Dengan demikian, jelas bahwa karya sastra yang diapresiasi memiliki sumbangsih dalam membedakan kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra beserta varian-variannya.

Di samping itu, kadar dan mutu kemauan, kesudian, ketotalan, kekhusukan, kesungguhan, kepedulian, kepekaan, dan ketajaman serta keterlibatan diri (kadar dan mutu segala aspek intuitif dan afektif) pengapresiasi juga memengaruhi kecenderungan mekanisme dan menentukan varian-varian kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra. Perbedaan kadar dan mutu hal-hal tersebut dapat dipastikan membedakan kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra. Sebagai contoh, dalam mengapresiasi Seribu Masjid Satu Jumlahnya dan Berhala, antara Laila Kinanti dan Nabila Kinasih terdapat perbedaan kadar dan mutu kemauan, kesudian, ketotalan, kekhusukan, kesungguhan, kepedulian, kepekaan, ketajaman, dan keterlibatan diri. Katakanlah Laila Kinanti memiliki kadar dan mutu yang lebih baik daripada Nabila Kinasih. Perbedaan ini jelas akan memengaruhi proses berlangsungnya apresiasi Seribu Masjid Satu Jumlahnya dan Berhala meskipun hal-hal tersebut bukan satu-satunya yang menentukan perbedaan. Hal-hal tersebut dapat dikatakan ikut memberikan urunan perbedaan.

Pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh pengapresiasi sastra juga ikut memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi sastra. Kekayaan, keanekaragaman, kedalaman, dan keluasan serta kebermaknaan pengapresiasi akan membedakan kecenderungan mekanisme dan varian kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi. Pengalaman-pengalaman yang dimaksud di sini bermacam-macam, antara lain sebagai berikut.

Pertama, pengalaman menggauli dan membaca karya sastra. Bagaimanakah pengalaman pengapresiasi menggauli dan membaca karya sastra? Apakah pengapresiasi memiliki kekayaan, keanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman dalam menggauli dan membaca karya sastra? Kaya tidaknya, aneka ragam tidaknya, dalam tidaknya, luas tidaknya, dan bermakna tidaknya pengalaman menggauli dan membaca karya sastra ini jelas membedakan kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi kumpulan cerpen Adam Ma’rifat (Danarto). Kedua orang ini memiliki pengalaman menggauli dan membaca karya sastra yang berbeda. Laila Kinanti biasa membaca karya-karya sufi, misalnya Musyawarah Burung (Fariduddin Attar), Rubaiyat (Omar Kayyam), Asrari Khudi (Mohammad Iqbal), Gurindam 12 (Hamzah Fansuri), dan Serat Wirid Hidayat Jati (Ranggawarsita) sehingga pengalamannya menggauli dan membaca karya-karya sufistis demikian kaya, beraneka, dalam, luas, dan bermakna. Sementara itu, Nabila Kinasih tidak biasa, karena memang tidak menyukai, menggauli dan membaca karya-karya sufi. Dia lebih suka menggauli dan menggumuli karya-karya filosofis, misalnya Pintu Tertutup (Sartre), La Peste (Camus), Ziarah dan Kering (Iwan Simatupang) sehingga pengalamannya menggauli dan membaca karya filosofis demikian kaya, beraneka, dalam, luas, dan bermakna. Karena perbedaan pengalaman ini, kecenderungan mekanisme proses mengapresiasi Adam Ma’rifat berbeda antara Laila Kinanti dan Nabila Kinasih.

