C a h a y a


Hari Prajitno

Cahaya, kata ini begitu populer di kalangan filosof muslim dan para sufis. Kata sebagai istilah yang mana adalah “metafor” terhadap Alloh, Rosululloh, quran, iman, kebenaran, dan ilmu. Di dalam literasi filsafat muslim persia kita mengenal Suhrawardi Al-Maqtul (1155-1197) yang konsepnya dikenal sebagai iluminasi (israqiyah) atau filsafat tentang cahaya atau pencahayaan. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf/ sufis sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami (804-875) dan al Hallaj (866-922), yang jika dirunut ke atas (sebelumnya) mewarisi ajaran dewa Hermes, Phitagoras (570-495 SM), Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Neo Platonisme/ Plotinus (204-270 M), filsuf-filsuf Mesir kuno (3000an SM) dan Zoroaster (abad ke-6 SM).

Imam Ghazali (450-505) menulis “Misykaatul Anwar” (Ceruk Cahaya), dalam perspektif sufis kehidupan kita (semestinya) di banyak syair-syair sufistik adalah bagai seekor laron yang merindukan cahaya, selalu mencari, selalu mencinta, ingin mendekat ke sumber cahaya. Biasanya sumber cahaya di era itu adalah lilin ataupun oblik karena laron keluarnya malam hari maka dia akan tertuju pada sumber cahaya itu yang mana semakin mendekat maka justru sayapnya akan terbakar termasuk dirinya bila terlalu dekat dan sampai menyentuh cahaya itu, ini sebagai analogi bahwa keintiman padaNYA adalah melepas yang paling kita banggakan dan penting (laron=sayap) dan melepas “ego” kita untuk meleburkan ke dalam jilatan cahaya, sebagai cahaya itu sendiri.

Latar Belakang

Cahaya (nur) itu adalah “al dhahir bin dzatihi al mudzhir li ghairihi”, sesuatu yang terang atau tampak pada dirinya (dhahir) dan bisa membuat terang yang lain menjadi terang/ tampak (mudzhir). Nur dalam bahasa arab bisa menjadi nur (bersifat positif, fokus pada penerangnya/ mencerahkan/ menerangi, dan simbol malaikat) dan nar (bersifat negatif, fokus pada panasnya/ menghancurkan, dan simbol iblis) [ sebagai catatan tidak usah mempersoalkan adanya malaikat atau iblis tentang ada tidaknya tapi pahami metafor itu bagaimana teori itu dilogikan nalar]. Jadi malaikat dan iblis/ nur dan nar terjadi dari sumber/ bahan yang sama (akar kata yang sama) yaitu NUR, di dalam kitab muslim dinyatakan bahwa iblis itu awalnya adalah bersifat/ kelompoknya malaikat atau salah satu dari malaikat sebelum disebut sebagai “iblis”.

Nur di dalam quran sebagai metafor (hidayah) yang di sana bisa berarti Alloh, Rasululloh, quran, iman, kebenaran dan ilmu. Jadi secara umum pengertian cahaya (nur) di sana adalah sebagai petunjuk/ hidayah/ kebijakan/ jalan terang/ jalan lurus/ haq. Jadi ada ayat yang menyatakan “….dari kegelapan menuju cahaya", dari ketidaktahuan menuju tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak sadar menjadi kesadaran.

Makna Cahaya

Alloh sebagai cahaya langit dan bumi, dalam logika sufis terdapat istilah “Nur-muhammad” bahwa Rosul Muhammad adalah sebagai petunjuk, “…telah datang padamu petunjuk yang sudah diturunkan…”, kalimat ini ditafsir sebagai al-quran, dari kekhufuran menjadi keimanan, “..ketahuilah sebenarnya ilmu itu adalah cahaya..” dan sebagainya.

Cahaya bagi awam bila tampak oleh karena pancaindera mata sehingga bila dalam ilustrasi terdapatnya cahaya di kepala dan atau sekujur tubuh dan juga bagaimana awam akan memahami cahaya hanya memang sebatas material yang tampak oleh mata.

