Cinta; Tangis Yang Sejati


Cerpen: Khairus Syamsi,

Tangisan itu terdengar sampai di telingaku. Tampak kesedihan mendalam dan dapat kuduga peristiwa perpisahan sedang terjadi. Tiba-tiba saja, dukacita menyelimutiku bahkan saat aku sendiri tidak tahu atas dasar apa manusia itu membiarkan air matanya mengalir. Aku juga tak mendapat klarifikasi apapun akan apa yang telah dialaminya. Pertanyaan akan hal itu benar-benar sudah menguasaiku. Seakan tak ada hal lain yang berhak aku pikirkan.

Aku hanyut dalam prasangka yang sama sekali tak berdasar. Sungguh aneh. Aku terbawa dan seolah sedang merasakan sakit yang sama dengannya. Tapi aku menahan air mataku sepenuhnya, meski sulit. Keadaan itu terus berlanjut dan aku mengadu pada langit dengan harapan agar tangisan itu berhenti. Aku benci tangisan sebagaimana mencintai tawa bahagia.

Waktu terus saja berputar. Jarum jam sudah tegak lurus, pukul 6.00 pagi hari. Semalam suntuk tangisan itu kudengarkan seperti suara alam yang disengaja. Sampai lelap pun tak sempat aku rasakan, anganku melayang di dinding-dinding langit. Bergerak mondar-mandir serupa anak manusia yang sedang kehilangan arah. Meski begitu, jawaban tetap saja tak kudapatkan.

Asal tangis itu tak jua aku dapati sumbernya dari mana dan oleh siapa. Meski begitu, suaranya lantang melengking di gendang telingaku, sampai di hatiku. Aku ikut menangis merintih. Sementara wajah semesta mulai tampak bercahaya oleh sang surya yang mulai dibiaskan oleh berbagai unsur di atmosfer. Hanya beberapa bagian saja masih gelap terhalang pepohonan yang menjulang tinggi.

Tidak, keadaan ini tak boleh aku biarkan begitu saja. Pikirku. Aku harus mencarinya dan menemukannya, harus. Sedikitnya aku merasa cukup terganggu dan tangisan itu juga harus berhenti. Ini benar-benar tak dapat dibiarkan.

Arah barat adalah tujuanku mula-mula. Bayanganku sendiri yang akan menuntunku untuk menemukannya. Aku tak membawa apapun di tengah rimba, kompas dan radarku adalah hatiku. Aku sangat memercayainya. Sebab selain hatiku, setiap alat peraga pasti memiliki kekurangan. Tidaklah mustahil bila selain dari padaku hanya akan membawaku pada jalur yang keliru.

Aku sudah semakin jauh dari tempatku bermalam. Kira-kira sudah sampai di tengah-tengah rimba. Bagaimana tidak, sinar mentari tak dapat menembus barisan pohon randu yang amat besar. Serta yang terdengar hanya tangisan tadi dan juga nyanyian burung dan binatang buas yang merayakan kebebasannya. Pun setiap tumbuhan menari menikmati pesta yang diadakan langsung oleh pemilik semesta.

Tepat saat aku berhenti sejenak untuk beristirahat. Tangisan itu kembali menggema dan merasuk sukma jantungku. Saat yang sama seorang perempuan tua berjubah gelap menghampiriku secara tiba-tiba dari belakang. Aku sempat takut, atau setidaknya terkejut karena sama sekali tak merasakan akan kehadirannya. Dan aku juga tak percaya, sebab bagi orang yang rasional sepertiku sudah pasti tidak masuk akal. Sisi lain, aku anggap hal demikian hanya ada dalam dongeng atau kisah fiksi dalam novel bernuansa sihir dan mistis. Namun, kali ini aku harus menerima kebenaran ini.

“Nak,”.

“Apa yang kau lakukan di tengah hutan belantara seorang diri,?” ia menyapa dan bertanya padaku. Aku heran, mestinya pertanyaan itu dariku untuknya.

“Tidak mbah, aku hanya seorang pemburu,” jawabku ringan.

“Tidak mungkin, kau bahkan tak membawa peralatan berburu satupun,” urai perempuan tua itu tak percaya.

“Ada mbah, tadi tertinggal di rumah kemah. Dan aku juga sedang belajar menaklukkan binatang buas tanpa bantuan alat,” aku mengelak hati-hati.

“Dasar pemuda sekarang, pandai sekali beralasan,” lanjut nenek dengan wajah mulai kesal.