Kedua, pengalaman mengikuti kegiatan-kegiatan kesastraan. Bagaimanakah pengalaman pengapresiasi mengikuti kegiatan-kegiatan kesastraan? Apakah pengapresiasi intensif, sungguh-sungguh dan benar-benar serta ajek mengikuti kegiatan-kegiatan kesastraan yang ada? Keintensifan, kesungguh-sungguhan, kebenar-benaran, dan keajekan mengikuti diskusi sastra, sarasehan sastra, pembacaan (pelisanan) sastra, pameran sastra, dan sejenisnya akan membedakan kecenderungan mekanisme proses berlangsungnya apresiasi sastra di antara pengapresiasi. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi Salah Asuhan (Abdul Muis). Kegiatan-kegiatan kesastraan, misalnya diskusi sastra, sarasehan sastra, pembacaan sastra, pameran sastra, dan dialog bersama sastrawan diikuti oleh Nabila Kinasih secara ajek, tekun, rajin, intensif, sungguh-sungguh, dan benar-benar. Dalam pada itu, kegiatan-kegiatan sebagai tersebut jarang diikuti oleh Laila Kinanti. Karena itu, mekanisme proses keberlangsungan apresiasi Salah Asuhan berbeda antara Laila Kinanti dan Nabila Kinasih; Nabila Kinasih tentulah mampu menceritakan dan memaparkan perolehannya lebih banyak dan lebih baik dibandingkan Laila Kinanti.

Ketiga, pengalaman sosial budaya. Bagaimanakah pengalaman sosial budaya pengapresiasi? Apakah dia memiliki kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, dan keluasan serta kebermaknaan pengalaman sosial budaya? Kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman sosial budaya seperti bergumul dengan kelompok miskin, bergaul dengan kaum tersisih dan para remaja, hidup bersama dengan kelompok masyarakat tertentu atau budaya tertentu, berlibat dalam kegiatan-kegiatan kelompok intelektual, dan sebagainya akan membedakan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi pada pengapresiasi yang satu dan pada pengapresiasi yang lain. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi Godlob (Danarto). 
 
Nabila Kinasih memiliki pengalaman pernah hidup bersama kelompok kejawen, pernah hidup di lingkungan kaum sufi, sering berbincang dengan pengikut-pengikut tarekat, dan pernah melakukan partisipatory action research masyarakat pengikut ajaran kejawen, sedangkan Laila Kinanti tidak memiliki pengalaman seperti itu sama sekali. Godlob yang diduga bernapaskan sufisme bercampur kejawen tentu akan diapresiasi secara berbeda oleh kedua orang tersebut; kedua orang tersebut tentu melakukan proses berbeda dalam apresiasi. Nabila Kinasih tentu akan lebih mampu menjiwai dan menghayati secara emotif dan afektif cerita dalam Godlob dibandingkan dengan Laila Kinanti; Laila Kinanti mungkin hanya mampu memahami secara kognitif dan intelektual.

Keempat, pengalaman sosial politis. Bagaimanakah pengalaman sosial politis pengapresiasi? Apakah pengapresiasi memiliki kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman sosial politis? Kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan berhubungan dengan orang-orang cacat politis, mengikuti demonstrasi dan protes, mewawancarai dan bersahabat dengan koruptor atau narapidana, mengikuti si dang dan rapat kekuatan sosial politis, dan sebagainya akan membedakan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra pada pengapresiasi yang satu dan pada pengapresiasi yang lain. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi Panembahan Reso (W.S.Rendra). Dibandingkan Laila Kinanti, Nabila Kinasih memiliki pengalaman lebih kaya, beraneka, dalam, dan luas dalam mengikuti kegiatan-kegiatan sosial politis seperti tersebut di atas; Nabila Kinasih lebih dekat dan akrab dengan kegiatan sosial politis. Panembahan Reso yang disarati oleh fenomena-fenomena sosial politis pasti diapresiasi secara berbeda oleh Laila Kinanti dan Nabila Kinasih. Nabila Kinasih akan lebih mampu menjiwai dan menghayati cerita daripada Laila Kinanti.

Kelima, pengalaman filosofis, etis, dan moral. Bagaimanakah pengalaman filosofis, etis, dan moral pengapresiasi? Apakah pengalaman filosofis, etis, dan moral pengapresiasi kaya, beraneka, dalam dan luas serta bermakna? Kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan melakukan perenungan, katasis, kontemplasi, introversi, menyantuni kaum miskin, berbuat baik kepada sesama, menolong orang dari kesusahan, dan sebagainya akan membedakan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi pada pengapresiasi yang satu dan pada pengapresiasi yang lain. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi Ziarah (Iwan Simatupang). Dibandingkan dengan Nabila Kinasih, Laila Kinanti lebih sering melakukan perenungan tentang hakikat hidup dan kehidupan, jalan hidup yang semestinya, kematian, kesusahan, dan sejenisnya. Mekanisme proses keberlangsungan apresiasi Panembahan Reso pastilah berbeda antara Laila Kinanti dan Nabila Kinasih sebab Laila Kinanti jelas lebih mampu menjiwai dan menghayati secara emotif dan afektif daripada Nabila Kinasih.