Cahaya bagi yang awas adalah membuat sesuatu itu bisa dipami oleh akal, inilah para “ulama” pemilik ilmu yang mampu menjelaskan dan menetramkan orang-orang disekitarnya karena kejernihan akalnya. Menurut sufis Abu Husein Ahmad An Nuri (an nuri sebagai gelarnya, yang bercahaya) dia adalah sahabat dekatnya Juned Al Bagdadi yang diberi gelar “cahaya” oleh di kalangan para sufis. Saat menjawab pertanyaan para muridnya tentang bagaimana gurunya itu bisa bercahaya seperti itu, “untuk apa sih, cahaya itu? tentunya bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang-orang (awam) disekelilingnya, sebagai petunjuk”.

Cahaya bagi yang teramat awas dan waspada adalah sesuatu yang membuat tampak sekaligus bisa terpahaminya sebauah hakikat yang terbebas dari akal (kasf), bersihnya jiwa dan tingginya kesadaran terhadap semua material dan immaterial.

Tiga Komponen Berlevel (dialektika)

Menurut Ghazali tiga komponen itu adalah:

Bila cahaya dipahami secara umum, a. objek b. indera c. penerangan/ cahaya, sebagai contoh pada objek pensil 2B, pensilnya harus ada, indera harus sehat, dan tentunya musti adanya cahaya/penerangan. Sehingga dengan tiga komponen di atas maka kita akan mampu secara “biasa/awam” memahami suatu objek.

Bila salah satu tidak ada, katakan tidak ada cahaya atau di dalam kegelapan maka kita tidak akan bisa memastikan bahwa pensil yang kita pegang adalah pensil 2B, begitu pula bila cahaya ada tetapi inderanya lelah maka kita tidak akan bisa melihat dan merasakan objek itu dengan benar. Bila tidak ada objek walau indera sehat, cahaya ada maka kita akan tanpa tujuan (plonga-plongo).

Bila makna cahaya dipahami lebih jauh maka a. objek khusus/ intensi. b. indera, pikiran dan batin. c. hidayah/petujukNya. Jadi bila yang diintensi/ diteliti/ dibaca itu ada dan indera dan batin sehat maka bila tanpa cahayaNya/ hidayahNya/ kehendakNya maka yang terbacapun tidak akan tertangkap arti dan maknanya (kebenaranNya).

Mungkin apa (maaf saya mudahkan logikanya) yang dikatakan “hidayah” adalah kemampuan pembacaan secara holistik, penuh kehati-hatian, penuh kewaspadaan dan penuh kesadaran. Dalam arti ini berarti “hidayah” adalah tetap membuka terhadap peluang kemungkinan yang tidak memutlakan sesuatunya (tidak terhijab). Jadi “hidayah” di sini adalah kesadaran menyeluruh baik fisik maupun batin.

Dalam hal holistik lahir-batin adalah tentang “kebenaran/ haq” yang dalam dunia tasawuf-makrifat disebut “kasf”. Dengan catatan bahwa nalar logika yang saya gunakan juga berkenaan disamping material juga terutama immaterial, fisika dan metafisika.

Penutup

Seumpama objeknya air maka kita sudah bisa melihat bahwa itu air, mendengar kecipak air, mampu menghidu aroma air, menyentuh transparan dan dinginnya air semua hanya secara mendasar tentang “air” maka cukuplah itu sudah diterangi/ dicahayai. Kalau lebih jauh bagaimana air itu mampu mensucikan (berwudhu), atau ada metafor “mengalirlah seperti air mengalir” maka itu adalah pemahaman lebih jauh yang ini jauh bisa digali kedalamannya hingga tidak terhingga hanya karena cahaya sebagai hidayah.

Sekiranya anda bergama lain, atheis, agnostik, atau sekuler sekalipun maka pahami struktur logikanya bagaimana pemikiran di atas bisa diterapkan pada logika-materialisnya saja yang memungkinkan tinggalkan religiusnya dalam arti lembaga tapi tetapkan pada daya spiritualitasnya/ transenden/ metafisikanya.

cat: penggalan dan modifikasi dari Dr. Fahruddin Faiz, “falsafah cahaya”, MJS, Yogyakarta.

Sumber: akun FB Hari Prayitno

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3462686799953790558

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item