Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (3)

Ilustrasi: Serat Sindujoyo (google image)

 Mashuri Alhamdulillah

Salah satunya adalah Desa Dermaling. Dalam manuskrip yang disalin pada akhir abad ke-19 tersebut, yakni dalam ilustrasinya, disebutkan bahwa Dermaling itu berada di Bangkalan. Namun dalam penelusuran, Dermaling itu tidak saya temukan di pulau garam. Dalam sebuah momen, karena hubungan baik pascapembebasan Buaya Putih peliharaan Sindupati, Sindupati mengajak Sindujaya pergi ke salah satu rumahnya di Tanggul, yang kini sangat mungkin berupa Desa Tanggul Rejo di Kecamatan Manyar, Gresik, yang berada di bibir Bengawan Solo. Tentu, pelayaran mereka menyusuri Bengawan Solo dengan menunggang induk buaya putih, yang bernama Ki Remeng.

Dalam momen itulah, saya menemukan sebuah dusun yang mirip Dermaling di sepanjang perairan Bengawan Solo. Dugaan saya, Desa Dermaling yang dimaksud kini bernama Dusun Dermalang, termasuk Desa Mlangi, Kecamatan Widang, Tuban. Sebuah dusun terpencil, bahkan kapan hari terjadi geger karena jalan akses menuju dusun tersebut 'raib', tergusur proyek tanggul Bengawan Solo. Dengan kata lain, bila dulu Dermaling kemudian kini menjadi Dermalang sangat masuk akal, terutama dari perspektif ekokulturnya.

Pada perkembangannya, Ki Remeng dan anak-anaknya beralih tuan dan menjadi abdi Sindujoyo. Digambarkan dalam naskah, ia mampu berubah wujud menjadi manusia. Dengan demikian, dalam hidup Sindujoyo ada dua jenis binatang kesayangannya. Pertama, kerbau bule, yang menjadi sarana ia bertapa, baik yang didapat dari anugerah raja Mataram maupun dari Pangeran Ampeldenta. Kedua, buaya putih yang menjadi sarana transportasinya yang ia dapat dari persahabatannya dengan Kiai Sindupati di Dermaling. Terdapat beberapa fragmen dalam ilustrasi naskah: Kiai Sindujoyo naik Buaya Putih. Keren abis, Coy!

Hmmm, saya juga menyusuri kesejarahan desa asal Eyang Sindujoyo, Desa Klating di Lamongan, dan beberapa desa-desa lainnya seiring dengan aliran Bengawan Solo –dan kuyup dengan mitologi buaya putih. Namun, dalam konteks ini, saya jelas membedakan mana wilayah historis dan mitis, sebagaimana yang dilakukan oleh Husen Djajadingrat ketika dia mengkaji Sajarah Banten, yang legendaris itu. Tetapi, tentu saja, pemilahan saya terlalu amatiran!

Alhasil, tulisan saya ihwal kesejarahan desa-desa pantura dalam Serat Sindujoyo diterima dalam call paper simposium internasional pernaskah Nusantara di UNS Solo, pada 25—26 Stember 2017. Saya berusaha bereksperimen memadukan teori baru dalam memahami warisan lama. Saya menggunakan paradigm kesejarahan dalam menelusurinya dengan meminjam pisau analisis arkeologi dan genealogi pengetahuan Foucauldian. Namun, mungkin karena terlalu menggebu, pada hari H pelaksanaan seminar, terjadi sebuah ‘kecelakaan’. Saya lupa tanggal. Hadeh! Namun, untunglah masih terselamatkan.

Ceritanya begini. Pagi hari, pada tanggal 25 September 2017, saya kira hari itu baru tanggal 24 September, sehingga saya merencanakan untuk berangkat pada siang hari ke Solo. Ternyata hari itu, sudah tanggal 25 September. Saya baru tahu bahwa hari ini tanggal 25 September, pada pukul 08.00 pagi. Padahal pukul 15.30, saya harus maju ke tampil dalam ajang simposium di Solo tersebut.

Akibatnya, saya belum menyiapkan power point dan teknis presentasi lainnya. Akibatnya, saya pun bermunajat ngawur sejak keluar rumah menuju terminal Bungurasih. Bahkan, sampai berkirim Fatihah segala pada Eyang Sindujoyo, yang hagiografinya akan saya presentasikan. Hmm. Siapa tahu, diutus buaya putih peliharaanya dan mengantar saya ke kota Bengawan. Ngarep nih! Ehm!

