Dimensi Al-Qur’an dalam Histori Zaman


Baru-baru ini terjadi pembahasan yang cukup hangat mengenai Al-Qur’an yang dibaca dengan menggunakan langgam tanah air, lebih spesifiknya langgam macapat. Sebelum mengenal langgam macapat lebih penting lagi kita mengetahui hukum membaca Al-Qur’an dengan menggunakn lagu. Dalam melagukan bacaan Al-Quran terdapat khilafiah diantara para ulama. Diantanya, yaitu  pendapat yang menolak dan tidak setuju terhadab bacaan Al-Quran yang dilagukan. 

Dalam pendapat ini terdapat beberapa tokoh besar, diantaranya yaitu: Anas bin Malik, Said bin Jubair, Said al-Musayyab, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan lainnya terutama dari kalangan ulama madzhab maliki dan hambali.  Sementara pendapat yang lain memperbolehkan bahkan ada sebagian yang menganjurkan, ulama yang mengemukakan pendapat ini antara lain: Umar bin Khattab, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdurrahman bin al-Aswad bin Zaid, Abu Ja’far ath-Thabari, Abu Bakar bin al-Arabi, dan lainnya dari kalanagan ulama madzhab syafii  dan hanafi

Dua pendapat diatas tidaklah asbun (asal bunyi) karena dari kedua pendapat yang di kemukakan sama-sama memilii pijakan dalil yang kuat yang dijelaskan secara lengkap di dalam buku Ulumul Qur’an, sebuah buku yang syarat dan padat dengan keilmuan karya penulis tanah air, yaitu Dr. Ahsin Sakho Muhammad.

Dr.Ahsin Sakho Muhammad merupakan ketua tim revisi dan terjemahan Al-Qur’an kementrian Agama, disamping itu beliau juga mengasuh sebuah pesantren di Arjiwangun, Cirebon, sekaligus menjabat penasehat pondok pesantren Dar Al Tauhid. Dari tangan emasnya telah terlahir berbagai buku mengenai seputar Al-Qur’an. Seperti Oase Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, keberkahan Al-qur’an, dan manbaul barakat fi ilm qira’at, yang kesemuanya disambut meriah oleh pembaca tanah air.

Mengingat perbedaan pendapat dalam melagukan Al-Qur’an, merupakan satu problem dari berbagai problematika yang disajikan di dalam buku ini. Melagukan Al-Qur’an merupakan merupakn suatu pembahasan dalam bidang qira’ah, sedangkan buku ini tidak hanya meninjau dan memaparkan Al-Qur’an dari segi pembacaaan teks atau dikenal dengan dimensi qira’ah, melainkan buku ini secara luas memaparkan sejarah penulisan rasm hingga penafsiran-penafsiran terhadap Al-Qur’an, baik epistimologi-epistimologi tafsir dalam histori perkembangannya sampai metode-metode yang diaplikasikan untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Menafsirkan Al-Qur’an merupakan dimensi lain dari qira’ah, jika dalam qira’ah menerangkan mengenai prosedur membaca Al-Qur’an yang tepat dan benar, maka dalam penafsiran merupakan dimensi untuk menangkap pemahaman  terhadap teks-teks Al-Qur’an. Sehingga dalam ranah ini membutuhkan metode-metode dalam memahani Al-Qur’an, agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.

Memahami Al-Qur’an merupakan sesuatu yang sangat penting, bisa kita analogikan begini, bagaimana dapat kita implementasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia itu jika kita tidak dapat memahami tehadap apa yang terkandung didalamnya dan tidak dapat menangkap terhadap pesan–pesan yang ingin disampaikan tuhan melalui firmanya. Sehingga bisa jadi hal ini lebih urgen daripada membaca saja. Namun keduanya memang memiliki relevansi yang sangat erat, karena dalam qira’at terdapat beberapa perbedaan , yang secara pasti akan berimplikasi terhadap penafsiran ayat.

Selain dua dimensi di atas buku ini juga memaparkan mengenai sejarah penulisan Al-Qur’an sejak dari zaman Nabi hingga priode Muqlah, dan yang setingkat dengannya seperti Ibnu Al-Bawwab, Yaqut Al-Musta’shimi, dan lebih jauh lagi penulis membahasnya hingga standar mushaf tanah air kita, Indonesia, dan sejarah penyusunannya. Yang perlukita ketahui dari mushaf di Negara kita bahwa mushaf di Negara kita merupakan mushaf pribadi yang dimiliki para ulama, atau tokoh pemuka agama, namun semenjak dunia islam memiliki mesin cetak, maka mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan mushaf bahriyyah dan mushaf Bombay.

Buku ini merupakan buku yang sangat penting bagi kita semua tanpa pandang bulu, melihat apa yang terkandung didalamnya merupakan sesuatu yang sangat berharga, buku yang sarat dengan keilmuan khususnya dalam memaparkan mengenai Al-Qur’an. Sebagaiman kita ketahui bersama bahwa Al-Qur’an merupakan pijakan pertama dan paling utama bagi umat Islam, sehingga membaca dan memahaminya  haruslah benar, tidak sepantasnya memahami Al-Qur’an tanpa menggunakan metode yang telah ditetapkan oleh syari’at, sehingga kita tidak salah dalam mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an yang menghendaki kelembutan tidak diapahami dengan kekerasan, kemudahan dengan kesusahan, keadilan dengan ketimpangan, atau persaudaraan dengan permusuhan baik seiman atau tidak, sehinnga dapat mencerminkan islam yang rahmatan lil’alamin.

Banyak masalah Qur’aniah yang sulit dipahami di dalam beberapa literatur, namun di tangan Dr. Ahsin  Sakho Muhammad semuanya tersaji di dalam buku ini dengan baik dan mudah dipahami, serta penulis telah memetakkan tema-tema utama di dalam buku ini khususnya dalam pembahasan trilogi  dimensi Al-Qur’an, beserta titik relevansinya dalam perkembangan zaman.

Buku ini hadir untuk merekam jejak-jejak para ulama berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam trilogi dimensi tersebut. Dikenal sebagai pakar Ilmu Qira’at dan Ulumul Qur’an, Dr. Ahsin mendedah sejarah, memetakan tema-tema utama, mengurai yang pelik, mengungkap yang jarang terungkap, dan juga mengulik titik-titik relevansi ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan perkembangan zaman dan keindonesiaan.

Pola tanya-jawab di tiap bab tak saja memantik rasa ingin tahu kita, tapi juga mendorong kita untuk menjelajah ke cakrawala kequranan yang lebih luas dari apa yang sempat diulas sekilas.

Wallahu a’lam bis as-shawab.

Peresensi: Moh. Bahrudi



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1050446594402360176

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item