Keenam, pengalaman religius-sufistis-profetis. Bagaimanakah pengalaman religius-sufistis-profetis pengapresiasi? Perbedaan kekayaan, keberanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman berdoa, mengingat Tuhan, bertafakur, mendoakan orang lain agar diberi kekuatan, menolong orang lain dari kesusahan, dan sebagainya akan membedakan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra pada pengapresiasi yang satu dan pada pengapresiasi yang lain. Sebagai contoh, Laila Kinanti dan Nabila Kinasih mencoba mengapresiasi novel Perjalanan ke Akherat (Djamil Suherman). Dibandingkan dengan Nabila Kinasih, Laila Kinanti lebih memiliki pengalaman membantu anak-anak kecil mendaras Al-Quran di surau, mengikuti acara-acara pengajian dan ceramah agama, membantu kegiatan-kegiatan keagamaan, dan bershalat jamaah di surau sehingga pengalamannya lebih kaya, dalam, dan luas serta bermakna dibandingkan Nabila Kinasih. Karena perbedaan pengalaman ini tentu mekanisme proses keberlangsungan apresiasi Perjalanan ke Akherat yang dilalui, dijalani, dan ditempuh oleh Laila Kinanti dan Maulana Ikram.

Di samping pengalaman-pengalaman tersebut di atas, tentu saja masih ada pengalaman-pengalaman lain, yang tidak perlu dan tidak mungkin dipaparkan di sini. Keenam pengalaman tersebut sekadar contoh pengalaman yang ikut memengaruhi mekanisme keberlangsungan apresiasi sastra. Dari paparan keenam pengalaman tersebut kiranya menjadi jelas bagaimana kekayaan, keanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman memengaruhi kecenderungan mekanisme keberlangsungan apresiasi sastra beserta varian-variannya. Semakin renik dan detail perbedaan kekayaan, keanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman para pengapresiasi akan semakin besar menimbulkan perbedaan kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra beserta varian-variannya. Perbedaan keenam pengalaman tersebut dalam diri dua pengapresiasi saja sudah pasti menimbulkan perbedaan besar pada mekanisme proses keberlangsungan apresiasi karya sastra tertentu. 

Misalkan, Laila Kinanti dan Rindang Kasih mengapresiasi Adam Ma’rifat, Godlob, dan Berhala. Kedua orang ini memiliki pengalaman berbeda. Laila Kinanti sudah terbiasa membaca karya sastra bernapas sufisme-pantheistis, sering mengikuti diskusi dan sarasehan sastra sufistis-pantheistis, pernah mewawancarai orang yang menjalani hidup sufi, dan pernah hidup bersama dengan sekelompok orang yang menjalankan hidup sufistis sehingga memiliki kekayaan, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengalaman tentang hal-hal tersebut. 
 
Sebaliknya, Rindang Kasih belum ter biasa membaca karya sastra terutama karya sufistis-pantheistis, kurang berminat mengikuti diskusi dan sarasehan sastra, tidak pernah berdialog dengan orang yang menjalani hidup sufi, dan tak pernah hidup bersama dengan kelompok orang yang menjalankan ajaran sufi tertentu sehingga pengalamannya tak sekaya, sedalam, seluas, dan sebermakna Laila Kinanti. Perbedaan ini jelas membedakan cara melakukan apresiasi apresiasi Adam Ma’rifat, Godlob, dan Berhala yang memang karya sufistis dan ini berarti membedakan mekanisme keberlangsungan apresiasi sastra.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4940126093195965843

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item