Alhamdulillah, bus patas Eka jurusan Surabaya-Magelang yang saya tumpangi berbaik hati. Baru nangkring enam penumpang di dalam bus, sopirnya sudah gatal untuk tancap gas. Hati saya bungah sekali. Pukul 09.15, bus melesat dari Bungurasih. Sampai di Caruban, tinggal dua orang. Saya dan seorang penumpang lain. Kami makan siang di rumah makan Duta Ngawi, hanya berdua. Sayangnya, ia laki-laki dan tua lagi. Hmmm. Si kakek kemudian turun di Sragen, dekat Mantingan. Ke Solo, saya sendirian di bus.

Bus sampai di Solo, pukul 15.00. Saya turun persis depan UNS. Alhamdulillah. Tak lupa saya mengucap terima kasih pada sopir dan kondektur, yang mukanya persis kertas diremas-remas. Entah kenapa kepala saya pusing sekali. Pada saat maju ke tampil, irama presentasi pun naik turun, karena saya menyajikan makalah sambil memegangi kepala yang berputar-putar, padahal saya presentasi bareng Ibu Mu’jizah, peneliti pernaskahan senior di Badan Bahasa.

Alhasil, tulisan saya hasil simposum itu dimuat di Jurnal Manuskripta, jurnal terbitan Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) dan Perpusnas RI pada tahun 2018. Alhamdulillah juga, dari pergulatan dengan Serat Sindujoyo, pada tahun 2017, memunculkan puisi sederhana dari alam kreatif saya, berjudul Cintaku Terpasung di Karang Prasung. Puisi ini pernah dimuat dalam kumpulan buku puisi bersama yang diselenggarakan sebuah komunitas kesusastraan di Yogyakarta, pada 2018, dengan judul baru Babad Karang Prasung.

Cintaku Terpasung Di Karang Prasung

: sematjam sadjak dari Babad Kroman

kau hadir dalam mimpiku dengan tubuh buaya putih
merangkak di antara akar-akar tunggak
bakau, meliar di delta berair payau
: tempatku meminang ilham dari malam!
tapi kulitku terlalu lunak dan legam
'tuk bersintuh dengan sisikmu yang kemilau dan tajam,
o peredam kutukan!
kulantunkan sigra milir seperti takdir
siir-siir pesisir berima sihir
menikam mimpiku ke lobang gelap waktu
agar pelayaran ruhku balik ke bilik
nyalakan ublik kembali sebagai pemantik
setitik damar warisan berhulu api suci
o pangaskarta, o sindujaya
lewat raga berjelaga, kutitip salam pada gurumu
--prapen
katakan, tetes keringatnya 'lah jelma gumpal malam
dalam darahku
katakan, jangan kutuk anak-turunnya menjadi jawa
yang takluk pada suwuk bengawan, kelenjar liar kerbau,
dan air mata buaya
---kerna kutahu kau adalah pawang
rajatirta yang berhilir ke pantai utara
ketika kutemui kau di karang prasung
di balik gaung pasar dan jalan besar
aku pun terangsang rindu kelana,
terpasung renjana
berpuasa mendaki gunduk payudara
dan tualang ke lembah mekar kaum hawa
kelak ketika kita berjumpa di pinggir dunia
kita bakal mendaku sebagai sesama penghulu buaya
kerna perempuan lebih menggetarkan daripada kehidupan!

Sedati Agung, 2017

Saya kira buhul puisi tersebut memang terlalu personal dalam hal perjumpaan saya dengan Serat Sindujoyo. Selain sedang menyiapkan sebuah tulisan berbau ilmiah terkait dengan Serat Sindujoyo lagi –karena kepalang basah-kuyup lagi dan merasa ada yang masih perlu diungkap karena belum disinggung para peneliti lain, saya juga berkeinginan menuliskan sebuah puisi panjang sebagai buhul yang lain dari perjumpaan seorang santri kelana --penguasa buaya putih yang penuh legenda-- dengan seorang lelaki ‘buaya’, ups, yang selalu mendaku diri sebagai penyair jadi-jadian dan penyair karbitan dalam buku Munajat Buaya Darat (2013).

Sidoardjo, 2021

 *****

Tulisan bersambung:

  1. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (1)
  2. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (2)
  3. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (3)

 ______________________________________

Sumber tulisan: akun FB Mashuri Alhamdulillah

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2643972092716670686

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item