Melihat Kemesraan Jawa-Cina Di Soerabaia Lewat Pesarean Agung Kesambongan

Ilustrasi Makam R. Ng. Reksodiwiryo dan gerbang Pesarean Agung Kesambongan di Jalan Arjuno, Surabaya.(MA)


 

Catatan blusukan: Mashuri Alhamdulillah

Sejak zaman baheula, Soerabaia ---nama lama Surabaya, adalah kuali tempat peleburan berbagai etnis. Banyak etnis lain diterima di Soerabaia, bahkan menempati posisi istimewa. Salah satunya adalah Oei Sam Hong, seorang keturunan Cina. Ia dikenal karib dengan penguasa Soerabaia tempo doeloe dan masuk jajaran bangsawan dengan gelar kebangsawanan Jawa: Mas Ngabei. Tetapi di kalangan masyarakat namanya dikenal dengan Mbah Buyut Sambongan. Makamnya di Pesarean Agung Kesambongan, di Jalan Arjuna. Di sana, merupakan kompleks pemakaman anak-turunnya yang terkumpul dalam keluarga Kesambongan.

Sadi, 72 tahun, kuncen Pesarean Agung Keluarga Kesambongan menjelaskan bahwa makam yang dipeliharanya bukanlah makam umum, tetapi makam keluarga. Oleh karenanya pesarean ini tidak terbuka untuk penguburan umum. Hanya keluarga yang berhak dimakamkan di kompleks tersebut. Anak menantu tidak bisa dimakamkan di sana.

“Tidak sembarang orang bisa dimakamkan di sini. Ada aturannya. Harus keluarga Kesambongan. Begitu wafat, menghubungi pengurus, baru menghubungi saya. Tidak bisa langsung menghubungi saya,” tegas lelaki asli Menganti yang sudah 30 tahun menjadi kuncen tempat itu. “Orang yang berziarah juga dibatasi sampai jam 6 sore. Setelah itu, saya kunci,” lanjutnya, beberapa tahun lalu.

Sadi menjelaskan bahwa orang yang dikubur di sana sudah mencapai jumlah 500-an. Hal itu bisa dilihat dari nomer registrasi yang terdapat pada nisan atau kijingnya. Beberapa makam memang tampak baru. Hal itu karena beberapa makam lama telah dipugar oleh ahli warisnya. Meski demikian, masih menyisakan beberapa makam yang tampak kuno. Salah satu cara mengenalinya adalah ornamen nisannya.

“Sederet ini makam tua, bisa dilihat dari nisannya. Yang lain, sebenarnya ada yang tua, tetapi sudah dipugar oleh ahli warisnya,” tegas Sadi.

Menurutnya, salah satu makam tua dan merupakan tertua di sana adalah makam Raden Ngabehi Reksodiwiryo. Ia dianggap sebagai punjer dari pesarean agung dan yang memiliki tanah makam tersebut. Berdasar nisannya tertulis angka tahun dalam angka Arab 1264. Angka tahun ini menjadi spekulasi tersendiri bagi sebagian orang, termasuk juru kunci, karena ia membacanya berdasarkan angka tahun Masehi.

“Makam ini sudah berjalan 600 tahun lebih. Hal itu bisa dilihat dari angka tahun di nisan,” tegas Sadi.

Hanya saja ketika ditelusuri, angka tahun itu adalah angka tahun Hijriyah, sesuai dengan tulisan Arab di bawah tahun yang menunjukkan kata ‘sanah’ yang berarti tahun dari bahasa Arab. Angka tahun di nisan bukan tahun Masehi. Adapun jika dikonversi ke Masehi, angka itu menunjuk sekitar tahun 1845 Masehi. Hal ini sesui dengan catatan sejarah yang telah digurat oleh para sejarawan.

Apalagi ketika ditelisik lebih jauh tentang riwayat hidup Raden Ngabehi Reksodiwiryo yang tercatat dalam buku sejarah, itu adalah gelar kebangsawanan dari Oei Sam Hong, yang dikenal dengan Mbah Buyut Sambongan, cikal bakal kampung Sambongan. Dalam Oud Soerabaia karya Von Vaber (1935), ia dikenal sebagai saudagar asal Tiongkok, yang diperkirakan hidup tahun 1800-an. Ia dikenal dengan sapaan Babah Samhong.

Oei Sam Hong memiliki tanah yang luas, seukuran kira-kira lima kali lapangan sepak bola. Tanah itu disewakan kepada penduduk, sehingga menjadi sebuah kawasan permukiman. Kawasan permukiman ini disebut Sam-hong-an. Lama kelamaan sebutan itu berubah menjadi Sambongan sebagaimana lidah Jawa melafadkannya. Hingga kini, kawasan Sambongan masih ada di Surabaya, terletak di antara sungai Pegirikan dan Kalimas, di sebelah utara Pasar Atom.

Pada masa hidupnya, Oei Sam Hong bersahabat dengan Adipati Surabaya. Bahkan, ia lalu masuk Islam. Sebagai penghormatan, ia memperoleh gelar dari adipati, yaitu Mas Ngabehi Reksodiwiryo. Ia juga sempat mencicipi kue kekuasaan dari adipati, dan diangkat sebagai mantri pada kantor asisten wedana (distrik) di Kadipaten Surabaya. Pergaulannya dikenal sangat baik dengan warga pribumi. Anak-turunnya menyatu dengan warga asli. Hingga kini, ia dianggap sebagai cikal bakal yang mendirikan kawasan kampung Sambongan, sehingga karib disapa dengan hormat sebagai Mbah Buyut Sambongan.

Hanya saja, di kalangan masyarakat Surabaya kini, dikenal makam Mbah Buyut Sambongan di Kedunganyar, tepatnya di Gang Bei. Makam tua di Gang Sambongan, di tengah rumah penduduk, juga dianggap sebagai makam Sam Hong. Tidak diketahui pasti makam siapa di kedua tempat itu, yang jelas, ketika saya ke Pesarean Agung Keluarga Kesambongan di Jalan Arjuna, saya menemukan sebuah makam tua, dengan model nisan dan kijing dari bangsawan tempo doeloe, yang di nisan sebelah utara tertera nama R. Ng. Reksodiwiryo dan di sebelah selatan tergurat angka tahun 1264 H.

Siwalanpanji, 2021

(Sumber: Akun FB Mashuri Alhamdulillah

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6579649199954534509

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA