Antara Dua Pilihan


Cerpen:  Riskiyati

Sabtu ini, seperti biasa semua siswa, guru dan staf tenaga kependidikan lainnya sudah pulang semua. Dan aku sengaja pulang agak terlambat setelah memebri tahu  pada pak Sunaryo, penjaga sekolah, kalau akan pulang sekitar jam satu siang.

 Sudah lama aku menjadi tenaga pengajar di SD Mekar Asri ini. meski sebagai tenaga guru honorer. Bagiku tidaklah mengurangi rasa baktiku untuk berjuang memajukan pendidikan di desa tempatku dilahirkan. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun bagiku serasa masih kurang. Terlalu banyak kenangan yang kurasakan selama ini. Murid-murid dengan latar belakang kehidupan berbeda, juga teman guru yang hadir dengan karakter berbeda seakan kembali menyeruak dalam bayanganku, belum lagi keindahan alam sekitar sekolah yang tidak bisa kulukiskan lewat kata-kata.

 “Pak Iksan belum pulang ya? kayaknya masih betah di sekolah,” suara pak Sunaryo memecah keheningan.

 “Iya Pak, maaf lho, saya keasyikan lihat kupu-kupu sedang mengitari bunga-bunga yang indah,” aku berbohong, padahal sebenarnya merasa sedih meninggalkan tempat dimana aku mengajar, bersenda gurau penuh suka dan duka dalam kurun yang tidak sedikit.

 “Kalau begitu, biarlah saya pamit duluan Pak, belum sholat dhuhur,” ujar pak Sunaryo. “Nanti kalau Bapak mau pulang, tolong kuncikan pintu kantor dan pintu pagar sekolah ya?” tambahnya.

 “Iya pak Naryo. Terima kasih, sudah menemani  dari tadi,” jawabku.
Ucapan pak Sunaryo tadi seakan mengingatkanku untuk segera pulang dan sholat dhuhur di rumah. Dengan langkah sedikit tergesa-gesa aku pacu sepeda motorku, agar cepat sampai di rumah.

“Ikhsan, ibu akan merasa kesepian di sini kalau kamu bertugas ke kepulauan nanti,” kata ibuku penuh kecemasan.

 “Ibu, jangan terlalu memikirkan ikhsan, bukankah ada kak Aida beserta keluarganya, yang menemani dan menjaga ibu?,” sahutnya meyakinkannya.

 “Ibu paham dan ikhlas kok, semua ini demi masa depanmu. Sungguh,” ujar ibu lembut dan perhatian.

 Semenjak kepergian bapak dua tahun silam, rumah ini hanya ditinggali aku, ibu, kak Aida beserta suami dan anak-anaknya. Adalah wajar jika ibu menginginkan anaknya kelak mendapat pasangan hidup yang masih berasal satu desa. Peninggalan bapak berupa rumah dan lahan pertanian, dianggap cukup untuk ditempati keluargaku kelak jika sudah menikah. Apalagi kedua orang tuaku dulu, masih ada ikatan famili.  

Senin 31 Maret adalah hari keberangkatanku menuju ke tempat kerja baru sesuai dengan SK pengangkatan. Kusempatkan mampir ke sekolah asal, di mana aku menjadi guru honorer. Banyak guru dan tenaga pendidikan lainnya merasa sedih dengan perpisahan ini, terlebih murid asuhanku yang selama ini sudah sangat akrab dan menganggapku sahabat. Tidak dapat kulukiskan betapa sedih diriku, meninggalkan mereka.

 “Selamat jalan pak Ikhsan, jangan pernah lupakan kami ya?,”. para guru hampir serentak memberi ucapan tersebut.

 “Jangan lupa, pulangnya membawa calon pak,” celetuk Pak Sudiro, kepala sekolahku menambahkan.

 “Iya, kami menunggu undangan resepsinya lo,” timpal bu Shinta, guru SBK yang paling cantik, supel dan masih single.

 “Eh, iya.. bapak dan ibu, mohon doanya ya,” cuma itu yang dapat aku sampaikan pada rekan-rekan guru.

 Kini tibalah saatnya aku meninggalkan sekolah yang penuh kenangan ini. Satu persatu anak didikku menyalami, meski tanpa kata, mata mereka berkaca-kaca mengisyaratkan kesedihan mendalam. Tak terkecuali teman sekantor juga menyalami dan memberi doa atas keberangkatanku.

 Sesuai dengan SK CPNS, aku diangkat menjadi guru di sebuah pulau yang masih satu kabupaten dengan tempat kelahiranku. Tidak pernah terbayang di benakku jika suatu hari nanti, aku bakal di tempatkan di pulau itu. Masih belum familiar di telingaku tentang kondisi pulau yang akan aku tuju. Kalau dilihat di peta pulau itu cuma berupa lingkaran kecil, Pulau Raas masuk wilayah kabupaten Sumenep yang kerap dikenal juga dengan sebutan “pulau  wanita” atau “pulau puteri”.

Disebut “pulau wanita” atau “pulau putri” mengingat bila musim tertentu, yakni musim ketika kaum laki-laki berlayar maka yang tersisa kaum perempuan, karena hampir semua penduduk disini hidup dari kehidupan di laut, yang kadang sampai beberapa bulan baru kembali ke tanah asal.

 Menyeberangi sampai pulau ini tidak sulit. Bisa dari pelabuhan Kalianget dan Dungkek. Hanya makan waktu dua jam atau sekitar pukul empat sore, aku sudah sampai di dermaga pulau Raas. Tempat yang masih sangat asing bagiku.

Kuedarkan pandangan ke sekitar pantai, betapa indahnya. Sunset di ufuk barat sejenak mengantar anganku seperti menjelajah ke dunia hayal. Seakan dalam mimpi, sunset yang sering kulihat di lukisan bang Suta, sepupuku sekarang nyata ada di depan mata.

 “Assalamu’alaikum pak Ikhsan,” tiba-tiba ada suara  itu datang yang menghenyakkan lamunanku.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, jawabku segera.

 “Perkenalkan pak, saya Sudirman utusan dari bapak Suraji, kepala sekolah SMPN 1 Raas”, ujarnya dengan ramah.

Pria itu memperkenalkan diri.

“Semoga bapak betah di pulau ini, ya,” tambahnya.

“Terima kasih, itu harapanku juga”, jawabku singkat.

Bapak Sudirman ternyata seniorku, di tempat baru ini, dia angkatan 3 tahun lalu, pengajar matematika. Banyak yang beliau ceritakan tentang pengalamannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana suka dukanya mengajar di pulau terpencil ini, kesulitan transportasi, minimnya penerangan, sulitnya sinyal dan sebagainya.

 Butuh waktu 15 menit dari dermaga untuk sampai di tempat kost guru. Pak Sudirman menyilakan aku masuk ke kamar kost yang nantinya merupakan kamar kami berdua. Di sinilah ceritaku dan pengabdianku akan dimulai. Kulihat sekeliling kamar, rapi sekali sepertinya, si penghuni merupakan orang yang cinta kebersihan.

 Sembari istirahat menunggu sholat maghrib, aku buka android untuk memberi kabar lewat pesan WA kepada keluarga di daratan. Rupanya banyak chat masuk yang belum terbaca. Macam-macamlah isi chatnya, tapi rata-rata adalah ucapan selamat jalan dan doa tulus untukku. Ada juga sebagian chat yang bernada humor, dan lainnya.

 “Bagaimana Pak, sudah hilang lelahnya?, ayo kita makan,”. Ajak Pak Sudirman mengagetkanku sekaligus membuyarkan lamunanku.

 “Alhamdulillah, sudah segar Pak”, jawabku.

Dia mengeluarkan dua bungkus nasi dan air mineral. Kami makan berdua. Keakraban sudah tercipta sejak saat itu, mengalir bak air. Laksana teman lama, kami merasa nyaman. Berangsur kacanggungan kian mencair.

 Tidak terasa sekitar dua bulanan, mengabdi di sekolah ini, banyak hal yang aku alami. Meskipun sekolah berada di tempat terpencil, namun semangat murid-murid ketika menimba ilmu patut diacungi jempol. Dalam keterbatasan ekonomi keluarga, mereka masih bisa melanjutkan sekolah. Jarang datang terlambat ataupun bolos dari sekolah, padahal di rumah harus membantu orang tuanya, yang mayoritas sebagai pelaut dan sebagian bermata pencarian sebagai petani dan nelayan.

 Penduduk sekitar sangat “wellcome”. Tak jarang aku dengan teman seprofesi lainnya menyempatkan bersilaturrahmi dengan wali murid ataupun penduduk sekitar. Sebagai ungkapan rasa peduli mereka, sering di tempat kostku ada makanan kiriman dari penduduk. Paling sering kiriman itu berupa nasi beserta lauk ikan manengseng, yang merupakan makanan favorit pulau itu.

 Aku masih agak malu untuk bertandang sendirian ke rumah penduduk. Ajakan pak Sudirmanlah yang menjadi acuanku. Hampir setiap malam minggu dia mengajak aku ke rumah pak Sukri. Selain masih satu kawasan, beliau adalah orang tua dari muridku yang bernama Dendy. Konon dahulu pak Sukri merupakan penduduk pendatang yang kawin dengan gadis pulau ini. Beliau dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua anak lelaki.

 “Mari dik, kopinya diminum mumpung masih hangat,” kata pak Sukri.

“Terima kasih Pak, maaf merepotkan,” jawab kami hampir bersamaan.

 “Ah, gak apa-apa Dik, santai saja anggap saja di rumah sendiri,”.  Beliau melanjutkan.

Sekilas dari balik gorden rumah, aku melihat sosok gadis. Kemungkinan gadis itu adalah si Dara, anak sulung  pak Sukri, dan menurut kabar, temanku si Sudirman jatuh hati pada si Dara itu. Kalau kulihat sepintas dari postur tubuhnya, sepertinya dia seorang gadis yang berwajah cantik dengan tubuh yang ideal.

 Terbayang di benakku, seandainya jatuh cinta dengan gadis pulau itu, pastilah ibuku tidak akan merestui. Selain tempatnya jauh bukankah leluhurku masih mengagungkan pepatah lama yang berbunyi “makan tidak makan, yang penting kumpul” itu berarti orang tuaku tetap menginginkan aku kawin dengan perempuan yang masih satu daerah. Apalagi aku pernah mendengar pembicaraan almarhum bapak, yang menginginkan perjodohanku dengan Merry, sepupuku dari pihak ibu.

Tidak terasa, hampir dua jam aku dan pak Sudirman bertandang di rumah pak Sukri. Ahirnya kami harus pamit pulang. Tanpa sengaja sebelum pulang, aku melihat pak Sudirman sedang menatap ke belakang, tepat di depan pintu terlihat si Dara, sedang menatap kearah kami. Pantas temanku suka pada gadis itu. Selain cantik konon si Dara juga pintar.

 Deg, jantungku berdegup, gadis itu mengingatkan pada mantanku dulu. Si Sheyla, teman kuliahku. Hubungan kami berakhir karena tidak mendapat restu dari orang tuaku. Apalah dayaku, sebagai seorang anak yang tidak mau di cap durhaka, ahirnya harus memutuskan hubungan itu.

*****

Perayaan pesta manengseng yang diadakan setiap bulan merupakan awal perkenalanku dengan muda-mudi di sana. Pesta manengseng sering di tunggu-tunggu oleh para penduduk. Suasana pantai yang indah dimalam hari menambah syahdunya suasana. Masyarakat sekitar hadir di sana duduk dipinggir pantai menunggu matangnya manengseng yang dibakar, kemudian dimakan bersama-sama membentuk kelompok. Manengseng adalah jenis ikan laut yang sangat disukai oleh penduduk setempat. Ada yang cuma mencicipi ikan bakar itu beserta sambal jeruk colek tapi sebagian lagi masih ditambah nasi.

 Momen bulanan digelar sebagai ajang pertemuan kaum muda. Dari sini aku banyak mengenal teman, baik warga sekitar ataupun dari daratan. Silaturrahmi bisa terbangun dari sisi manapun juga, sampai akhirnya terjalin di dunia maya. Aku bisa mengenal Sandy, Tessa, Rama, Indera, Mita dan yang lainnya. Bahkan aku juga mengenal baik puteri pak Sukri yang bernama Dara.

 Tidak terasa, aku sudah menginjak bulan keenam pengabdianku. Sepertinya aku merasa betah tinggal di pulau ini. Entah karena apa, sehingga aku merasa nyaman menjalaninya. Hari-hariku terasa indah. Temanku bertambah banyak.  Seakan kutemukan sesuatu di pulau ini.

 Akan tetapi dibalik kenyamanan itu, aku merasa ada yang ganjil. Tidak kutemukan lagi sikap hangat dari pak Sudirman teman sekamarku. Seakan dia mulai acuh dan menjauhiku. Tak pelak terkadang suasana kaku menyelinap diantara kami.

Yah, ternyata dia cemburu, karena akhir-akhir ini si Dara mulai dekat denganku. Akupun merasa nyaman dengannya, bukan karena dia mirip mantanku akan tetapi perhatian dia yang membuat kita dekat.

 Aku tidak tahu, kenapa harus begini jadinya. Keakraban diantara kami begitu saja terjadi bak air mengalir. Apakah benar yang dikatakan si Dara, bahwa selama ini tidak ada hubungan antara dirinya dengan Sudirman, temanku.

Terkadang aku merasa serba salah, kenapa aku suka pada kebersamaan ini, sementara temanku bersedih karena merasa kuhianati. Kenyamanan bersamanya merupakan salah satu faktor, kenapa aku bisa betah di pulau terpencil. yang pada awalnya hanya merasakan kebosanan tatkala harus hidup di perantauan, jauh dari orang tua dan keluarga.

 “Menikahlah dengan gadis yang masih ada ikatan keluarga, supaya ibu gak sungkan untuk minta tolong menantu karena dari kecil sudah akrab,” itulah pesan ibu yang masih terngiang di tengaku.

 Aku dihadapkan pada sebuah dilema, antara harapan orang tua dengan suara hati. Jika aku memilih menikah dengan sepupu pilihan ibu, berarti aku harus mengahiri hubungan dengan Dara. Ibu pasti akan bahagia, walau aku menderita. Sebaliknya beliau akan sedih jika aku bertahan memilih Dara. Terbayang di kehidupanku nanti, betapa aku bahagia bersanding dengan pilihan hatiku, meski harus menjadi anak yang durhaka?.

  Dalam kegalauanku, kuingat pesan pak ustadz bahwa kalau kita sedang berada didua pilihan maka pilihlah jalan berdasar petunjuk Tuhan.

Istikharah. Ya sholat Istikharah solusinya. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’. Aku meminta yang terbaik kepada allah untuk kehidupan selanjutnya. Kucoba fokus sambil membaca doa.

 Rasa penat setelah seharian beraktifitas di sekolah, membuatku tertidur pulas. dalam mimpiku melihat ibu tersenyum bahagia bersama seorang gadis dalam sebuah mobil mewah. Wajah gadis itu tidak asing bagiku. Dialah sepupu dari pihak ibu, Merry namanya, puteri dari paman Bahri, mereka melambaikan tangan padaku, mengajak aku ikut bersama mereka. Aku berlari mengejar mobil yang mereka tumpangi. Belum sempat aku temui mereka, tiba-tiba ada kendaraan lain menyerempetku hingga terpelanting. Darah mengucur di lutut kiriku, sakit rasanya.

 “Pak Ikhsan, bangun,”terdengar suara memanggilku.

 “Astaghfirullahal’adzim, rupanya aku sedang mimpi,” gumanku.

 Aku beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Mimpi itu menyita fikiran dan perasaanku. Binar netra ibu saat itu seolah bahagia tiada tara. Lalu apakah arti dari semua ini. Terbayang wajah mungil si Dara. Gadis belia itu telah menawan hatiku. Hari-hariku seakan berwarna lagi, setelah sekian lama kututup hatiku. Apa yang bisa kukatakan padanya, bahwa ada gadis pilihan ibuku yang sudah dijodohkan sejak kecil. Apakah aku harus kembali mengulang kisah lamaku, dan menuruti kemauan ibuku, untuk menikahi Merry, sepupuku?.

 Kuambil sebatang rokok dan kunyalakan. Kuhisap kuat-kuat, asap mengepul sebagai saksi kegalauanku. Terbayang juga temanku, Sudirman dengan segala kisahnya. Lelaki sederhana, yang sama-sama jatuh hati pada seorang gadis yang sama. Haruskah aku merelakan Dara jatuh kepelukannya, ataukah tetap kupertahankan cintaku?. Ah.

 Kuserahkan seluruh kebimbangan ini kepada Allah.  Lewat doa, semoga dapat petunjukNya. Memilih salah satunya pastilah akan ada hati yang terluka. Allah yang akan membolak-balikkan hati makhlukNya. Tidak ada yang mustahil, jika Allah yang memberi keputusan.

Dan waktulah yang akan menjawab semua ini. Wallahu a’lam.

*****
Riskiyati Wanita yang lebih akrab dipanggil Rizky ini merupakan pengajar di SMP Negeri 4 Sumenep. Ia memiliki hobi traveling dan penyuka kuliner. Ia memiliki motto hidup di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2751247007333366082

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item