“Maksud mbah apa, aku tidak mengerti,”

“Jangan teruskan kau berkata bohong, dunia akan menangis bila itu kau lakukan terus menerus. Apalagi masih seorang pemuda sepertimu.” Perempuan tua itu memotong pembicaraanku.

Aneh, perempuan tua ini sungguh sangat aneh. Bagaimana mungkin dia tahu tentang apa yang aku pikirkan. Tentang apa yang sedang aku angankan atau setidaknya tahu kalau aku sedang tidak mengatakan yang sebenarnya padanya. Bagian mana dari diriku yang ia lihat, sehingga dapat dengan mudah mengatakan bahwa aku berbohong. Mengingat sebelumnya aku sudah mempraktikkan permainan peran yang sudah sempat aku pelajari dahulu.

Siapa sebenarnya perempuan ini? Dan dalam rangka apa menghampiriku?. Kedua pertanyaan ini berhasil membuatku teralihkan dari teka-teki awal yang dengan cukup serius aku pikirkan, perihal tangisan itu. Perempuan tua ini mengganggu saja, batinku.

“Sebentar mbah, aku benar-benar tidak paham dengan yang mbah sampaikan,” ujarku pura-pura tidak mengerti.

“Sudahlah nak, aku tahu tentangmu secara keseluruhan. Termasuk alasan awal mengapa kau pergi ke hutan seorang diri dan tinggal selama beberapa hari, mengapa meninggalkan keramaian kota tanpa memberitahu siapapun, bahkan aku tahu apa yang sebenarnya kau cari sampai ke area ini.” Urai perempuan tua aneh itu.

Sekali lagi, perempuan tua ini membuatku kian penasaran. Tebakannya sama sekali tak keliru. Dan aku seperti sudah melemparkan anak panah pada diriku. Sedikit lagi aku bisa terbunuh oleh perkataanku sendiri. Oleh pernyataan perempuan tua itu.

“Perlu kau tahu nak, hentikan saja pencarianmu atas tangisan itu. Kau takkan pernah menemukannya disini, jangan habiskan waktumu dengan sia-sia. Lebih baik sekarang pulanglah, banyak sekali yang risau akanmu. Ibumu, keluargamu, temanmu, termasuk kekasihmu. Pulanglah.” Tegas perempuan tua itu. Dan aku semakin kehilangan akal.

“Sebenarnya Anda ini siapa?” Tanyaku. Aku benar-benar sudah tak dapat menahan diri.

“Tak perlu kau tahu siapa aku, itu tidak penting. Yang paling penting ikuti saja apa yang sudah aku perintahkan. Kalau tidak, kau tak akan pernah bisa kembali ke rumahmu dan bergabung dengan orang-orang yang kau cintai dan mencintaimu. Dan kau akan menyesalinya.” Tukas perempuan itu serius.

“Tidak, aku tak akan pernah pergi dari sini. Sebelum aku menemukan jawaban atas pencarianku.” Bantahku dengan angkuh.

“Baiklah nak. Terserah kau saja, pastinya aku sudah memberitahumu.” Tukas perempuan itu. Menyerah pada tekadku.

Perempuan itu berbalik dan pergi setelah menyunggingkan senyum dan berujar “hati-hati” padaku. Berselang beberapa menit ia hilang di balik cakrawala. Dan tangisan yang tadi kembali terdengar dengan lantang. Meski sempat setelah kedatangan perempuan tua tadi suara tangisan itu tak lagi terdengar.

Sejatinya aku sudah mulai terbawa pada apa yang telah disampaikan oleh perempuan tua itu. Aku memikirkan detail pernyataan yang disampaikan. Namun seperti semula, yang patut aku percayai sepenuhnya adalah diriku. Aku tidak percaya pada siapapun, apalagi hanya dari perempuan tua yang tidak sengaja bertemu di tengah hutan belantara seperti ini.

Petang menjelang, rona merah memancar rapi dari balik pepohonan. Langit-langit hutan sudah mulai siap untuk digantikan kemilau gemintang dan cahaya purnama. Sementara burung dan beberapa binatang sudah berdesakan mencari semak-semak yang rimbun dan tumbuhan yang teduh untuk istirahat dan berlindung. Mereka bergegas mencari perlindungan. Yang tersisa hanya tangisan.

Aku beranjak dan meneruskan pencarianku. Keyakinanku masih utuh. Pun tekadku masih penuh. Aku akan medapatkan setiap apa yang aku inginkan dengan caraku bersama hatiku. Cahaya purnama sudah cukup untuk mengiringi langkahku. Dan aku masih sama, tak pernah takut kehilangan arah atau tersesat.

Waktu terus saja bergerak, sementara pencarianku masih belum menunjukkan ada perkembangan. Keadaan ini seperti menunggu mentari saat langit beratap awan tebal. Atau serupa menanti kehadiran hujan di musim kering. Kemungkinannya ada, namun sangatlah kecil.

Malam semakin kelam. Angin bersbondong membawa suhu yang dingin. Dan aku sudah merasa tak berdaya, tubuhku tak selincah pagi tadi. Berbalik dengan apa yang kurasakan secara fisik, pikiranku justru kian menjadi-jadi. bergerak tak terkendali. Tangisan dan perempuan tua tadi bergantian menempati kepalaku.

Meskipun aku sudah merasakan lelah dengan sangat, istirahat justru seperti musuh yang harus aku lawan saat itu juga. Bersama malam, dengan cahaya bulan dan gemintang sebagai damar. Aku masih meyakini bahwa kedua hal yang menghuni pikiranku akan segera terpecahkan. Sejenak kemudian, pikiranku mengalah. Aku harus istirahat, esok hari aku pasti akan menemukan arti dari keduanya. Dan tangisan itu, aku gunakan sebagai irama pengantar tidurku. Aku terlelap sepenuhnya.

Keesokan harinya, saat pasukan semut hitam bergerilya mencari makan. Ketika katak memanggil satu sama lain dan bergerak adu cepat. Aku terjaga. Dan aku merasa sudah sangat siap untuk kembali meneruskan pencarian.

Iya, aku pasti menemukannya dan perkataan perempuan tua itu tidaklah benar. Belukar, reranting pohon tumbang, bahkan binatang buas yang sedang mencari makan bukan lagi menjadi masalah bagiku. Aku akan membuktikannya. Bahwasanya aku bisa melakukan apapun seorang diri, apalagi hanya untuk menemukan tangisan.

Tak lama berselang, hujan jatuh dari tangkai awan. Tapi aku tak perduli. Sementara dari balik kabut, perempuan tua itu datang kembali menghampiriku. Masih dengan jubah hitam dan rambut putih terurai di lehernya yang keriput.

“Nak, jangan paksakan kehendakmu. Kau takkan pernah menemukan apa yang kau cari. Percuma,” ujar perempuan tua itu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda, ia tampak mengatakannya dengan tulus dan sungguh.

Mendengar pernyataan perempuan tua itu untuk yang kedua kalinya sejak kemarin. Aku mulai mempertimbangkan apa yang dikatakannya.

“Nak, sekarang pulanglah. Tangisan yang kau cari, akan kau temukan nanti setelah kau tiba di rumahmu. Saat bertemu dengan keluargamu, temanmu, dan kekasihmu. Mereka semua menyangimu, sangat mencintaimu.” Lanjut perempuan tua itu. Sementara aku tak mampu berujar apapun dan kebingungan.

“Sudah, sekarang lakukan saja nak. Nanti kau tidak hanya akan menemukan tangisan itu, kau juga dapat menghentikannya. Mereka yang mencintaimu menangisi kepergianmu. Mereka hanya akan berhenti ketika jasadmu ditemukan setelah kejadian kecelakaan kebakaran hutan yang terjadi beberapa hari kemarin.”

Aku tak percaya, sepenuhnya tak percaya. Perempuan tua ini pasti berbohong. Aku tak mungkin mati. Batinku. Aku beranjak pulang, dan benarlah apa yang dikatakannya. Namun, aku masih mencintai keluargaku, teman-temanku, pun kekasihku.

*****

Khairus Syamsi, lahir di Sumenep. Tinggal di ujung timur laut Pulau Madura, tepatnya dusun Birampak, ds. Jenangger, kec. Batang-batang. Rutinitas sehari-hari sebagai pengajar di SMAN 2 Sumenep. Aktivitas lainnya olahraga, khususnya sepak bola. Waktu luang dimanfaatkan untuk membaca kehidupan, baik secara langsung atau melalui buku-buku. No. Hp : 085748152154, Sosmed: IG @khairussyamsi, Twitter @irussyamsi




POSTING PILIHAN

Related

Utama 2798554890942234974

Posting Komentar

  1. Keren kak, apalagi dengan kata

    "Bak menunggu mentari saat langit beratap awan tebal"

    Ngena banget

    BalasHapus

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item