Kiat Bersikap Lebih Realistis dalam Hidup


Sonya Dzakiyah Zayyantri

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat merupakan sebuah buku terjemahan dengan judul asli The Subtle Art of Not Giving A F*ck. Buku ini sempat menjadi pembicaraan hangat di kalangan pembaca karena isinya yang menarik. Lewat buku ini, penulis, Mark Manson, mencoba berbagi pemikiran tentang bagaimana cara menuju kesuksesan dengan lebih melihat pada diri sendiri. Manson juga memiliki caranya sendiri dalam memotivasi pembaca lewat bukunya. 

Jika pada umumnya, para pembaca akan diajak berpikir lebih optimis dan percaya diri, hal itu tidak akan terjadi saat anda membaca buku ini. Manson akan mengajak pembaca untuk lebih realistis dalam menghadapi kehidupan, berkaca, dan menerima bahwa mungkin diri kita tidak diciptakan sebagai pribadi yang hebat, bahwa hidup memang akan selalu dipenuhi masalah, dan yang bisa kita lakukan hanyalah belajar menerimanya.

Pada bab pertama, pembaca diajak untuk memahami arti dari bodo amat yang sesungguhnya. Bodo amat disini memiliki definisi berbeda dengan yang sering kita dengar. Bodo amat bukan berarti kita tidak terpengaruh akan apapun, atau menjadi orang yang tidak goyah sama sekali. Bukan seperti itu. Bodo amat berarti kita masa bodoh terhadap segala kesengsaraan yang menghalangi tujuan ke depannya. Pada kehidupan nyata, memang kita seringkali dipusingkan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Karena itu, Manson sampai menyebutkan bahwa apa pun yang kita lakukan, hidup ini akan tetap berisi kegagalan, kerugian, penyesalan, dan bahkan kematian. Karena hal semacam itu tidak akan bisa kita hindari, maka kita sendirilah yang harus menyortir hal-hal penting yang perlu kita pikirkan.

Dalam bersikap bodo amat, ada tiga seni yang diajarkan oleh Manson. Seni pertama, masa bodoh terhadap segala rintangan yang menghalangi jalan kita. Ketika kita ingin mencapai suatu tujuan, mustahil jika tidak ada satupun rintangan yang menghadang. Maka dari itu, kita hanya bisa bersabar melewati dan menikmati proses tersebut. Seni kedua, kita harus bisa memilih hal-hal yang harus diprioritaskan. Saat seseorang tidak memiliki masalah, ia akan cenderung menciptakan suatu masalah yang sesungguhnya hanyalah suatu efek samping dari tidak adanya sesuatu yang lebih penting untuk dipedulikan. 

Hal ini memang cenderung terjadi tanpa si pelaku sadari karena memang begitulah sifat asli manusia. Seni ketiga, kita cenderung memilih suatu hal untuk diperhatikan. Ketika dulu kita bisa sangat peduli tentang hal-hal kecil, maka seiring berjalannya waktu, kita jadi tahu betapa tidak pentingnya masalah yang ada di diri kita. Identitas diri yang sebenarnya mulai terkuak dan kita dapat menerimanya. Hal-hal kecil dalam hidup, meski tampak sederhana di mata orang lain, tetapi kesederhanaan inilah yang sesungguhnya membuat kita merasa bahagia. 

Seperti perkataan Charles Bukowski dalam buku ini yaitu “Jangan berusaha”. Anda mungkin tidak langsung mengerti apa maksudnya. Namun, saat anda memaknainya lebih dalam, anda dapat mengerti bahwa kita tidak perlu berusaha membuat diri kita terlihat hebat. Cukup dengan jujur dan sederhana. Karena disitulah letak keunikan kita

Selanjutnya, penulis mulai berbagi pemikiran tentang kiat-kiat menjalani hidup yang baik. Bukan dalam gaya hidup sehat atau semacamnya, penjelasan ini lebih mengarah kepada pola pikir yang harus ada dalam hidup. Manson memulainya dengan menjelaskan pendapatnya tentang kebahagiaan. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya kebahagiaan itu adalah bagian dari suatu masalah. Kebahagiaan akan datang dari keberhasilan untuk memcahkan masalah. 

Contoh saja seperti film-film yang kita tonton, setelah masalah yang dialami oleh tokoh utama selesai, kebahagiaan muncul sebagai tanda bahwa film telah selesai. Maka dari itu, Mark Manson berani menyebutkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, dibutuhkan pula suatu perjuangan. Kebahagiaan sejati hanya akan terwujud hanya jika ketika anda menemukan masalah, anda menikmatinya, dan menyelesaikan permasalahannya.

Selanjutnya, Manson juga menyinggung tentang kebiasaan yang menganggap diri kita terlahir istimewa. Hal semacam ini seringkali kita jumpai di buku motivasi pada umumnya, tetapi tidak dengan Manson. Dia mencoba menyadarkan pembaca bahwa mungkin kita tidak terlahir seluarbiasa itu. Di zaman ini, setiap orang memang sibuk meyakinkan diri bahwa kita semua ditakdirkan untuk menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, pernahkan kalian berpikir sebelumnya? Jika semua orang di dunia ini luar biasa, artinya tidak ada seorang pun yang luar biasa. 

Banyak orang takut menerima diri mereka yang biasa-biasa saja karena mereka meyakini bahwa jika mereka menerimanya, mereka tidak akan pernah mencapai apapun. Pemikiran seperti inilah yang berbahaya. Kita akan sulit untuk mengapresiasi pengalaman-pengalaman sederhana di hidup ini, seperti nikmatnya pertemanan, menciptakan sesuatu dan lainnya. Semua terdengar biasa saja, tetapi hal kecil seperti inilah yang sebenarnya akan benar-benar mendefinisikan suatu kebahagiaan.

Buku ini telah disusun dengan baik oleh Mark Manson. Pemikiran yang ia tuliskan dalam buku ini dapat dengan tepat mengenai perasaan sehingga pembaca dapat merasa tulisan Mark sangat terhubung dengan kehidupan nyata. Selain itu, kepandaiannya dalam mengolah dan memilih kata-kata yang tepat membuat pembaca terkesan. Meskipun awalnya pembaca bisa jadi tidak paham dengan maksud penulis, tetapi Mark telah menambahkan analogi peristiwa dan permisalan lewat tokoh-tokoh terkenal untuk menambah pemahaman para pembaca.

Sonya Dzakiyah Zayyantri, Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8890056633601494307

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA